
Mama meraih lengan Rin dengan kasar, Mama membawa dengan paksa masuk ke gudang belakang, gudang yang pengap berteman nyamuk dan kecoak hanya barang rongsok yang berserakan di dalamnya.
Disana sementara Rin akan ditinggalkan. Rin tidak mempermasalahkan dirinya tinggal di tempat kotor itu, tapi Rin tak habis pikir kenapa Mama begitu memelihara kebencian begitu besar terhadap dirinya dan Verro.
Terlihat Abimanyu kasian melihat Rin. namun Mama lagi- lagi meyakinkan kalau itu hukuman yang pantas, hanya dengan itu Rin akan jera dengan perbuatannya.
"Tuan Bima, apa cintamu memang sudah hilang, kamu tega melihat aku menderita seperti ini, apa kamu sudah menutup mata dan hatimu untuk melihat semua kebenaran yang ada. Bulir bulir bening terus saja turun dari pelupuk mata.
"Tuan, aku mohon percayalah, aku hanya milikmu." Rin berbicara dengan suara lirih dan mengiba. Namun buru- buru Mama kembali dan menarik lengan Bima dan mengajaknya pergi.
Tuan!! Lepaskan aku, jangan kau siksa aku seperti ini. Jika aku tak berarti apa-apa lagi untukmu, biarkan aku pergi. Aku akan meninggalkan semua ini." Suara Rin putus asa. Rin berteriak sambil duduk pada kursi bekas yang sudah usang dengan tangan masih terikat.
Abimanyu tak menghiraukan panggilan istrinya. Dia lebih memilih kembali ke kamar. Disaat itu tekad Rin sudah bulat, Rin akan pergi darinya jika memiliki kesempatan yang tepat. Rin ingin Abimanyu akan mengingat hari paling buruk ini.
Bima segera Mandi dan mengganti bajunya dengan baju santai. Setelah itu ia duduk sebentar di ditepian ranjang sambil memikirkan Rin yang ada di gudang belakang.
Bima melirik kepada putranya yang menggeliat dengan mata masih terpejam. Bibirnya bergerak- gerak seperti sedang mencecap sesuatu.
Bima menciumi pipi gembul putranya. Hati Bima seketika luluh, tak pantas rasanya memperlakukan ibu dari anaknya seperti tadi.
Bima kembali turun ia hendak menyusul Rin di gudang, melepas ikatannya dan menyuruhnya mandi karena hari telah sore.
"Apa yang kalian lakukan?"
Abimanyu kembali di kuasai emosi, ia menatap Bapak tukang kebun datang hendak melepas tali yang mengikat lengan Rin.
"Tuan, lihatlah tangan Nona, jika tuan mencintai Nona muda kenapa tuan menyiksanya. Kami saja orang miskin tak pernah menyakiti istri kami seperti ini. Cinta itu harus percaya dan saling melindungi, Tuan."
Deg, dada Bima terasa nyeri seakan baru saja ditonjok oleh kepalan tangan begitu keras. Ternyata tukang kebun di rumahnya lebih bijaksana daripada dirinya.
Bima sangat mencintai istrinya, tapi sering kali menyakiti dengan memaksakan kehendaknya. Tak jarang tubuh Rin merasa sakit terutama di area intimnya seusai melayani keganasan Bima. Rin masih terima jika itu membuat suaminya puas. Namun jika mengikatnya seperti tadi Rin merasa tak dianggap seperti manusia lagi.
Setelah ikatan tangan Rin terlepas. Rin segera berlari ke kamar. Disusul Bima di belakangnya.
"Jangan mendekat, Tuan Abimanyu Bagaskara. Aku hanyalah pelayanmu dan selamanya statusku hanya seperti itu, aku tak akan pernah mendapatkan kepercayaan darimu selamanya, jadi biarkan aku pergi, biarkan aku pergi bersama anak cacatku. Mulai hari ini aku akan berhenti menjadi pelayanmu lagi aku akan melunasi semua hutangku, biarkan aku bekerja di luaran sana."
"Rin aku tak menganggapmu pelayan?"
"Kau menganggapku pelayan. Tuan."
"Tidak"
"Bunda Vello sakit. Dada vello sakit bunda." bocah kecil itu merengek.
Sabar sayang kita akan pergi dari sini sayang, kita berdua akan pergi dari orang yang jahat sama Verro.
"Bunda Vello gak mau meninggal, apa meninggal itu sakit bunda?" mendengar ucapan lugas yang keluar dari bibir mungil verro membuat Rin semakin remuk
"Verro minum sirupnya ya?" Setelah itu kita pergi dari sini. Dengan putus asa Rin memberikan obat untuk Verro. Anak itu selalu menolaknya karena sudah tau rasanya sangat pahit.
__ADS_1
Lima menit drama memberi obat pada verro tak juga berhasil. "Rasanya pahit bunda, Vello sudah bosan."
"Jangan pergi, Rin. Kumohon?" Amarah Bima kini reda, berganti dengan wajah memelas.
"Aku tak mau disini lagi, Tuan. Aku ingin pergi dimana aku dan anakku di anggap seorang manusia."
Hiks... hiks...hiks.... verro menangis melihat orang tuanya berbicara keras- keras di depannya."
"Bunda Vello ikut bunda."
Rin membawa baju ganti untuk Verro dan dua stel untuk dirinya.
Rin segera keluar dari kamar sambil membawa Verro dalam gendongan. Sedangkan satu tangannya menarik sebuah koper besar.
