Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 37. Akal sehat mulai terkalahkan oleh amarah


__ADS_3

..."Aaakh sakit Tuan." Rin berusaha melindungi perutnya dan tangan yang satunya memegangi bahu yang terasa sakit bekas cengkeraman suaminya....


...Ekspresi Rin sangat ketakutan. Kalau tau suaminya akan semarah sekarang ini, pasti ia tadi menahan dirinya untuk keluar rumah....


..."Apa yang kau pikirkan, sekarang? Kau beraninya bersenang- senang dengan pria lain? jangan mimpi aku akan memaafkan hal ini dengan mudah."...


..."Tidak Tuan, se- se-mua hanya kebetulan?"...


..."Cih, kebetulan seperti apa yang kau maksud? Jelas dia tadi memegang tanganmu, dia tersenyum manis padamu dan kau membalasnya....


...Bima terus saja berapi-api mata hatinya tertutup oleh amarah, cintanya yang besar membuat otaknya tak bekerja dengan normal....


...Bima mengabaikan ketukan pintu yang sedari tadi terdengar dari luar. Naya yang tau semuanya ingin menjelaskan tentang salah paham ini....


..."Tuan... Tuan... Tolong buka pintunya sebentar!"...


..."Pergi kau...!"...


...Naya memilih patuh, ia pergi setelah Bima menolaknya membukakan pintu....


..."Aku akan menghukummu." Bima mulai menarik dasinya kasar. Dasi itu akan ia gunakan untuk mengikat kedua tangan Rin....


...Rin memberontak namun tubuhnya begitu rapuh di depan suaminya....


..."Diam saja, atau kau akan merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dari ini." Bima mulai menyatukan tangan Rin ke atas dan mengikat dengan dasinya kuat- kuat. Ia melilitkan berulang kali, sekuat apapun Rin meronta tak akan bisa lepas, dan tak satupun orang bisa menyelamatkan dari kekejamannya sekarang ini....


...Bima menelusuri setiap inci wajah Rin dengan jari telunjuknya sambil menatap wajah polos istrinya, tak lupa ia juga menggigit telinga Rin dengan gigitan kecil. "Baby, hari ini kau sangat cantik, tapi kau membuat hatiku terluka, harusnya hari ini kita makan bersama dengan klien dan relasiku, tapi kupikir kau .... Aaaakhh"...


...Bibir Rin tercekat, ia tak bisa berkata apa- apa, hanya bulir bening yang mewakili jawabannya. hati Rin juga terluka dengan sikap Abimanyu yang melampui batas, kesalahan kecil saja ia sampai mengikatnya....


...Tubuh Rin menggigil ketakutan melihat amarah Bima yang semakin menjadi jadi.....


...Tangannya dengan kasar menarik baju berbahan sifon itu. dengan satu tarikan kuat ternyata baju itu telah robek....


..."Jangan Tuan, jika kau mau sekarang, aku akan melayanimu dengan baik" Rin mengiba, bahkan ia sudah menyatakan kesiapannya melayani dirinya dengan semestinya....


...Bima tak perduli, ia memilih merobeknya dengan ganas. Dan melemparnya ke lantai....


...Tidak itu yang diinginkan oleh Abimanyu, ia ingin membuat istri kecilnya jera. Saat ini ia sulit sekali menerima ucapan seorang wanita dengan mentah. Setelah seringnya ia di khianati....


...Ditambah lagi ia baru pulang kerja, mungkin efek lelah dan panasnya udara luar ikut mempengaruhi emosinya....


..."Kenapa kau biarkan pria itu dekat denganmu? Kau tau dia sudah lama menginginkanmu, bahkan kau tadi menyambut uluran tangannya!" teriaknya....


..."Memandangmu sedekat ini saja, aku tak rela!" menatap manik mata Rin dengan tatapan tajam....

__ADS_1


..."Apakah dia tadi menciummu seperti ini!" Bima mulai mencium bibir Rin dengan kasar....


..."Ti- ti- dak, Tuan." Rin ingin menolak gerakan bibir kasar bibir suaminya. Dengan berusaha menggelengkan kepalanya...


..."Apa dia tadi juga membelai rambutmu seperti ini." membelai rambut Rin dengan sapuan kasar, membuat Rin ingin menjerit. Namun sebisanya ia menahan....


..."Jawab....!!"...


...Rin menggelengkan kepala. " Ti- ti-dak."...


...Bima menajamkan pandangannya tak percaya. "Bohong, kamu pasti berbohong," Sambil tak berhenti tangannya menelusuri leher, hingga turun lagi ke bukit yang sejak tadi menantangnya. Membuka kain pembungkus bukit dengan kasar hingga terpampang jelas semuanya...


..."Apa dia tadi juga menyentuhmu seperti ini," Bima meremas dua bukit yang lebih kencang dari biasanya. Sambil membuat banyak tato disekelilingnya....


..."Rin kini mulai menyerah, ia pasrah dengan perlakuan suaminya....


