Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 58. Isssh Verro....


__ADS_3

Verro meninggalkan apartement megah dengan berjuta penghuni itu. Ia segera memutar kemudi kendaraan sport favoritnya menuju kediaman Revan, Verro sepertinya harus mengingkari janjinya pada Tiara, karena tak mungkin ia jalan- jalan sekaligus menyaksikan pertandingan football, persija vs persebaya di stadion.


Revan nampak sudah menunggu Verro di selasar. Dia sudah siap dengan kaos semi longgar dan celana selutut, serta backpack melingkar di lehernya. Melihat shohib yang ditunggu datang Revan segera meluncur menghampiri Verro.


"Udah siap aja bro!" sapa Verro pada Revan.


" Kamu lama banget si, habis ngapain aja kalau gini kita telat nie ."


"Buruan masuk, klo kamu ngomong aja kita makin telat Rev."


"Gue habis ngantarin cewek Rev ke apartementnya, gak tega gue, bajunya ketumpahan just gitu."


"Pacar loe?" wajah Revan serius. Kemudian tertawa terkekeh . " Menurut gue nie, gak bakal ada cewek betah ma lu, Secara tubuh lu ini udah ada perisainya bro."


"Verro mengernyitkan dahinya."Perisai? bercanda aja...?"


"Nggak lah.... Itu si ular cantik kalau ada yang deketin kamu nie, pasti segera deh si ular keluarin bisanya."


"Ada aja sih Rev, kita teman doang kok, Tiara maksud kamu kan?"


"Hmm hmm... Dia udah kaya adek buat gue."


"Bentar-bentar, Adek?" Revan menjeda ucapannya. "Adek Darimana?"


"Entahlah urusan, Bokap, Nyokap dulu, nggak pernah cerita mendetail sih, aku tau juga dari Om Rendra supir Bokap. Katanya Tante Maira pernah tinggal serumah gitu aja."


"Oh... Mereka dulu pasti cinta segitiga."


Menepuk punggung Revan "Sok tau banget. Udah ngomongin yang lain aja, selain Tiara, Gue males."


"Ciiit...." Suara gesekan, aspal dan ban mobil.


"Kenapa berhenti?" Revan kembali dibuat bingung oleh tingkah Verro yang mendadak menghentikan laju kendaraannya.


"Bentar, aku ada urusan"


Verro segera turun ketika mendapati seorang gadis cantik berkacamata keluar dari sebuah toko buku, sedang di ganggu oleh beberapa pemuda berandalan.


Verro segera turun menghampiri. " Woii.... Ada apa ini?"


"Siapa dia..!." ujar pemuda saling bertatapan.


"Lepasin dia cewek gue, lo berani ganggu dia..." tatapan Verro nyalang.


"Kita pergi aja, dia kan kakak seperguruan kita di karate KS. Aku bosen babak belur." Bisik seorang pemuda bertopi pada temannya. Selain hobby olah raga Verro ternyata juga suka dengan ilmu beladiri.


"Oke, kalau dia cewek lo, gue lepasin.... Nie udah gue lepasin" mengangkat kedua lengannya pertanda ia tak lagi menyentuh Izza.


"Hu.... Dasar." Revan menggerutu pada dua preman itu.

__ADS_1


"Za, kamu nggak papa" tanya Revan modus.


"Nggak berkat kalian, thanks ya Verro, thanks ya Revan. Izza tetsenyum manis."


"Adek manis sekali sih, bahaya Dek, sore- sore begini keluar sendirian." seloroh Revan.


Izza kembali mengangguk tersenyum. "Cuma beli buku, aja."


"Za lo masuk mobil, aku beli minum dulu." ujar Verro setelah membukakan pintu depan untuk Izza.


Izza hanya menurut patuh pada Verro, pria yang ia jadikan taruhan dengan Rose itu kini telah menolongnya.


Selesai membeli minum, Verro kembali masuk ke mobil, Verro dan Izza duduk bersebelahan. Sedangkan Revan pindah ke belakang.


"Gimana nie?" Verro melengak ke belakang meminta persetujuan Revan. "Jadi nggak?"


"Jadi lah, aku nggak mau batal pokoknya." Revan mulai khawatir Verro putar balik.


"Za, nggak apa ya kamu hari ini nonton sepak bola sama kita?"


"Dengan penampilanku seperti ini?" Izza keberatan, karena saat ini ia sedang memakai rok panjang dan kaos lengan pendek.


"Udah nggak apa." ujar Revan.


Verro hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan Revan yang tak mau batal menyaksikan pertandingan sepak bola.


