
Setelah kelahiran Verro Abimanyu dan Rin sangat bahagia. Mereka tak pernah terpaksa menerima putranya dalam keadaan apapun dan bagaimanapun.semenjak Verro lahir Abimanyu semakin giat dalam meneruskan usaha keluarganya, ia melakukan apapun yang menurutnya penting termasuk lembur hingga larut. Tapi tidak dengan Freya ia sangat membenci cucu cacatnya. Freya menganggap cucunya hanya akan menjadi aib dalam keluarganya saja. Bikin malu dan pasti akan jadi lelucon bagi dirinya saat bertemu dengan teman sosialitanya.
"Jauhkan dia dariku, aku tak mau lagi melihatnya. Dia bukan cucuku aku tak mungkin memiliki cucu cacat seperti dia." jari telunjuknya mengarah kepada anak kecil yang berlatih berjalan mendekati dirinya.
"Aku lebih suka kamu pergi saja dari hidupku, kenapa kau tidak pergi sebelum terlahir saja, selamanya aku tak akan pernah menganggapnya cucu." Tegasnya dengan sorot mata yang menakutkan.
"Oma, oma...." celoteh si kecil yang baru belajar bicara. Verro sedikit takut dengan suara omanya yang begitu melengking. Bocah kecil itu berhenti tak jadi mendekat.
"Verro ikut bunda sayang, kita kekamar." Rin menggendong putranya, Dia menangisi putra kecilnya di dalam kamar. Ia tak ingin seorangpun menyakiti hati putranya walaupun bocah kecil itu belum sepenuhnya mengerti bahasa yang di bicarakan oleh kaum dewasa, tapi Rin yang mendengarnya hatinya ikut tersayat sayat, jika ada orang yang mengatai anaknya.
"Verro anak bunda pasti akan sembuh, biarkan orang berkata apapun tentangmu Verro, bunda akan selalu menyayangimu." Rin memeluk erat putranya ia ciumi wajah mungilnya yang masih polos tanpa dosa. Rin menidurkan sambil memberinya asupan gizi yang langsung keluar dari dirinya. Sambil ditangannya memainkan mainan empuk berbentuk bola.
Tak lama Verro lelap dari tidurnya. Rin kembali menciumi pipi gembul putranya. Teringat kata-kata dari ibu mertuanya Rin kembali bersedih.
Suara tangis Rin terdengar oleh pria yang diam- diam menyayanginya. Bram menyayangi Rin lebih dari seorang keponakan. Ia melihat sosok kekasihnya yang pergi ada pada diri Rin. Dengan membahagiakan hati Rin seakan ia juga membahagiakan kekasihnya. Namun Rin tak menyadari semua itu.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Rin segera menyeka air mata yang terus membasahi pipinya. Rin tak ingin yang terjadi baru saja diketahui oleh suaminya.
"Masuk!"
Sosok lelaki bertubuh kekar masuk kekamarnya, Rin terkejut dengan pria yang saat ini ada di depannya. Yang tadinya sempat ia pikir suaminya telah pulang cepat dari kerjanya. "uncle, ada apa?" Suaranya serak keluar dari kerongkongannya. Rin segera merapikan bajunya. Ia tadi membuka tiga kancing depannya agar mudah saat menyusui Verro.
"Aku mendengar kamu menangis. Jadi aku tertarik untuk kesini." Bram beranjak masuk, dia menutup pintu kembali dan melangkahkan kakinya masuk. Bram menganggap Rin saat ini membutuhkan seseorang untuk menenangkan hatinya.
Rin melirik ke arah putranya yang sudah lelap. "Putraku aku sangat menyayanginya. Seperti apapun keadaannya aku akan menganggapnya dia adalah malaikat kecil yang dikirimkan tuhan untukku. Dia sudah menderita sejak diperutku, uncle." Rin kembali menitikkan bulir kristalnya.
__ADS_1
"Aku tahu ini berat untukmu, tapi Membuat Freya menerima keadaan Verro saat ini rasanya juga sulit, aku tak mengerti kenapa aku memiliki kakak yang begitu egois," jelas Bram yang tiba- tiba wajahnya ikut sendu.
Bram berjalan mendekati Rin, ia ingin menjadi seseorang yang berarti setelah suaminya, Bram mengambil sapu tangan dari sakunya kemudian menyeka air mata Rin yang terus meleleh.
