
Setelah berhasil membuat Tiara pergi Verro segera menuju ruang yang biasa ditempati oleh Daddynya saat berkunjung ke resto.
Sekilas Verro melempar sebuah senyum kearah Rose dan Izza. Akhirnya senyum balasan yang diharapkan Verro telah ia dapatkan Izza gadis yang sengaja berkacamata agar terlihat culun itu membalas senyum Verro.
"Ros, cowok itu tersenyum pada kita." ucap Izza sambil mentowel lengan Rose saudara kembarnya.
"Iyah, aku melihatnya." jawab Rose.
"Awas kamu nanti suka sama dia?" imbuh izza lagi.
"Jatuh cinta? Nggak semudah itu Za. Sepertinya aku punya ide bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang lebih dulu berhasil menjadi pacarnya akan mendapatkan semua yang diinginkan serta fasilitas gratis dalam sebulan. Termasuk tiket jalan- jalan ke paris, kita lihat eiffel disana."
"Mau banget. Tapi papa Dirga tak ngebolihin kita pacaran, Rose."
"Apa itu masih berlaku? Bukankah kita sekarang ini sudah besar, kita sudah kuliah Za, kita bukan gadis SMA lagi. Lagian ini nggak serius juga. Kita cuma pura- pura aja."
"Okelah, tapi dia cakep banget, Gue takut jatuh cinta beneran." ujar Rose.
"No..." izza menggoyang jari telunjuknya menandakan ia tak setuju kalau sampai jatuh cinta. Karena ini adalah permainan saja.
"Deal." Izza mengulurkan tangannya.
"Senin sampai Rabu aku yang beraksi, Kamis giliran kamu dan ingat waktunya hanya satu bulan okey!?"
"Ok deal, siapa takut." Rose menyambut uluran tangan saudara kembar tapi beda itu, kini mereka akan bersaing mendapatkan hati cowok tampan yang pastinya akan jadi cowok top one di kampusnya. Selain tubuh yang atletis banget didukung hidung runcing serta senyum mempesona Verro. Yakin banget kalau cewek udah dekat pasti akan klepek- klepek.
Bayangan Verro kini sudah sampai di balik pintu,
"Hai... Masuklah Verro." Panggil Bima yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas seabrek di mejanya.
"Oke Dad..."
"Pasti ada maunya, hingga kamu menyusul Daddy kesini."
"Itu Daddy sudah tau." Duduk di kursi kosong tepat di depan Bima.
"Katakan apa yang kamu inginkan, Boy."
"Daddy lupa? Apa karena sudah tua? Black card Daddy, Please, Now"
"Its, okey.... Tapi tolong gunakan untuk hal yang berguna jangan neko-neko...." mengeluarkan sebuah kartu ATM dari sebuah laci.
"Thanks you, Daddy is the best." mengecup kening Bima.
Tapi ada syaratnya. Sepulang kuliah aku ingin kamu membantu Daddy. Supaya kamu tau bagaimana susahnya mencari uang."
"Kerja disini? Sebagai apa Dadd?"
"Sebagai waiter."
"What.... Ah... Daddy kalau bercanda kelewatan."
"Enggak Verro, Daddy serius."
__ADS_1
"Masa Verro harus jadi Waiter sih, verro malu Daddy, Verro memiliki cita cita jadi Dokter ahli Bedah. Masa harus kerjanya jadi waiters."
"Menolak?" sergah Bima. Melipat keningnya menjadi beberapa lipatan."Ya udah Daddy simpen aja lagi, nggak ada card untuk kamu."
"Tidak Daddy. Oke Verro setuju jadi Waiter." mberengut kesal
"Yah gitu donk jadi anak Daddy jangan manja lagi, udah gedhe soalnya. Waktunya mandiri."
"Ok... ok.. Verro terima."
"Verro pulang." Verro megecup tangan Daddy yang sudah terulur ke arahnya. Walaupun hatinya sedikit jengkel tak mungkin Verro menunjukkan kepada ayahnya yang jelas sudah menyenangkan hatinya sejak kecil.
Verro kini berjalan keluar, meninggalkan salah satu rumah makan milik Daddy. hari ini ia ia sudah janji dengan Revan temannya SMA untuk menyaksikan sepakbola di gelora.
Verro buru buru keluar hingga tak menyadari ada dua gadis yang sedang mencoba menyusun siasat untuk mendekatinya.
"Ishhh,". desisnya, minuman jus tumpah di dada Rose yang memang sudah di rencanakan olehnya sendiri.
"Eh... Sorry, aku nggak sengaja." Verro tergagap karena saat keluar tadi dia sibuk membuka pesan di ponselnya.
