
"Beb, tunggu...! Jangan marah dulu."
"Gimana ni Bang?" Denia juga tak enak hati dengan Rin yang cemburu buta, apalagi melihat wajah gembul Verro yang tampan lucu dan putih itu. Denia sejak tadi sudah ingin mencubit pipinya saja.
Kamu tenang saja, kamu persiapkan acara selanjutnya biar aku yang akan menenangkan istriku.
"Istri anda kalau cemburu lucu yah."
"Dia kesayanganku, sebenarnya aku tak tega membuat dia seperti ini kalau bukan Mahesa sialan, yang bikin ide konyol." selesai berbicara dengan Denia, Bima segera berlari menyusul Rin.
"Yang kamu bilang sialan itu kekasihku, Bang." teriak Denia
"Kekasihmu atau apalah aku nggak perduli, itu bukan urusanku." Kini jarak bima dan Rin semakin dekat.
"Jangan halangi aku Tuan, Tuan tau aku dan Verro sedang menunggu, tapi malah mengabaikan kami?" Rin berhenti berjalan dan memalingkan wajahnya ketika Bima menghalangi di depannya. Rin berusaha mencari jalan yang lain, lagi- lagi Bima menghalangi.
"Tega sekali tuan berkhianat, tuan ternyata laki-laki buaya juga, aku kira selama ini tuan bener sayang sama aku dan Verro, Minggir!!" Rin berusaha mendorong suaminya.
"Aku memang sayang kok, Aku sama Denia tak ada apa- apa?" kilahnya Abimanyu.
"Tuan kalau tak ada apa- apa kenapa pintunya harus ditutup? kenapa juga tuan menyentuh tangannya tadi? aku masih belum buta tuan! Tanganmu tadi diatas tangan wanita itu!" Jelas Rin tak mau menyerah.
"Beby, tadi itu tak sengaja." Mulai lelah karena Rin kalau cemburu keras kepala juga.
"Tak sengaja?... Ha...ha anak kecil mungkin percaya jika kau berkata demikian, tapi aku tak sebodoh itu juga."
"Aaaaaaaaa.... Bunda jangan malah malah , Deddy jangan malahin bunda aaaaaaaaaa...." Verro lebih galau melihat orang tuanya lagi adu mulut. Akhirnya Verro memilih turun dari pinggang Rin.
"Sayang kamu juga bela Bunda, lihatlah! Bunda yang sedang memarahin Daddy sayang." Bima hendak mengambil alih Verro dari gendongannya. Namun Verro menolak. Verro memukul mukul lengan Bima. "Vello nggak mau sama Daddy."
"Sekarang buat apa kesini? Sana teruskan saja bersenang senang dengan kekasih barumu."
"Minggir jangan halangi aku lagi." Masih berusaha menghindari Bima didepannya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku, aku lama- lama akan mati tanpamu sayang?" akhirnya rayuan maut keluar juga.
__ADS_1
"Mati saja sana, aku tak perduli padamu, Tuan."
"Apa? Kau benar rela kalau aku mati?" memicingkan sebelah matanya.
"Kenapa tidak? Kau benci perselingkuhan, tapi sekarang kau selingkuh." Jawab Rin tegas.
"Kamu sudah cemburu buta, Beb!" Nada suara Bima mulai rendah. Sambil tangannya membelai Rambut Rin. Namun Rin sekali lagi menepisnya.
"Aku bukan Beb mu lagi." Rin semakin berapi api. Kekesalannya semakin menjadi karena Bima tak juga mau minggir.
"Aku benci kau memanggilku dengan bibir pembohongmu itu, Tuan." Rin terlihat putus asa, kalau tak lagi banyak orang pasti ia sudah meraung raung. Mencakar cakar wajah Bima. Itupun kalau dia punya keberanian. Tapi untuk saat ini Rin masih memikirkan harga dirinya, apalagi ada Mahesa dan Denia yang melihatnya dari kejauhan.
"Yang, tak ada yang selingkuh, Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun itu saja. Baby." Bima segera memeluk tubuh Rin secara paksa. Dan menciumi keningnya berulang kali.
"Selamat ulang tahun sayang. Selamat ulang tahun my love" memeluk Erat. Bahkan sangat erat seolah ia bersalah banget karena mengerjainya tadi.
Mahesa dan Denia tepuk tangan dari arah belakang sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk Rin.
