Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 32. Istana tak senyaman dulu


__ADS_3

...Sejenak di meja makan hanya ada suara sendok dan piring yang saling beradu....


...Rin menutupi kegundahan hatinya dari kedua orang tuanya. Ia tak ingin kembalinya mantan kekasih suaminya di ketahui oleh kedua orang tuanya....


...Tak mungkin berita ini ia dengarkan hingga ke telinga ayah yang sedang berjuang untuk hidupnya....


...Tiba- tiba Abimanyu membuka suara terlebih dahulu, mengusir kesunyian di meja makan....


..."Ayah, bagaimana kalau ayah berobat ke Singapura. Siapa tahu dengan tekat dan usaha yang lebih besar akan memperbesar kemungkinan ayah sembuh." ucap Abimanyu setelah selesai menyeka bibirnya dengan tisu....


..."Tapi Nak, uang yang kau keluarkan untuk kami sudah sangat banyak. Berapa banyak lagi kami akan merepotkanmu jika kita akan berobat disana." Sahut Arumi dengan suara bergetar....


..."Ah, ibu kenapa masih memikirkan soal uang, aku akan sangat senang jika uang yang ku miliki akan bermanfaat untuk kesembuhan ayah." Senyum tersemat di bibir Abimanyu, dengan tatapan ketulusan, tatkala ia melirik ke arah sang ayah. Pria yang dulunya sangat tampan. Abimanyu berfikir kecantikan Istrinya pasti menurun dari ayahnya....


..."Sebaiknya ayah dan ibu siap- siap, besok pagi seseorang akan datang menjemput ayah dan ibu." ujarnya sambil kembali membuka gawainya....


...Sepertinya Abimanyu kembali membutuhkan Alex untuk mengantar dan menjaga mertuanya disana. Karena alasan pekerjaan Abimanyu tak dapat ikut serta besok pagi Rin dan Bima hanya bisa mengantarnya hingga bandara saja....


...****...


...Setelah keberangkatan Ayah dan Ibu, Rin dan Bima kembali pulang kerumah. Rumah yang menjadi istananya, serasa tak seindah dulu. Karena ada wanita yang bukan lagi bagian dari keluarganya tinggal di rumah itu....


...Maira segera menyambut kedatangan Abimanyu dan Rin di pintu gerbang. Dia seakan bisa meramal kalau hari ini mantan kekasihnya dan istrinya akan kembali....


..."Mas, kemana aja kamu dan Rin baru pulang?" sapanya lemah lembut. Senyum bahagia yang sengaja ia sematkan dapat terlihat oleh mereka berdua....


...Bima acuh, ia tak menjawab sapa dari Maira. Pria itu memilih mengambil durian yang tempo hari ia beli dari bagasi. Rencananya akan di makan waktu di rumah istrinya namun karena mertuanya tak suka aromanya akhirnya Abimanyu urung memakannya....


..."Kita habis ke rumah ibuk, Mbak." jawab Rin tak mau ikut terlihat acuh....


..."Baby, aku langsung masuk ke kamar, segera nyusul ya" terlihat jengah, Bima begitu malas untuk bertatap muka apalagi berbicara dengan Maira. Sambil membawa masuk durian dan menaruhnya di dapur. Bima segera naik kelantai atas hendak melepas lelahnya....


...Rin menuruti suaminya. Ia membiarkan Maira tertegun sendiri di depan pintu. "Maaf Mbak, Rin masuk duluan ya." menunduk sopan....


..." Silahkan." Maira mengangguk setuju, Sambil mengamati punggung Rin yang berlalu meninggalkannya....


...Jika bertanya bagaimana perasaan Maira hari ini, ia merasakan sangat sakit di dadanya, namun bagaimanapun ini keinginannya. Ia harus kuat melihat pria yang sangat ia cintai bersama wanita lain, walaupun wanita itu awalnya hanya wanita yang memiliki kasta jauh di bawahnya....

__ADS_1


...Jika ia dulu tak egois dan terlalu dibutakan oleh nafsunya, mungkin pria itu masih sangat menyayanginya tanpa tau semua masalalunya. Siapa suruh dia pergi, siapa suruh ia sekarang datang. Semua berjalan sesuai kemauannya sendiri....


...Maira menutup pintu pelan-pelan, Ia kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya....


...Membaringkan tubuhnya di ranjang, memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh dua insan yang sekarang saling mencintai itu, terlalu lelah berfikir tanpa melihat tak terasa Ia menitikkan bola kristal di pelupuk matanya....


...Maira menyeka air matanya, ada rasa penasaran yang menguasai pikirannya, ia beranjak dari ranjang dan menapaki tangga berlahan. Maira mengamati kamar baru, hunian sang pengantin. Kamar tertutup rapat tak ada tanda- tanda Bima dan Rin akan keluar....


...Maira mencoba menempelkan telinganya di daun pintu. Ia sudah tau itu hanya semakin menyakiti dirinya. Tapi hatinya tak bisa mengelak untuk ingin mendengar segala obrolannya....


..."Baby, ambilkan baju ganti untukku aku ingin segera mandi," pinta Bima saat ia mulai membuka satu persatu baju yang menempel di tubuhnya. Suara panggilan sayang itu keluar begitu saja hingga terdengar di luar kamar....