..."Apa perhatianku selama ini kurang? hingga kau membutuhkan pria lain memperhatikan dirimu?"...


...Baiklah jika itu maumu akan aku buktikan sekarang, mungkin ini yang kamu inginkan....


...Bima melepas seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya....


...Ia juga melepas seluruh pakaian Rin. Kemuadian ia membuka kaki Rin lebar lebar. Jari tangannya mencoba mengoyak dengan ganas dan tak lama Ia menghentakkan miliknya secara tajam....


..."Aaaahkkk." Suara Rin tertahan, ia merasakan sakit pada area intinya yang kering, sama sekali belum siap menerima serangan suaminya yang tiba- tiba.....


...Sedangkan abimanyu menghujamnya begitu keras tanpa kira- kira. "Sakit Tuan."...


..."Bukan kah ini yang kau inginkan, Hah..."...


..."Sakit...." Rin melelehkan air mata semakin deras....


...Namun tak membuat Bima surut dengan aktifitasnya. Ia masih ingin terus melancarkan serangannya....


...Rin sangat tersiksa melihat dirinya saat ini, ia menjadi korban dari keganasan suaminya sendiri....


...Apakah ini yang disebut pelecehan? bathin Rin berkecamuk....


...Melihat Rin yang semakin lemah, Abimanyu segera menuntaskan permainannya. Setelah selesai ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri....


...Sejenak suasana menjadi hening, hanua nafas mereka berdua yang memenuhi ruangan kamar....


..."Tuan, aku sedang hamil." kata kata itu lolos dari bibir Rin begitu saja....


...Suara Rin terdengar serak karena menahan tangisnya. Membuat Bima ragu dengan kebenaran yang baru saja ia dengar....

__ADS_1


...Rin dengan terpaksa mengatakan sekarang, tak ada pilihan lagi untuknya. Jika ia menunda ia takut akan terjadi apa- apa dengan bayinya....


..."Apa...? Apa yang ku dengar ini tidak salah?"...


...Bima yang terlentang segera memiringkan tubuhnya. "Apa yang kau katakan itu benar, Baby?"...


..."Rin mengangguk pasti."...


...Bima yang baru sadar ia belum melepas ikatannya pada tangan Rin, segera melepasnya....


..."Darimana kamu bisa tau...!"...


..."Apa Dokter Mahesa tadi yang memeriksanya?"...


..."Tidak."...


...Setelah Abimanyu melepas ikatan tangannya, Rin segera duduk dari tidurnya, ia menjadikan selimut tebal itu sebagai penutup tubuh polosnya....


...Rin berjalan terseok mengambil kotak kecil, yang seharusnya menjadi kado ulang tahun ter istimewa untuk suaminya....


...Karena kebodohan dan cemburu buta Abimanyu. membuat Rin terpaksa harus melenyapkan mimpinya itu. Toh semuanya juga sama. Abimanyu pasti akan bahagia baik diberikan sekarang ataupun besok....


..."Tuan buka saja, dan lihat isinya." Rin menyerahkan kotak yang telah susah payah ia hias tadi pagi bersama Naya....


...Bima segera menerimanya, mengamati bungkusnya sebentar. Ia terkesan sekali dengan usaha istrinya....


..."Kau membungkusnya sangat cantik sekali, apa ini harusnya menjadi hadiah ulang tahunku?"...


..."Seharusnya seperti itu Tuan, tapi karena kau telah memberi hukuman padaku hari ini, aku harus berterima kasih, dan sebagai balasannya aku memberikan hadiah ini untukmu." Mata Rin kembali berkaca- kaca rasa sesak kembali memenuhi rongga dadanya....


...Abimanyu, mengamati wajah Rin sesaat, kemudian berlahan tangannya membuka hadiahnya. "Aku akan membukanya sekarang."...


...Rin mengangguk setuju....


...Abimanyu segera memasukkan jari tangannya, ia mengambil satu dari tiga benda panjang berukuran kecil itu....


...Ia tak percaya dengan yang dilihatnya, Pria itu meneteskan air mata haru untuk yang pertama kalinya....


...Tetesan itu bukti penyesalannya atas perlakuannya baru saja pada istri berharganya....


..."Apa yang telah kulakukan? Aku telah berbuat kejam dan istriku membalasnya dengan memberiku hadiah seberharga ini."...


...Bima segera meraih tubuh Rin, ia meraung raung seperti anak kecil, ada bahagia bercampur haru sekaligus penyesalan menjadi satu....


..."Istriku." Meraih Rin ke dalam pelukannya. "Hukum saja aku, bahkan kau sekarang berhak memberiku hukuman mati sekalipun."...

__ADS_1


..."Tidak Tuan, kalau kau mati siapa temanku membesarkan anak ini" Rin tersenyum di dalam tangisnya. Bima berulang kali mengecup puncak kepala istrinya....


...Bima mendongakkan wajah Rin, melihat semua hasil karya berupa luka di bibir dan leher serta dada. Membuat hatinya sakit serasa di remas- remas....


__ADS_2