Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 35. Kabar gembira


__ADS_3

...Malam telah tiba, Rin berjalan mendekati jendela, ia melihat pemandangan nan jauh disana, bulan bercahaya redup, terhalang oleh kabut, bergerombolan burung malam mulai beterbangan mencari buah yang sudah matang. Angin sepoi mulai menyentuh kulit....


..."Dingin ya?" tanya Abimanyu....


..."Hmmm."...


..."Masuk yuk."...


..."Aku ingin disini dulu, Sayang, aku rindu ayah dan ibu, jika aku melihat bulan itu, seakan aku melihat bayangannya disana." berdiri di jendela kamar terpaku, mengamati cahaya rembulan menerpa wajah ayunya....


...Bima tau Rin memikirkan hasil test DNA itu, jika kembali rindu orang tuanya sepertinya tak mungkin. Rin baru saja dua hari yang lalu bertemu dengan orang tuanya....


..."Kalau begitu aku akan temani kamu disini." mengambil selimut warna merah bergambar mickey mouse dan menangkupkan pada punggung Rin. Setelah itu ia ikut berdiri di sebelah Rin, mengamati pemandangan yang sama....


..."Apa kamu tadi melihat semuanya?" Tanya Bima....


..."Tidak."...


..." Bohong."...


...Menghembuskan nafas kasar. "Lalu kenapa, jika saya tau semuanya. Yang tuan lakukan itu sudah benar."...


..."Istriku, kau baik sekali." mengeratkan lengannya di pundak Rin....


...Kau juga baik tuan, bahkan kehadiranmu adalah malaikat di kehidupanku....


...Tersenyum simpul, memandang suaminya dengan tatapan penuh cinta. "Kau jauh lebih baik tuan, kau jadikan aku istrimu, sedangkan seharusnya aku hanya melayani dirimu sebagai pembantu."...


..."Tidak, wanita secantik dan sebaik kamu tak pantas bekerja kasar seperti itu. Kau harus bahagia."...


..."Tuan." tersipu....


..."Panggil aku sayang."...


..."Sayang."...


...Mereka merayu satu sama lain di ruang yang amat tenang. Bahkan serangga pun tak berani mengganggu dunia mereka saat ini....


...Mengecup kening Rin dengan lembut. Merasakan suhu tubuh Rin sedikit menghangat. "Badan kamu hangat, Baby. Apa kamu sedang sakit?"...


..."Tidak, aku hanya pusing dan butuh istirahat." menampik kenyataan yang ada tak ingin suaminya khawatir dengan gejala sakit ringan yang ia rasakan....


..."Kalau begitu istirahatlah, yang nyenyak. Aku akan mengantarmu ke kamar." Bima mengantarkan Rin ke kamar. Sambil membawa laptopnya yang tergeletak di atas meja kerja...


...Hari ini Bima ingin bekerja sambil menunggu Rin tiduran di sebelahnya. Bima sibuk memeriksa file-file yang dikirim oleh Soni dan Dion....

__ADS_1


...Kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang diluar dugaan. Resort semakin ramai, restaurant juga tak pernah surut pengunjung....


...Abimanyu sesekali melirik kearah istrinya yang tidur pada satu pahanya. membelai Rambut Rin seperti seorang ayah yang menidurkan bayinya....


..."Tidurlah baby, yang nyenyak." ketika mendapati Rin menguap berulang kali. Sedangkan dirinya masih sibuk pada diagram dan angka yang tertera di layar laptopnya....


...Tak lama Abimanyu juga mengantuk ia pun menyusul Rin yang sudah pulas tanpa mengusiknya sedikitpun.....


...*Esok pagi*...


...Rin terbangun dari tidur panjangnya. Ia melihat sekeliling sudah sepi, sosok suami juga tak ada di sampingnya....


..."Aku lupa, Tuan hari ini berangkat pagi." menepuk jidatnya penuh penyesalan....


...Abimanyu jarang sekali datang ke kantor begitu pagi, namun hari ini ia sengaja melakukannya, karena ingin sarapan bersama dengan para staf dan karyawan sebagai rasa terima kasihnya, Berkat mereka semua usahanya bisa berdiri kokoh seperti sekarang ini....


...Rin bangun dari tidurnya, ia hendak pergi ke kamar mandi, namun tubuhnya semakin pusing ditambah lagi ada gejolak mual di perutnya. Rin tetap berusaha keras agar sampai ke kamar mandi....


...Sampai di kamar mandi Rin merasakan gejolak semakin dasyat dari perutnya. Padahal kamar mandi itu berbau harum dan bersih, karena baru saja dibersihkan oleh Bi Naya. Pagi tadi....


..."Hooooek... Hoeeeek... Hoeeeek..."...


...Rin memuntahkan cairan berwarna kuning dan pahit sekali. Menciptakan rasa tak enak di mulutnya....


...Selesai mengeluarkan cairan bening itu Rin mencoba mendongakkan kepalanya mengharapkan mual itu akan pergi. Tapi ternyata tidak, mual itu masih setia berada di perutnya....


