
Suara gaduh dari taman belakang sangat mengganggu pria berusia 37 tahunan itu. Bram segera keluar dari kamarnya. Hari ini ia tak berangkat bekerja karena merasakan tubuhnya sedang lelah. Bram yang menjabat sebagai manager di perusahaan itu kini bisa sering- sering libur, karena pewaris perusahaan sendiri yang sudah datang untuk mengelola. Sedangkan yang menjabat sebagai manager juga bukan dirinya seorang.
"Ada apa ini?" Tanyanya ketika sampai di halaman belakang.
"Tuan, Nona sudah mau melahirkan" jelas Rena.
"Apa? Kalau begitu harus lekas bawa ke rumah sakit" Bram segera menghampiri Rin dan berniat membopong tubuhnya ke mobil.
"Jangan uncle, aku akan jalan sendiri," tolak Rindang.
"Sudah, menurut saja. Aku akan membantumu." Bram memaksa.
Akhirnya Rin menurut ia membiarkan Bram merangkuh tubuhnya, menggendongnya hingga garasi mobil. Saat dalam rengkuhan Bram, Rin tak berani menatap wajah unclenya itu. Ia hanya fokus dengan sakitnya. Ternyata om Bram tak memalingkan pandangannya sedikitpun dari wajah ayu Rindang.
"Kita sudah sampai, masuklah pelan-pelan" Bram menurunkan tubuh Rin pelan dan membukakan pintu mobil paling depan untuknya.
Tanpa menunggu siapapun Bram segera melajukan kendaraannya keluar dari Mansion.
"Uncle sakit..." Rin mencengkeram bahu Bram kuat-kuat. Air mata mulai keluar dari sudut netranya. Membuat pria itu tak tega membiarkan Rin kesakitan sendiri.
"Sabar sebentar, ini uncle juga sudah ngebut." Bram makin panik. Sekarang ia khawatir kalau Rin akan melahirkan di mobil.
"Aaaaaa...." pekik Rin ketika sakit mulai menjadi jadi. Bram segera mendekap tubuh Rin dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya melenggak lenggokkan kemudi mobil dengan segala kemahirannya dalam berkendara.
Bram segera memutar kemudinya memasuki halaman rumah sakit. Sekali lagi ia harus bertemu dengan dokter Mahesa.
-
Rin sudah berada di ruang bersalin, Dokter Mahesa segera datang membawa semua perlengkapan yang di butuhkan. Baru saja mahesa hendak memeriksa bagian intim Rin dengan membuka selimut yang menutupi tubuh bawahnya Bram segera mencegah.
Bram ingin Dokter wanita saja yang memeriksa bagian sensitifnya.
Mahesa setuju saja jika itu permintaan keluarga pasien.
__ADS_1
"Aaa sakit....." Rin yang mulai payah ia terus saja mengerang menahan sakitnya.
Dokter wanita segera datang dan mulai memeriksa pembukaan yang sudah dilalui oleh Rin. Dengan memasukkan dua jarinya di organ intimnya. "Ini baru pembukaan dua, kenapa calon ibu sudah sepayah ini," ujar Dokter Fitri kepada Dokter Mahesa.
"Dimana suaminya, Tuan?" tanya Mahesa pada Bram.
Bram yang berdiri di samping Rin tangannya sibuk mengelap keringat Rin yang bermunculan. Dia terkejut mendapat pertanyaan dari Mahesa.
"Oh, iya aku lupa belum meneleponnya."
Bram segera menghubungi Abimanyu. Ternyata Abimanyu sudah tau, karena Mama Freya yang sudah meneleponnya lebih dulu. Abimanyu juga memberi tahu kepada orang tua Rin tentang putrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Mereka sangat bahagia namun belum bisa datang.
Abimanyu tak ingin mertuanya datang, karena ia tau bagaimana kondisinya disana. Ia hanya ingin memberi kabar gembira sekaligus memohon do,a, agar Rin melahirkan dengan gangsar.
Bima dan Freya segera masuk kedalam ruang bersalin. Hanya ada Bram yang bersama Rin saat ini di dalam ruangan itu. Karena dua dokter tadi sudah pergi untuk memeriksa pasien lainnya.
Rin menggenggam tangan Bram kuat- kuat saat kontraksi datang lagi. Dan genggaman itu melemah ketika kontraksinya berlahan menghilang. Semakin lama kontraksi semakin sering terjadi, rintihan Rin semakin menyayat. Bram mencoba menjadi sosok yang penting disaat Rin kesakitan. "Lakukan saja apa yang kau inginkan, aku mengizinkan tubuhku menjadi pelampiasan mu saat ini."
"Maafkan saya uncle, aku tak tahan dengan sakitnya." Rin kini meraih lengan Bram dan menggigitnya kuat- kuat membuat Bram sakit namun ia tahan sebisanya.
"Entahlah kata dokter baru buka dua, aku juga nggak ngerti maksudnya" jawab Bram yang kini menyeka keringatnya sendiri.
