
Hari ini Rin sudah diizinkan pulang, setelah infus tinggal sedikit perawat segera memanggil Mahesa, Mahesa melepaskan selang infus dari tangan Rin dengan sangat hati-hati. Karena saking hati- hatinya membuat kerjanya menjadi lambat, Abimanyu penasaran dan mendekat.
"Kamu , sengaja ya pengen lama- lama pegang tangan istriku? Melepas begitu saja lelet amat"
Ck... Serba salah gue, udah sengaja pelan malah dibilang cari kesempatan. Tau Akan jadi masalah begini, tadi akan aku biarkan saja perawat lain yang melepasnya. Bathin Mahesa.
Rin tahan ya, aku akan mulai mencabut jarumnya. "Iya Dokter hesa."
Rin memejamkan matanya, dan Hesa segera mencabut dengan pelan. Setelah itu ia menekan bekas jarum dengan kapas.
"Sudah selesai sekarang silahkan pulang dan jaga bayi kamu baik-baik, jangan ibunya doang yang di jaga." Mahesa sengaja melontarkan ucapannya untuk Abimanyu.
"Sialan kamu. Bilang aja lo ngiri, kamu kan sejak dulu suka sama...." Bima berhenti berbicara ia melirik kearah istrinya. Bima tak mau Rin tau kalau ia diam-diam suaminya masih suka cemburu sama sahabatnya.
"Aku tak mungkin mengambilnya, kecuali jika kau melepasnya."
"Cih suka sekali kau dengan milikku."
"Kalian ngomongin apa sih?" Rin bingung dengan obrolan dua orang di depannya. Ia merasa menjadi asing ketika suaminya sudah bertengkar dengan Dokter tampan yang beberapa hari ini merawatnya.
"Entahlah, mahesa ini susah dimengerti, Baby. Dia suka sekali beli barang second. Sedangkan yang baru di toko juga banyak."
"Oh, iya Dok, sebaiknya kalau beli yang baru saja, kalau udah second takutnya rusak, emang dokter Hesa mau ganti mobil lagi ya, sayang?"
"Hiya, dia pengen mobil yang seperti milikku, merangkul pundak Rin dan mengeratkan tangannya."
"Oh, bukannya Dokter Hesa, sudah punya yang lebih bagus."
Abimanyu dan Mahesa kini serempak tertawa.
"Entahlah aku nggak ngerti yang kalian obrolin." Rin kini meraih handbagnya dan mulai berjalan keluar.
Bima segera menyusul di belakangnya. Mereka berlalu meninggalkan kamar Vvip yang ditempatinya beberapa hari ini.
Mahesa mengamati kepergian sahabatnya dan istrinya. Ia merasakan seakan ada sesuatu yang hilang, entah itu apa.
"Kenapa aku sekarang menjadi seperti ini, aku bisa mendapatkan wanita seperti apapun, kenapa hatiku malah tertarik pada istri sahabatku, ini sangat payah, sahabat macam apa aku ini"
Sambil meninggalkan ruang yang sudah sepi karena penghuninya sudah pulang, Mahesa menutup pintu pelan dan kembali ke ruangannya.
Sampai di halaman Rendra segera membuka pintu belakang untuk Tuan dan istrinya. Setelah dipastikan semua sudah duduk dengan benar, Rendra segera menutup pintu.
"Rendra kita ke rumah orang tuaku. Aku ingin tinggal disana beberapa waktu."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Rendra setuju walaupun hatinya dipenuhi banyak pertanyaan.
Rendra kini memutar kemudi menuju mansion utama. Rin yang tau suaminya mengajak tinggal di rumah orang tuanya sempat protes.
"Mas, kenapa nggak kerumah kita sendiri saja."
"Baby, kapan lagi kamu dekat dengan keluargaku, kalau diantara kalian tidak ada yang ingin saling mengenal satu sama lain."
"Tapi aku belum siap, Sayang," protesnya. Rin meremas jari jemarinya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Tenang sayang, ada aku yang akan selalu disampingmu. Aku akan pastikan tak akan ada yang berani menyakitimu disana." ucap Abimanyu meyakinkan.
"Sayang...." menoleh kearah suaminya dengan manja.
"Sudahlah, Kamu ini istriku bukan simpananku. Sudah sepantasnya kamu tinggal bersama keluargaku." mengecup puncak kepala Rin.
"Rin mengangguk."
Rin membalas senyuman suaminya yang menjadi penguat hatinya. Rin sebenarnya ragu, apakah mertuanya akan mau menerima kehadirannya dan calon bayinya. Tapi benar kata suaminya. Dia ini istri bukan kekasih atau simpanan.
