
...Aroma harum dari wangi sabun yang dipakai Rin menyentuh indera penciuman Bima, pria itu bisa menghirupnya walau dengan jarak dua meter. Bima kembali melihat sosok asli Rin yang cantik dan memikat setelah selesai mandi. Walaupun bajunya yang dipakai sederhana tetap saja ia sangat menarik dilihat dari wajah dan kulitnya, Rin seakan memiliki iner beauty yang terpancar pada dirinya....
...Bima menyuruh Rin duduk di tepian ranjangnya, dengan tangannya mengisyaratkan menepuk sofa. Rin menurut patuh. Ia menempelkan separuh dari pantatnya....
..."Tuan, anda menyuruh saya kemari?" mulai bertanya, tak mengerti apa yang akan ditugaskan Abimanyu untuknya. Ia masih penasaran dengan emoji yang dikirimnya tadi. Karena ini pertama kali Bima mengirim sebuah pesan untuknya. Bima yang tiba-tiba memiliki nomornya, pasti pria itu telah mengambilnya saat handpone Rin tadi pagi tertinggal di nakas. Saat dirinya berangkat kuliah....
..."Rin kamu pijit pelan lenganku, tubuhku terasa pegal semua karena aku beberapa hari ini tak bergerak kemanapun," meregangkan otot otot kepalanya. "Tiduran saja membuat tubuhku sangat lelah," ucapnya lagi sambil menjatuhkan lengannya di pangkuan Rin....
...Rin dengan ragu menuruti ucapan Bima, pelan pelan ia menekan lengan keras berotot milik tuannya. Rin melakukannya dengan ragu, selain ada perasaan gamang, Rin juga tak memiliki keahlian memijit, tapi apa lagi yang bisa ia perbuat selain menuruti, Rin hanyalah seorang pembantu dan Bima Majikanya....
..."Rin," nama yang keluar dari bibirnya saat ia merasakan tangan halus Rin. Pijitan tangan lemah itu hanya serasa seperti belaian saja. "Istirahatlah setelah ini, kamu pasti capek."...
..."Iya Tuan." Rin berdiri hendak melangkah pergi....
..." Tunggu, duduk kembali! Kamu boleh pergi setelah jawab pertanyaanku." Bima kembali teringat ia pernah bertanya sesuatu, sebuah jawaban belum ia peroleh dari Rin....
...Mulai gelisah, tangannya gemetar, Rin duduk seperti semula. "Maaf tuan aku sudah menjelaskan, aku khawatir pada keselamatanmu."...
..."Kau berbohong Rin, jujur saja, kau suka padaku?" kembali duduk dan menyandarkan punggungnya pada sisi hiasan ranjang. Mengharap sebuah jawaban yang artinya, Iya. Dari seorang Rin....
..."Tuan, maafkan saya, mana mungkin saya punya keberanian menyukai Tuan, sedangkan saya sadar diri siapa diri saya.)" Wajahnya tertunduk menyembunyikan ekspresi yang tak bisa ditebak oleh makhluk lain selain hanya Rin dan Tuhan saja....
..."Jika sudah selesai biarkan saya pergi, Tuan." buru- buru melangkah....
...Bima dengan sigap berdiri menyusul, tangannya membalikkan tubuhnya, mencekal kedua bahu, bibirnya melakukan gerakan secepat kilat di bibir Rin, lidahnya menari lincah di rongga mulut, hingga membuat Rin kesusahan mengatur ritme nafasnya ."haaap!"...
...Mencoba memberontak, "lepaskan tuan, ini tak benar." Rin Masih terus berusaha melepaskan dari cekalan lengan kokoh Bima sebisanya....
__ADS_1
...Setelah Bibir terlepas Rin menyingkirkan tangan Bima dari pundaknya....
..."Jangan seperti ini, Tuan. Tuan tak bisa melakukannya, Saya punya kekasih, tak mungkin menyukai seseorang selain kekasih saya." Bulir kristal menetes dari pelupuk mata, Rin baru saja kehilangan ciuman pertamanya....
..."Kekasih? Kau pasti berbohong." terpancar ketidak percayaan....
..."Saya berkata jujur, Tuan." menunduk mundur beberapa langkah....
..."Siapa kekasih kamu? Katakan Rin !" Kesal, marah dengan penyebab yang tak jelas. "Jangan-jangan kau berhubungan dengan Rendra."...
..."Itu privasi saya Tuan, sudah tak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jadi Rin mohon jangan campuri urusan yang menyangkut pribadi saya." menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Rin membutuhkan kekuatan untuk dapat berucap demikian tadi....
