Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 18 Berusaha menepati janji


__ADS_3

...Bima memutuskan untuk pulang kembali. Rencana menginap dua hari di resort urung ia lakukan, semua itu karena peristiwa kebakaran yang terjadi sore tadi....


...Bima juga menyesal tak seharusnya memaksakan kehendak pada seorang gadis lemah yang selalu patuh karena ketidak berdayaannya, karena sebuah nafsu dia hampir saja merenggut paksa kegadisan Rin....


...Sepanjang perjalanan Rin hanya diam. Bibirnya seakan terkunci, hanya sesekali saja menjawab jika Bima bertanya sesuatu kepadanya. Saat di rumah makan, Rin terlihat tak selera makan....


...Abimanyu yang tau sebabnya. Karena ulah dia, Rin harus kehilangan senyumnya....


..."Rin, makan yang banyak, jika bobot tubuh kamu bertambah kamu semakin cantik, tau." Bima berucap demikian untuk mencairkan suasana, mengharapkan Rin tersenyum senang seperti saat pertama kalinya ia mengajak makan di restaurant miliknya....


..."Kalau memang seperti itu, Rin ingin kurus saja tuan." Rin menaruh sendok dan garpunya. Ia urung menyentuh makanan di depannya....


..."Jangan gitu donk, biar aku yang suapin kamu, ya?" Bima kembali melakukan kebiasaannya, mengusap puncak kepala Rin dengan belaian lembut....


...Segera ia meraih piring di depan Rin dan mulai memotong daging steak yang sejak tadi belum tersentuh. Bima menusuk potongan daging tadi dengan garpu dan mengarahkannya ke dekat bibir Rin....


..."Ayo Rin makan, please !" pinta Bima dengan setengah memohon....


...Rin menggelengkan kepala, semakin Bima membujuknya ia semakin teringat kejadian naas yang hampir saja ia alami. "Rin mohon tuan, jangan lakukan, hiks... hiks... hiks......


...Suara Rin terbata bata, menahan sesak di dadanya, ia saat ini ingin sekali membenci pria di depannya. Namun apa daya dia adalah majikannya. orang yang telah menolong hidup ayahnya....


..."Jika Tuan, menginginkan Rin tetap bekerja, jangan perlakukan Rin seperti wanita murahan, Rin mohon, Tuan" imbuhnya lagi di tengah isak tangis, Rin menangkupkan tangannya menutupi wajahnya. ia terlalu malu untuk dekat dengan seseorang yang ada di depannya saat ini....


..."Rin, kenapa kau anggap dirimu seperti itu? Aku tak pernah menganggap mu serendah itu." Bima panik melihat Rin kembali menangis. Ia menaruh kembali garpu di tangannya....


..."Aku hanya ingin kau menjadi istriku Rin. Aku telah jatuh cinta padamu." Bima mendekatkan kursinya. semakin mengeratkan lengannya pada pundak Rin hingga ia kembali jatuh pada dada bidangnya....


...Bima merasa malu karena Rin menangis semakin menjadi. Banyak mata pengunjung Restaurant yang tertarik melihat Rin yang tak kunjung diam....


..."Kita pulang saja ya, kamu udah jadi tontonan begini, nggak enak banyak yang lihat?" Bima dan Rin bangkit dari duduknya....


...Bima mengantarkan Rin hingga sampai di mobil. Pria itu kembali lagi masuk untuk memesan makanan khusus kesukaan Rin, Bima tak bisa membiarkan Rin harus tidur tanpa sesuap nasi masuk di perutnya. Akhirnya ia memilih untuk take away saja....


...Bima segera kembali, ia menaruh makanan yang ia beli di atas dasboard, agar tak kelupaan saat turun nanti. Mobil mereka kembali menyusuri jalanan, yang masih harus menempuh separuh lagi perjalanan untuk sampai di rumah....


..."Rin, gimana kuliahnya ? Kamu suka nggak? Udah ada teman belom?" ucap Bima kembali memulai obrolan pandangannya tetap fokus pada jalanan yang licin sehabis hujan....


