Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 31. Rin kembali terguncang.


__ADS_3

Kedatangan Rin dan Abimanyu secara tiba- tiba membuat Arumi dan Bandrio sangat kaget sekaligus senang. Melihat mobil mewah berhenti di halaman rumahnya membuat pria itu segera mengarahkan kursi roda menuju pintu. Bandrio meraih handle pintu dan membukanya sebelum tamunya mengetuk pintu.


Senyum terharu tak hentinya menghiasi bibir pria paruh baya itu. Setelah tau yang datang adalah putri dan menantunya.


"Nak Abimanyu, terima kasih sudah sudi berkunjung ke rumah kami yang sederhana ini," ucap Bandrio merendahkan diri di depan menantunya. Sambil memutar kursi rodanya menuju sofa.


"Ayah, bagaimanapun keadaan kalian, kalian adalah keluargaku," ucap Bima sambil meraih tangan mertuanya lalu menciumnya dengan takzim.


"Ayah, Rin kangen sekali." Memeluk ayahnya erat dan mencium pipi kanan dan kirinya. "Bagaimana keadaan ayah sekarang? Apa sudah lebih baik?"


Mereka bertiga segera masuk kedalam rumah, berjalan menuju sofa sederhana di tuang tamu.


"Melihat kamu senang, ayah akan selalu baik saja Nak, ayah akan berjuang melawan sakit ini, ayah juga ingin melihat cucu-cucu ayah nanti." Rin dan Bima membantu ayah berpindah duduk di sofa.


"Panggil ibu sana ia belum tau kalian datang," perintahnya. Saat Rin baru saja duduk di sebelah Abimanyu.


Rin akhirnya masuk kedalam mencari ibunya, ternyata sang ibu sedang mencuci baju di belakang.


"Ibu!!" Rin memanggil ibunya layaknya saat ia sedang pulang sekolah dulu.


"Rin!! Kamu datang nak, sama siapa?"


"Tuan Bima, Buk. Dia sekarang ada diluar, sama ayah, ibu buruan cuci tangannya, temui tuan Bima dulu."


"Oh, iya, iya ibu akan segera keluar. Kok mendadak Rin. Apa ada yang penting?" ibu segera membersihkan sisa sabun yang menempel di tangan, lalu keluar menemui menantu satu-satunya dengan hati bahagia.


"Nak Abimanyu, maaf ibu tak tau kalian datang, terima kasih sudah berkunjung ke mari." Sambil mengulurkan tangannya dan bersalaman.


Akhirnya mereka berempat berbicara panjang lebar di ruang tamu, untuk saling mengenal satu sama lain. Namun keluarga Rin sudah paham betul bagaimana Abimanyu. Pria yang dulu dingin sekali namun tetap baik hati. Sifat dingin itu seakan sedikit demi sedikit memudar dari dirinya.


Asyik berbicara tiba- tiba Arumi ingat ia tak memiliki lauk untuk di masak malam ini. "Rin kamu belanja ya? untuk makan malam di mini market sana, nanti kita masak untuk suami kamu."


"Siap, ibu." Rin bergegas keluar untuk berbelanja. Sambil membawa keranjang belanjaan menuju mini market yang berjarak tiga rumah dari tempat tinggalnya.

__ADS_1


Mini market tersebut lengkap sekaligus buka selama 12 jam, jadi Rin bisa membeli ikan dan sayur di tempat itu. Disana juga banyak ibu- ibu yang bergerombol memilih sayuran.


"Eh si eneng gelis, lagi berkunjung ke rumah ibu. Gimana neng kabarnya kerja di kota?" Tanya penjual sayuran saat Rin sedang memilih daging yang bagus di freser. Rencananya ia hari ini ingin memasak rendang.


"Yah, tentu enak lah bu, enak banget malahan. Niatnya kerja untuk melunasi hutang, eh majikannya di embat sekalian, biar hutangnya cepat lunas, kan dia juga cantik, sayangkan kalau nggak di manfaatkan." jawab ibu yang kebetulan baru datang bersama Rin.


"Jeng, tadi saja pas turun dari mobil, aku lihat majikannya masih muda dan ganteng banget. Tau nggak aku saja kalau di dekat dia pasti jantungku bakal deg deg gimana gitu" jawab bu Tejo, seseorang yang jadi bu RT di kampungnya. Ia tertawa mengejek sambil memegangi dadanya.


"Oh jadi majikannya masih muda to?" tanya pemilik mini market lagi.


"Betul..., dah tinggi, ganteng kayak bintang sinetron. "jawab Bu Tejo lagi.


"Sudah punya istri apa belum?" tanya ibu yang lainnya.


