Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 6 Bubur Sum-Sum


__ADS_3

...Rin menikmati perjalanan dengan majikannya malam ini. walau Bima tetap dengan sikapnya yang kaku, Rin tetap merasa aman di dekatnya. Segalak apapun pria itu dengannya namun Rin tetap menilai Bima adalah sosok yang baik dan pengertian. Buktinya ada sedikit saja keluhan dia segera mengetahui dan memanggilkan Dokter untuk memeriksanya....


..."Aku nggak suka kamu bandel Rin, Kamu harus sehat, kalau kamu sakit seperti ini kamu merepotkanku, mengerti? Selain itu kamu juga tak bisa bekerja, kapan hutangmu akan lunas?" ucap Bima ketika ia sudah dekat dengan tempat yang ingin ia datangi....


...Kalau yang berbicara bukan Abimanyu, majikannya. Pasti Rin sudah membantah ucapannya tadi. Namun Rin hanya memilih diam tetap fokus pada jalanan didepannya daripada melakukan pembelaan....


...Tuan, aku tak meminta kau repot-repot, kau yang menyuruhku malakukan keinginanmu, sungguh kau aneh. Apapun kau lakukan sesuai maumu dan kau menuduhku merepotkanmu....


...Bima memarkir mobilnya pada restaurant megah yang lagi ramai pengunjung, bergaya ala restoran jepang yang tepat berada di depannya saat ini....


..."Turun Rin!" perintahnya, setelah mobil berhenti namun Rin tak beranjak dari duduknya....


...Bima heran melihat Rin yang tiba-tiba terdiam dan seakan ia telah mengakar pada jok yang ia duduki....


..."Rin!" Panggilnya lagi, pertanda Bima tak akan mengulangi kata- katanya....


..."Tuan saja yang masuk, aku lagi nggak ingin makan. Lagi pula ini restaurant mahal, aku mana mampu membayar, hutangku padamu masih banyak, Tuan." Mendengar ucapan Rin barusan Bima menjadi kesal, seakan niat baiknya mendapat balasan acuh dari gadis polos di depannya....


..."Rin, kau akan menyesal jika aku bertindak nekat menurunkan kamu dari tempatmu," tegasnya lagi....


..."Jangan memaksa tuan, aku tak mau," Rin semakin terlihat seperti gadis bodoh. Ia sensi terhadap ucapan majikannya soal hutang tadi....


..."Ayo turun bandel, kalau kamu tak turun terpaksa aku akan menggendongmu." Bima segera membuktikan kata-katanya....

__ADS_1


...Pria itu mengangkat tubuh Rin seperti menggendong seekor kucing dengan mudah, Rin yang mendapat perlakuan dari majikannya, memukul mukul ringan lengan kokoh itu dan meronta. Namun tubuhnya terlalu lemah untuk otot Bima yang kekar....


..."Iiih, Tuan nyebelin sampai kapan memaksa seperti ini? Lepasin..., Lepasin..., malu dilihat orang!" teriaknya, Rin tetap meronta dengan percuma, Bima tak menggubrisnya. Ia baru bisa turun ketika Bima mengizinkan dan melepas tubuhnya di depan pintu masuk....


..."Aku hanya ingin kau makan sesuatu, itu saja. Jika memang yang menyebabkan semua ini aku, sudah semestinya aku bertanggung jawab padamu," jelasnya dengan sungguh- sungguh. Rin akhirnya menurut saja. Ia mengikuti langkah Bima masuk ke dalam....


...Bima mengambil duduk asal ada kursi kosong tanpa memesan nomor meja terlebih dulu. Tak lama pelayan mendekatinya ia menunduk sopan. "Tuan makanan apa yang kau inginkan?" Tanya pelayan, sambil menyodorkan sebuah buku daftar menu. Seorang pria ganteng berdiri mematung di depan Rin setia menunggu jawaban dari Bima. Bima memeriksa daftar menu dari atas hingga bawah....


..."Berikan satu porsi bubur sum- sum!" Rin mengernyitkan dahinya ingin tertawa dengan tingkah konyol majikannya, sudah jelas di dalam buku tertulis menu-menu khas jepang seperti chicken teriyaki, jamur matsutake dan lainnya. Bima malah memesan bubur sum-sum....


...Namun anehnya waiter tadi tak menolaknya. Ia tetap menyetujui pesanan Bima, Seketika Rin teringat suatu hal, menyadari saat ini ia pasti sedang duduk di restoran mewah milik tuannya. Timbul niat Rin untuk mencicipi berbagai menu dan rasa yang disajikan oleh restaurant terkenal ini. Rasanya hari ini ia tak akan puas kalau hanya makan bubur sum- sum saja....