...Rin hanya diam melamun, tak kunjung menjawab tanya dari Abimanyu. Rin tau tuannya hanya ingin dia tak bersedih....

__ADS_1


...Bima sabar walaupun pertanyaannya tak mendapat jawaban, ia tahu sebagai gadis baik-baik Rin pasti terpukul sekali dengan kejadian yang baru saja ia alami....


..."Rin mau kue putu nggak? harum banget ya aromanya, kalau kamu mau biar aku belikan. Aku berhenti dulu di depan situ ya? Parkir di sana sepertinya lebih mudah." Bujuk Bima sekali lagi, saat dirinya melewati penjual kue putu. Namun masih tak ada jawaban, Rin hanya menggelengkan kepalanya pelan....


...Bima kini bingung cara apa lagi yang harus ia lakukan agar Rin mau memaafkan dirinya. Berbagai cara telah ia coba akhirnya Bima juga diam setelah usahanya tak mendapatkan hasil....


...Malam itu mereka berdua telah sampai di rumah, Rendra ternyata juga sudah kembali dari pekerjaannya. Rendra begitu senang melihat Rin telah pulang. Segera ia membantu membukakan pintu untuk tuan dan kekasihnya....


...Rendra sedikit heran melihat Rin mendadak jadi pendiam, ia tak berbicara sepatah katapun, bahkan menatap Rendra yang datang menyambut pun tidak ia lakukan, keceriaan yang Rin miliki telah sirna, di wajahnya seakan ada kabut tebal yang telah menyelimuti, menghalangi pandangannya. Ditambah sikap Abimanyu yang terlihat tak suka dengannya saat Rendra bahagia menyambut kepulangan Rin....


...-...


...Terguncang, kata yang tepat untuk mewakili hati Rin. membuat ia mendadak menjadi pendiam....


...Setelah sampai dikamar Rin segera mengunci ruang pribadinya, terduduk di samping ranjang memeluk lututnya sambil menangis tergugu hingga nafasnya terasa begitu sesak....


...Ketukan dari luar sudah tak ia hiraukan. Bima berulang kali memanggilnya agar ia mau memakan nasi yang tadi ia minta untuk take away....


...Tak ada rasa lapar, bahkan bayangan itu kembali hadir, Rin begitu membenci ketidak berdayaannya. Sakit semakin menyayat ketika ia hanya bisa diam ketika sang tuan membaringkan tubuh mulusnya di ranjang berukuran 2 kali dari ranjang usangnya....


Harusnya dia menolak tegas menolak, bukan malah diam tanpa penolakan. Rin tak percaya dengan dirinya yang begitu lemah di depan pria itu.


...Rin kembali terduduk di bawah guyuran shower, hingga entah berapa kali ia memberi sabun pada tubuhnya. Setelah malam semakin larut tubuhnya sudah sangat menggigil. Rin membalut tubuhnya dengan handuk kimono dan selimut tebal, setelah itu ia ambruk dan terlelap di malam yang sangat buruk baginya....


..."Rin bangun... !" Naya menggedor pintu dengan kencang di pagi hari....


..."Kamu ini bagaimana sih, Rin. Tuan sudah siap berangkat kerja, tapi kamu masih terus di kamar? Rin jika kamu seperti ini terus jangan salahkan saya, jika tuan akan marah padamu!" ucap Naya. Mungkin wanita ini lelah ia lebih banyak bekerja di bandingkan dengan Rin....


..."Maafkan Rin, Bibi," hanya kata itu yang terucap Rin kembali menutup pintu dan mengganti bajunya dengan pakaian kerja yang biasa ia pakai. Setelah itu ia segera menyusul Naya di dapur....


..."Rin kamu potong sayur ini, biar aku yang antar kopi, aku khawatir kamu akan menumpahkannya lagi." Naya menyodorkan sayuran yang baru saja ia ambil dari kulkas. Dirinya segera mengantar kopi ke depan majikannya....


