
...Rin mengamati ke tiga benda itu secara bergantian, dua berbentuk stik putih, dan satu berbentuk kotak warna putih tulang. Semuanya sama-sama menunjukkan dua garis merah....
...Akhirnya Rin meminta pada Naya untuk membantu dirinya menghias benda kecil itu. Dengan memberi pita di setiap ujungnya pasti akan lebih cantik. Rin memasukkan kedalam kotak kecil lalu membungkusnya dengan seapik mungkin....
...Walau terlihat seperti hadiah biasa. Namun Rin yakin itu akan menjadi hadiah paling istimewa jika dibandingkan dari hadiah lainnya....
..."Akhirnya selesai juga." keluhnya sambil memutar kotak kecil yang ia bungkus dengan warna biru langit itu....
...Kemudian Rin menyimpannya pada laci paling atas dan menguncinya. Rin mencabut kunci laci tersebut, ia menghindari Abimanyu akan melihatnya secara tidak sengaja sebelum hari itu tiba....
..."Tuan Abimanyu." Bibir Rin merekah, tangannya tak berhenti mengelus perutnya yang masih datar....
...Rin berbaring di ranjang besarnya kakinya ia biarkan menggelantung, pandangannya lurus pada langit- langit kamar. Bibirnya terus bergetar mengucap nama suaminya....
..."Tuan Abimanyu kecil, kau sudah hadir."...
...Rin kini duduk, ia melihat ke gawainya, ingin menelepon Abimanyu. Namun segera menghentikan jarinya, "Tuan pasti sangat sibuk. Sebaiknya nanti saja."...
...Kemudian Rin membuka situs lain. Ia ingin bertanya sesuatu pada aplikasi pintarnya. Ia ingin tau jika wanita seusianya yang masih terbilang masih sangat muda, baikkah jika hamil? Atau ada pantangan tersendiri untuk menjaga buah hatinya....
...Rin sesekali mengerutkan dahinya, kemudian mendesah frustasi. Karena benda di genggamannya itu mengatakan, Rin harus hati- hati dengan kehamilannya, karena usia sang ibu terlalu muda....
..."Bunda akan menjagamu dengan baik sayang, Bunda akan melindungimu dengan segenap jiwa raga." Kembali terlentang dan melempar ponselnya di atas bantal....
..."Rin sebaiknya kamu mandi, setelah itu kamu isi perutmu yang kosong. Kasian si kecil sudah menunggu di kasih asupan." Kata-kata keibuan Naya yang terlontar dari wanita paruh baya itu. Sebelum ia meninggalkan Rin sendirian di kamarnya....
..."Baik, Bi, siap! " Tersenyum bahagia. Hari ini memang bahagia saja yang ada pada diri Rin....
...Rin bergegas mandi, ia berendam sebentar di bathup. Ketika lapar semakin menyerang pada perutnya. Rin mengakhiri mandinya. Ia bergegas turun ketika rambutnya masih terlilit oleh handuk kecil....
..."Ah, ternyata si kecil ini doyan makan rupanya." Gumam Rin ketika sampai dimeja makan. Rin memang kini merasakan lidahnya sangat menginginkan sesuatu masuk di mulutnya. Namun ketika benda itu sudah di perut, Rin akan memuntahkan kembali....
..."Kamu kenapa Rin?" tanya Maira heran, saat tau Rin hendak berlari tergopoh ke kamar mandi....
...Maira yang hendak ikut sarapan, wajahnya terlihat penasaran dengan perubahan Rin , ia memperhatikan gerak geriknya dengan tatapan menyelidik....
..."Nggak tau Mbak aku ingin muntah, dengan aroma makanan ini."...
..."Aneh, bukannya itu kesukaanmu?"...
...Perut Rin memang aneh hari ini, makanan yang tersaji itu ia sebelumnya sangat menyukai, tapi kenapa setelah ia memakan sedikit malah ingin muntah....
..."Kamu seperti hamil muda, saja?" tanya Maira dengan tatapan mengintimidasi....
...Melihat tatapan tak bersahabat dari Maira, membuat Rin ragu mengatakan perihal janin yang baru tumbuh di rahimnya....
...Belum tau yang sebenarnya saja sorot mata Maira sudah seperti kucing ingin menerkam mangsanya. Apa lagi kalau ia tau Rin telah hamil, pasti dia akan semakin membenci Rin, karena ia akan lebih susah lagi mengambil hati Abimanyu....
..."Bibi, habis ini temani aku ke penjual yang dekat dengan pertigaan itu ya, aku ingin membeli sesuatu disana."...
...Rin mengabaikan Maira. Ia kini membayangkan makan es buah segar sambil duduk di tempatnya, melihat kendaraan lalu lalang, sambil menikmati es buah, pasti akan menyenangkan....
..."Okeh, tapi jangan lama-lama ya nanti tuan keburu pulang." Naya mempercepat aktifitasnya mengelap meja....
..."Iya, sebentar aja kok." Rin bergegas ganti baju santai, ia berharap saat makan es buah nanti mualnya akan segera hilang....
__ADS_1
...Tak lama Naya dan Rin berjalan kaki menuju ke pertigaan yang kira- kira hanya berjarak empat ratus meter dari rumahnya....
..."Rin kamu harus jaga diri dengan baik, ya!"...
