
Tiga bulan lamanya Rin dan Abimanyu tinggal di mansion. Semakin hari Rin mulai beradaptasi dengan lingkungan mewahnya. Tak ada satupun keluarga yang memperlakukannya dengan ketidak adilan. Semua yang pernah ditakutkan Rin sewaktu pertama kali memasuki rumah mewah ini ternyata tak terjadi. Suami yang sangat menyayanginya dan ada keluarga besarnya tak pernah mempermasalahkan statusnya lagi. Semua itu karena bayi diperutnya adalah seorang bayi laki- laki. Sang mertua mengharapkan kalau putra itu kelak akan tumbuh menjadi putra yang sempurna, tampan dan gagah mirip dengan sang papa.
*Pagi hari*
Rin melakukan rutinitas senam pagi seminggu tiga kali, seorang intruktur senam ternama sengaja di datangkan oleh Abimanyu untuk menemani, serta mengajarkan setiap gerakan yang benar untuk istrinya. Namun pagi ini ia datang sedikit siang karena ada keperluan penting.
Jika tidak sedang sibuk Abimanyu sering kali ikut serta. Abimanyu senang bisa menemani Rin melakukan senam. ada sebuah kebahagiaan tersendiri ketika ia bisa melakukannya.
Namun akhir- akhir ini Abimanyu kembali disibukkan oleh pekerjaan. Papa Rey mulai menurunkan tahtanya kepada putra tunggalnya. Rey ingin Abimanyu mulai mengelola perusahaan milik keluarganya bersama.
Seminggu yang lalu papa sengaja memberitahukan Abimanyu agar mulai datang kekantor. "Bima mulai besok kau bisa mulai kekantor, sebagai calon Kakek sepertinya aku harus berhenti dari pekerjaanku. Aku sebentar lagi akan bermain -main dengan cucuku dirumah saja," ujarnya waktu itu.
Dan tentu dengan senang hati Abimanyu menerima tawaran dari Papa. "Baiklah Pa, jika papa memaksa pasti aku akan melakukan semua titahmu." terlihat bahagia.
Lebih dari separuh hari Abimanyu kini menghabiskan waktunya di kantor. Setelah pulang ia harus memeriksa kembali laporan dari Resort dan Resto miliknya, terkadang juga terpaksa hadir kelokasi hanya untuk memantau perkembangan setiap harinya.
Semakin hari Abimanyu semakin sibuk. Banyak sekali ide untuk memanjakan istrinya harus terlewatkan karena harus diganti dengan memeriksa semua tumpukan kertas di meja kerja yang tiada pernah habis. Untung saja ngidamnya sudah berhenti saat hamil ketujuh waktu itu.
Perut sang istri sudah hampir membentuk bulatan sempurna. Saat berjalan kini Rin nampak lucu sekali, tubuhnya yang mungil dan perutnya besar seperti ada balon besar yang sengaja dimasukkan di balik daster oblongnya.
"Baby, aku nanti akan pulang sangat larut jangan menungguku, tidurlah dulu. Karena aku banyak pekerjaan." ucap Abimanyu sebelum berangkat bekerja.
"Baiklah Sayang. Semangat yah kerjanya."
"Pasti donk, ini demi anak kita."
"Cup, mengecup puncak kepala Rin dan mengusap usap rambutnya."
"Kau makin hari makin cantik. Aku suka melihat bulat- bulat di tubuhmu ini."
Rin mencebikkan bibirnya sambil mengelus -elus perutnya. "Yang semakin bulat itu perut ini, sayang."
"Semuanya yang bulat ditubuhmu aku suka, besok aku akan minta cuti sama papa, siapkan dirimu ya, bukankah kalau sudah hamil tua kita harus lebih sering...."
"Mulai nakal ya, suamiku ini."
Akhirnya Rin kembali menjatuhkan tubuhnya di dada mantan majikannya, rasa cinta kian lama semakin besar. ia kembali merasakan hangat tubuh suaminya dan farfum maskulin yang sering kali membuatnya cemburu. "Tapi aku malu dengan perut besar ini, Sayang."
"Kenapa harus malu?
__ADS_1
"Karena perut ini, aku jadi terlihat jelek. apa di tempat kerja yang baru banyak wanitanya?"
Abimanyu tertawa mendengar pertanyaan istri yang tak biasa itu. "Banyak sekali, dan pastinya juga mereka memiliki keunikan sendiri- sendiri."
"Kau suka menggodanya?"
