
...Selesai membuat Rendra babak belur, Abimanyu segera memeriksa tubuh istrinya....
..."Apa kamu tidak apa- apa?" tanya Bima melihat ke atas hingga bawah, Sambil menghapus airmata Rin dengan jari jempolnya....
...Rin hanya diam sambil menggelengkan kepalanya. Sebagai isyarat kalau ia baik saja....
..."Sekarang mau ke kampus, atau pulang saja? Tanya Bima lagi....
..."Sebaiknya pulang saja, Tuan." jawab Rin dengan tubuh gemetar....
...Bima kemudian membawa Rin masuk ke dalam mobil. Bima mengemudi sendiri dan Rin duduk di sebelahnya. Sesungguhnya Bima sudah mencium perbuatan Rendra, ia curiga sejak Rin mendapatkan luka di lehernya. Bima sengaja memberi kesempatan hari ini untuk memancing Rendra dalam jebakannya. Dan akhirnya Bima membuktikan sendiri kalau Rendra memang pria yang telah mengganggu istrinya selama ini....
...Bima mengurungkan niat berangkat kekantor. Ia memilih pulang kembali bersama Rin....
...Setelah tiba di rumah mereka langsung masuk ke kamar tanpa banyak bicara, melihat wajah keduanya sedang muram durja. Naya yang melihatnya hanya diam saja melanjutkan pekerjaannya, ia tak berani bertanya walau sepatah kata....
...Rin langsung duduk di ranjang memeluk boneka besar yang dibelikan Bima di Grand mall tempo hari....
...Rin ingat kejadian tadi tiba- tiba ia menangis sesenggukan. Air matanya menetes deras dari pelupuk mata....
..."Ada apa? kenapa kau malah menangis? bukannya kamu harusnya senang? Sekarang sudah tak ada yang mengganggumu lagi." Tanya Bima sambil melepaskan jasnya dan melemparnya ke sofa. Kini ia berjalan mendekati Rin....
...Bima duduk tepat di depan Rin, meraih dagunya hingga sedikit mendongak, bola mata mereka berdua kini beradu pandang. "Kamu merasa kehilangan... ?"...
..."Tidak tuan, tidak, Rin yang salah disini, ada yang tuan tak ketahui sebelumnya. Rin harus jujur sekarang. Rendra seperti itu karena Rin pernah menerima cintanya," ucap Rin dengan terbata....
..."Dia bersikap seperti itu karena, Rin yang salah disini." Suara Rin semakin pelan dan hingga tak terdengar ketika di akhir kalimat dan matanya menunjukkan ia benar- benar berbicara jujur....
...Abimanyu menganggukkan kepalanya berkali kali, sepertinya ia mengerti kenapa Rendra yang sudah lama bekerja dengannya bersikap demikian. Karena setau dia memang dia pria yang baik dan tanggung jawab selama ini....
..."Jangan sedih lagi." ucapnya singkat, mengelus lembut rambut Rin, kemudian Bima berdiri sambil merogoh benda pipih yang ada di saku celananya....
...Bima berdiri di dekat jendela ia mengamati pemandangan luar kamar sambil menelepon seseorang....
...Rin penasaran dengan siapa ia berbicara. Untuk mengurangi rasa penasaran nya Rin menyibak rambut lurusnya yang dipikir menghalangi suara masuk pada indera pendengarannya....
..."Hallo, sepertinya aku telah salah paham, aku mau tetap hukum dia, tapi beri hukuman sedikit lebih ringan, sekedar membuatnya jera, tapi jika tetap melawan lakukan saja sesukamu." ucapnya dengan seseorang di seberang....
...Setelah berbicara singkat dengan orang di telepon. Bima segera mematikan sambungan selulernya dan meletakkan di atas meja....
__ADS_1
...Bima melaporkan Rendra dengan tuduhan percobaan pemerkosaan, di dalam sel pasti ia mendapat hukuman sangat berat. Namun melihat Rin yang larut dalam kesedihan, Bima sepertinya terpaksa harus melakukan hal yang tak disukainya...
...Rin sedikit lega mendengar ucapan Bima barusan. Ia menyeka air matanya dan melonjak girang, Rin segera turun dari ranjang dan menghampiri keberadaan Bima yang kembali berdiri di belakang kaca....
..."Terima kasih, Tuan." memeluk Bima dari belakang sambil tersenyum malu- malu....
...Bima pura- pura cuek. Namun ia merasa geli dengan panggilan istrinya barusan. "Apa? Tuan. Aku bosan kau selalu memanggilku dengan nama itu." memegangi dagunya sendiri sambil bersungut sungut....
