
Verro Bagaskara
13 tahun kemudian.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, Verro kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa, bukan anak kecil yang berbicara cadel lagi.
"Bunda!" Teriak Verro memanggil Rin yang terlihat asyik mainkan ponselnya berselancar di dunia maya, karena malas tidur siang Rin memilih duduk duduk saja di ballroom.
"Bunda, I love you!!" Setelah keluar dari mobil sport merah kesukaannya.
"Gimana sayang? Pasti diterima kan?"
Verro melepas kaca mata hitamnya, menghampiri Rin dan mengecup pipi kanan dan kirinya, "Siapa dulu, Anak Daddy."
"Uh... giliran yang baek aja anak Daddy, giliran yang bandel, ngakunya anak Bunda." menjewer pipi Verro yang tak terlihat gembul lagi. Namun malah muncul lesung yang semakin jelas ketika tersenyum.
Cepat sana! Lepas sepatu cuci tangan, kaki sekalian, habis itu makan, jangan kebiasaan taruh sembarangan, kasian by Naya kerjaannya banyak." cerewet Rin pada Verro yang selalu manja di depannya.
"Iya iya...." Verro urung melempar tasnya di sembarang tempat. Kini memilih menaruhnya di lemari barang.
Verro kerap kali menunjukkan sikap manja kepada Rin, karena memang kedua orang tuanya sangat memanjakannya. Namun bukan berarti dia benar- benar menjadi cowok manja disetiap tempat. Verro hanya senang sekali mendapat ke hangatan dari bundanya. Bukan tanpa sebab mereka demikian. Selain Verro anak satu- satunya, Riwayat Verro yang hampir tak terselamatkan saat bayi itulah penyebab utamanya hadirnya cinta berlebihan diantaranya.
"Sayang gimana tadi?" Tanya Rin Ketika Verro kembali keluar kamar, mulai merebahkan kepalanya dipangkuan Rin.
"Apa yang gimana bunda?"
"Tes nya?"
"Ouh... Lumayan susah dan banyak banget tapi. Do,a bunda bersama Verro semua tak ada yang sulit pasti akan, perfectly missed, Bunda" mencium Telapak tangan Rin berkali kali.
"Yuk makan, bunda tadi menunggumu pulang, Bunda ingin kita makan siang bersama." mengelus perutnya yang terasa keroncongan. "Setelah kamu pulang lapar bunda semakin menjadi- jadi he.. he...."
"Okey... Bunda. " Verro bangkit dari rebahan manjanya.
Verro dan Rin berjalan menuju meja makan. Ketika berdiri beriringan begitu Rin hanya setinggi leher Verro. Verro memiliki tubuh tinggi proporsional dan soal wajah jangan tanya, hasil kerja kombinasi Abimanyu dan Rindang Injali tentunya menghasilkan wajah yang handsome, cool abis.
__ADS_1
Tak jarang banyak cewek- cewek di sekolahnya berpura pura bermain di halaman parkir, hanya sengaja melihat sang pangeran impian datang.
Banyak diantara mereka berpura pura cuek namun sebenarnya berharap banget jadi pacarnya. Atau bahkan memberanikan diri menyapa, tak jarang pula yang memandang dengan malu malu.
Contohnya pagi tadi saat memasuki ruang kampus barunya. Verro tak sengaja memergoki seorang gadis manis berkacamata sedang berjalan melewatinya, gadis itu melihatnya dan tak menyadari dirinya sedang terbengong, alhasil dia menabrak meja dosen.
Sambil makan Verro bercerita tentang gadis tadi, sesungguhnya Verro sering melihat kejadian seperti tadi, namun entah kenapa Verro melihat gadis tadi unik aja. Dia cantik, kalem, cuma saja keindahannya itu sengaja ia tutupi dengan kaca mata besarnya.
Apapun yang dikatakan Verro, Rin selalu berpesan agar jangan pernah merasa lebih dari yang lain, karena semua yang ada pada dirinya hanya kemurahan Tuhan. Rin juga sering menceritakan asal usul dirinya.
Jika mendengar bundanya yang senang bercerita tentang masa lalu itu rasa sayang pada bundanya akan semakin besar, namun Verro sering kali bosan juga karena terlalu sering mendengarkan cerita yang sama, terkadang Verro mendengarnya hingga tertidur.