"Tidak, aku tak akan menggoda dan tak tergoda, jika dirumah saja sudah ada yang lebih sempurna, Kau satu satunya, Baby," Bisiknya ditelinga Rin dengan nada romantisnya. Bima kemudian mengecup bibir Rin dengan ganas, dan menciumi pipinya berulang kali. "Jangan pernah pergi dariku, selalu disampingku seperti ini."
Dibalas anggukan oleh Rin. Setelah selesai melakukan ciuman yang bikin hareudang di pagi hari, Rin tersenyum lebar. Ditambah dengan kata- kata Abimanyu baru saja, hatinya kian terasa semakin melayang-layang.
"Aku berangkat dulu ya... Daaaa." Abimanyu melakukan cium jauh.
"Daaa...." Rin membalas cium jauh tadi, dan lambaian tangan suaminya.
-
-
Setelah Abimanyu berangkat kini instruktur senam datang. Rin segera mengganti dressnya dengan kaos dan celana kolor, membuat perutnya tercetak bulat dengan sempurna.
Instruktur segera memarkir sepedanya di parkiran dan menuju taman belakang melalui pintu samping.
Rin memilih di taman karena udaranya alami dan segar. Selain itu juga tak ada orang yang akan datang mengganggunya.
"Nona kalau dilihat dari bentuk perutnya sepertinya anda tak akan lama lagi melahirkan." ucapnya sambil mulai menyalakan Dvd player setelah itu Sonya melapaskan jaketnya.
"Betulkah tante, perkiraannya memang tinggal seminggu lagi semoga saja perkiraan itu benar, karena perkiraan bisa saja melesetkan?"
Iya, semoga bayi yang didambakan akan lahir dengan sehat, kau dan bayimu selamat.
"Terima kasih tante...."
"Yuk... Kita mulai sekarang!"
"Baiklah."
-
"Rin kini sedang melakukan senam hamil, dengan dipandu oleh Sonya.
__ADS_1
Waktu semakin berlalu.
-
Tak terasa senam telah selesai. Kini Rin duduk dengan kakinya berselonjoran dengan alas rumput hias. Nafasnya terengah- engah kelelahan.
"Ah... Keringatku keluar semua Tan."
"Iya, bagus donk."
"Berarti tandanya kamu sehat." melihat Rin yang terlihat payah tak seperti biasanya.
Untuk menghilangkan lelahnya kini Sonya menyalakan laptopnya. Membuka file tentang gejala wanita yang akan melahirkan, sekedar untuk menambah wawasan untuk Rin saja. Mereka berdua duduk di depan layar laptop sambil menikmati jus buah segar dan biskuit untuk teman santai.
Tak lama Rin merasakan sakit di bagian perut bawahnya. Ia berusaha mengabaikan namun sakit itu datang dan hilang hingga beberapa kali.
"Kenapa Nona? Tanya Sonya saat melihat Rin meringis kesakitan."
"Entahlah. Ada yang sakit disini." menyentuh perut bawahnya.
"Astaga... Nona akan melahirkan sekarang."
"Benarkah? Aku takut tante."
"Tapi Nona harus siap. Nona tidak boleh menghadapi dengan rasa takut."
Sonya membantu Rin berdiri ia melihat celana Rin bagian belakang sudah merembes basah. Sepertinya cairan ketubannya sudah pecah. Sonya segera memanggil asisten Rena dan Reni.
Rena dan Reni melihat Nonanya kesakitan ia juga panik. Apalagi dia belum pernah mengalami hal seperti ini. Karena mereka berdua masih belum pernah menikah.
"Nyonya! Nyonya! Gadis itu berteriak teriak panik mengganggu Freya yang sedang asyik berendam air hangat di bathup.
"Iya, ada apa Reni? kau berteriak teriak tak punya sopan santun!" ujar Freya yang hanya memakai handuk kimono dan rambutnya basah.
"Nona mau lahiran!"
"Apa yang benar kamu kalau bicara? Bukannya ini belum waktunya?"
Mendengar kata melahirkan Freya juga ikut panik. Segera ia memanggil papa Rey. Ada bahagia dan haru bercampur aduk menguasai dirinya.
__ADS_1
Ia bingung dengan apa yang harus di lakukan. Karena saat melahirkan Abimanyu dulu Freya memilih secara caesar ketika usia kandungannya sudah cukup. Ia melahirkan dan ia yang memilih hari dan tanggalnya sendiri tanpa merasakan sakit terlebih dahulu.