"Calon istri, bu." jawab bu tejo lagi.


"oh calon istri, ya bukan masalah kan masih calon"


"Ibu, ibu, jangan pada gosipin Rin begitu donk, ibu kalau tidak tau mending jangan bicara bu, nanti jadinya fitnah." Rin kembali, setelah membeli beberapa ikan dan sayur dengan hati dongkol.


"Eh, kok cepet belanjanya. Ibu sama Rin masak dulu ya, kalian terusin ngobrol nya." terlihat Abimanyu mengangguk setuju dengan ucapan sang mertua, setelah Rin kembali masuk rumah.


Arumi beranjak ke dapur bersama Rin. Ia ingin memasak yang menurutnya special buat menantunya. Ia ingin memasak dengan rasa yang paling lezat. Walaupun tak semewah menu yang di sediakan oleh restaurantnya.


Rin di dapur nampak murung, ia terus teringat ucapan tetangganya tadi sambil memotong daging yang ia beli. Rin kehilangan konsentrasinya.


"kenapa Rin." tanya ibu yang melihat Rin diam sejak datang tadi.


"oh... enggak bu."


"Auhh." Tangan Rin teriris oleh pisau yang ditangannya.


"hati-hati dong Rin." Ibu nampak panik melihat darah Rin menetes.

__ADS_1


Abimanyu yang sedang menghubungi Mahesa agar mengupayakan kesembuhan mertuanya, segera menoleh ke arah Rin yang mengaduh.


"Baby, kenapa?" Abimanyu segera meraih jarinya yang teriris dan memasukkan ke dalam mulutnya. Setelah dirasa darah tak keluar lagi. Abimanyu segera membimbing Rin ke wastafel mencuci lukanya dan membalutnya dengan plester.


Melihat Abimanyu yang memperlakukan Rin dengan baik membuat wanita yang berdiri di sebelahnya nampak lega. Ia berkali kali tersenyum dalam sendirinya.


"Baby, kurang fokus, mikirin apa sih?" Tanya Abimanyu.


Rin segera menarik lengannya dari genggaman Abimanyu. Dan masuk ke kamar. Abimanyu ikut serta masuk mengekor di belakang Rin


"Baby, kamu kenapa?..." Abimanyu tau istrinya tak sedang baik saja. Rin tak akan sesedih itu jika tanpa ada angin buruk yang menerpanya.


Rin semakin tergugu tanpa bicara. Abimanyu mendekap tubuhnya agar lebih tenang.


"Tuan, apakah tuan masih mencintai Mbak Maira? Apa karena keberadaan Rin disana tuan berpisah?"


"Apa?" Bima tersentak mendengar Rin yang lugu berbicara seperti itu.


"Siapa yang berani bicara seperti itu? Katakan Rin! ia harus membalas setiap tetes airmata yang keluar ini."


"Tidak ada tuan, tuan tinggal jawab iya, atau tidak," ucap Rin dengan terbata bata.


Abimanyu melepas dekapannya. Menghapus lelehan air mata Rin. Memandang dengan tatapan tajamnya " Tidak, jika kamu ingin tau jawabannya adalah, Tidak."


Abimanyu tau Rin lebih sensitif setelah tau maira hamil, ada rasa yang tak ia ketahui yang ia sembunyikan. "Aku terlalu bodoh telah cinta buta, tanpa tau sedikitpun sisi buruknya. Jika kamu ingin dia pergi dari rumah kita, biarkan dia pergi setelah usia kandungannya berusia lima bulan, karena usia itu akan aku lakukan test DNA. Menurut dokter Mahesa akan sangat buruk kemungkinan yang terjadi, jika kita melakukan test tersebut di kehamilan yang masih dini." jelas Abimanyu pada Rin.


"Tuan bagaimana kalau dia benar anakmu?" Tanya Rin dengan netra masih berkaca.


"Apapun hasilnya, kau akan tetap menjadi miliku, hanya milikku. Kau juga akan melahirkan banyak anak untukku" Bima menyugar rambut Rin dengan lembut dan mendekapnya kembali.


Walaupun Rin tak puas dengan jawaban Abimanyu ia tetap berusaha tersenyum didepannya. Ia sekali lagi mengingatkan hatinya agar tak menjadi manusia yang serakah ingin memiliki suami sepertinya sendirian.


"Tuan, makanan telah siap." ketika Rin mencium aroma masakan yang mengepul dari dapur.

__ADS_1


"Iya, aku juga sudah lapar." Abimanyu bangkit dari duduknya dan membantu Rin turun. Mereka beriringan menuju meja makan.


__ADS_2