
...Rin mengulurkan tangannya meraih tombol off pada benda mini tersebut. Namun Bima dengan sigap mencegahnya. Menurunkan lengan Rin kembali kepangkuan....
..."Biarkan Rin, aku ingin melihatnya" ucapnya dengan ekspresi datar....
...Saat ini hati Bima begitu sakit dengan pengakuan orang yang disayangi, di depan publik baru saja, yang secara terang tak pernah menganggapnya ada. Bima sebenarnya menyadari kalau Maira berkata demikian pasti alasannya demi popularitas. Namun kenapa tadi ada pria yang begitu mesra manatap dirinya....
...Bima mulai menyalakan mesin mobilnya. Memainkan Rem dan kemudi dengan ganas. Membuat Rin yang duduk disebelahnya merasakan sangat takut....
..."Tuan, aku akan turun disini saja, karena besok aku mulai berangkat ke kampus, aku harus menyiapkan segala yang aku butuhkan." Rin minta turun begitu melihat ada toko buku dan perlengkapan sekolah lainnya....
...Rin membenarkan tas slempangnya yang mengalung di pundaknya. Segera ia membuka pengait setelah Bima menghentikan laju Mobil....
..."Perlu aku antar?"ucapnya sambil membungkukkan punggungnya, menyaksikan Rin turun dari mobil....
..."Tidak tuan terima kasih. Biar saya nanti pulangnya naik angkot saja."...
..."Cepat pulang!" ucapnya datar, dibalas anggukan oleh Rin, Bima segera berlalu, Rin memandangi mobil majikannya hingga hilang dari pandangan. Setelah mobil Bima tak nampak, Rin segera masuk ke toko membeli tas, sepatu dan keperluan lainnya....
...Selesai semuanya Rin segera menghentikan angkot yang baru saja lewat, walaupun angkot itu sudah butut tanpa pintu, Rin tetap merasa nyaman....
..."Neng geulis, darimana?" tanya sopir angkot basa basi pada Rin. Angkot yang ditumpangi Rin saat ini hanya ada dirinya dan dua anak berseragam SMP yang sibuk sedang bermain dengan handponenya....
..."Anu Mang, dari kampus," ucap Rin ramah....
..."Mang turun di depan Kecamatan Cempaka putih, berapa?" Rin membuka resleting tas slempangnya mengambil dompet kecil dari dalamnya....
..."Lima belas ribu saja Neng," ujar Mang sopir....
...Rin segera memberikan tiga lembar uang lima ribuan, ia mengulurkan tangannya kedepan, agar Mang yang lagi mengemudi tak usah menoleh ke belakang cukup meraih dengan tangannya saja....
..."Makasi, Neng."...
..."Sama-sama Mang."...
...Tak lama sopir angkot menghentikan mobilnya. Ia memanfaatkan waktu macet untuk menghitung recehan yang ia peroleh. Hasil dari seharian melawan panas serta kerasnya jalanan hitam. "Alhamdulilah, hari ini dapat lumayan," ucapnya kembali mengantongi uangnya....
...Rin mengintip ke arah depan, beberapa kali ia membungkukkan punggungnya, penasaran ada apa gerangan yang terjadi, hingga di depan sangat macet, Mobil besar kecil berbaris memenuhi jalan "Ada apa Mang, macet sekali?"...
..."Entah Neng? Mang juga belum bisa melihatnya." Nampak pak sopir menurunkan kaca pada pintu disebelahnya, yang sejak tadi sudah terbuka setengahnya....
__ADS_1
...Bertanya dengan pengendara sepeda di dekatnya. Dari obrolan mereka berdua Rin mendengar samar telah terjadi laka, firasat Rin tidak enak, tiba- tiba ia teringat Abimanyu....
..."Tuan Bima!" pekiknya, Rin segera turun tergesa meninggalkan angkot tanpa pamit, berlari membelah kendaraan berhenti berjejer dan orang- orang yang sedang berkerumun....
...Rin sudah berada pada barisan terdepan, benar dugaannya. Mobil bima telah menabrak ekor mobil fuso hingga bagian depannya ringsek parah....
..."Tuaaaaaaaan....!!!"...
..."Tuaaaaaaan...!!!"...
...Rin segera berlari tak perduli dengan apapun, persetan dengan teriakan orang- orang yang melarangnya untuk mendekat. ia segera menghampiri Abimanyu yang masih terjebak di dalam mobil....
..."Tuan...!"...
..."Tuan...!"...
