Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 8 Masuk Universitas


__ADS_3

Pagi telah tiba, Rin mengerjapkan matanya berulang kali, tidurnya terganggu oleh seberkas cahaya yang tepat mengenai pipinya, terasa hangat menerpa. Ternyata ia tadi malam tidur begitu larut, hingga kejadian bangun kesiangan harus terulang yang kedua kali.


"Rin." sapa pria yang sudah memakai pakaian rapi, berdiri tegap di depannya.


"Tuan," sambutnya dengan suara lirih. Rin segera bangun dari tidurnya terduduk di atas ranjang dan memeriksa kancing baju yang ia kenakan. Ia khawatir tanpa sengaja ada yang terbuka saat ia dalam tidur nyenyaknya. Ternyata semuanya masih bertautan dengan aman.


"Maaf tuan aku hari ini kembali terlambat bangun," cicitnya menunduk takut. Ia mengira tuannya akan memarahinya seperti tempo hari.


Pria itu tersenyum dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar.


"Tak usah khawatir. Aku tak akan memarahimu, aku disini hanya ingin menepati janjiku padamu." Tangannya ia selipkan pada saku celananya.


"Janji?" Bingung, Rin lupa janji apa yang pernah Bima ucapkan padanya.


"Iya janji." Bima duduk di kursi kecil yang hanya ada satu- satunya di dalam kamar itu. "Aku sudah berjanji padamu, membantu mewujudkan impianmu, karena harus bekerja di rumahku. Raihlah mimpimu sekarang, aku memberimu izin."


"Jadi aku akan..." Rin tersenyum lebar setelah otaknya pelan-pelan mencerna kalimat dari pria tampan dengan postur tubuh tegap, tinggi, dan kekar yang kini sedang nyaman duduk di depannya.


Rin melonjak girang, ia melompat dari ranjang dan menghambur kearahnya. Ia memeluk tubuh Bima karena sebuah rasa bahagia.


"Terima kasih tuan." ucap Rin sambil mendongak keatas menatap lekat wajah majikannya. Bima mengeratkan satu lengannya, sedangkan tangan yang satunya membelai rambut lembut Rin.


"Maafkan aku tuan jika aku telah lancang." Rin segera beringsut menyadari kelancangannya. memeluk Bima tanpa izinnya.


"Mandi dulu, kita akan terlambat nanti." ujar Bima sambil meregangkan tangannya.


Rin bergegas mengambil handuk menuju kamar mandi. Sekitar 15 menit di dalam sana. ia sudah keluar lagi dengan handuk kimono, dan rambut basahnya ia lilit dengan handuk kecil. "Tuan kenapa masih disini?"


"Tuan keluarlah dulu, aku akan ganti baju." Rin mendorong pelan tubuh bima agar keluar. Bima memperhatikan Rin yang baru selesai mandi, wajahnya begitu segar, kulitnya nampak lebih kencang nan mulus, ditambah aroma wangi blomsom menyeruak di hidungnya. Tetes air dari rambut panjang Rin tanpa sengaja mengenai kemejanya. Sesaat Bima sempat terpesona oleh pesona Rin.

__ADS_1


Segera Bima menggelengkan kepala cepat, serta meraup wajahnya, agar pandangan yang membiusnya segera memudar dari otak mesumnya.


Bima melangkah keluar sambil menunggu Rin ia menyalakan batang Rokok dan meneguk kopi buatan Naya agar gelisah melihat pemandangan tadi segera hilang.


****


Rin dan Bima pagi ini segera mendatangi salah satu universitas swasta di kota Jakarta, ia memilih sebuah universitas yang hanya masuk tiga hari dalam seminggu, dan pastinya Rin mengambil jurusan tata busana sesuai keinginannya.


"Tuan, tunggu diluar saja biar aku sendiri masuk kedalam"


"Kamu serius Rin?"


"Serius Tuan, Rin bukan anak SD lagi."


Sementara Rin masuk ke kampus sendirian, mendaftarkan diri menjadi calon mahasiswa baru. Bima menunggunya di luar kampus. Bima lebih memilih bersandar di luar pintu mobil sambil memainkan ponsel layaknya seorang sopir. Pada saat itu ada notif pesan masuk di ponselnya, Bima segera membuka, ternyata dari Maira. Senyum tak henti hentinya mengembang di bibir pria kesepian itu.


Bima berkali-kali mengamati pintu gerbang, Rin yang sudah lumayan lama di dalam belum juga keluar. Akhirnya Bima menelepon ke nomor ponsel milik Rin. Rin yang sudah selesai mempercepat langkahnya keluar.


