
Selesai acara potong kue, alunan musik mulai terdengar dari balik tirai. Setelah tirai terbuka tepuk tangan meriah dari seluruh karyawan memenuhi ruangan. Band papan atas itu sengaja Bima undang jauh- jauh hari tanpa sepengetahuan Rindang.
"Sayang." sambil senyum- senyum Rin mengeratkan tangannya di pinggang Abimanyu wanita itu tentu bahagia bukan kepalang dirinya sekarang begitu teristimewakan.
"Apa, Beb? Masih berfikir aku selingkuh?" Bima mengeluarkan suara baritonnya sambil menoleh sesaat, tak lupa mengecup kening istrinya, setelah itu Bima kembali lagi menikmati alunan musik di depannya.
"Nggak, mau berterima kasih saja." Menempelkan kepalanya di lengan Bima. Entah kenapa Nyaman sekali, tanpa memikirkan para karyawan yang sedang membicarakannya di belakang.
Bima menarik nafasnya dalam- dalam. "Aku nggak akan selingkuh, Beb. Mana aku bisa. Saat aku melakukannya aku pasti ingat Verro, ingat kamu istri yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan putraku."
"Makasi kalau inget itu, Sayang, kamu benar- benar sweet banget ya." Rin kini menjinjitkan kakinya agar bibirnya bisa menyentuh pipi suaminya. "Tapi aku dengar mereka membicarakan kamu seperti seorang pedofil, kamu menikahi gadis kecil sepertiku."
"Emang aku pikirkan?" bertepuk tangan pelan. Karena semua orang juga melakukannya.
Bima yang tau usaha Rin akhirnya membungkukkan badannya dan mendekatkan pipinya. "Makanya makan yang banyak biar cepat gedhe." Godanya.
"Idih, tubuhmu aja emang terlalu tinggi, Yang." Rin tak terima dibilang pendek oleh suaminya.
"Yang, ada temanku dan Istrinya datang, mari kita sambut dia." Ketika Bima melihat sepasang suami istri yang tak kalah romantisnya berjalan memasuki gedung.
"Yang mereka serasi sekali, cantik dan tampan. Siapa dia?" Mata Rin terbelalak, Rin belum pernah bertemu sekalipun dengan teman Abimanyu yang satu ini. Bahkan dia juga lupa menceritakan pada istrinya.
"Dia itu Tuan Dirga dan istrinya Mawar, pengusaha tekstile di kota surabaya, dia teman aku waktu kuliah."
"Ouhhhh." Bima dan Rin kini mendekati Dirga dan Mawar yang tampil begitu serasi di depannya.
"Hai kawan, yeah kau tetap masih sama tampan dan menawan, kabarnya kau sudah memiliki empat anak tapi kau masih tetap semuda ini." Bima memeluk tubuh Dirga, melepas kerinduan yang membuncah, Bima mengagumi sosok Dirga yang begitu sempurna didepannya, matanya tak luput memandangi sahabat lamanya dari ujung kaki hingga kepala. " Apa ini istrimu, kau pintar cari istri Bro, dia cantik.... Kenapa anak-anak kalian nggak diajak?" Bima melihat Mawar yang sendirian tanpa ada anaknya.
__ADS_1
"Istrimu juga sangat cantik. Aku juga pencemburu sepertimu, jangan pernah sekali kali kau menyebut istriku cantik di depanku." ujar Dirga membisikkan kata katanya di telinga Abimanyu.
" Ha... ha... ha.... " Abimanyu dan Dirga tertawa bersama.
Melihat para pria asyik sendiri, Rin melepaskan lengan suaminya dan mengajak Mawar bergabung bersama Denia sedangkan Mahesa juga bergabung dengan Dirga Dan Abimanyu.
"Bunda vello suka sulplis dari Daddy." celoteh Verro dengan bicara cadelnya. Ketika Rin mendekat.
"Iya sayang. Bunda juga suka." jawab Rin dengan senyum menunjukkan pipinya cubynya.
"Vello mau main dulu bunda," ujarnya lagi.
"Oke jangan jauh- jauh ya." verro kini pergi.