...Melihat Naya yang mengantar membuat Bima berfikir kalau Rin sedang kembali menghindarinya....


..."Panggil Rin, Bi, suruh dia datang padaku, ada yang ingin aku bicarakan." ucapnya pada Naya tanpa ekspresi. Naya dengan tenang menaruh secangkir kopi di dekat Bima....


..."Baik Tuan, Rin masih menyiapkan sarapan untuk tuan, dan ia juga baru ba...." jawab Naya sambil menundukkan pandangannya....


..."Suruh tinggalkan!" ucapnya sedikit tegas....

__ADS_1


...Naya melenyapkan diri dari pandangan Bima. Ia segera mentowel punggung Rin ketika telah sampai di dapur....


..."Rin kamu dipanggil tuan. Kenapa kamu bikin salah lagi padanya?" Naya beransumsi sendiri, apalagi melihat Rin yang matanya memerah dan membengkak sebesar bola pimpong sejak bangun tadi....


...Rin hanya menggeleng kepala, tanpa bicara. Ia segera mencuci tangannya di wastafel. Membiarkan celemek tetap menempel pada tubuhnya. Rin bergegas menemui Bima yang sudah menunggunya....


...Melihat Rin sudah datang, Bima menurunkan kaki kanannya, yang tadi menopang pada lututnya. Ia tak suka Rin berdiri sangat jauh darinya....


..."Duduklah Rin." Bima menarik satu kursi di sebelahnya....


...Melihat Rin yang tidak mendengar ucapannya membuat Bima harus berdiri dan membimbing tubuh Rin agar duduk di sebelahnya. Gadis kecil itu akhirnya menurut....


..."Aku ingin sarapan, mulai hari ini aku ingin kau selalu menemaniku saat sarapan." ucapnya. Tangannya mengambil roti tawar dan mengolesi dengan selai mentega yang selalu tersaji di meja makan....


..."Baik, Tuan." Rin menunduk hormat dan menyembunyikan tatapannya ke bawah....


..."Ini makanlah." Bima mendekatkan roti tadi di dekat bibir, Rin....


...Rin menggigit kecil roti buatan tuannya. Setelah itu Bima menggigit di bekas yang sama....


...Rin sedikit trenyuh melihat Bima mau bekas gigitan bibirnya....


..."Rasanya ternyata lebih enak dari biasanya." ucapnya dengan ekspresi suka....


..."Ayo gigit lagi, Rin." Rin menggeleng, namun Bima memaksa akhirnya ia mau menuruti. Bima mengulanginya lagi menggigit bekas gigitan Rin hingga habis....


...Bima melanjutkan meneguk kopi. Ia mengambil nafas berat untuk memulai bicaranya. Menarik pundak Rin di dekapannya berlanjut mencium puncak kepala yang sudah menjadi candu untuknya di akhir-akhir ini....


..."Rin jangan bersedih, aku akan bertemu pengacara hari ini. Aku akan segera mengajukan gugatan cerai, agar kita bisa segera menikah." ucapannya sangat lembut sambil membelai anak rambut Rin yang terurai kedepan....


...Mendengar kata menikah, Rin seakan memiliki harapan kembali. Ternyata janji sang tuan bukan isapan jempol belaka....


..."Tersenyumlah, kau cantik sekali saat tersenyum." Rin menurut ia tersenyum untuk Tuannya. Ia kembali memberikan kiss morning untuk Bima di pagi hari....


..."Sudah cukup, kamu bisa kebelakang sekarang. Aku khawatir tak jadi berangkat jika kau terus berdiri di depanku seperti ini." Bima segera meninggalkan Rin, ia sangat kesal dengan juniornya yang selalu ikut bangun saat melakukan sentuhan kulit dengannya....


..."Hati-hati di jalan Tuan" kata yang terucap dari bibir merahnya....


..."Terima kasih sayang" mengacak acak rambut Rin dengan gemas....

__ADS_1


...***...


...#Bersambung....


__ADS_2