Rin membiarkan Bram membersihkan air matanya, Ini bukan pertama kalinya pria itu melakukan hal serupa. Sekali lagi Rin menganggap Bram hanyalah paman tak lebih dari itu.
"Jangan menangis kamu akan cepet tua Rin," Hiburnya, Bram menarik tubuh Rin ke dalam dekapannya. Rin menahan tubuhnya agar tak jatuh pada dada bidang Bram namun apa daya pria itu memaksanya.
"Kenapa uncle tak membenci Verro seperti yang lainnya." ucap Rin saat berada di dekapan Bram.
"Tidak mungkin." mengelus puncak kepala Rin seperti yang sering dilakukan Abimanyu. "Aku sangat menyayangimu dan juga putramu."
-
"Lihat, istrimu juga menggoda pamanmu Bima" Suara dari luar yang terdengar bahkan lebih mengejutkan lagi daripada sebuah guntur. "Dia mulai menggoda pamanmu disaat kau tak ada."
Abimanyu yang baru pulang kerja berdiri mematung di depan pintu. Tas masih di tangan dan pakaian kerja masih melekat utuh ditubuhnya.
"Tidak, Sayangku... Aku bukan penggoda, aku tak pernah menggoda siapapun." Rin tak pernah takut dengan apapun tetapi ia sangat takut kepada sosok suaminya ketika marah.
"Aku tak menggoda siapapun..." Rin berjalan mundur tubuhnya merapat pada dinding. Ketika Bima melangkahkan kaki masuk.
"Dia bohong Bima, Dia pasti berbohong." Kata kata Mama membuat Bima semakin yakin dengan yang dilihatnya baru saja.
Bima juga tidak buta dan tuli ia bisa melihat dan didengar baru saja. Walau itu sepenuhnya salah paham saja.
__ADS_1
Andaikan Rin ada kesempatan ia ingin menjelaskan semuanya, tapi kesempatan seperti apa yang ia harapkan, sedangkan hari ini saja suaminya terlihat begitu percaya dengan ucapan sang mama.
"Kamu membuat aku kecewa, dan kau pengkhianat, kau angkat kaki dari rumah ini, sebelum aku mengambil keputusan terakhirku." Bima mendekati sebuah laci dan membuka kuncinya dengan sidik jarinya. Bima mengambil senjata api yang tersimpan di dalamnya dan mengacungkan tepat di dada pamannya.
Rin tak berkata- kata lagi. Dia tau jika berkata sepatah kata saja untuk membela Bram , maka nasib pria di depannya akan semakin buruk.
"Pergiiii...."
"Pergi pengkhianat."
Bram segera keluar meninggalkan ruangan yang panas penuh dengan aura kemarahan dari Abimanyu.
Sepertinya Bima telah berbaik hati tak benar-benar menembakkan pistol ke dada Bram tadi.
Kini ia memberikan pistol itu kepada Rin. "Ayo tembak saja aku, kamu akan puas bermain dengan pria manapun."
"Tidak, tidak Sayang. Yang kamu lihat tadi aku bisa jelaskan." Rin menjatuhkan pistol dan menginjaknya. Ia ingin memeluk erat tubuh suaminya seperti biasa ketika menyambut pulang. Namun Bima dengan kasar mendorongnya hingga jatuh terjerembab mencium lantai.
"Hukum saja dia Bima, dia pantas mendapat hukuman karena membiarkan Laki laki lain menjamah tubuhnya, bagaimana jika kau terlambat datang tadi?"
Rin sekali lagi menggelengkan kepalanya. Saat ini ia tahu bahwa ia sedang berada dalam sebuah permainan licik dari mamanya sendiri.
"Ikat saja dia Bima, biar dia jera." Freya terus saja menyulutkan api pada bara yang sudah berkobar. Membuat kobaran itu semakin membesar dan meluap tak bisa dikendalikan lagi.
Bima menuruti Mama, ia mengambil tali dan mulai menautkan kedua tangan Rin dan mengikatnya.
__ADS_1
Rin hanya diam tanpa melawan, hatinya hancur berkeping. Ia merasakan sakit yang amat dalam, sakit dihati karena hinaan dan cacian yang diberikan pada Verro putranya. Sakit karena suaminya tak pernah percaya pada dirinya.
Aku tak akan menangis aku akan kuat menghadapi semua ini jika suamiku ada bersamaku, tapi kini suamiku tak lagi percaya padaku. Apa yang harus kulakukan Tuhan.