Ada maksud Rin menceritakan semuanya agar Verro tak melupakan kakek dan neneknya di kampung pesisir, tak melupakan kalau ibunya dulu hanyalah seorang pembantu yang dicintai.
"Verro gadis itu pasti langka sekali, hingga kamu ceritakan ke bunda?" Tanya Rin antusias.
"He, em Bun, aku baru lihat model kayak gitu ya hari ini. Unik memang."
"Emang Verro tau siapa namanya?"
"Kalau nggak salah dia punya saudara kembar, tapi nggak identik sih. Emm... Rose. Iya namanya Rose, Bun"
Rin menggeleng kepala sambil bibirnya berdecak." nggak nyangka ya anak bunda udah gedhe. Rasanya baru kemaren bunda gendong kamu." Mengelus elus rambut Verro yang hitam sehitam arang. hingga memantulkan silau ketika terkena cahaya lampu.
"Daddy belum pulang, Bunda?" sambil menyuapi makanan pada bibir casualnya. Ia ingat sama Daddy ketika nasinya tinggal dua sendok di piringnya.
"Mungkin masih banyak kerjaan.
"Verro ingin menyusul ke Restaurant, Bunda."
"Ngapain? "Istirahat saja kenapa? Ini kan siang hari, panas."
"Bunda... Bunda.... Verro nggak akan kebakar kalau cuma terkena sinar matahari, segitunya." Tertawa terkekeh sambil berdiri meninggalkan meja makan, sebelum pergi tak lupa Verro kembali mengecup pipi Bundanya.
Verro kembali menyusuri jalanan menuju Restaurant ketika hari begitu terik. "Tak lupa kaca mata hitam selalu ia gunakan ketika di jalan. Selain mengurangi jumlah intens cahaya yanga masuk kemata, juga bisa melindungi dari debu soalnya mobil Verro tanpa bagian atasnya blong tanpa atap.
__ADS_1
Sampai di restaurant Verro segera memarkir mobilnya di parkiran paling belakang karena rencananya ia hanya akan sebentar, yaitu menemui Daddynya. Apalagi kalau bukan uang, Verro ingin merayakan semua kebahagiaannya hari ini bersama teman temannya.
Saat melangkahkan kaki masuk Resto, Verro sekilas mengedarkan pandangan pada para tamu yang mampir pada Restaurant milik Daddy,
Netranya tak sengaja menyerobok pada seorang gadis. Benar, Verro kembali bertemu dengan gadis cantik namun ber kacamata tebal tadi bersama saudara kembarnya. ia melihat gadis itu sedang menyantap menu makanan yang dihidangkan oleh seorang waiters.
Verro ingin menyapa namun tak enak, nanti dibilang SKSD memang nyatanya mereka satu universitas namun belum saling kenal.
Verro kembali meneruskan misinya menemui pohon uangnya. Meminta Black card yang dijanjikan sang Daddy ketika berhasil mengikuti tes di universitas kedokteran.
Namun ditengah perjalanan kembali Verro dikejutkan oleh suara yang sudah lama dikenalnya.
"Verro. Tunggu!" Dari arah belakang dan nyaring. Membuat yang mendengarnya sontak menoleh ke arah suara.
"Ish.... Tiara bikin malu aja." gerutu Verro.
"Ngapain lo kesini, Ada perlu apa?" menunjukkan wajah kesalnya.
"Jutek amat sih." ikut kesal karena ekspresi Verro yang tak sesuai harapan.
" Entar malam jalan- jalan yuk!"
"Sama siapa?"
"Ya sama akulah? Emang ada siapa lagi...?"
"Kirain sama teman lainnya , gur males."
Saat Verro sedang bercakap sama tiara tanpa sengaja Rose izba dan Izza sedang memandangi punggung lebar milik Verro.
"Lihat entar ya, aku...." menggaruk garuk kupingnya yang mulai gatal, sejak kedatangan gadis yang selalu muncul disetiap tempat dan mengejarnya.
Tiara adalah putri Maira, sejak mengetahui Verro bukanlah saudaranya, karena kenyataannya beda ayah dan juga ibu, Tiara sangat bahagia.
"Pokoknya nggak boleh batal. Aku nanti yang jemput kamu yah."
__ADS_1
"Em jangan.... Oke, aku saja yang akan jemput kamu, jam delapan."
"Okey...."