Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 43. Jeruji besi.


__ADS_3

Abimanyu tetap kukuh dengan keputusannya. Hatinya yang sudah sekeras baja tak akan luluh dengan tetesan air mata Maira.


"Mas, kumohon batalkan semuanya, aku tak sanggup bila hidup di sangkar besi itu. Apakah kamu tak kasihan melihatku disana? Aku akan kedinginan, banyak nyamuk yang akan menggigit kulitku. Hiks... Hiks... Hiks..."


"Maafkan aku, itu ganjaran untukmu." ujar Bima tetap mempertahankan posisi berdirinya dengan tegak.


Abimanyu teguh dengan pendiriannya. Ia bahkan menyambut hangat uluran tangan seorang berbadan tinggi tegap, dan yang satunya lagi gemuk dengan perut membuncit, yang tak lain adalah Bapak Polisi yang baru saja mendapat laporan darinya mengenai kasus percobaan pembunuhan terhadap Rindang injali istrinya dan calon bayinya.


"Mas..., aku mohon." Maira berkata lirih ia menangkupkan kedua tangannya. Seakan ini adalah permohonan terakhirnya yang ingin sekali dikabulkan.


Abimanyu memalingkan wajahnya. Ada rasa sedikit tak tega, namun ini semua sudah menjadi hasil yang harus ia petik atas semua perbuatan yang telah ia tanam.


"Ikut kamisekarang!" Sentak seorang polisi yang memiliki perut buncit. Setelah selesai memasang borgol di kedua lengan Maira.


"Maas Bimaaaaaa.....!!"


"Bawa dia sekarang pak" Bima mengizinkan polisi itu membawanya


"Mas tolong aku, aku tak mau di penjara. Aku janji akan pergi darimu. Aku janji!" teriak Maira di akhir kalimatnya.


"Ikutlah saja, sudah sepantasnya kau disana, untuk menebus kesalahanmu." kata terakhir Abimanyu sebelum tubuhnya pergi dari tempat yang ia duduki. Abimanyu kini melangkah masuk kembali kedalam ruang rawat.


Maira melihat Abimanyu tak mungkin lagi merubah keputusannya, ia sudah tau pria itu tak mungkin melakukannya. Karena Siapapun yang menyakiti orang- orang kesayangannya, pasti akan sulit menerima maaf darinya. Ia merasa dirinya begitu bodoh, kenapa harus bersimpuh seperti tadi.


"Pak, lepaskan saya pak"


"Jangan penjarakan saya, saya nggak salah pak!" masih berusaha memberontak sekuat tenaganya.


"Nanti bisa nona jelaskan di kantor," ucap pak polisi yang berbadan tegap.


"Lepaskan saya pak, lepaskan!"


"Diam, cepat masuk!"


Polisi berbadan gemuk membukakan pintu untuk Maira. Maira melangkahkan kakinya menaiki mobil polisi, ia mulai menuruti perintah dari polisi dengan perlawanan kecil.


****


Sampai di kantor polisi Maira segera di mintai keterangan, semua bukti memberatkan dirinya, tak ada harapan lagi untuknya bisa menghirup udara segar dalam beberapa tahun kedepan, karena Maira tak akan bisa bebas dengan sebuah jaminan. Kecuali jika Abimanyu sendiri mencabut tuntutannya.


Dalam satu sel tahanan, ada 10 Napi wanita semua memakai baju tahanan pakaian lusuh dan aura kebosanan menghiasi setiap wajah mereka.


Maira melihat kulit mereka yang tak terawat dan ada sebagian luka pada tubuhnya, membuat tubuhnya bergidik ngeri membayangkan nasibnya ke depan. Ia hanya berdiri mematung dengan berpegangan jeruji. Airmata tak henti menetes dari netranya.

__ADS_1


Mengharapkan kedatangan Abimanyu, ia masih berharap belas kasih dari mantan suami yang masih begitu ia cintai.


"Mas, tak adakah sedikit cinta yang tersisa untukku, tega sekali kau mempersatukan aku dengan wanita kotor seperti ini." Gumam gumam lirih dari bibir cantiknya yang berwarna merah merona. Maira masih berkata angkuh, sedangkan dirinya adalah bagian dari wanita itu sekarang.


Sambil sesekali menoleh ke arah wanita yang kini akan menjadi temannya sehari hari. Sekilas melihat kulitnya sendiri yang putih mulus tanpa cacat.


Lelah berdiri kini Maira duduk sambil memeluk lututnya ia begitu tertekan dengan kondisi dirinya.


Tak lama ibu Nara ( ibu Maira) datang, bersama Ara adiknya. Dengan tergopoh ia menghampiri putri kesayangannya.


"Maira, kenapa kamu sampai disini, Nak. Apa yang telah kamu lakukan?" wanita itu juga berderai air mata. Tak tega jika putri cantiknya menderita.


