Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 30.jalan-jalan bersama di ujung senja


__ADS_3

Bima menatap Rin kemudian ia menggelengkan kepalanya, seakan Bima memberi tahu istrinya lewat sorot matanya agar tak percaya dengan bualan Maira. Semua yang ia dengar hanyalah omong kosong belaka, semua


"Izinkan aku tinggal disini, aku akan pergi setelah anak ini lahir, kau bisa memiliki dia seutuhnya, Mas." ucapnya ditengah isak tangis. Kini Maira memegangi lutut Abimanyu sambil memohon, mengiba sebisanya.


Cara Maira meluluhkan hati Abimanyu. Sepertinya masih sia-sia walaupun Bima sangat mencintainya, namun itu dulu, dulu sekali sebelum ia tahu dia sudah berhubungan badan dengan pria lain sebelum menikah dengannya. Sebelum melihat ia bergandengan mesra dengan pria di Restaurant tempo hari.


Bima memundurkan kakinya dua langkah agar Maira tak lagi dapat menjangkau tubuhnya.


"Sayang." Rin mendekati Abimanyu dengan raut muka memelas memohon sebuah persetujuan. "Biarkan Mbak Maira tinggal disini, ada anakmu juga di perutnya, bagaimana kalau memang benar dia bayimu.


Walaupun dari lubuk hati Rin, ia juga tak percaya apakah benar Maira hamil anak dari suaminya. Atau anak selingkuhannya setidaknya ia tak ingin membuat wanita hamil menangis dan besimpuh seperti yang sekarang di depan matanya.


"Bangun, Mbak. Jangan seperti ini." Rin membantu Maira berdiri. Rin mengulurkan kedua tangannya dan disambut Maira. Rin membimbing Maira agar duduk di sofa.


"Aku ambilkan minum dulu, Mbak." Rin segera masuk menuju dapur." meminta Naya agar segera membuatkan minum untuk tamunya.


Sedangkan Rin sendiri sangat bersedih ia masuk ke kamarnya yang lama untuk menghapus air matanya.


Rin banyak berfikir dengan menyembunyikan kesedihannya, Rin selalu menahan dirinya agar tidak memiliki hati yang serakah, dicintai suaminya saat ini sudah melebihi segalanya. Jika memang ia akan kembali pada Maira karena alasan seorang anak mulai sekarang ia akan mempersiapkan dirinya.


-


Abimanyu tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyetujui permintaan Rin.


"Katakan saja, ada apa dibalik semua ini?" tanya Abimanyu setelah bayangan Rin hilang.


"Tidak ada Mas, hanya saja anak di kandunganku ini menginginkan dekat denganmu, cukup itu saja." terlihat serius dengan ucapannya.


"Cihhh, hentikan omong kosong kamu, jangan kau jadikan anak sebagai alasan." Bima berdecih sebal.


"Sedikit saja kau menyakiti Rinku, mencampuri urusanku keluargaku. Kupastikan hidupmu akan sangat menyakitkan, lebih sakit daripada di neraka sekalipun," mengambil nafas dalam lalu menghembuskan kasar, Bima memberi jeda pada ucapannya, berharap Maira akan menimbang kembali Rencananya.


"Aku tak mungkin melakukannya"


"jika kamu masih mau melanjutkan rencanamu terserahlah. Jangan bermimpi menjadi istriku. aku sudah sangat bahagia dengan diriku yang sekarang!" Berlalu pergi meninggalkan Maira.

__ADS_1


Maira menggelengkan kepalanya, ia tak percaya kata yang keluar dari mantan suaminya begitu menyakitkan, bahkan sakitnya melebihi ratusan bidikan anak panah Kumbakarna yang menancap tepat di jantungnya.


Maira memilih diam, ia mendengarkan ucapan Abimanyu dan merekam pada otaknya, agar kedepan ia tak melakukan kesalahan sedikitpun dalam melangkah.


Berhasil membuat tubuh Maira gemetar, Abimanyu kini memilih meninggalkannya sendiri, Abimanyu menyusul Rin kedapur.


"Kita jalan-jalan yuk, mumpung sore!" mengeratkan lengannya di pinggang Rin dari belakang dan mengecup mesra tengkuknya.


"Baiklah, Tuan... Eh Sayang." Rin meringis hampir keceplosan.