Bram kini minggir dari samping Rin dan Bima menggantikan posisinya sekarang. Sedangkan Freya berjalan mondar- mandir di dalam ruangan kemudian pergi memanggil dokter.
Dokter wanita kembali lagi untuk memeriksa pembukaan yang telah dilalui Rin. Namun dokter terlihat kecewa karena satu jam berlalu pembukaan belum bertambah.
"Bagaimana Dok, kenapa bayiku belum lahir? Sedangkan istriku sudah sangat payah," tanya Bima.
"Maaf Tuan, bayi anda terpaksa harus lahir secara caesar, karena sudah lama menunggu tapi pembukaan tak juga bertambah. Jika terlalu lama menunggu, kasian sang ibu. Bisa- bisa...."
"Bisa apa Dok.... Katakan yang jelas." Abimanyu mulai panik ia tahu maksud dari dokter tadi kenapa kata-katanya tak dilanjutkan.
"Lakukan operasinya sekarang, Dok. Lakukan yang terbaik untuk istri dan bayiku, selamatkan mereka berdua," pinta Abimanyu dengan memelas.
__ADS_1
"Ayo buka pengunci ranjangnya, karena pasien akan segera kita bawa ke ruang operasi," perintah Dokter pada dua orang yang berdiri di belakangnya.
"Baik Dok." perawat itu segera berjongkok membuka pengunci. Dan setelah selesai ia mulai mendorong ranjangnya pelan- pelan, serta perawat yang satu membuka selang infusnya.
Kini Dokter itu beralih berbicara pada Abimanyu. "Tuan, anda sekarang sebaiknya segera menandatangani surat persetujuan dulu setelah itu ikutlah kami."
Abimanyu menurut perintah Dokter Fitri, Dia segera menuju Ruangan Mahesa, menandatangani semua surat yang menyatakan kesediaan Rin melahirkan dengan caesar. Setelah itu ia bergegas menyusul istrinya bersama Mahesa.
Bima tidak di izinkan masuk, Dia hanya melihat dari jendela kaca kecil. Mengatupkan bibirnya rapat rapat. Tak henti-hentinya hatinya berdo,a untuk keselamatan si kecil dan buah hati.
Sampai di dalam ruang operasi Rin segera diberi suntikan mati rasa. Satu suntikan di punggungnya dan satu suntikan di pahanya.
Rin kini pasrah apa yang akan terjadi pada dirinya, selain ini pertama baginya ia juga merasakan tubuhnya sangat lemah. "Dokter jika diantara kami salah satu harus di selamatkan maka selamatkan bayinya saja."
"Kenapa Nona berbicara seperti itu? Nona harus optimis, okey." Dokter tersenyum memberi semangat Rin kemudian mencubit perutnya. "Apa cubitanku ini masih terasa sakit,"
Rin menggeleng pelan. "Tidak dokter."
"Baiklah operasi akan segera kita lakukan sekarang karena obatnya sudah bereaksi dengan baik."
Dokter mahesa dan Dokter Fitri segera berkolaborasi melakukan tugasnya Dia dengan hati-hati membelah perut tipis Rin. Rin merasakan perutnya seperti di gelitiki, namun ia tak berani melihat kebawah, Rin takut sekali dengan darah, lama kelamaan matanya terasa berat seperti ngantuk yang tak bisa ditahan.
Bima yang melihat dari luar ruangan tak terasa ia menitikkan airmata, ia menyadari ternyata perjuangan sang ibu begitu berat demi melahirkan sang bayi.
Freya juga ikut mengintai Rin dari kaca kecil bergantian dengan Abimanyu. Wanita itu tak sabar ingin melihat cucunya. Seperti apakah wajah cucunya nanti miripkah dengan dirinya atau mirip papanya.
Bayi tampan sudah terlepas dari perut sang bunda. Namun bayi itu tak mengeluarkan suara khas baru lahir, bayi itu hanya diam seakan menguji kerja keras para Dokter.
"Dokter Fitri bayinya tak menangis." Mahesa menggerak gerakkan bayi mungil yang berada di kedua telapak tangannya dengan berlumur darah. Mahesa panik berfikir Bagaimana jika hal buruk terjadi, apa yang harus ia katakan pada sahabatnya.
"Apa dia sudah meninggal, Dok?"
"Entahlah, dia tak mengeluarkan tangisnya"
__ADS_1
Abimanyu melihat kepanikan para Dokter ia sudah tak sabar ingin segera masuk, namun Abimanyu tak berdaya karena pintu ruang operasi terkunci dari dalam.
Mahesa sedang dalam putus asa. Mahesa berharap ada keajaiban datang dari yang maha kuasa. Lama sekali mahesa berdiri termangu sambil memeluk sang bayi. "Ayo Nak, menangislah aku yakin kau akan bisa, kau pasti bisa. Kau sudah selamat dari racun waktu itu, aku yakin kau akan selamat hari ini.