
...Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, gelap gulita berlahan berubah menjadi senja pagi, Rin menggeliat malas dari dekapan suami. Merasakan kehangatan dan cinta yang begitu besar membuat ia hanya ingin selalu bersama, di tempat yang sama menghirup udara yang sama. Namun aktifitas yang berbeda harus membuat ia beranjak menyibukkan diri masing- masing....
...Ah tuan Bima, kau sangat tampan, aku sangat beruntung memilikimu seutuhnya....
...Rin memberanikan diri mengelus pipi sang suami. Meraba dagunya yang kasar. Menyentuh bibir tipis yang begitu casual. Rin senyum sendiri. Entah angin apa yang sudah merasuki jiwa Rin dipagi ini, Ia tiba-tiba berani membelainya terlebih dahulu. Sebelum beranjak dari tidurnya....
...Rin turun dari ranjang, melawan segala malas yang hanya membuatnya akan kesiangan berangkat kuliah nanti....
..."Tunggu Baby, aku masih ingin memelukmu." tangan Bima semakin memperkuat pelukannya ketika Rin bergeser dari tidurnya....
..."Tuan, apa yang anda lakukan aku harus bangun!" Rin mencoba memberontak namun Bima tak peduli....
..."Aku masih ingin bersamamu, tolong jangan bergerak, atau kau akan membangunkan yang sedang tidur," ancaman dari Bima di pagi hari membuat Rin diam patuh....
...Ish Tuan ini benar-benar mesum kelewat, aku harus bangun tuan....
..."Tuan aku akan siapkan baju anda dulu, aku harus siap-siap ke kampus juga." ucap Rin ketika ia menyadari waktu semakin bergulir cepat....
..."Cium tubuhku yang telah kau sentuh tadi, satelah itu kau baru bisa bangun meninggalkanku." Abimanyu menyentuh dagu, pipi dan bibirnya."...
..."Apa?" Rin tersenyum dan akhirnya ia melakukan juga...
...Setelah Rin melakukan semuanya, dengan berat hati akhirnya Bima melepaskan istrinya dengan tak rela, ia melonggarkan tangannya dan Rin segera turun sebelum suaminya kembali berubah pikiran....
...Rin segera mandi dan memakai baju rapi layaknya anak kampus, Setelah selesai berpakaian Rin mengambilkan baju ganti untuk suaminya....
...Bima dengan malas akhirnya bangun juga, ia meraih handuk dan melempar kepundaknya. Ia kembali mendekati Rin dan rasanya masih ingin terus memeluknya....
..."Ayo tuan, nanti kita terlambat." ketika Bima lebih dekat....
..."Jujur Rin, aku hari ini masih ingin bersamamu, aku suka main salon plus seperti kemaren, " Bima mengeratkan lengannya di pinggangnya menempelkan tubuhnya pada Rin mencium tengkuk dan rambutnya....
...Ih, Tuan aku malu mengingatnya. Rin tersenyum tersipu, wajahnya kembali merona....
..."Tuan, sekarang sudah pukul berapa, Rendra sudah menunggu." Rin mencoba mengingatkan....
...Bima mendengus kesal dan akhirnya ia dengan berat hati melangkahkan kakinya ke kamar mandi....
...Selesai mandi Bima segera memakai baju yang sudah disiapkan Rin, hem warna biru langit, celana hitam, serta jas hitam. Rin membantu memakaikan baju dan merapikan dasinya. Pasangan suami istri itu tak hentinya saling mengagumi. Bima begitu tinggi dan gagah, badan tegapnya memiliki daya tarik tersendiri bagi Rin....
..."Tuan," Rin tersenyum dan kagum matanya begitu berbinar melihat suami tampannya....
..."Jangan terlalu mengagumiku, aku nanti bisa besar kepala. Istriku kau yang paling cantik, aku yang lebih beruntung disini." ucapnya sambil meraih tas dan menggandeng istrinya keluar kamar dan turun ke lantai bawah....
__ADS_1
...Rin mengantarkan Bima sampai depan, kecupan mesra kembali di berikan tanpa malu-malu di depan asistennya. Rendra yang melihat adegan mesra hanya bisa mengeratkan giginya. Serasa ada busur panah yang tiba- tiba menusuk di jantungnya....
..."Apa kau tak akan berangkat sekalian saja bersamaku, setelah mengantarku ke kantor biar Rendra yang mengantarmu ke kampus ?" Tanya Abimanyu yang melihat istrinya juga sudah rapi....
..."Emm ti- ti-dak, Tuan." Rin tergagap ia begitu gugup....
..."Ayolah, kita berangkat bersama saja, Rendra juga tak keberatan mengantarkanmu. Betul, Ren?"...
..."Benar sekali tuan." Rendra mengangguk setuju....
..."Aku bisa naik taksi online saja." ucap Rin masih keberatan....
...Abimanyu, menarik lengan Rin dengan memaksa. "Kenapa kau lebih suka diantar sopir taxsi, daripada bersama suamimu sendiri?"...
...Tatapan Abimanyu sudah tak bersahabat, tanpa tau bagaimana yang terjadi antara Rendra dan istrinya. Rin tak ada pilihan lain selain harus menuruti suaminya....
...Rin duduk pada kursi belakang disusul Abimanyu di sebelahnya. Mereka tak banyak bicara saat di jalan, hanya saja Abimanyu berkali kali melakukan hal yang ekstrim pada Rin. Membuat Rendra yang tak sengaja melihat hilang fokus mengemudi....
