
Rin masih berbaring lemah Dokter Fitri mulai menjahit perut yang menjadi pengganti jalan lahir sang bayi, dia takut sekali bergerak. Dia tak menyangka akan melahirkan dengan operasi caesar. Padahal perjuangannya melahirkan normal sudah ia lalui hingga separuh perjalanan.
Dokter Fitri terlihat tak bicara apapun. Tak ada aura kebahagiaan di wajahnya. Rin mulai bisa membaca mimik muka dokter Fitri. Karena biasanya jika tak ada hal buruk Dokter akan senang sekali mengucapkan kebaikan tentang bayi yang baru saja ditolongnya.
"Dok gimana kondisi bayiku?" Tanya Rin dengan suara lemahnya.
"Emm.... Dia akan baik baik saja Nona. Putramu sangat kuat, dia pasti akan jadi seorang yang pemberani nantinya," bujuk Dokter Fitri.
"Dokter, mana dia? Boleh aku menyusuinya sekarang?" Bukankah dia harus meneguk asi pertamaku." tanya Rin lagi tak mau berhenti bicara sebelum bertemu bayinya.
"Sabar ya Nona, setelah nona tidak sakit lagi nanti pasti akan segera dibawa kesini." Dokter Fitri masih terlihat tenang namun hatinya mulai gelisah.
Rin mengangguk pelan ia hanya bisa melihat bayangan bayinya dari balik tirai bersama dokter Mahesa.
Mahesa masih berusaha keras. Dia tak yakin bayi itu telah pergi. Denyut nadi bayi masih terasa dan tubuhnya juga hangat. Mahesa mencoba menepuk pelan bokong sang bayi berharap bayi akan segera menerima rangsangan darinya.
Hasilnya masih nihil sang bayi tak bereaksi. Ruangan sesaat menjadi hening, mahesa dalam keadaan putus asa. Kemudian ia memerintahkan perawat agar membuka pintu dan mengizinkan keluarga si bayi masuk. karena operasi telah usai.
"Hesa bagaimana putraku?" Tanya Bima tak sabar.
"Maafkan aku kawan." jawab Bima.seketika wajah tampannya berubah menjadi begitu bersalah.
"Apa yang telah kau lakukan pada putraku?" Bima menarik jas putih kebesaran mahesa setelah mengetahui bayinya pucat tanpa bergerak sesikitpun.
"Sekali lagi aku katakan aku bukan Tuhan, aku hanya dokter, Bima" Mahesa tak tega melihat Abimanyu yang terlihat patah, karena telah merasa kehilangan putranya.
"Kau pasti telah menghilangkan nyawa putraku tanpa dosa itu, tadi malam tanganku ini masih menyentuhnya bergerak sehat diperut istriku Hesa!! Kau yang telah membuatnya berhenti bergerak! Anakku tak boleh mati Hesa." Abimanyu mengambil alih bayinya dari gendongan Mahesa. Abimanyu menangis jiwa ceonya hilang. Kini ia hanya laki- laki rapuh yang bersedih karena anak pertamanya telah tiada.
Bayi tetap saja terpejam di gendongan sang ayah. Abimanyu memandangi dan mengelus rambutnya yang tipis.
"Bangun Nak. Papa sayang kamu. Papa menanti kelahiranmu siang dan malam, jangan buat papa menderita karena kepergianmu."
"Kamu harus sabar, Bima."
"Apa, kamu bilang begitu karena kamu tak pernah menjadi seorang ayah."
"Aku ngerti dengan yang kamu rasakan sekarang." Mahesa menepuk pundak Abimanyu. Mahesa juga bersedih namun sebisa mingkin Mahesa berusaha tegar.
__ADS_1
Kini Mahesa melihat sebuah keajaiban yang ada pada sang bayi. Mahesa mengamati bibir bayi tiba- tiba bergetar. Getaran itu semakin terlihat dan si bayi mengeluarkan suara khasnya. Bayi itu akhirnya menangis di dekapan sang ayah.
"Anakku Kau kembali untuk papa," lirih Abimanyu sambil memandang putranya tanpa berkedip.
Mata yang tadinya telah kabur oleh airmata kini menjadi berbinar. Abimanyu bahagia tak terkira. Ia tak jadi kehilangan putranya. Putra tampan mungil itu kini mulai menggerakkan kaki dan tangannya pelan pelan.
"Berikan dulu padaku biar dia dibersihkan oleh perawat, setelah itu akan aku kembalikan lagi padamu." Abimanyu kini menyerahkan bayi pada perawat. kemudian Dia ikut Mahesa menuju ruangan Rin.