Selamat ulang tahun kami ucapkan...
Selamat ulang tahun kita kan doakan....
"Nggak lucu." Rin menumpahkan airmatanya yang sejak tadi ia tahan. Air mata itu membasahi hem Abimanyu yang sudah ia semprot dengan farfum impornya tadi.
"Jahat banget, tapi tadi sungguhan pegang tangannya." ucap Rin lirih ketika menyandarkan tubuhnya pada dada Bidang Abimanyu.
"Maaf." Bima mengelus punggung Rin. "Itu tadi aku juga bersalah banget melakukannya."
"Kenapa dilakukan juga?"
"Supaya terlihat sungguhan."
"Jahat... jahat... jahat..." Rin tersipu malu.
"Selamat ulang tahun kakak... Jangan cemburu lagi, asal kakak tau suami kakak tak punya nyawa lagi untuk selingkuh. Nyawanya cuma satu, untuk kakak dan putra kalian, si tampan ini," ujar Denia sambil mengulurkan tangan memberi selamat.
__ADS_1
Denia kemudian merunduk dan mencium pipi Verro gemas.
"Maafkan tante sayang, sudah buat Verro menangis tadi."
Verro memilih bersembunyi di balik tubuh Rin. Ia tak suka kalau ada seorang yang membuat bundanya bersedih.
"Sayang, tante bukan orang jahat." imbuh Denia yang kini berjongkok mengsejajari tubuh Verro dan mengulurkan tangannya. "Kita bisa menjadi teman Verro," ujar Denia lagi.
Di sela sela obrolan Denia dan Verro. Mahesa juga tak mau ketinggalan memberi ucapan selamat untuk Rin. "Selamat ulang tahun Rin, semoga kamu sehat selalu, panjang umur dan makin can...."
"Ehmmmm.... Hanya aku yang boleh bilang cantik Hesa. Pujianmu itu berikan saja pada kekasihmu," protes Bima
"Yah, Gue salah lagi. Kalau begitu kita masuk saja Bim, aku sudah lapar." Mahesa mengelus perutnya yang mulai berdendang nyaring..
Mereka berlima kini masuk ke sebuah gedung besar di sebelah kantor utama. Bima menggandeng lengan Verro sebelah kanan dan Rin sebelah kiri mereka terlihat sangat harmonis. Disusul Mahesa dibelakangnya dan Denia mengeratkan tangannya di lengan Mahesa.
Mahesa berkali kali melepas pegangan Denia, tapi Denia sengaja mengeratkan lagi. Akhirnya Mahesa menyerah.
Rin dan Bima membuka pintu utama gedung setinggi tiga meter, kemudian melangkahkan kakinya masuk.
" Wowwww..." Rin takjub di buatnya ada banyak sekali hiasan di langit- langit gedung dan bunga bunga berjatuhan dari atas. menambah kesan elegant pada ruangan tersebut.. Kue besar tingkat tiga juga tak luput dari pandangan Rin.
"Siapa yang mengerjakan semua ini , Yang?"tanya Rin yang masik dibuat takjub oleh pemandangan sekitarnya.
"Kenapa kau tanya sayang? Siapa lagi kalau bukan aku yang menyuruhnya."
"Iyah terima kasih sayangku. Kau memang menyuruh orang tersebut dengan uangmu. Tapi aku ingin berterimakasih pada orang yang sudah bekerja keras untuk semuanya."
"Jika kau ingin tau orangnya maka jawabanya aku tak akan memberitahunya." Bima tak ingin Mahesa mendapat ucapan terima kasih dari Rin, Bima lebih memilih berkelit daripada bicara jujur.
"Bunda yuk kita potong kue dulu ya?" ajak Verro
"Oke sayang." Bima menggendong Verro tinggi tinggi. Dan membawanya mendekati kue raksasa.
Kini Rin mulai memotong bagian paling atas dan mengambil potongan kecil itu untuk Verro. Potongan kedua untuk suaminya Abimanyu. Serta potongan yang lainnya untuk mahesa, Delia dan seluruh tamu yang hadir. Khusus Abimanyu dan verro Rin menyuapinya.
__ADS_1
"Sayang di ulang tahun yang ke 23 semoga akan tercapai semua yang diinginkan," ujar Bima
"Terima kasih, Sayang." mereka berdua akhirnya saling pandang dan bergantian melempar senyumnya.