...Abimanyu bisa merasakan Rendra sedang tak baik- baik saja. Pria itu beberapa hari ini diam, seakan menyimpan bara dihatinya....
...Ketika hampir sampai di kantor. Bima meminta turun di depan gerbang saja....
..."Turunkan aku disini saja, segera antarkan Rin nanti dia terlambat." ucap Bima datar pada Rendra....
..."Baik Tuan." Rendra kembali mengangguk. Walaupun rasanya sangat aneh Bima ingin turun di gerbang dan berjalan kaki masuk ke dalam lokasi kantor...
..."Iya, Tuan," ucap Rin,...
...Walaupun Bima sebenarnya ingin tertawa geli karena selalu di panggil tuan oleh istrinya....
...Bima sempat melambaikan tangan sebelum mobil kembali berjalan. Di balas lambaian pula oleh Rin dari dalam mobil namun Bima tak bisa melihatnya karena kaca mobilnya memang tak tembus pandang....
...Rendra segera mengemudikan kembali mobilnya, dan mengunci otomatis setiap pintu....
..."Clikk." ketika kunci otomatis bekerja....
...Rin terjengkit kaget mendengar suara barusan matanya melotot, hatinya gusar. "Ren apa yang kau lakukan?! Ren buka kuncinya!"...
..."Kenapa sih kamu Rin, kok takut amat sama aku sekarang?" Rendra tersenyum tenang seakan tak terjadi apa-apa....
..."Ren berhenti sekarang, Turunkan aku disini." berbicara dengan keras....
..."Tenang aja sebentar lagi, ini jalanan ramai, nggak asyik tau."...
__ADS_1
..."Ren!!." Rin berteriak takut....
..."Jangan teriak, pelan saja aku sudah dengar Rin." ucapnya lagi dengan senyum sinis. Mobil tetap melaju dengan kecepatan normal....
...Rin telah terjebak, andaikan ia terus terang pada suaminya, mungkin pria yang dulunya sangat baik ini tak akan lagi menyakitinya, Rendra seakan berubah menjadi pria yang menghalalkan segala cara karena merasa di khianati....
...Rin semakin yakin dengan niat buruk Rendra ketika kampus tempat dia kuliah sudah lewat. Ia kini sibuk memikirkan nasibnya. Entah apa yang akan terjadi....
...Rendra menepikan mobilnya di depan halaman rumah kosong. Rumah yang sudah tak berpenghuni sekitar tahunan, karena pagar yang sudah berantakan dan rumput liar tumbuh tinggi tak terurus....
..."Rendra kini terlihat semakin menakutkan. Ia berpindah duduk dibelakang, dan Rin terpaksa menggeser tubuhnya hingga ia tersudut tak ada celah lagi untuk bergerak....
..."Rin, aku tu sayang sama kamu. Kamu bisa nggak sih balas rasa sayang aku walaupun sedikit saja?"...
..."Ren, kamu ini ngomong apa?! jangan gila, aku ini sudah bersuami!" ucap Rin dengan deru nafas yang semakin gusar....
...Rendra mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi dengan tubuh Rin. "Jangan terlalu takut padaku, aku hanya ingin melakukan seperti yang dilakukan suamimu tadi di depanku."...
..."You just enjoyed it."...
..."Jangan Ren." Rin memukul sekeras dan sebisanya. Tapi Rendra seperti tak punya rasa sakit lagi. Rin meminta tolongpun tak ada seorangpun mendengarnya....
...Hingga senjata terakhir ia keluarkan, Rin menggigit lengan Rendra sekuatnya. Namun membuat pria itu semakin tersulut emosi....
...Ia mencengkram kedua rahang Rin keras, dengan tatapan membunuhnya. "kamu benar benar menolakku rupanya."...
..."Took... tok... tok...." Pintu mobil diketuk seseorang....
...Bima tiba-tiba berada di luar pintu. Membuat Rendra kaget bukan kepalang. Bima segera membuka pintu dengan kunci duplikat. Rin segera lari ke pelukan Bima....
..."Menyingkirlah dulu, biar aku beri pelajaran pria tak tahu diri ini, berani sekali dia." Bima mengisyaratkan agar Rin menjauh darinya....
...Bima segera meraih krah leher Rendra, dan melayangkan pukulan berkali- kali di rahang pria itu. "Beraninya kau, menyentuh istriku,"...
...Rendra tak memiliki kesempatan sekalipun untuk membalas perlakuan Bima. Walaupun ia telah kalah namun tak ada sedikitpun penyesalan di matanya. Membuat Bima makin tega menghajarnya....
..."Akan kupatahkan tangan yang lancang ini." sambil terus melayangkan pukulan diperut dan mengunci tangan Rendra hingga ia memekik kesakitan....
...Tubuh Rendra lunglai di tanah, jujur Rin merasakan kasihan padanya. Rin hanya bisa menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Andaikan ia dulu tak memberi harapan palsu semua ini tak akan terjadi. Rendra yang baik akan tetap baik. Dan cinta rendra padanya mungkin hanya akan di pendam di dalam hati saja....
...Setelah Rendra terkapar, tak berapa lama polisi datang mengamankannya....
...Rin masih tetap bersedih, ia kehilangan sahabat yang pernah sangat baik....
__ADS_1
...Bima merapikan kembali jasnya. Dan melihat kearah Rin yang sedang bersedih, Rin menitikkan air matanya....
..."Siapa yang kau tangisi? Apa pria tadi?" Tanya Bima dengan sorot mata tak suka....