
"Sampai ketemu besok Za...!" ujar Verro sambil melambaikan tangannya.
"Aku nggak mau...!!!" ujar Izza sambil terus berlalu hingga sampai pintu masuk apartement.
"Kamu pasti mau Za...." Verro membalas teriakan Izza.
Setelah bayangan Izza hampir menghilang. "Izza I love you.....!!!" teriak Verro memekakkan telinga, setiap manusia yang lagi lalu lalang di selasar apartement sontak menoleh.
Beberapa diantara mereka ingin mengetahui siapa pria yang berteriak memanggilnya, pria itu gentle sekali.
Verro berdiri menunggu Izza membalikkan badan.
Izza reflek menghentikan langkahnya. Kemudian Teriakan Verro terdengar lagi. " Kau pemenang taruhan, karena aku sudah mengutarakan isi hatiku hari ini. Satu bulan terlalu lama.
Mendengar semuanya jantung Izza seakan meledak, bak kejatuhan meriam dari langit. Verro bukan para normal tapi bisa tau semuanya.
"Verro..." Izza berbalik.
"Darimana kau tau?" teriaknya.
Verro tertawa sumbang." Aku tau apa aja yang kamu lakukan. Aku juga tau kalau kau... Detik ini juga telah mencintaiku."
Izza berlari segera memasuki lift. Tak percaya cowok tampan itu seperti peramal yang bisa membaca fikirannya saja. Sampai dikamar Izza segera menemui Rose.
Sedangkan Rose baru selesai mandi ia duduk di meja belajar. Bermain- main dengan laptopnya. Mendapati Izza yang baru datang membuat Rose bertanya.
"Izza kamu darimana saja? Apa toko buku sekarang sudah berpindah lokasi." sungutnya
Maaf Kak Ros. Aku tadi habis jalan dengan Verro. Kak aku ingin batalkan saja taruhan kita, aku tak ingin jalan- jalan ke paris.
"Emang kenapa?"
"Percaya padaku kak..., kita lupakan saja."
"Beritahu dulu alasannya."
"Alasanya karena aku nggak mau..."
"Kamu takut Zaa?"
"Iya aku takut, Verro mengetahui semua...."
"Emang sedekat apa hubungan kalian? Kamu syuka sama dia?" cecar Rose yang melihat gelagat Izza tak seperti biasanya.
"Nggak..." Izza melengos. Namun wajahnya merona.
"Ingat Za, Kalau kita ketahuan pacaran papa Dirga akan menikahkan kita dengan anak sahabatnya. Aku tak mau jika itu sampai terjadi, Lebih baik kamu saja yang menikah.
"Kakak enak aja, dimana mana yang menikah itu yang tua dulu."
"Tapi aku tak ingin dijodohin."
"Kalau gitu kita sama. Kesel jadinya sama papa, pake jodohin kita segala."
__ADS_1
****
Verro segera pulang, seharian berkeliling tak tentu arah tujuan rasanya tubuhnya capek serta lengket.
"Darimana Verr?" tanya Daddy yang sedang duduk membaca koran di ruang tamu.
Sedangkan Rin sibuk membaca novel Dilan karya Ayah Pidi baiq yang pernah populer ditahun 1990. Kejadian pada novel itu pas banget denga tahun aku dilahirkan.
"Em.... Biasa anak muda, Daddy." jawabnya slengekan.
Selesai mandi Verro kembali menghampiri Bima dan Rin yang masih di tempat sama. Menghempaskan tubuhnya di tengah orang tuanya, hanya sekedar bermanja saja.
Mereka sebenarnya ingin memiliki banyak putra namun Tuhan hanya menitipkan satu putra saja pada Rin dan Bima. Usaha dan upaya yang orang bilang sudah dicoba, tapi nyatanya takdir berkata lain, Rin hanya memiliki Verro seorang.
"Bunda anak kita sudah besar rupanya." ujar Bima sambil sesekali meneguk kopi latte dari cangkirnya.
"He...em, Mas." masih sibuk membaca.
"Udah punya pacar apa belum ya?" tanya Bima.
"Lagi naksir gitu sepertinya, Mas." ujar Rin.
"Siapa? Tiara?"
"Bukan?"
"Tapi kelihatan Tiara suka sama Verro lho." jelas Bima.
"Tapi putra kita sepertinya menganggap sahabat tak lebih, Dia suka sama gadis lain."
"Siapa sih Dadd, nggak ada.... Bunda itu sedang bohong."
"Pesan Daddi, Jangan mainkan anak orang." Abimanyu tak ingin masalalu buruk itu akan dialami juga oleh putranya.
"Oh... Iya Verro kamu jangan lupa besok sepulang kuliah kamu kerja ditempat Daddy."
"Tapi Dadd...."
