
...Rin terlalu lama di kamar Maira, membuat Abimanyu kesal, ingin menyusulnya, namun hal itu ia urungkan, karena wanita yang ia benci sedang bersamanya....
...Bima memilih menghubungi Rin lewat gawainya....
...Rin yang mendengar gawainya berdering berkali kali, ia segera meninggalkan kamar Maira, mencari keberadaan handponenya yang sedang menancap dengan charger di ruang tengah....
...Rin melihat panggilannya ternyata dari suaminya membuat ia menggerutu pelan....
..."Tuan Bima ada saja ide konyolnya," gerutunya. Sambil meletakkan hanponenya kembali....
..."Lalu kamu pikir siapa yang ingin menghubungimu selain aku" Tiba tiba Bima sudah di belakangnya. Sambil menunggu Rin keluar ia bersembunyi di balik tirai....
...Pria itu segera menghampiri istrinya dan memeluk tubuh mungilnya. Lalu mengangkatnya ke sofa, "kau berani membuatku menunggu, sekarang ya!" seringainya sangat menakutkan. Yang dilakukan Bima saat ini membuat Rin tau itu wujud sayangnya. Namun itu bukan tempat yang benar. Sekarang bukan dia saja yang hidup di rumah ini, ia lupa kalau ada hati yang harus ia jaga perasaannya....
..."Tuan, maafkan aku!" Nafas Rin terdengar ketakutan. Ia takut Maira memergoki aksi gila suaminya di dekat kamarnya. "Ampuni aku tuan."...
...Rin sudah mengiba tapi Abimanyu semakin gila mengecup seluruh wajah Rin berpindah-pindah. Sambil menggelitiki area sensitifnya. Rin tertawa dan berteriak geli sejadi- jadinya. Meronta sekuat apapun sepertinya sudah percuma....
..."Ini hukuman, kau tak boleh menolak." Bima mengunci dua tangannya sekaligus, terlihat tangan yang satu melepas kaosnya. Membuat jantung Rin semakin deg degan....
..."Tuan kumohon jangan disini. bawa aku ketempat kita." Rin mengiba....
...Abimanyu menurutinya. Ia beranjak dari sofa ruang tengah dan membawa Rin ke ranjangnya. Melempar tubuhnya sedikit kasar. Hingga kasur yang begitu tinggi harus memantulkan tubuh mungil nan mulus milik Rin....
...Bima sepertinya semakin gila, ia semakin sengaja membuat hati yang terluka semakin terluka. Walaupun keinginan yang sudah menggelora itu bukan sebuah sandiwara, ia benar-benar menyukai semuanya yang ada pada istri barunya....
...Rin dan Abimanyu kembali tenggelam dalam samudra cinta berdua. Bima ingin Rin agar segera mengandung benih cintanya....
...sedangkan Maira disudut kamarnya dengan wajahnya yang sudah memerah padam. sepertinya ingin Rin suatu saat juga merasakan sakit yang ia rasakan hari ini....
..."Baby, aku ingin rumah kita diramaikan oleh banyak anak- anak kita," bisiknya di telinga Rin....
__ADS_1
..."Anak." Rin kemudian berfikir....
...Mendengar kata anak, Rin kembali ingat kalau maira sedang hamil, ia mengeluhkan kondisinya yang kurang bersemangat menghadapi semuanya. ada rasa iba menyelimuti hati dan pikirannya....
..."Kau akan segera memiliki anak dari mbak Maira Mas. Bayi itu sudah hadir. Kau akan menjadi ayah secepatnya, tanpa menunggu aku hamil, beri sedikit saja perhatian untuk calon anakmu" bibir tersenyum namun hati terluka....
...Terlihat Abimanyu menghela nafas. "Benarkah kau tak apa- apa bicara seperti itu? hatimu tak sakit?"...
..."Tentu Tidak, aku ini wanita, aku tak ingin melukai sesama wanita. Beri saja sedikit perhatian untuk bayimu, Mas?" ucap Rin sambil memalingkan wajahnya menjauh ke arah Abimanyu. Menahan sedikit nafasnya agar udara yang masuk ke rongga dadanya tidak membuat dadanya semakin sesak....
..."Kau pandai sekali menjaga hati, hingga kau biarkan hatimu terluka, Baby." memutar kepala Rin agar menoleh ke arahnya....
..."Senyummu ini palsu kan. Sebenarnya kau sangat sedih, kau memang istriku yang paling pintar." Mengecup puncak kepala dan mereka berdua merebahkan diri pada bantal dan menarik selimut. Hingga menjelang pagi kembali....
...*** beberapa hari kemudian ***...
...Suasana di meja makan sangat hening. Maira nampak menundukkan wajahnya tak berani menatap orang yang sedang duduk bersanding di depannya, ia hanya memainkan sendoknya dengan mengaduk aduk makanan yang ada di piringnya, seakan ia tak ada selera sama sekali. walaupun saat ini perutnya sedang melilit minta diisi....
