Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 38. Keputusanku


__ADS_3

..."Apakah kamu marah dengan yang aku lakukan padamu baru saja, Baby ?" Tanya Bima sambil menyentuh bibir Rin yang terluka karena ia menciumnya dengan rakus tadi....


...Rin hanya menggelengkan kepala, ia sekarang duduk di lantai tepat di depan Abimanyu....


..."Kenapa tidak, Ayolah marah, aku senang kalau kamu marah padaku"...


..."Pukul saja aku seperti ini, atau seperti ini." menggerakkan tangan Rin memukul mukulkan di wajahnya....


..."Hentikan Tuan." Rin menarik lengannya....


...Apakah aku punya hak untuk marah, Tuan. Sedangkan aku hanya remahan debu yang datang pada istanamu ini....


...Aku bahkan hanya bergantung pada kebaikan hatimu, sewaktu waktu kau bisa meniupku. Jika kau tak lagi menginginkanku di sisimu....


...Rin memilih ke kamar mandi, ingin membasuh miliknya yang lebam dan perih. Ia merasakan sakit kembali melebihi malam pertamanya waktu itu....


...Abimanyu bisa merasakan kalau istrinya begitu terluka. Ia membantunya berjalan pelan- pelan. Dan melepaskan ketika berada di pintu kamar mandi. Abimanyu meninggalkan Rin sendirian....


...Rin menyandarkan tubuhnya pada dinding pembatas hanya sebagian kecil saja air shower yang mengenai tubuhnya....


..."Tuan sayang padaku, tapi kenapa tak percaya pada semua yang kulakukan." gumamnya sambil meratapi kemalangannya....


...Abimanyu juga sama ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar mandi. Setelah Rin menguncinya dari dalam....


...Walaupun ia sangat bahagia, tapi kelakuannya baru saja tetap akan meningalkan jejak luka dihati istrinya. Abimanyu memutar otaknya, kira kira apa yang mampu membuat hati istrinya bahagia....


...Abimanyu turun kebawah setelah menuliskan secarik kertas dan meletakkan di meja....


...*Kalau mencariku aku ada dilantai bawah."...


...Abimanyu segera turun ke ruang keluarga. Ia meminta Naya agar memanggil Maira yang sedang bersantai dikamarnya....


...Tak lama Maira sudah keluar ia sangat senang mendapat panggilan dari Abimanyu. Ia berharap pria itu pasti sudah luluh dengan usaha kerasnya selama ini....


...Maira mati- matian menahan diri untuk tidak menyakiti Rin, karena ancaman Abimanyu tempo hari masih ia ingat dengan baik. Jika ia berhasil membuat senang hati lelaki yang pernah menjadi miliknya, pasti ia akan mudah memaafkan kesalahannya. Dan tak menutup kemungkinan ia akan menikahinya ...


...Senyum terulas di bibir wanita itu kala pria yang ia sayangi sedang menunggunya....


...Abimanyu duduk sambil mengetuk-ngetuk tangannya di meja. Ia berharap keputusannya hari ini sudah benar....


..."Mas, kau memanggilku, aku datang," ucapnya. Warna lipstik merah terang yang ia kenakan itu kembali mengingatkan Abimanyu dengan masa indah saat bersama. Tapi pria itu segera menepis bayangan masalalunya....


..."Duduklah."...


...Abimanyu mempersilahkan Maira mengambil duduk di depannya....

__ADS_1


...Maira mengibas tempat yang akan ia duduki, memastikan tak ada apa- apa di bawahnya. Setelahnya ia duduk tenang sambil menunggu Abimanyu mengucapkan sebuah kata, mungkin kata yang bisa membuatnya senang....


..."Mai, apakah kamu ingin bahagia?"...


..." Tentu Mas, aku sangat ingin, apa itu artinya kita akan bersatu seperti dulu?"...


..."Ha... ha... ha.... Bukan itu maksudku"...


..."Lalu apa? Dan kenapa memanggilku?"...


..." Ada hal penting yang harus aku katakan, aku ingin kamu bisa menerima keputusanku hari ini."...


..."Jangan bilang kamu akan mengambil semua fasilitas yang kau berikan selama ini."...


..."Tidak mungkin."...


..."Aku sudah membelikanmu rumah, kau bisa tinggal dengan siapapun disana, termasuk keluargamu, atau.... Kekasihmu"...


..."Aku tidak mau."...


..."Kenapa... ?"...


..."Aku ingin selalu bersamamu, anak ini akan menyatukan hubungan kita nanti."...


..."Tapi itu tidak mungkin, aku tak ingin selamanya menyakiti hati istriku dengan menampungmu disini!"...


..."Hamil...." Maira sangat kaget. "Mas aku juga hamil anakmu."...