...Rin memilih hingga empat macam menu yang ada di daftar buku, sekaligus ingin mengobati rasa penasarannya terhadap nama makanan asing yang tertera. Bima sesaat kaget dengan porsi makan gadis yang sebanyak itu, apakah nanti ia akan mampu menghabiskan semua. Namun ia memilih cuek asalkan ia senang dan nantinya tak akan butuh perhatian ekstra darinya lagi....


...Sesungguhnya Rin memang tak ingin Bima memperhatikannya seperti sekarang ini, namun hati Bima sendiri yang tergerak sepertinya sudah sepantutnya ia bersikap demikian dengan seorang yang sedang dalam kondisi lemah....


..."Rin, ayo dimakan semuanya, kau sudah memilihnya tadi, kau harus habiskan sekarang!"...


..."Tuan, tidak makan?" tanya balik Rin pada Bima, sambil terus mengunyah makanan penuh di mulutnya....


..."Tidak, aku melihat semua makanan yang kau pesan ini saja rasanya sudah kenyang, kamu makan saja sendiri." Bima menolak. Ia lebih memilih memperhatikan makan Rin yang secara bergantian mencicipi menu di depannya namun tak ada yang dihabiskan....


...Sambil menunggu Rin selesai makan. Bima kembali meraih benda pipih di saku hemnya. Rasa rindu kepada kekasihnya tiba-tiba menyeruak datang menghampiri. Bima menelepon Maira, akhir- akhir ini Maira semakin jarang menghubungi, kalau bukan dirinya yang menelepon terlebih dahulu. Saat ditelepon pun sering ia sedang sibuk atau beralasan lain....

__ADS_1


...Tuut... Tuut... Tuut.......


...Terputus, panggilan pada Maira kembali tak terhubung, semua itu dapat Rin lihat dari sempurnanya kerutan di kening Bima, membuat alis yang sudah tebal itu seakan bertautan tanpa ada jarak dari keduanya....


...Maira, siang kau bilang sibuk, malam kau juga tak bisa dihubungi, kenapa kau memilih kerja siang dan malam, jika sebenarnya dengan menikah denganku saja, aku mampu menafkahi dirimu, apapun yang kau inginkan aku pasti akan memenuhi tapi kau... akhh"...


...Bima memasukkan kembali handponenya. Kepalanya terasa pening dan semakin berat, tersiksa oleh perasaan cinta pada orang yang jauh disana....


..."Nona Maira pasti sibuk ya, Tuan?" Tanya Rin memberanikan diri....


..."Entahlah" jawabnya singkat....


..."Tuan sepertinya sangat mencintai Nona, beruntung ya Nona Maira mendapatkan kekasih seperti tuan Bima." ucapnya polos....


..."Kenapa? Kamu ingin memiliki kekasih sepertiku?"...


..."Tidak tuan, aku belum ingin merasakan jatuh cinta, aku ingin meraih cita citaku dulu..." Rin terus berbicara dengan mulutnya yang penuh....


..."Apa yang kau inginkan?" Bima serius menanggapi kata kata Rin, sedangkan Rin mengatupkan bibirnya rapat, menyesali kata yang baru saja terlontar dari bibirnya....


..."Aku ingin menggapai sebuah impian, tapi itu tidak mungkin lagi Tuan, aku saat ini sudah bekerja di rumah, Tuan. Akan sangat lama aku bisa melunasinya bahkan bisa dalam waktu bertahun- tahun, apalagi separuh dari gajiku harus aku kirim untuk orang tuaku," tiba- tiba pandangan Rin meredup oleh air mata yang sengaja ia tahan hingga menggenang di pelupuk....


...Mendengar curhatan Rin, hati Bima yang tadinya sekeras baja kini melebur. Ia kasihan pada gadis di depannya, tak benar ia menahan seseorang sebagai pembantu, yang harusnya di usianya memiliki kebebasan, apalagi dengan sebuah alasan karena orang tuanya terlilit sebuah hutang....

__ADS_1


..."Apa yang kau inginkan?" kau bisa katakan padaku, aku akan membantumu." Jari Bima menyapu lembut rambut Rin yang tergerai....


...Rin membiarkan Bima melakukannya, dalam hatinya meyakini seorang di depannya sebagai kakak, kakak yang mengayomi sekaligus malaikat penolong yang dikirim tuhan untuknya....


__ADS_2