Jangan membantah, atau black card yang kamu pegang akan ayah non aktifkan."
"Iya... " memutar bola mata malas.
"Nggak apa Verro, Daddy cuma pengen kamu ada pengalaman saja." Rin membujuk halus.
"Pengalaman sih penting juga, Bunda, tapi ini nyeleneh, masa kuliah di kedokteran prakteknya jadi pelayan restaurant." Ujar Verro sambil mengerucutkan bibirnya. "Mending Verro ikut dokter Mahesa saja, itu lebih menyenangkan."
Justru kekesalan Verro menghadirkan senyum di bibir kedua orang tuanya. "Jalani saja Verro, jadi waiter itu nggak buruk kok, atau bantu Bunda di butik, mau?"
"Kalau di butik bunda Verro malah disuruh jahit nanti, ogah ah...."
"Dasar pemalas." Rin menguyel rambut Verro yang lebih panjang dari biasanya. Harusnya dua hari yang lalu ia sudah potong rambut. Gara gara sibuk jadi mahasiswa baru Verro jadi lupa ke salon.
* 06.30*
__ADS_1
Pagi sekali Verro sudah menemui Izza di apartement gayanya masih tetap sama coll dan selalu menarik.
Izza yang mendengar bel berbunyi pagi. Ia sudah tau pasti Verro. Izza membukakan pintu, meraih lengan Verro dan mempersilahkan masuk.
"Verro.... "Senyum simpul dari Izza dan tatapan menuntut membuat Verro semakin nyalang. Izza menempelkan tubuhnya di dinding ruang tamu. Verro mengunci tubuh Izza. Lama sekali mereka saling bertatapan.
Verro melepas kaca mata Izza. Betapa kagetnya Izza memiliki bola mata yang begitu indah dan bulu yang panjang nan lentik.
"Kau cantik Za." ujar Verro masih terpaku menatap makhluk mungil secantik bidadari di depannya.
Mendapat pujian dari Verro membuat Izza terbuai. Tak ada yang bisa dilakukan selain tersipu dan tersenyum. "Kenapa kalau aku cantik? Apa kau ingin kita pacaran, aku jadi pacar kamu....?"
"Emang mau..." tanya Verro lagi.
Izza kembali tersenyum dan memalingkan wajahnya.
"Jawab Za? Emang kamu mau kita pacaran?"
Izza mengangguk berulang kali tanpa menatap Verro yang sudah dilanda cinta. Degup jantung Verro terdengar nyaring bak genderang. "Yes..."
"Za.... Bolehkah aku minta satu permintaan?"
"Boleh, emang apa?"
"Merem ya?, awas kalo ngintip?"
"Emang minta apa?" Namun Izza memilih menurut ucapan Verro. Gadis cantik dan lugu itu memejamkan mata tanpa Verro mengulangi katanya.
Verro memajukan bibirnya hendak menyentuh pipi putih Izza. Yang selalu merona walaupun tanpa bedak perona.
"Den udah setengah tujuh, Den!!!" ujar Naya setengah berteriak
Verro masih senyum- senyum dengan mata terpejam. Bibirnya monyong seperti bibir ikan kehabisan nafas. Bi Naya jadi tersenyum melihat tingkah anak majikannya.
Verro bangun.... atau terlambat....!" teriak Rin yang ikut kesal oleh ulah Verro yang setiap pagi harus membuat heboh seisi rumah karena molor bangun tidur.
Verro tergagap dengan nafas ngos ngosan. "Ya tuhan jadi aku cuma mimpi, padahal pagi ini aku ada janji drngan Izza."
"Iya Dennnn...." Suara Bibi lebih pelan. " Emang mimpinya indah banget ya Den? Nyium pacarnya ya?"
Verro menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bibi sih ganggu mimpi Verro."
"Maaf Den tapi lihat tu?" menunjuk ke arah jam Dinding.
"Goood...?" pekiknya. Verro berlari menuju bathroom segera membuka baju dan mandi sekilat mungkin. "Bi siapkan Bajuku....!!"
"Iya Denn....!" Bi Naya yang hendak pergi segera balik, memilihkan baju untuk Verro serta meletakkan di ranjang.
Selesai mandi Verro segera menghampiri Rin dan Bima yang sedang melakukan Rutinitas sarapan pagi di lantai bawah. Mereka sedang memperbincangkan tentang perjodohan Verro dengan putri sahabatnya. Namun melihat Verro yang menyukai gadis lain, Rin tak yakin putranya akan mau.
"Aku nggak ikut soal perjodohan itu Sayang, tapi aku ingin kamu jangan memaksa jika Verro tak mau.
"Tapi Beb.... Aku sudah terlanjur setuju."
__ADS_1
"Seperti jaman nurbaya aja pake di jodohin."
.