..."Panggil dengan yang lain saja, yang paling bagus." ujarnya lagi....
..."Terima kasih, Mas." suara Rin sangat pelan....
..."Aku bukan kakakmu, yang lain lagi."...
..."Sa-sa- yang"...
..."Emmm, oke, sepertinya kau bisa panggil aku seperti itu, kita akan terlihat lebih romantis dengan kau memanggilku, Sayang." mulai tersenyum dan membalikkan tubuhnya....
...Bima menarik tubuh Rin dalam dekapannya. "Panggil aku sekali lagi, Baby."...
..."Sayang."...
..."Sekali lagi." Mata Bima terpejam ia tak ingin melihat. Hanya ingin mendengar suara merdu istrinya....
..."Aku juga sayang kamu, istriku." serasa sudah seperti di atas awan berdua....
...Setelah satu sama lain menyatakan cinta, Bima dan Rin akhirnya kembali hanyut dalam perasaan masing masing. Mereka berdua melakukan hal yang semestinya di lakukan oleh sepasang suami istri....
...-...
...30 menit berlalu....
...-...
...Mereka berdua sudah berada dalam satu ranjang dan satu selimut yang sama. Tubuh mereka masih sama- sama polos. Namun mereka tidak langsung tidur....
...Bima mengelus perut Rin dengan lembut. "Baby, kapan ini akan segera terisi."...
..."Kau baru saja mengisinya, Sayang." tertawa kecil....
__ADS_1
..."iya, aku setiap hari akan mengisinya." memiringkan tubuhnya menopangkan satu kakinya di atas lutut Rin....
..."Aku belum tau, kita baru satu minggu menikah." Rin melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya. Tak lama mereka tertidur pulas saling berpeluk di siang hari....
...-...
...-...
...-...
...Sore hari Rin dan Bima sudah terbangun dari tidurnya. Mereka berdua duduk santai di ruang tamu. Bima bermain game di ponselnya sambil menikmati secangkir kopi. Sedangkan Rin di sebelahnya membaca buku novel yang ia beli secara online....
...Saat mereka sedang sama-sama sibuk dengan hoby masing- masing. Tiba tiba ada seseorang mengetuk pintu....
...Tok... Tok... Tok.......
..."Sayang." Rin dan Bima saling pandang Akhirnya Rin berdiri lebih dulu membukakan pintu....
..."Mbak Maira... " Rin terbelalak. Maira tersenyum melihat Rin dan memeluknya....
..."Rin, gimana kabarmu?"...
..."Ba- baik, Mbak."...
..."Siapa Baby, tamunya?" teriak Bima dari tempatnya semula, karena tak ada jawaban, Bima akhirnya memutar kepalanya melihat sendiri ke arah pintu....
...Bima terkejut melihat mantan kekasihnya datang kembali kerumahnya. Ia segera menyusul Rin yang berdiri mematung. Rin dan Maira sama-sama terdiam setelah saling menyapa tadi....
..."Kenapa kau kesini." Tanya Bima datar....
...Setelah mereka berpisah Bima telah menghapus semua bayangan tentang Maira dan penghkianatannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengubur kenangan sedalam mungkin....
..."Ada yang ingin aku bicarakan. Penting!" Maira memasang wajah memelas, sambil melirik ke arah Rin yang berdiri di sebelahnya....
..."Aku tak akan menginjakkan kakiku kerumah ini lagi, apalagi mengusik kebahagiaanmu bersama istri barumu...." ucapnya terputus....
..."Lalu kenapa kau melakukannya sekarang?" tanya Bima sinis....
..."Ada yang sangat penting, sesuatu kesalahan yang kita lakukan dulu, ternyata menghadirkan seorang bayi diperutku. Kamu bisa pergi dari hidupku selamanya, tapi aku mohon biarkan dia dekat denganmu" memegangi perutnya dan bersimpuh di kaki Bima. Bulir kristal pecah seketika, dengan sengaja ia biarkan berderai membasahi pipi....
__ADS_1
...Rin yang mendengarnya seakan tubuhnya tersengat aliran listrik. Ia berdiri kaku tanpa berkedip. Tatapannya kosong memandang ke arah keluar pintu. Ia tak sanggup melihat Maira yang bersimpuh di depan suaminya. hatinya juga terasa seperti dicabik cabik. tak menyangka hubungan masalalu Bima ternyata meninggalkan jejak hingga saat ini....
..."Kamu yakin dia anakku?" tanya Bima datar. Seujung kuku pun dia tak percaya kalau bayi di dalam perut Maira adalah darah dagingnya...