Setelah selesai dengan urusan Rin, hari ini Bima mendatangi sebuah toko perhiasan, ia ingin membelikan Maira kado yang cantik dan nantinya ia akan terkesan dengan pemberiannya. Karena kado yang akan dibeli saat ini, untuk hadiah ulang tahun kekasihnya.


Walaupun hari itu sudah terlewat dua hari. Kado itu akan ia berikan saat Bima menjemputnya nanti. Bima sudah banyak berkhayal jauh. Ia merencanakan saat Maira di dalam mobil nanti Bima akan meminta Maira menutup mata, dan ia akan memakaikan tentunya dengan cara yang romantis.


Beberapa kali Bima meminta pendapat kepada Rin, saat ia bingung memutuskan kalung mana yang paling cocok untuk Maira nanti. "Ini sangat cantik Tuan, pasti nyonya Maira akan menyukainya" Saat Rin melihat kalung yang melingkar pada leher manekin.


"Kamu benar Rin, aku juga menyukai yang itu." Setelah lama memilih akhirnya Bima menemukan yang paling sreg dihatinya.


Akhirnya Bima memutuskan untuk langsung menuju kantor tempat kerja Maira , tak masalah jika dirinya sedikit menunggu daripada Maira yang menantinya.


Sambil menunggu Maira datang, Bima mengajak Rin minum dulu di kedai, dekat kantor. Bima memesan secangkir kopi dan Rin Es jeruk nipis saja.

__ADS_1


Mereka bercerita panjang lebar, dan gelak tawa sesekali terdengar. Tak sedikit pengunjung kedai melihat mereka berdua, pasti banyak diantaranya mengira mereka adalah sepasang kekasih jika dilihat dari keakrabannya.


"Tuan, untuk saat ini apa yang paling tuan harapkan?" tanya Rin sambil mengaduk es jeruk pada gelas di depannya.


"Cinta, mungkin aku butuh cinta, Rin."


"Sabar Tuan, sebentar lagi tuan akan bertemu dengan seseorang yang paling tuan cintai." Rin sambil celingukan mengamati setiap mobil yang belok memasuki gerbang kantor, namun mobil kruw Maira belum juga datang.


Ponsel Bima kembali berdering ternyata Maira menghubungi Abimanyu kembali. Kalau ia batal pulang hari ini. Ia akan pulang beberapa hari lagi. Karena acara di Bali akan ditambah dengan liburan bersama kawan-kawan.


Wajah Bima menjadi pucat pasi. Ia begitu kecewa dengan keadaan saat ini, Maira seakan sengaja mempermainkan perasaannya.


"Rin kita pulang, sekarang." ucap Bima sambil meletakkan uang 20 ribu di meja.


Rin heran dengan sikap Bima yang tiba- tiba berubah. "Tapi tuan, Nona Maira belum sampai."


"Lupakan dia Rin, Dia tak pernah menganggap aku ada" Rancaunya saat sedang marah. Sambil menarik lengan Rin kasar, dengan langkah cepat mereka berdua menghampiri mobil.


"Sabar sebentar, Tuan. Bisa jadi jalanan lagi macet." Rin berusaha menahan lengannya bersikeras ingin menunggu sebentar lagi.


"Cukup Rin! Cukup kau membelanya. Dia tak akan pulang hari ini," tegasnya. Mulai emosi.


Bima membukakan pintu untuk Rin, dan menutupnya kencang. Rin terjengkit kaget, namun saat ini hanya diam yang dapat menyelamatkan dirinya. Dalam hati Rin juga sangat takut jika ia nanti akan jadi pelampiasan majikannya yang sedang marah.


Bima segera masuk dan duduk di sebelah Rin kekesalan masih terus menguasai pikirannya. Berulang kali ia memukul kemudi dan meremas rambutnya kasar.


Rin memberanikan diri menombol on pada TV lima inc yang ada di mobil. Niatnya ingin melihat acara salah satu stasiun agar suasana tegang yang terjadi pada Abimanyu akan cepat melunak. Namun semua itu tak terjadi.


Di layar nampak Maira sedang wawancara dengan beberapa reporter. Yang lebih mengagetkan Rin dan Bima, dirinya mengaku masih jomblo, belum mendapatkan laki-laki yang tepat untuknya. Bahkan di sebelahnya ada lengan kekar seorang produser terkenal yang beberapa kali mengeratkan lengan di pinggang Maira.

__ADS_1


"Ah." abimanyu semakin frustasi. berulang kali memukul mukul kemudi karena Emosi.


__ADS_2