..."Iya Bi, tenang saja, Bibi khawatir sekali, kan anak ini anaknya tuan Abimanyu pasti dia akan menjadi anak yang kuat sekali."...
..."Iya juga sih."...
...Sambil berbicara panjang lebar tak terasa ia sudah sampai pada penjual Es yang dituju....
..."Mang, Es buah dua nggak pake nanas ya," ucap Naya ketika mereka berdua duduk pada kursi panjang yang sudah di sediakan oleh pengunjung....
..."Ditunggu sebentar ya, Neng." ucap penjual sambil melirik Rin yang mulai mengambil posisi duduk...
..."kenapa nggak pake nanas, Bi?" Rin protes karena ia paling suka dengan campuran nanas didalamnya....
..."kamu nggak tau, hamil muda nggak boleh makan nanas, bahaya bisa keguguran," jelas Naya....
...Saat Rin menunggu pesanannya datang, kebetulan mobil Mahesa lewat. pria yang sedang mengendarai mobil putih tulang itu segera menepikan mobilnya ketika melihat Rin duduk membelakangi jalanan....
..."Rin, kamu! Rupanya aku nggak salah lihat tadi." Terlihat senang....
..."Iya Dokter, kami berdua sama Rin lagi ingin menghirup angin segar." jawab Naya....
..."Boleh gabung nggak?"...
..."Silahkan, kalau dokter mau juga." Naya mempersilahkan Dokter Mahesa duduk pada kursi lainnya, Mahesa memilih duduk di kursi lainnya, tepat di depan Rin...
..."Setelah Semangkuk minuman dengan aneka buah itu tersaji, Rin menyantap dengan lahapnya. Dokter Mahesa sering kali melirik kearah Rin sambil menyeruput minuman yang sangat ia inginkan....
..."Eng- enggak Dok."...
..."Aku antar ya?"...
..."Terima kasih Dok, tapi saya lebih enjoy jalan saja."...
..."Nggak apa- apa, lagian kamu juga sudah kenal saya, apa iya aku akan membiarkanmu jalan kaki saat pulang, pokoknya ikut aku ya!"...
..."Baiklah, Dok."...
...Setelah selesai semua, Mahesa segera mengulurkan uang 100 ribu pada bapak penjual, dan mereka bertiga segera melangkahkan kaki menuju mobil. Mahesa membukakan pintu depan untuk Rin. Dan otomatis Naya membuka pintu belakang untuk dirinya sendiri....
..."Dok, kembaliannya!" Bapak penjual mengejar Mahesa karena uangnya kembaliannya masih banyak....
..."Udah ambil saja."...
..."Makasi ya."...
..."sama- sama pak."...
...-...
...-...
...Mahesa berkali kali melontarkan senyum, Rin membalas keramahan Mahesa dengan senyuman pula....
__ADS_1
...Wanita ini cantik sekali, aku baru kali ini melihat seorang gadis memiliki wajah yang begitu sempurna, matanya indah sekali....
...-...
...-...
..."Dok, saya sudah sampai," ucap Rin....
...Mahesa tergagap dari lamunannya yang telah melayang entah kemana....
..."Jangan turun dulu biar saya saja yang buka." Mahesa bergegas turun membukakan pintu untuk Rin....
...Rin menurut, ia takut juga melakukan kesalahan. Ia begitu hati-hati dengan kehamilannya. Dokter mahesa mengulurkan tangannya agar memudahkan Rin melangkah turun....
..."Terima kasih Dokter." Rin turun dengan hati hati, memakai tangan Mahesa untuk pegangan....
..."Iya sama-sama, aku nggak mampir, soalnya suami kamu pasti belum pulang."...
..."Iya, hati hati, Dok."...
...Dibalas anggukan dan senyum oleh Mahesa....
..."Siapa bilang saya belum pulang!?" Suara Abimanyu dari dalam dengan wajah memerah....
..."Kamu sengaja Rin? Jalan- jalan sama Mahesa, saat aku kerja? Bukannya kamu libur kuliah karena kurang enak badan?"...
..."Emmm, tuan...." Naya hendak menjelaskan....
..."Diam kamu!! Aku tidak menyuruh kamu menjawab."...
..."Masuk.... !!!." membentak Rin, sejenak Rin terkejut dengan suara Abimanyu yang terdengar begitu marah. Abimanyu meraih lengan Rin kasar dan membawanya masuk....
..."Abimanyu kamu salah.....!" Bantah Mahesa....
..."Pergi kamu, atau aku akan menghajarmu!!?" Abimanyu mulai berapi-api....
..."Sitt," Mahesa kesal dengan Abimanyu yang salah paham. "Kenapa jadi masalah begini."...
...Maira menyaksikan semuanya ia tersenyum penuh kemenangan mendapati Rin terkena marah tanpa ia terlibat sedikitpun....
...Mahesa meremas kepalanya. Sambil menoleh ke arah Rin yang ditarik paksa oleh Abimanyu....
..."Dia pencemburu sekali." gerutunya sambil masuk ke dalam mobil dan membanting pintu....
..."Tuan sakit...." Rin merintih kesakitan....
..."Diam!!" Abimanyu melempar tubuh Rin ke ranjangnya....
..."akhhhh." Rin memekik, tangannya melindungi perutnya agar tak terjadi goncangan karena ulah suaminya....
...-...
...-...
...Bersambung....
__ADS_1