Tak lama mobil segera berhenti di sebuah halaman rumah yang sangat megah, rumah itu lebih mewah dari yang ia tinggali selama ini. Halamanya saja luasnya tiga kali lipat dari rumahnya yang lama.
"Mas...."
Rin yang terlihat bimbang memikirkan bagaimana karakter si penghuni rumah mewah tersebut. Terpaksa mengikuti langkah suaminya.
Kedatangan Rin segera disambut oleh dua asisten rumah tangga, mereka semua masih muda, usianya kira kira tiga tahunan di atasnya dengan memakai kaos dengan warna yang seragam, menurut pemikiran Rin pasti orang yang bekerja disini juga di wajibkan berseragam.
"Selamat datang Tuan Abimanyu, Nona."
"Em... Panggil saja saya Rin ya, Mbak." ketika asisten tadi memberi hormat, Rin juga mengangguk memberi hormat. Membuat Bima menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin Nona, anda sekarang adalah Nona kami, sudah sepantasnya saya memanggil anda dengan sebutan itu."
"Em, baiklah, Rin akhirnya melunak,"
Dua pelayan tadi akhirnya menyerah, ia lebih memilih meminta baju kotor Rin dan membawanya kebelakang.
"Tuan, ini seperti rumahnya sultan" Bisik Rin dengan tatapan kagum. Setelah kepergian ARTnya.
"Ah, kamu bisa saja." Abimanyu hanya nyengir kuda.
"Siapa saja tuan yang tinggal disini."
__ADS_1
"Banyak, nanti kamu akan aku kenalkan pada mereka semua." ujar Bima.
"Rena, Reni tolong panggilkan semua anggota keluarga. Teriak Abimanyu, pada dua wanita yang baru saja beberapa langkah pergi darinya."
Rin masih sibuk memutar bola matanya, menelisik seriap sudut yang dipenuhi oleh interior yang pastinya tidak murah, karena Rin tak pernah melihat benda- benda itu sebelumnya.
"Duduklah Baby." Bima menarik satu kursi untuk istrinya. Didepannya terdapat meja yang sangat besar, karena sekarang ini ia sedang berada di dalam ruang keluarga.
Papa Rey segera keluar bersama Mama Freya sosok tampan dan cantik itu juga segera mengambil posisi duduk di depan Rin.
Disusul dibelakangnya seorang pria yang wajahnya mirip dengan Bima suaminya, hanya saja usianya yang sedikit lebih tua, ia mengambil posisi duduk di sebelah Papa Rey.
"Dimana Ziva?" Ziva adalah sepupunya yang ikut juga tinggal di rumah itu, sedangkan keluarganya tinggal di luar negeri.
"Dia sedang keluar," jawab Freya singkat.
"Oh iya, Ma, Pa, Uncle, ini Istriku. Dan untuk sementara kami akan tinggal disini."
Abimanyu memberi jeda kalimatnya, kemudian melanjutkan lagi. " Apa kita boleh tinggal disini?"
"Gimana ya? Sebenarnya.... Tapi ya sudahlah diakan istrimu, wanita pilihanmu."
"Apa artinya kita boleh tinggal disini, Ma?" Abimanyu menunggu jawaban menggembirakan dari Mamanya.
"Kenapa tidak, kamu adalah putraku. Dan dia menantuku." Ucap Mama.
"Uncle Bram, mulai sekarang aku akan tinggal di sini." ucap Bima pada pria yang lebih pantas menjadi kakaknya itu.
"Yah, uncle akan senang sekali. Anak satu satunya memang harusnya tidak tinggal jauh dari orang tua."
"Papa, Uncle kenalkan dia Rin, istriku."
"Rin beranjak dari duduknya dan mencium tangan Papa Rey." kemudian menangkupkan tangannya dari kejauhan sebagai tanda hormatnya kepada Bram.
"Sayang kamu sekarang bisa istirahat di kamar kita? Biar Rena dan Reni yang membantumu menunjukkan kamar kita.
"Mari Nona saya tunjukkan kamar anda." Rena dan Reni segera mendekat ke arah Rin dan berdiri mengekor dibelakangnya.
Apakah aku ini sedang dalam mimpi, kenapa aku hidup diantara orang- orang yang kehidupannya jauh diatasku. Tuan Abimanyu, aku tak menyangka dia sekaya ini. Rin berjalan pelan menuju kamarnya. Otaknya masih dipenuhi oleh kekaguman.
"Wahh apa ini akan menjadi kamar ku." ketika Rena mulai membuka pintunya dengan sidik jarinya.
"Benar Nona, ini Kamar Tuan Abimanyu. Sebelum ia pergi dari rumah ini, karena setiap hari saya membersihkan tempat ini, jadi sementara memakai sidik jari saya," jelasnya.
__ADS_1