..."Tuan tidak apa- apa?" Rin mengetuk pintu kaca berulang kali, mencoba mengintip tapi sayangnya kaca mobil Bima tak tembus pandang dari luar....
..."Tuan aku mohon, buka pintunya tuan!" Rin tak berhenti mengetuk....
..."Bertahanlah tuan." Rin semakin panik ia mencari bantuan berteriak dan menangis tanpa rasa malu. Semua orang hanya menyaksikan Rin yang histeris karena polisi melarang untuk mendekati korban....
..."Tuaaaan .... hiks... hiks... hiks..." suaranya terdengar lirih dan putus asa....
..."Jangan pergi tuan, jangan tinggalkan aku."...
..."Tuan Bima, aku mohon." Rin bersimpuh dibawah pintu mobil Bima. Rin seperti kehilangan akal sehatnya....
..."Ceklek." Pintu mobil depan terbuka. Bima berhasil membuka kuncinya dari dalam....
..."Tuan.... Kau kah itu!"...
..."Rin..." suara Bima lirih tangannya menyentuh kepalanya yang meneteskan darah, makin lama pusing makin terasa....
..."Tuan kau masih hidup." Rin segera menghambur ke arah Bima. Tanpa sadar ia bergelung pada dada bidang pria itu, ia menagis tergugu di dekapannya....
..."Tuan kau terluka," Rin melihat luka di kepala Bima. Segera ia dengan susah payah merobek hem bagian bawahnya dengan kasar, idenya ingin mengikatkan di kepala Bima....
..."Rin apa yang kau lakukan, kenapa bajumu kau robek." Masih meringis menahan sakit....
__ADS_1
..."Diamlah Tuan, agar darah di kepala Tuan Bima berhenti menetes," jawab Rin gusar....
...Bima hanya diam menuruti kemauan Rin memberi pertolongan pada dirinya. Rin mengikatkan serpihan kain tadi pada luka di kepala Bima . Bima sekali lagi meringis menahan sakitnya....
...Setelah ambulans datang, Bima keluar dari mobilnya. Rin membantu memapah tubuhnya, sebelah kanan dan sebelah kiri dibantu oleh petugas Rumah sakit. Bima menolak berbaring di atas brankar karena ia merasa kondisinya tak separah itu....
...Tiba di rumah sakit Bima dibawa ke ruang UGD sebentar, untuk pemeriksaan. Setelah hasil rontgen keluar. Bima di pindahkan di ruang rawat. Karena tidak ada luka yang serius....
..."Rin terima kasih kau telah mengkhawatirkan aku."...
..."Tentu aku khawatir Tuan, Kukira kau terluka sangat parah." ucap Rin dengan polosnya....
..."Seperti yang kau lihat aku baik saja." Bima meraih buku buku jari Rin, dan menggenggamnya dengan erat. "Rin jawab dengan jujur kenapa kau menangisiku"...
..."Aku sudah bilang, karena aku khawatir tuan."...
..."Tidak Rin, aku lihat kau lebih dari khawatir terhadapku."...
..."Tidak Tuan, aku hanya mengkhawatirkanmu saja, kau orang baik, sudah sepantasnya aku melakukan hal seperti tadi."...
..."Kau berbohong Rin, buktinya kau menyembunyikan pandanganmu, kau tak berani menatapku." Bima mendesak, ingin Rin jujur. Bima menatap wajah Rin, menunggu jawaban yang ia inginkan....
...Rin menjadi gelisah, ia hampir menangis lagi karena desakan dari Bima. Rin merasa tersudutkan oleh pertanyaan Bima. Yang dirinya sendiri tak mengerti kenapa ia bisa menangis berlebihan seperti tadi....
...Rin segera menarik tangannya yang sedari tadi dalam genggaman Bima. "Kumohon tuan, berhenti memaksaku."...
..."Baik Rin, aku akan menunggu kau mengatakan."...
...***...
..."Tuan Abimanyu!" Suara perawat dari luar membawa kereta dorong berisi banyak kotak makanan untuk pasien....
..."Betul, Suster," jawab Rin...
..."Nyonya tolong suaminya dibantu untuk makan ya. Karena luka dikepala pasien, untuk sementara tidak boleh terlalu sering duduk dulu....
..."Iya Sus, istriku pasti akan membantu menyuapkan makanan itu nanti," ucap Bima sambil tersenyum melirik ke arah Rin....
..."Tuan sebaiknya, Nyonya Freya harus kita beri tahu dengan kondisi tuan yang sekarang ini." Rin mengusulkan supaya Bima segera menghubungi orang tuanya....
__ADS_1