..."Oleh karena itu aku memilih membelikanmu rumah, suatu saat kau bisa tinggal bersama dengan anak kita disana."...


..."Tapi kamu tak adil."...


..."Apa? Adil." Abimanyu tertawa lagi....


..."Aku sudah sangat adil."...


..."Kau dalam satu bulan saja sudah menarik uang 100 juta, yang selalu kau bilang untuk keperluan bayi diperutmu itu."...


..."Sedangkan Rin, istriku dia tidak perlu uangku sama sekali, jika aku tak menyuruhnya membeli sesuatu."...


...Maira meraih tangan Abimanyu yang diam diatas meja." Mas aku masih sangat mencintaimu, tolong beri aku kesempatan kedua, aku sudah menyesali semuanya."...


...Bima segera menarik lengannya dan mengibaskannya. "Jangan berani merayuku lagi."...


...Maira sangat terhina. "Karena pembantu tak tau malu itu menggodamu, kau jadi berubah seperti ini."...

__ADS_1


..."Maira aku memang sudah berubah, aku sekarang tidak mencintai wanita sepertimu lagi. Aku ingin wanita yang tulus."...


..."Rin begitu tulus, saat aku sakit siapa yang ada bersamaku? Hanya dia seorang. Jadi yang harusnya malu.... Itu kamu!"...


...Abimanyu pergi meninggalkan Maira sendiri mematung dengan dua tangannya mengepal....


...Rin yang mendengar semua ia segera mendekati Maira. Sebagai sesama wanita ia tahu kalau wanita itu sangat menginginkan suaminya. Dan pastinya sakit sekali rasanya jika kini orang yang kita sayangi memilih yang lainnya....


..."Mbak Maira, aku tidak merebut Mas Bima darimu, Mbak?" Rin mendekat dengan wajah tertunduk....


...Namun Maira malah mendorongnya kuat. Membuat Rin jatuh tersungkur. " Dasar jal*ng.*...


...Abimanyu yang masih di undakan tangga melihat Rin terjatuh ia segera berlari kembali turun....


..."Plakkkk....." satu tamparan keras mendarat di pipi Maira yang kinclong layaknya porselen itu....


..."Beraninya kau menyentuhnya dengan tangan hinamu ini, Pergi detik ini juga, atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke jalanan." Gigi Abimanyu mengerat matanya berwarna merah seakan ia sudah tak punya maaf lagi....


...Mata Maira berkaca-kaca. Sekali lagi ia memohon pada Abimanyu. Pria itu semakin tak perduli....


...Kini Maira sudah menurunkan harga dirinya pada level paling rendah sekalipun. Namun keputusan Abimanyu sudah bulat....


...Bi Naya keluar dari kamar Maira dengan menenteng koper besar berisi baju dan lainnya....


..."Kamu yakin Mas...!" Maira bertanya lagi....


..."Kenapa Tidak...?"...


...Maira meraihnya. Dan berlalu pergi dengan sejuta kecewa dihati. Sekilas ia menoleh ke belakang....


...Maira melihat Bima tersenyum bahagia merayu Rin dengan penuh cinta. Pria itu kembali merengkuh tubuh Rin dan menggendongnya masuk ke dalam ruang pribadinya....


...Rendra sudah menunggu di mobil, membukakan pintu mobil untuk Maira dan mengantarkan kerumah barunya....


...Pria itu sudah keluar dari tahanan, ia sudah mendapat maaf dari Abimanyu dengan syarat tak akan mendekati istrinya dengan jarak kurang dari tiga meter. Serta tak akan masuk pada rumah utama. Selamanya ia hanya tinggal di garasi bersama mobil-mobil mewah milik majikannya....


.......


.......


..."Mbak, sebaiknya menyerah saja, Tuan Abimanyu dia bukan yang dulu lagi." ucap Rendra sambil mengambilkan tisu di atas dasboard....


...Maira menyeka air matanya dengan pilu. Tak menjawab ucapan Rendra walau sepatah kata....


...Baru kali ini aku merasa terhina seperti ini, aku harus mengalah dengan gadis kampungan semudah itukah Abimanyu menghapusku dari hidupnya. Perjuangan tak akan pernah berhenti, mungkin usahaku kurang maksimal selama ini....

__ADS_1


...Maira menatap setiap dedaunan yang ia lalui. Hanya dalam waktu 20 menit ia sudah sampai di rumah barunya. Rumah bercat kuning dengan pagar besi memutari seluruh halaman. Tempat yang tidak terlalu buruk, karena rumah itu masih lengkap dengan semua fasilitas yang akan ia butuhkan nantinya....


...Rendra membawakan koper Maira turun dan mengantarkan masuk ke dalam rumah barunya....


__ADS_2