"Apa karena ibu kamu jadi seperti ini, Maafkan ibu nak jika aku selama ini terlalu menuntutmu, membebani hidupmu, dengan permintaan ibu yang tiada habisnya." Mengelus pipi Maira dari luar.


"Tidak, Bu. Maira hanya memperjuangkan, apa yang seharusnya jadi milikku." Suara terbata-bata dan rasa sesak mulai memenuhi rongga dadanya.


Dua wanita itu saling menyalahkan dirinya saat ini, sedangkan kemaren saja ia begitu bernafsu untuk mengeruk seluruh harta Abimanyu dan menghilangkan Rin dari sisinya.


Ara gadis yang memiliki perangai berbeda dari kakak dan orang tuanya, tak menunjukkan ekspresi berlebihan. Ia hanya berdo,a dalam hati Agar mantan Kakak iparnya segera memiliki belas kasih.


"Nak, ini ibu bawakan banyak makanan untuk kau makan nanti, ibu tak tega jika kamu makan bersama mereka, dan ini selimut milikmu, ibu bawakan sekalian."


"Terima kasih, Bu."


"Ibu janji akan membesukmu setiap hari." Mengelus rambut Maira yang berwarna hitam kecoklatan.


"iya sayang ibu janji."


"kamu jangan buat masalah dengan mereka, ibu khawatir akan melukaimu." sekilas menatap pada penduduk lama.


"Tidak Bu."


"Ibu pulang dulu ya! Nanti keburu Tiara menangis. Dia ibu titipkan ke tetangga, tadi ibu bilang akan sebentar saja," ucapnya sebelum pergi.


Maira mengangguk. "Bu, jaga Tiara ya.... Saat ini ia hanya punya ibu disisinya. Mas Bima tak akan menjenguknya lagi, karena dia sudah tau kalau bukan darah dagingnya."


"Iya." kamu jangan khawatir. Menepuk pundak Maira.


"Kakak, jaga diri kakak baik-baik ya!" Ara juga pamit sebelum berlalu pergi, Ia berdoa semoga semua ini bisa membuat kakaknya jera. dan jadi pengalaman untuk dirinya sendiri juga agar ke depannya ia tidak menjadi sosok yang salah melangkah.


***


Abimanyu menapaki tangga, kemudian duduk di pertengahan. Angannya melayang sesaat kepada bayangan Maira, andaikan ia dulu bersikap tegas pasti semua ini tak akan terjadi.

__ADS_1


Lamunan itu buyar, ketika ada seseorang yang melewatinya, kini ia menghampiri Rin yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.


Kondisinya sejak awal tidak terlalu buruk, hanya saja Rin saat ini begitu khawatir pada sosok janin yang sedang berkembang di perutnya.


Kepergian Abimanyu tadi membuat dirinya banyak melamun. Rin mengelus perutnya ia mengharapkan gerakan bayinya tidak melemah.


Kini sang calon ayah sudah muncul dari balik pintu, Rin segera menyambut dengan seyumnya.


" Sayang, dari mana saja?...."


" Aku dari depan tadi, ada urusan."


"Sama Mbak Maira?"


"Iya"


"Mas...."


"Cukup Rin, aku tak ingin membahas dia sekarang, aku hanya ingin dengar semua tentang kamu dan anak kita saja."


Rin mengangguk." Baiklah." lalu tak mengucap sepatah katapun.


Abimanyu duduk, dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia terlihat lelah, karena semalam tak tidur. matanya kini sangat ngantuk sekali.


****


"Ceklek.... " handle pintu terbuka.


Mahesa datang, ia hendak memeriksa Rin yang kedua kalinya. Rin mengisyaratkan pada Mahesa agar memperpelan jalannya. Takut langkah kaki Mahesa mengganggu Bima yang baru saja memejamkan matanya.


Namun tak urung kedatangan Mahesa mengganggu tidurnya.


"Hesa, bagaimana kondisi istriku? Kenapa wajahmu kusut seperti itu?"


"Besok kalian sudah boleh pulang. Lebih baik istirahat di rumah saja, karena kondisi Rin sudah tak ada yang di khawatirkan."


"Kondisi bayiku...." sergah Abimanyu dengan cepat.


"Dia juga sehat."


"Baiklah kalau begitu, aku lega mendengarnya."


Mahesa yang telah selesai memeriksa Rin kini melipat kembali stetoscopenya dan meminta pamit untuk pergi.

__ADS_1


Mahesa hari ini sepertinya juga ada masalah yang ingin ia pendam sendiri, tanpa menceritakan pada siapapun. Semua terbukti ia tak melontarkan Ejekan dan canda,an pada Abimanyu seperti biasanya.


Mahesa meninggalkan sahabatnya dengan diam seribu bahasa.


__ADS_2