...Bi Naya yang sedang mengelap kaca di dekat kamar tuannya, mendengar Rin yang sedang merasakan sakit sendirian segera datang menghampiri....


..."Kenapa Rin, apa kamu tak apa apa?" memijit mijit tengkuk Rin pelan....


..."Entahlah, Bi? Aku tiba-tiba pusing dan mual."...


..."Apa kamu sedang hamil?" tanya Naya menduga duga kalau Rin sedang mengandung....


..."Hamil?" Rin terkejut ketika mendengar kemungkinan dirinya hamil....


..."Apa hanya orang hamil saja yang seperti ini, Bi?"...


..."Tidak juga, bisa saja karena asam lambung kamu kambuh. Apa saat berhubungan Tuan memakai pengaman?"...


..."Tidak." Rin menggelengkan kepalanya. Abimanyu memang tak pernah sekalipun menggunakan alat yang di sebut Naya....


..."Apa kamu memakai kontrasepsi?" tanya naya lagi makin penasaran....


...Rin menggelengkan kepalanya pelan. " Tidak juga."...

__ADS_1


..."Kalau begitu bisa saja kamu sekarang sedang mengalami awal kehamilan." Naya mulai terlihat yakin kalau Rin hamil.....


..."Baiklah kalau begitu biar aku belikan testpack di apotik. Kamu sekarang istirahat dulu ya." Ucap Naya sambil membantu Rin berdiri dan memapahnya hingga ke ranjang. Rin akhirnya memutuskan untuk rebahan lagi....


...Sebelum berangkat ke Apotek Naya mengantarkan teh hangat terlebih dahulu. Agar Rin segera meminumnya. Ia berharap teh itu bisa sedikit meredam gejolak yang ada di perutnya....


...Naya berjalan keluar rumah membuat Maira yang sedang bersantai di teras bertanya tanya....


..."Hey, mau kemana kamu?"...


..."Ke apotek, Nona?"...


..."Apotek? Ada perlu apa? Siapa yang sakit?"...


..."Em, Saya Nona, butuh obat sakit kepala."...


...Naya sengaja berbohong agar Maira tak lagi banyak bertanya Karena Naya tau bagaimana sifat Maira yang sesungguhnya. Ia begitu membenci jika ada saingan dalam hidupnya. Bahkan ia tak segan akan melakukan hal diluar manusiawi sekalipun....


...Naya berjalan cepat menuju Apotek. Hanya beberapa menit disana ia segera kembali. Kebetulan Apotek sedang lengang pengunjung. Naya membeli tiga buah alat test kehamilan dengan berbeda- beda merk. setelah selesai naya menyembunyikan di kantong celananya....


...Sampai di rumah Naya segera menuju kamar Rin, membuat Maira curiga dengan gerak- gerik pelayannya. Yang baru saja bilang sakit kepala tapi kondisinya sehat bugar....


...Naya menyodorkan cawan kecil kepada Rin. Rin menerimanya dan segera masuk ke kamar mandi untuk mengisi dengan urine nya....


...Dengan buru- buru naya segera mencelupkan alat yang ia beli tadi tanpa merasa jijik, karena naya ingin membantu wanita yang sekarang terlihat rapuh itu. Jika Rin sendiri yang melakukannya ia takut akan melakukan kesalahan, karena ini pertama kali dalam hidupnya.....


...Setelah tiga menit alat itu manampakkan hasilnya. "Rin, alat ini semuanya bekerja dengan baik, lihat hasilnya semuanya positif." Naya begitu girang mendapati ketiganya menunjukkan garis dua....


..."Rin kamu hamil... Kamu mengandung anak dari tuan Abimanyu." ucap Naya lagi penuh haru....


..."Bi, apa benar, Bi." Rin ikut terharu, matanya berkaca kaca, sambil membekap bibir mungilnya karena bahagia bercampur haru tak dapat di bendung lagi....


..."Iya, ada putra dari tuan Abimanyu, di rahimmu, oleh sebab itu kamu mual dan pusing"...


...Mereka berdua kembali berpelukan layaknya sang anak dan ibu....


..."Bibi, aku akan membuat suamiku bahagia, Dia menginginkan anak ini, Bi." Rin mengeluarkan tangis harunya....


..."Iya, Bibi ikut senang." Mengelus kepala Rin dengan lembut seperti yang biasa Abimanyu lakukan padanya....


..."Selamat Rin. Apa kamu tak ingin memberitahu semua ini kepadanya sebagai hadiah ulang tahun, dua hari lagi Tuan Abimanyu akan berulang tahun"...


..."Baiklah Bi." Rin mengangguk setuju. Walaupun dihatinya ia ingin memberitahukan kabar gembira ini sekarang juga. Namun Naya memberikan ide yang lebih briliand. Akhirnya Rin menurut saja....


...Begitu mengetahui kalau ia sedang hamil. Rin menjadikan mual dan pusing di kepalanya ini sebagai ujian kebahagiaan. ia berjanji akan melewatinya dengan suka cita tanpa mengeluh.

__ADS_1



Visual Rindang Injali...


__ADS_2