Rin melepaskan gelas yang ada ditangannya. Membalikkan tubuh dan menjewer telinganya sendiri "Maafkan aku suamiku."


Naya yang mendengarnya seketika tawanya pecah mendengar Rin yang selalu salah memanggil suaminya.


"Bi. Selesaikan tugasnya sendiri, aku ingin jalan sama istriku." Bima melimpahkan tugas mengurus Maira sepenuhnya, termasuk membuatkan minum dan menemaninya menata kamar yang baru.


Sedangkan Bima mengajak Rin jalan- jalan sore hari. Ia memilih pantai untuk kunjungannya hari ini.


Rin dan Bima melangkahkan kakinya pada pasir putih di tepi pantai yang mulai menghangat. Mereka sama- sama menyusuri tepian pantai tanpa alas kaki.


Tangan saling menggenggam, seakan ia pasangan paling bahagia saat ini. Tapi kenyataannya ada kemelut di rumah tangganya yang baru terjalin dalam hitungan hari.


"Nggak ada yang Rin sembunyikan, Rin akan ikut bahagia kalau ternyata semua memang benar." Matanya kembali berkaca.


"Sttt, cukup membohongi dirimu. Aku hanya ingin putra hanya kau ibunya, bukan yang lain."


"Tapi Mama anda tak menginginkan, Tuan."


"Jangan ucapkan lagi, aku membencinya."


terlihat kesal.


"Baiklah, ujarnya lirih."


Bima mengeluarkan gawainya. Ia mengabadikan momennya di pantai bersama Rin. Angin dipantai berhembus begitu kencang, membuat rambut Rin tergerai semakin indah.

__ADS_1


Selesai mengambil foto berdua, Bima menjadikannya sebagai walpaper, agar ia bisa melihatnya setiap saat.


"Hanya wanita di layar ponselku ini yang akan menjadi ibu dari anak anakku nanti." Mata Abimanyu terlihat berbinar-binar.


"Baby, kita hari ini ke rumah ibu, Tiba-tiba aku rindu mereka."


"Iya aku juga, mereka pasti sangat senang suamiku ini mau datang."


"Emang kenapa kalau aku datang?"


"Kan horang kaya biasanya...."


"Stt, mulai banyak bicara, aku pasti akan menggigit bibirmu." Posisi mereka saat ini sedang mengamati senja. Bima dibelakang dan Rin tepat berdiri di depannya dengan tangan Bima yang melingkar di pinggang. Hanya sesekali Rin mendongak ke atas, saat Abimanyu sedang berbicara. Mereka berdua asyik menikmati indahnya matahari terbenam.


Ketika senja tiba, Rin dan Bima bergegas ke mobil, ia memantapkan niatnya berkunjung ke rumah mertua. Selain malas pulang, Abimanyu memang belum pernah menapakkan kakinya di kediaman istrinya.


Tiba- tiba Bima menghentikan mobilnya ketika ia melihat penjual buah durian.


"Rin, ini buat kamu. Kamu bisa belanjakan kartu ini sesukamu. Kamu juga bisa gunakan untuk keperluan berobat ayah."


"Ta, tapi, sayang.... Aku masih banyak hutang sama kamu."


"Emang ada ya sudah menjadi suami dan istri tapi masih terikat hutang?" tertawa kecil.


"Turun dulu, kita beli durian yang paling manis." Rupanya Abimanyu suka sekali sama durian. Ia bahkan tak bisa berpaling saat melihat ada yang jual di pinggir jalan.


Di sana juga ada beberapa orang yang sedang memilih buah durian pula, membuat Abimanyu mengurungkan niatnya turun dari mobil.


Selesai memilih durian Rin segera kembali, ia menunjukkan pada suaminya. apa pilihannya sudah benar.


Abimanyu setuju saja. akhirnya ia turun dari mobil dan membukakan bagasi. Rin meletakkan satu persatu dengan hati-hati.


Ketika mobil memasuki gang menuju rumah Rin, banyak orang di depan Rumah yang penasaran, jarang-jarang ada mobil sebagus itu masuk ke gang mereka.


Rin meminta agar Abimanyu membuka kaca mobil, ia ingin menyapa beberapa kerabatnya. yang sudah lama tak bertemu.

__ADS_1


Namun tanggapan mereka, hanya beberapa yang berfikir positif, lebih banyak yang berfikir negatif tentang kehidupan Rin di kota.


#Bersambung....


__ADS_2