Abimanyu tak bisa lagi menahan kemauan Rin. Terpaksa ia membiarkan istri dan anaknya meninggalkan mansion yang ia tinggali.
Setelah Rin keluar mansion, Bima segera mengejarnya. Bima tak ingin kehilangan dua orang yang paling ia sayangi.
"Rendra cepat kejar Rin."
Perintah Abimanyu pada Rendra yang sudah stanby di dalam mobil..
"Baik Tuan."
Mobil segera keluar dari mansion dan menyusuri jalanan hitam dimana Rin masih menunggu taxsi lewat.
"Ayo masuk."
" Berhenti, Ayo masuk." teriak Abimanyu lagi.
"Tidak mau." sambil terus berjalan.
Terpaksa Rendra mengemudi mobilnya sangat pelan mengekor di belakang Rin.
"Berhenti dulu Ren. Aku tak ingin lagi memaksa, tapi istriku memang lebih suka dengan pemaksaan." Bima keluar mobil dan mengejar Rin.
Bima terpaksa turun dari mobil dan menggendong tubuh istrinya ditambah lagi Verro yang berada di gendongan depannya membuat bobot mereka lebih berat.
"Lepaskan tuan, aku tak akan ikut denganmu jika, Kau masih selalu bersikap sama."
"Baiklah tuan putri mulai hari ini aku berjanji, aku akan menjadi Lelakimu yang lemah lembut. Aku akan mengajakmu hari ini pulang kerumah kita."
"Rumah lama kita?" langkah Rin terhenti.
"Iya, bukannya kau lebih suka tinggal disana?"
***
Abimanyu membawa Rin ke rumah lama disana mereka hidup bahagia kembali tanpa ada yang menggangu ketenangannya.
__ADS_1
Setelah usia Verro genap lima tahun Abimanyu dan Rin pergi keluar negeri melakukan operasi jantung untuk Verro. walaupun kemungkinan berhasil sangat kecil. Tapi Verro sangat beruntung ia telah melewati masa sulitnya dengan sempurna.
Setelah operasi Verro berhasil Rin dan Bima kembali ke Indonesia dan membebaskan Maira dari dalam sel.
Setelah Maira bebas, Maira pergi bersama Tiara menyusul ke luar negeri mencari ayah kandung Tiara.
*Pagi penuh bahagia*
"Wah, anak papa tampan sekali yuk kita berangkat sekolah sekarang."
"Siap Daddy."
"Verro bercita- cita ingin menjadi apa?" Tanya Bima dengan Verro di gendongannya menapaki tangga berjalan turun.
"Verro ingin menjadi doktel, sepelti doktel mahesa Daddy."
"Baiklah, tapi kalian harus sarapan dulu" ujar Rin yang ditangannya terdapat satu gelas susu dan satu gelas kopi.
"Bunda hari ini masak apa?" Tanya Bima pada Rin. Rin yang semakin hari semakin cantik.
Tubuh Rin di usianya yang ke dua puluh dua kini semakin menggoda, tubuhnya padat dan sintal berisi. Rin pagi ini memakai dress pendek tanpa lengan warna hijau navi panjang diatas lutut. Bima yang melihatnya tak mampu berkedip walau sebentar. Memandangi Rin yang bolak balik kedapur mengambil dua piring nasi goreng buatannya.
"Sayang ayo cepat sarapannya, Nanti Verro terlambat lagi
"Baik Daddy." Verro mulai belajar makan sendiri. Ia begitu menikmati sarapannya. Setelah selesai Bima meminta Rendra untuk mengantarkan ke sekolah lebih dulu.
"Rendra tolong antarkan Verro ke sekolah."
"Daddy nggak jadi berangkat?"
"Iya Daddy akan berangkat. Tapi Daddy masih ada urusan sama bunda."
Verro menuruti saja perintah Daddy. Rendra segera menggendong bocah kecil yang kini tumbuh menggemaskan itu dan mengantarkan ke sekolah. Sampai dijalan Bima mengirim pesan pada Rendra agar berangkat ke Resort lebih dulu.
"Loh daddy nggak jadi berangkat?" Rin dibuat heran oleh suaminya yang tak jadi berangkat kerja. Ia menaruh tasnya si sofa dan melepas kembali dasinya.
"Tidak, lagi badmood."
"Badmood?" Rin dibuat heran oleh gelagat suaminya. " Masih pagi kenapa badmood?"
"Sayang jika kau memakai baju seksi seperti ini bagaimana aku tidak menjadi badmood saat berangkat bekerja.
"Ja- ja- di itu alasannya?"
Bima segera mendekap tubuh istrinya dan melampiaskan ciuman mesranya di bibir sang istri tanpa ampun. membaringkan tubuh Rin diatas meja besar di ruang keluarga. Bima menarik CD milik sang istri dan jari-jarinya mulai mengoyak bagian inti.
"Sayang kenapa kau buru buru sekali?" Tanya Rin yang lagi-lagi belum siap.
"Aku sudah tak sabar." jawab Bima dengan nafas yang sudah memburu.
__ADS_1
Bima sangat menyukai milik Rin yang selalu sempit dan basah. Walaupun ia sudah lima tahun menikah tapi Bima tetap mengagumi milik istrinya dan semua yang ada pada dirinya, termasuk kecantikannya.
Aksi di ruang keluarga harus terhenti karena kepergok oleh Bi Naya yang baru pulang dari pasar. akhirnya Rin dan Bima melanjutkan aksinya di kamar saja.