...Bima menganggap ucapan Rin sebuah kebohongan yang sengaja dibuat sendiri olehnya, namun ia tetap ingin membuktikan kebenarannya....
...Bima mengizinkan Rin pergi dari kamarnya. Ia mengisyaratkan dengan lambaian tangan....
..."Haaaah...! Bodoh Bima, apa yang telah kau lakukan. Bahkan kau membuat gadis itu menangis." ketika otaknya mulai bekerja normal. Bima duduk di ranjang meremas rambutnya kasar. Tak lama ia merubah posisi kini sudah terlentang, kedua telapak tangannya ia jadikan sandaran....
..."Apa kau gila bahkan kau menciumnya tadi, Dia itu, pembantu kamu, bisa- bisanya kau melakukan dengan gadis rendah sepertinya." kembali duduk, tidak puas dengan duduk kini Bima mendekat pada cermin ia menatap pantulan dirinya dengan posisi sedikit berjongkok kedua lengannya bertumpu pada meja rias. "Beberapa hari ini bahkan kau tak perduli dengan Maira. Kau seakan lebih nyaman di dekat Rin."...
...Pusing dengan kelakuannya sendiri, Bima meraih handuknya, lebih memilih menenangkan diri di bathup yang sudah terisi air hangat. Rasanya kini berlama di dalamnya bisa membuat otaknya sedikit fresh. Bima menenggelamkan seluruh tubuhnya hanya kepala saja yang terlihat menyembul. Ia memejamkan matanya, dengan begitu ia serasa meditasi....
...*****...
...Rin segera turun dari lantai dua menuju ke wastafel yang ada di kamarnya. Matanya masih berkaca- kaca, ia segera mencuci mulutnya berulang kali, berkumur dan menggosok hingga melukai bibirnya. Namun serasa seakan masih membekas menyisakan sesuatu di dalamnya....
..."Tuan Bima kau bahkan mengambil ciuman pertamaku, ciuman itu belum pernah terjadi hingga di usiaku yang ke 18, hiks hiks hiks" pandangan Rin kembari kabur, teringat Bima menciumnya penuh gairah....
__ADS_1
...Begitu kecewa, Rin memilih mengurung diri setelah sore, ia bahkan lupa dengan tanggung jawabnya. Naya yang melihat kamar Rin tertutup sejak tadi ia memilih membiarkan saja, Naya mengira mungkin Rin capek dan ketiduran....
...Naya kembali mengalah soal pekerjaan kepada Rin. Rin yang sudah seperti anaknya sendiri....
...****...
...-...
...Pagi sekali Rin sudah bangun ia mencari cara agar tak bertemu dengan Bima, Rin tak punya keberanian bertemu secara langsung, bagaimana jika ia akan mengulangi kejadian gila kemaren sore....
...Rin segera membuatkan kopi dan menyiapkan sarapan untuk Bima saat masih pagi buta. setelah selesai Rin segera pergi ke dapur atau menyibukkan diri sekedar duduk di taman belakang. Tempat yang tak disukai pria itu. Dengan seperti ini Rin bisa terhindar bertatap langsung dengan Bima....
...Usaha Rin untuk pagi ini tak bertemu Majikannya telah berhasil....
...Bima terlihat menikmati sarapannya tanpa butuh apapun darinya lagi, setelah selesai ia berlalu meninggalkan rumah. Bima hari ini ingin melakukan survei langsung pada Restaurant induk dan cabangnya, yang beberapa hari ini telah ia terlantarkan....
...-...
...-...
...Menjelang siang Rin melakukan hal yang sama, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, tanpa tidur siang. Ia berharap setelah majikannya pulang nanti semua pekerjaan selesai, dan Rin bisa menghindar saat Bima pulang nanti....
...Namun semua diluar dugaan Rin, ketika dirinya sedang mengepel ruang tamu, ternyata Abimanyu sudah sampai di halaman, ia pulang lebih cepat daripada biasanya, buru-buru masuk mengambil handponenya yang tertinggal....
...Abimanyu membuka pintu, Rin segera ingin bersembunyi di belakang daun pintu. Namun nasib sial sedang mengintainya....
...Rin terpeleset alat tempurnya sendiri." Awwwww," pekiknya. Bima yang baru datang segera menangkap tubuh Rin. Kali ini Bima sudah menjadi pangeran yang telah menyelamatkannya disaat tepat waktu....
__ADS_1
...Sorot mata tajam nan menawan, terlihat dari manik pria itu. "Jika kau menghindar, artinya semua dugaanku benar," bisiknya lirih tepat ditelinga Rin. senyumnya begitu manis namun Rin semakin takut melihatnya....