Rin terkulai lemah, melihat suaminya datang ia segera beringsut dari duduknya"Baby, terima kasih, telah melahirkan putra yang tampan untukku" Bima mengecup puncak kepala Rin.
"Sayang, dia mirip siapa?"
"Dia mirip kamu."
"Benarkah?"
"Kamu lihat saja sendiri, sebentar lagi pasti akan dibawa kesini oleh perawat."
"Aku tak sabar melihatnya." Rin menjatuhkan kepalanya pada dekapan suami, terlihat Abimanyu memeluknya dan ingin mengecup bibir sang istri, Membuat Dokter mahesa harus segera pergi. Ia tak ingin melihat adegan mesra pasutri yang berbahagia itu lebih jauh lagi.
Benar sekali setelah kepergian Mahesa Abimanyu mengecup bibir istrinya penuh sayang. Namun bersamaan itu Mama dan Papa datang bersama Ziva.
Rin menjadi tersipu malu mendengar papa Rey angkat bicara demikian. "Ah puasa kan yang bawah pa, yang atas masih bisa."
"Apa,an sih kamu, Sayang." Rin mencubit Dada suaminya kecil. Membuat bima meringis.
"Bisa aja kamu ini, kalau yang atas nggak mau puasa yang bawah juga ikut bangun." ujar Papa lagi. untung saja Ziva tadi berjalan paling belakang karena sibuk sama handponenya.
"Apa sih yang bangun, Om?"
"Udah masih kecil nggak tau apa- apa, yang bangun itu kepala ular kobra." jawab Bima asal saja.
"Lama banget sih, Dedek bayinya. Ziva nggak sabar pengen lihat, Ziva cari dedeknya dulu ya kak." setelah memutar kepalnua tak ada bayi yang ingin dilihat, Ziva berlari menuju keberadaan si kecil bersihkan. Kini bayi itu sudah dipakaikan baju baru dan nampak sangat tampan.
"Wah bayinya tampan" Dokter, Ziva mau gendong boleh nggak?"
"Boleh tapi hati-hati ya?"
__ADS_1
Mahesa membantu Ziva menggendongkan si kecil. Kemudian mengantarkan pada keluarganya yang sudah menunggu.
-
-
Ziva sudah sampai pada keluarganya berkumpul.
"Taraaaaa, aku bisa gendong si kecil." ucapnya dengan bangga.
Karena suara Ziva yang terbiasa keras membuat si kecil kaget dan menangis. Alamat Ziva hanya dapat amarah dari Abimanyu dan juga Papa Rey.
"Dasar, gadis jadi- jadian, nggak bisa feminim sedikit aja, suara sudah mirip terompet tahun baru, lihat ini Dedek nya jadi nangis." Freya juga nampak marah.
"Ayo berikan pada ku." Bima dengan pelan- pelan mengambil si kecil dari gendongan Ziva dan menaruh di pangkuan Rindang dengan susah payah Rin membuka resleting bajunya yang kebetulan terletak didepan dan mulai menyalurkan ASI nya.
Bima juga sibuk membantu Verro dengan susah payah. Akhirnya berhasil, Baby Verro meneguk Asi pertama yang sangat berharga untuk kesehatannya.
"Bunda, kenapa bisa semakin menggoda sih" Abimanyu meneguk salivanya berulang kali, saat memperhatikan Verro menyesap bukit kesukaannya.
"Apa sih, Yang?" jawab Rin ketus.
"Itu. Aku jadi pengen."
Kamu ngiri sama Verro, nanti biar Ziva belikan Dot jumbo buat kamu, Yang. Soalnya yang ini sudah di kontrak eksklusif sama Verro dua tahun.
"Ya Tuhan lama sekali." bersikap lebay.
Rin kemudian mengelus pipi putranya dengan penuh sayang. "Sayang sehat selalu ya, Bunda sayang banget sama Verro."
"Yang kenapa kamu bilang dia mirip aku? Dia cuma mirip kamu saja."
"Iya maaf, aku tadi cuma bikin kamu seneng saja, walau sesaat, Verro kan anak papa."
"Iya cuma anak kamu saja. Akunya enggak."
"Kamu kan waktu itu nggak mau, aku yang maksa. Jadi aku yang kerja sendirian, jangan salahkan aku donk, kalau hasilnya sembilan puluh persen mirip aku."
__ADS_1
"Tuh ketahuan, sekarang." ujar Rey yang tak sengaja mendengar, ia duduk di sofa bersama keluarganya yang lain.
"Ya udah kalau kamu nggak terima, besok kita bikin yang mirip sama kamu, biar ada yang jadi generasi penerus kecantikan istri cantikku ini." mencubit gemas hidung Rin.