..."Baik, Sayang." Rin beranjak menuju letak baju suaminya, ia mengamati begitu banyak baju berjejer di lemari membuatnya sedikit bingung. Akhirnya Rin memilih baju santai saja, kaos santai dengan bawahan celana pendek selutut, menurut Rin suaminya akan nyaman memakai baju itu....


...Rin menunjukkan pada Bima dan pria itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya,...


...Selesai memilihkan baju, Bima menggendong tubuh Rin ke kamar mandi, dan menjatuhkannya ke bathup, Rin berteriak kaget, saat tubuhnya terasa melayang di dekapan suaminya....


...Mereka berdua kembali mandi bersama dalam satu tempat, canda tawa terdengar hingga menembus dinding tebal dan lubang angin kecil pada kamar mandi....


...Mereka begitu tenggelam dengan dunia indahnya, tanpa menyadari ada sepasang telinga sedang mencuri dengar obrolannya, wanita itu hanya bisa merasakan perih dan berkali kali mengeratkan genggaman tangannya....


...Maira dengan sengaja menjatuhkan gelas di meja makan dan menancapkan pada satu buku jarinya Hingga tetesan darah mulai keluar dari sela-sela jari....


...Naya yang mendengar suara pecahan gelas segera mendekat menuju meja makan. Ia berteriak histeris melihat Maira terkena pecahan gelas yang lumayan dalam....


..."Apa yang terjadi, Sayang." Tanya Rin pada suaminya setelah mendengar suara samar dari lantai bawah....


..."Entahlah." Bima mengendikkan bahunya dengan ekspresi tak tahu....


...Bima tak ingin melihat yang terjadi, ia segera memakai baju yang telah disiapkan Rin tadi dan menyalakan TV di ruang pribadinya....


...Sedangkan jiwa peduli Rin yang tak bisa dibendung segera berlari turun menghampiri keberadaan Maira....


..."Mbak Maira, apa yang telah terjadi?" Rin segera membantu Maira bangkit dan mencabut beling yang menancap di tangannya....


..."Rin tolong bantu aku berdiri." Rin membantu Maira menegakkan kakinya dan beranjak dari duduknya. "Aku mau mengambil minum, tak sengaja tanganku menyenggolnya, dan akhirnya terjatuh....

__ADS_1


..."Oh, Mbak maira sepertinya harus lebih berhati hati lagi." ucap Rin lemah lembut penuh kasih, tanpa ada perasaan apapun dihatinya....


..."Rin apa kamu bisa temani aku hari ini?" Maira mengiba....


..." Ta... Tapi, Rin harus." Rin berfikir sejenak, sedikit bingung. Suaminya sudah menunggunya sejak tadi....


..." Rin, saat hamil aku begitu lemah, aku butuh teman untuk bersamaku, aku sangat terhibur sekali jika kau mau menemaniku." Memelas, sambil memegangi pergelangan tangan Rin agar tak pergi....


..."Baiklah, Mbak." Rin tak berdaya menolaknya. Apalagi Maira terlihat sedikit kurus. Entah Efek kehamilannya, atau karena ia memang lagi sedih karena hamil tanpa seorang suami yang menguatkan hatinya....


...Kini Rin duduk di kursi kecil dan Maira duduk di sisi ranjang, walaupun duduk di tempat yang berbeda namun jarak mereka tetap dekat....


..."Rin, Mas Bima baik sekali ya!" ucap Maira saat suasananya menjadi canggung....


..."Iya." Rin mengangguk...


..."Kamu beruntung mendapat suami seperti dia ."...


..."Iya, Mbak"...


..." Kamu cinta sekali ya sama mas Bima?" Tanya maira lagi....


..."Iya, tentu, dia sekarang suamiku, dan dia menjadi suami yang baik untukku."...


..." Tapi kamu tak akan mendapatkan cintanya, Rin"...


..."Kenapa begitu, Mbak. Apakah kebersamaan kita itu tak cukup disebut cinta?"...


...Tertawa kecil sambil mengelus perutnya yang rata. " Dia pernah bilang, selamanya hanya aku seorang yang ia cintai. Tak tergantikan oleh wanita manapun, dalam keadaan apapun."...


...Berdiri mengambil handponenya. " ini foto kenangan saat ia melamarku, temanku bilang kita pasangan serasi." Menunjukkan layarnya di depan Rin....


..."Romantis sekali kan!" tersenyum sambil melihat fotonya kembali....


..."Iya, Mbak. Romantis." Rin terpaksa harus menunjukkan senyum palsunya....


...Mbak Maira pasti ingin menciptakan jarak diantara kami, itu sebabnya ia memakai senjata ampuhnya untuk membuatku goyah....

__ADS_1


..."Tapi tuan Bima juga selalu bilang dalam keadaan apapun dia tak ingin aku pergi, aku hanya miliknya. Dan hanya dia milikku, kami akan saling memiliki, mencintai dan melengkapi. Kurasa perhatiannya saat ini sudah lebih dari cinta." ucap Rin tanpa keraguan....


...Rin juga tak mengerti darimana ia punya keberanian melawan kata- kata wanita di depannya, yang ada di hatinya saat ini hanya bagaimana ia bisa bertahan dalam rumah tangga...


__ADS_2