"Kakak beneran sudah memiliki empat anak? tanya Rin kagum dengan tubuh Mawar yang masih tetap singset dan kencang, kalau tak tau sendiri pasti orang mengira dia masih gadis kuliahan. Mawar emang pandai banget merawat diri alhasil tak ada yang mengecewakan, tubuhnya tetap indah.
"Harusnya lima, sayang sekali anak pertama kami meninggal." ujar Mawar terlihat sedih. Mengenang anaknya yang pergi karena sebuah kesalahan, kesalahan lampaunya.
"Kasian sekali Verro." Mawar melihat ke arah Verro yang sedang berlarian memainkan pesawat kertasnya.
"Apa tak ingin memiliki lagi, kata orang dulu banyak anak akan banyak rezeki juga." imbuh Mawar lagi.
"Masih usaha, tapi hasilnya kita serahkan sama yang di Atas saja." jawab Rin.
"Berusaha lagi lebih maksimal." Mawar menepuk pundak Rin dan tersenyum.
"He.... he.... he....."Rin tertawa. Sambil mengajak Mawar minum. Denia diam saja karena obrolan mereka kali ini tentang anak anak mereka. Sedangkan Denia menikah saja belum. Denia tertarik dengan Mahesa tetapi entah dokter dingin itu hatinya tersangkut dimana.
__ADS_1
Mawar menceritakan tentang putra putrinya Gama, Damar, Izza dan izba yang tak pernah membuatnya tidur nyenyak di siang hari. Walaupun Ada pengasuh tapi Mawar tetap ingin menjadi sosok ibu yang paling dikenang bagi anak- anaknya. Dimas sendiri sedang fokus dengan kelahiran buah hatinya yang tinggal menghitung hari. Dimas harus sabar dengan sifat kekanakan Elisa dan kadang Dimas harus dibuat pusing oleh permintaan ngidam yang diluar nalar manusia.
Mendengar cerita Mawar Membuat Rin tertarik ingin berkunjung kerumah keluarga Dirga suatu hari nanti.
"Kakak kau suami seorang pengusaha sukses tapi kau tetap rendah hati dan baik? Aku senang bertemu dengan kakak?"
"Aku juga senang bertemu denganmu Rin. Aku ini hanya wanita yang beruntung." ujar Mawar.
"Tuan Dirga pasti sayang banget sama kakak?"
"Kalau sayang pasti, itu alasannya aku tak pernah kerja di luar sampai saat ini. Dia prosesif."Bisik Mawar. Mawar melirik kearah Dirga yang kebetulan suaminya juga sedang melihat kearahnya. Dirga tak lupa melempar sebuah senyum pada Mawar.
"Oh ya.... Sudah lama datang tapi belum ada yang makan, Mari kita makan bersama kakak." Rin menarik lengan Mawar dan Denia menuju meja. Tak lupa suami mereka juga diberi kode agar ikut merapat.
Pasangan suami istri kini duduk berhadapan. Delia suka sekali dengan moment ini, ia bisa dekat -dekat dengan Mahesa tanpa ada alasan. Memandangi wajah tampan Dokter mahesa sedekat sekarang ini membuat hatinya terasa tentram.
"Ehem, yang masih berjuang sebaiknya lebih semangat lagi." Ujar Bima.
"Udah semangat kak, tapi masih dingin aja, bahkan masih beku mungkin?" jawab Denia sambil memotong steak di piringnya.
"Mahesa, kamu sampai kapan akan menjadi bujang begitu apa kamu menunggu rambutmu berubah warna?"
Mahesa yang menjadi bahan bullying hanya diam saja. Ia sekilas melirik kearah Rin. "membuka hati untuk wanita itu mudah, jika yang di dalamnya sudah keluar dan pergi." ucap Hesa sambil terus mengunyah daging empuk di mulutnya.
"Siapa dia?" Dirga heran.
"Em, entahlah...."
__ADS_1
"Denia sabar, biarkan Mahesa move on dulu. Kalau jodoh pasti tak akan kemana." Mawar menimpali.
# Bingung siapa Mawar Dirga dan Dimas bisa baca Pernikahan Tanpa Cinta By Isti Arisandi.