
"Yang, lepasin ada orang datang." Pinta Rin sambil melepaskan bibir Bima yang tak hentinya mencumbui setiap inci wajahnya hingga tak ada secenti pun terlewatkan.
"Aku sekarang nggak mudah dibohongi lagi. Kamu pasti sedang cari alasan agar bisa lari dari ku?" sanggah Bima yang mengira Rin sedang ingin mengelabuinya.
"Nggak, beneran." Meronta melepaskan pelukan bima.
"Ah Bibi, sudah pulang." Rin menyapa Bi Naya, Bima reflek menoleh kebelakang, ternyata istrinya sedang tidak bercanda.
Bima menghentikan aktifitas mencumbui istrinya, tangannya langsung ia turunkan. Rin juga membenahi bajunya yang berantakan.
"Bikin malu saja" memelototi suaminya.
"Kirain tadi bercanda." Bima mengusap wajahnya, kemudian naik ke lantai atas tanpa sepatah kata. Sebenarnya juga malu aksi nakalnya kepergok pembantunya.
"He... he.... Maaf ya Bi." Rin tersenyum pada Bibi.
"Bibi yang minta maaf Rin, sudah ganggu kesenangan kalian.... Kirain tadi malam udah puas, ternyata paginya masih mau nambah he... he....." Naya tersenyum sambil menenteng belanjaannya ke dapur.
He.... he.... Rin hanya tersenyum cengar cengir sambil menyembunyikan kain kecil yang sudah dilepas suaminya tadi di balik tubuhnya.
"Tuan... Tuan.... dikasih tau bandel banget sih." gumam-gumam kecil Rin sambil geleng-geleng kepala. Kemudian Dia juga naik kelantai atas menyusul suaminya.
Bima sudah terlentang di atas ranjang tangannya ia jadikan bantalan, dengan dua kakinya bergelantung ke bawah. Ketika mendengar langkah kaki Rin mendekat Bima meminta Rin untuk sekalian mengunci pintu. "Beb, kunci pintuya dong."
"Iyah. Takut gagal lagi yah, ngebet amat sih?" sambil mengunci pintu. Kemudian melangkahkan kakinya mendekati keberadaan Bima.
"Aku udah kangen banget sama kamu, Beb, entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu ingin jika melihat ini." menarik tubuh Rin di dekapannya dan menyentuh cekungan antara dua bukit. Lalu meninggalkan jejak kepemilikan di sekitarnya.
"Udah, ah jangan banyak- banyak, geli lihatnya."
"Tapi aku suka, ini bukti cintaku."
"Cinta apa,an, rakus iya."
"Ya udah aku buktikan sekarang, kita buat adek untuk Verro. Kasian dia nggak ada teman main."
Tanpa menunggu persetujuan si pemilik tubuh, Bima merebahkan Rin di Ranjang. Ia mulai mencium kening penuh kehangatan. sesaat mata Bima terpejam ada sebuah harapan yang ia minta pada Tuhan setelah yang ia lakukan hari ini, Bima mengharapkan segera hadir dedeknya Verro.
"Yang, apa aku sudah benar boleh hamil lagi?" Tanya Rin takut, karena saat melahirkan dulu ia operasi caesar.
"Bolehlah usia Verro udah lima tahun, udah waktunya juga memiliki adek. Udah jangan bicara terus kita fokus bikin dedeknya Verro" Mengecup bibir pink yang nampak segar menggoda.
Bima menindih tubuh Rin dan menciumi leher hingga turun mencapai bukit- bukit yang menjulang. Rin merasakan geli bercampur nikmat. Membuat Rin menggelinjang tak karuan.
"Beb, aku ingin kamu kali ini yang bekerja." Bisik Bima di dekat telinga Rin. Sambil membalikkan tubuhnya kini berganti Rin dengan posisi di atas dan Bima dibawah.
Rin mulai bermain di atas dengan segala ke mahirannya. Suara erangan dari bibir Rin mulai terdengar dari sudut-sudut kamar. Membuat siapapun yang mendengarnya bulu romanya akan berdiri karena kepanasan.
__ADS_1
Lama sekali mereka memadu cinta di pagi hari. Walaupun masih pagi peluh sudah menetes membasahi sekujur tubuh berdua. Setelah selesai Rin merebahkan tubuh suaminya disampingnya.
Senyum dari bibir Abimanyu terukir indah, Abimanyu mengagumi kemahiran istrinya. Yang semakin hari membuatnya semakin tak bisa berpaling walau sesaat.
"Mandi dulu Yang, aku harus jemput Verro." Rin bangkit ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
"Masih pagi, Beb, Verro belum pulang. Kita sekali lagi ya?"
"Nggak ah, udah nanti malam aja." Rin bangkit dari ranjangnya hendak langsung menuju ke kamar mandi.
Tapi Bima belum rela istrinya pergi, Bima menarik pergelangan membuat Rin harus terjatuh kembali.
"Beb." tatapan penuh permohonan.
"Sudah,ah." Rin meronta lagi. Rin segera berlari kamar mandi.