"Aaaaa, liat- liat donk." Rose terlihat kesal dan mengibaskan bajunya yang basah. Namun jus segar itu segera meresap masuk pada pori-pori bajunya.
"Gimana ini? Aku nggak mungkin pulang pake baju seperti ini." Terlihat panik.
"Oke-oke dimana kamu tinggal? Biar aku antarkan."
"Apartement?" jawab Rose lagi.
"Aku asli Surabaya, jadi aku harus tinggal di apartement, kalau ingin ikut UTBK di UNS."
"Oh... Verro mengangguk mengerti."
"Kalau begitu berikan alamat kamu, agar aku bisa mengantarmu pulang."
Rose terlihat membuka resleting tas slempangnya dan memberikan sebuah kartu, ternyata itu alamat apartement yang Rose tinggali.
"Jadi kamu tinggal didekat kampus UNS."
Verro kini mengerti apa yang membuat izza merubah penampilannya pasti karena ingin melindungi dirinya, menyembunyikan kecantikannya, karena dia adalah gadis rantau. Izza memang berbeda dengan Rose. Rose suka jika banyak orang mengaguminya. Rose memiliki percaya diri yang tinggi. Itulah Rose, yakin pada dirinya, kalau dia pasti akan sangat mudah mendapatkan hati seorang Verro.
"Verro, apa kamu hari ini sibuk, atau buru- buru, ada urusan lain,mungkin."
"Nggak, oh iya ada."
"Jalan - jalan sama cewek tadi?"
"Tiara maksud kamu? Dia sudah seperti adik buat aku."jelas Verro ketika mengenang Tiara.
"Oh, Dia pasti senang ya dapat perhatian khusus dari kakak sebaik kamu."
"Mungkin." jawab Verro santai tak perduli pujian Rose.
"Tampan sekali Verro ini." gumamnya lirih, Rose Izba sesaat terpana dengan wajah Verro. Namun segera menyadari kalau dia tak boleh jatuh cinta pada pria yang jadi taruhannya bersama kakaknya itu.
__ADS_1
Ketika sampai di pintu masuk apartement. "Kamu nggak masuk, aku buatkan minum, bentar aja?"
"Em boleh."
Verro dan Rose masuk ke dalam lift, jari Rose memencet tombol 9, itu artinya mereka tinggal diapartement no 9.
Tak sampai lima menit mereka sudah sampai, Rose segera menghempaskan bobot tubuhnya di sofa ruang tamu. "Hadeeh.... Capek banget hari ini."
Verro tersenyum. "Emang habis ngapain aja? Kayak habis maraton saja."
"Emang, oh iya aku buatkan minum dulu, mau yang kaleng atau bikinan sendiri."
"Emm... air putih aja deh, kan kamu baru saja bilang capek."
Kalau bikin minum buat kamu doang, masih bisa juga kali." Rose beranjak dari duduknya dan meninggalkan seulas senyum sebelum tubuhnya lenyap di balik dinding.
Tak lama Rose sudah kembali membawa dua gelas minuman jus jeruk untuk Verro.
"Cepet amat?"
Iyah tadi bibi yang buatkan minum dan aku ganti baju."
"Oh..."
"Diminum dulu." meletakkan pelan diatas meja, mendekatkan ke Verro.
Verro meraih gelas dan menyesapnya pelan. Tiba- tiba ponsel Verro berdering.
"Revan calling." Verro segera teringat janjinya pada Revan. Kalau sore ini ia sedang ada janji untuk melihat pertandingan sepak bola.
Terlihat Verro bangkit dari duduknya. " tubuh mungil seputih susu. Itu segera ikut beranjak dari duduknya pula, mengantar Verro hingga pintu." buru- buru amat."
"Sorry Rose, Aku ada janji sama Revan."
"Makasi ya, minumnya!"
" Apa,an si, Aku yang harus bilang makasi udah diantar pulang."
"Oh iya Verro!" Panggil Rose lagi.
"Number phone."
"Oke ingat ya, aku hanya akan bilang satu kali saja, tak ada siaran ulang. 0813xxxxxxxx." ujar Verro.
"Tapi kalau satu kali kamu hafal kita jodooooh." kelakarnya.
"Gila Verro. Eh tapi nomernya tadi cantik bukan, lima angka di belakang angkanya sama semua." gumam Rose lirih.
"Verro aku pasti meneleponmu." Teriak Rose sebelum pintu lift tertutup sempurna. Dan Verro tersenyum simpul hingga membuat cekungan dipipinya. tak lupa dua jempol ia berikan kepada Rose.
"siip" ujar Verro.
"Yes rencanaku berjalan mulus." Batin Rose senang.
__ADS_1