...Hanya Rin yang bisa menyentuhnya. Kini hanya Rin yang satu-satunya menguasai seluruh jiwa dan raganya, gadis itu benar- benar tau bagaimana cara menyenangkan suaminya. Bahkan apapun yang tak disukai suaminya ia bisa menahan diri dengan menjauhinya....
...Abimanyu sangat membenci pengkhianatan, selama ini Rin mampu membuat dirinya jauh dari yang namanya berkhianat....
..."Hari ini kita akan lakukan test DNA. jika kau terbukti berbohong selama ini, bersiaplah kau akab menjemput nerakamu." ucap Abimanyu dengan seringai wajah yang tak tertebak....
...Rin saja yang mendengarnya sangat kaget hingga ia tersedak oleh minuman di mulutnya. Namun maira tampak tenang. Entah apa yang sedang dipikirkan, mungkin ia senang karena ia benar yakin anak dalam kandungannya adalah bayi dari Abimanyu....
..."Apa yang akan kamu berikan padaku, jika ini benar anakmu?" tanya Maira....
...Abimanyu melihat kearah Rin, yang wajahnya terlihat sendu. "Aku akan menyayangi putraku. Dan kau tetap disini, sebagai pelayan dirumah ini. Dengan begitu kau bisa melihat anak itu tumbuh besar di sampingmu."...
..."Apa cuma itu?" tanyanya penasaran....
__ADS_1
..."Jangan serakah, sudah untung aku masih membiarkanmu tinggal dirumahku setelah pengkhianatan yang kau lakukan selama ini."...
...Maira diam, ia tak bisa bicara lagi setelah Abimanyu mengucapkan kata-kata yang menjadi kesalahannya paling fatal....
...-...
...Selesai makan mereka segera berkemas menuju Rumah sakit X di jakarta. Rumah sakit yang ia datangi adalah milik Mahesa. Abimanyu tak ingin sampai ada kesalahan sedikitpun dengan hasil tast DNA yang akan ia jalani bersama Maira hari ini. Oleh sebab itu ia meminta sahabat karibnya sendiri yang menangani prosesnya....
...Jauh hari Abimanyu sudah menghubungi Mahesa agar ia meluangkan waktunya. Hingga mahesa menyuruh mereka untuk datang pada hari ini....
...Mobil Abimanyu masuk pada pelataran Rumah sakit. Abimanyu bergegas menuju ruangan pribadi sahabatnya. Di ikuti oleh Maira dan Rin dibelakangnya. Dua wanita itu mengekor di belakang tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya....
..."Selamat datang, Abimanyu bagaskara." ucap Mahesa sambil mengeratkan pelukan pada sahabatnya yang beberapa minggu ini tak bertemu sama sekali....
..."Ada istriku kau masih saja suka memelukku." candanya selesai berpelukan. Kemudian mahesa bersalaman dengan Maira dan melakukan cipika cipiki. Sedangkan dengan Rin ia cukup menangkupkan tangannya saja....
...Setelah sedikit berbasa basi, kini Mahesa mengantar Maira dan Abimanyu ke sebuah ruangan khusus. Dan meninggalkan Rin sendiri di ruangan Mahesa....
...Abimanyu dan Maira segera berbaring pada ranjang pasien yang berbeda, Mahesa segera bekerja dengan baik ia mengambil cairan Amnion dari tubuh Maira dengan menusukkan jarum suntik di perutnya untuk sample dari si bayi....
...Setelah selesai mengambil dari sample pertama kini Mahesa mengambil darah Abimanyu untuk ia jadikan sample kedua....
...Setelah pengambilan sample selesai, Abimanyu segera bangun dari terlentang. Ia sudah tak sabar ingin segera tahu hasilnya....
..."Bro, aku ingin tau hasilnya sekarang juga." ucapnya sambil menekan nekan bekas suntikan jarum di bahunya dengan kapas....
...Mahesa terkekeh "kau ingin hasil yang akurat, tapi kenapa maunya buru buru, bersabarlah, hasil ini akan keluar dalam dua minggu."...
..."Apa??" aku tak mau dua minggu. Aku ingin lebih cepat! Cukup kau membuat aku menunggu hingga usia kandungan mencapai lima bulan, sekarang kau bilang harus menunggu lagi!" Abimanyu menarik krah jas Mahesa dengan keras. Hingga tubuhnya menunduk mendekat tubuhnya, suaranya keras sorot matanya tajam. membuat Mahesa benar benar mengerti kalau pria itu sedang dalam masalah yang serius....
..."Oke dua hari, itu waktu paling singkat." ucapnya lagi. Sambil melepaskan diri dari cengkeraman tangan Abimanyu, dan merapikan kembali krahnya....
__ADS_1