Tak lama mereka bertiga sudah sampai di stadion, Verro dan Izza serta Revan berjalan masuk. Suasana stadion sudah ramai, penuh sesak oleh pengunjung. Verro melihat sikap tak nyaman Izza, dia seakan mulai menyelami gadis disampingnya yang lebih sering melipat bibirnya, dan merangkul buku yang baru ia beli.


"Kok gitu, kita kan baru datang?" terlihat wajah Revan mberengut kesal, tak setuju.


"Aku sakit perut, Ayo Za kita balik." Tanpa menunggu persetujuan Revan, Verro main hengkang saja, meraih tangan Izza secepat kilat dan mengajaknya keluar.


Verro dan Izza tak jadi membeli tiket duduk, meninggalkan Revan sendiri yang mulai kesal.


"Pelan-pelan Ver, jalannya," protes Izza.


"Kecepetan ya? Maaf." senyum dibibir Verro kembali mengembang. Izza yang sengaja menoleh ke arah Verro membalas senyum. Mereka, kini Verro dan Izza berjalan pelan.


" Aku kasian sama Revan, Ver." ujar Izza.


"Kenapa?" masih berjalan santai menuju mobil.


"Dia punya teman seperti kamu, pasti kamu manfaatin dia terus."


"Bukan itu masalahnya, aku lihat kamu nggak nyaman di dalam tadi."


" Makasi udah perhatian?" Izza tersenyum lagi.


"Sama sama."

__ADS_1


Verro melirik ke arah penjual es degan, dan bakso yang lagi mangkal disisi jalan. Di gerobak bertuliskan Bakso Beranak.


"Kita mampir dulu yuk," ajak Verro menunjuk


"Emang nggak papa makan di tempat itu?"


"Emang kenapa? Kamu kurang nyaman? Ayolah Za." Verro balik nanya.


"Kalau aku sih nggak masalah tapi kamu mungkin, secara kamu kan pemilik banyak Restauran di negeri ini."


"Apa? Aku cuma waiter di tempat itu. Mulai besok aku mulai kerja."


"Oh, kukira bokap kamu pemiliknya." ujar Izza.


Verro tak menjawab, ia ingin tahu reaksi gadis didepannya jika tau dirinya ternyata tak sehebat yang di bayangkan


Tak terasa mereka sudah sampai di abang bakso, Verro memesan dua mangkok, satu mangkok miliknya berisi baso ukuran jumbo. Sedangkan Izza memili baso yang kecil saja.


Verro mengambil sambal dengan ukuran yang melampui batas, membuat Izza geleng kelapa.


"Udah Verr, kamu tadi kan sakit perut." Menarik botol sambel dari tangan Verro.


"Udah lupain tadi, tadi cuma akting, sekarang yang penting kita makan." mulai menyeruput kuah dari mangkuk. Sedikit kepanasan, seruputan kedua Verro mulai meniup niup pelan.


Izza memperhatikan Verro dengan seksama.


Tampan sekali, apa dia adalah jelmaan dari malaikat. Nyesel banget gue taruhan sama kakak, bagaimana kalau ternyata malah aku yang jatuh cinta.


"Jangan lihatin terus, entar naksir lo" seloroh Verro.


Izza tergagap dari lamunannya, mendengar ucapan Verro baru saja. "Apa? kamu PD banget tau....!" memukul- mukul lengan Verro pelan


Verro tergelak melihat reaksi wajah Izza yang ketahuan sedang memandanginya. Tentu wajah si gadis itu sudah mulai bersemu merah.


"Izza, kita nanti bakal satu kampus ya?" ujar Verro dengan mulut penuh.


"He,em, emang kenapa? Menghentikan aktivitas mengaduk aduk Es degan( kelapa muda)


"Senang aja, Bakal ketemu kamu setiap hari, klo kamu, gimana?"


"Aku biasa aja, bertemu kamu setiap hari atau nggak, no problem." gayanya santai.


"Issh.... Ja,im ." Desis Verro lirih.


"Terus kamu mau, aku gimana baru kenal juga, kan." Izza meraih tisue gulung didepannya, dan mengusapkan ke bibir merahnya.


"Verro, makasi ya! Sekarang izinkan aku pulang. Aku mau naik Taxsi aja." beranjak dari duduk.


"Tunggu, aku antar ya Za...." menyambar lengan Izza secepat kilat. "Hmmm mau kan?"

__ADS_1


Izza mengangguk. "Boleh Verro, asalkan tak merepotkan."


__ADS_2