Bima menyusul Rin dengan buru- buru sebelum terkunci. Mereka mandi dalam bathup besar berdua.
"Beb, maafkan aku selama ini jika aku menunjukkan cintaku dengan kekerasan, aku sayang, aku pencemburu dan aku trauma," ucap Abimanyu saat membalur tubuh istrinya dengan sabun cair dan menggosoknya penuh kelembutan.
"Sudah, itu dulu, sekarang suamiku ini sudah jinak kan?" ucap Rin sambil mengerlingkan mata.
"Iyah, gara gara terlalu banyak makan kurma."
"He... he... he.... Rin tertawa terkekeh." menutup wajahnya malu. "Emang buah Kurmanya manis?"
"Enggak sama sekali, tapi suka bikin diriku mabuk dan gila." ujar Bima sambil meneruskan aktifitasnya.
"Hallo."
"Bunda Rindang, ini dari TK Perwira, Verro terjatuh Bunda ia sedikit terluka. Maafkan kelalaian kami bunda."
"Apa?!" Rin mulai panik
"Bagaimana sekarang keadaannya?"
"Verro menangis mencari cari Bunda."
"Baiklah aku akan segera kesana." Rin segera menutup teleponnya tangannya gemetar mengkhawatirkan keadaan putranya yang baru saja sembuh dari sakitnya. Rin memakai baju dengan tergesa membuat Bima juga tertarik ingin tahu.
"Ada apa, Beb?" Bima keluar kamar mandi dengan handuk kecil melilit di pinggangnya, serta rambutnya masih basah.
"Verro terjatuh, kita harus kesana! Ini karena kamu Yang, Kamu menahanku di rumah tadi. Kalau tidak, Verro pasti akan baik-baik saja"
"Oh, My God... Verro!?" Bima mengusap keningnya.
Bima segera memakai hem serta setelan celana slimfit buru- buru mengambil kunci mobilnya, dan berlari menuju mobil.
__ADS_1
Rin dan Bima buru- buru mendatangi sekolah Verro. Terdengar suara Verro menagis tergugu di gendongan Bu Guru.
"Maaf Bu Verro hanya terluka di kepalanya, tapi dia menangis tak henti- henti."
"Iya Bu terima kasih, maaf sudah membuat bu guru panik. Verro masih Trauma dengan darah." ujar Rin lega anaknya cuma kebentok di kepalanya saja.
"Ah verro anak Bunda, kenapa jadi cengeng sayang." Rin membujuk Verro yang dipipinya berlelehan air mata.
"Vello takut Bunda, Vello takut sama dalah." celoteh Vello manja. Sambil menunjukkan keningnya yang lecet.
"Daddy nggak suka,ah kalau anak daddy cengeng. Katanya ingin jadi sekuat supelhelo, Kepentok gitu aja kok udah nangis." Bujuk Bima.
"Bu guru maaf hari ini Verro sepertinya lagi dalam mode ambek-ambekan. Jadi verro kami ajak pulang dulu ya,"ucab Bima meminta anaknya pulang saja.
Mereka bertiga kini menuju ke resort. Bima ingin mengajak istrinya mengunjungi Resort yang pernah menjadi kenang kenangan masalalunya.
Sampai di resort miliknya Sony segera menyambut kedatangan si pemilik.
Selamat datang Nyonya, Tuan. Dan Tuan kecil Verro.
"Telima kasih, om Sony. Om vello ingin tempat menginap yang paling bagus, apa masih ada?" Tanya Verro pada Sony sambil bersendekap.
"Tenang Tuan kecil, tempat paling bagus akan jadi milikmu, ini kuncinya."
Rin dan Bima memasuki Resort yang pernah menjadi tempat bersejarah baginya.
"Sayang aku sengaja mengajak kesini, karena aku ingin kau ingat masa masa indah kita, pertama kita."
"Masa itu indah bagimu saja, Yang." ujar Rin ketus. Mereka bertiga kini membuka ruang bersantai. Mengawasi Verro yang mulai asyik berenang di kolam menggunakan pelampung bergambar angsa.
"Kamu juga nggak nolak."
"Iya, karena aku takut."
"Sekarang apa sudah nggak takut lagi." kata Bima menggoda.
"Sekarang..." Rin menggantung kata katanya.
"Sekarang kalau nggak di kasih suka...." Bima tersenyum geli melihat ekspresi istrinya.
"Sttt Nanti didengar Verro. Anak kecil otaknya pandai merekam."
Bima berjalan masuk menuju kamar yang pernah menjadi sejarah kekhilafannya. Bersama istri yang sudah menjadi tempat melabuhkan seluruh jiwa raganya hari ini.
"Ini semua masih sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Semua seperti saat pertama kita memasukinya."
"Terima kasih tuan, aku beruntung bertemu denganmu."
__ADS_1
"Tidak aku yang lebih beruntung disini, aku memilikimu dan Verro." Bima memeluk erat Tubuh Rin dan mengecup keningnya penuh cinta. "I love you, Sweety."
,