Cinta Tulus Isyah

Cinta Tulus Isyah
#CTI Part 10


__ADS_3

Aril langsung bergegas pergi masuk kedalam kamarnya yang bersebelahan dengan Isyah. Isyah masuk kedalam kamarnya lalu ia mengunci pintu kamarnya dan ia langsung bergegas mandi.


Setelah selesai mandi ia mengenakan handuk kimono dan ia langsung keluar ia berjalan menuju lemari pakaian, yang banyak sekali baju dan piyama ia mengambil satu piyama berwarna merah muda kesukaannya.


Setelah selesai memakai piyama ia menyisir rambutnya dan ia menatap wajahnya di cermin.


Aku tidak suci lagi, bahkan aku sudah melakukannya sebanyak dua kali, aku benar-benar jijik pada diriku sendiri. Dan aku akan meminta bang Aril untuk bertanggung jawab, batin Isyah.


Isyah tersadar dari lamunannya saat pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.


Tok, tok, tok.


"Sebentar."ucap Isyah dari dalam dan ia berjalan membuka pintu kamarnya, dan ia membuka pintu kamarnya.


Ceklek.


Fia langsung memeluk adiknya tersebut dengan kerinduan yang mendalam, sebab mereka tidak pernah berpisah selama ini dari mereka kecil.


"Rindu ..."ucap Fia yang melepaskan pelukannya.


"Ayo, kita masuk," Isyah menarik tangan Fia masuk kedalam dan ia langsung mengunci pintu kamarnya sebab, ia takut kalau Aril akan masuk kedalam kamarnya dengan sangat nekat pikirnya.


Setelah mereka berdua masuk mereka duduk di ranjang empuk milik Isyah.


"Sa, kehidupan kamu jadi enak kayak gini ya. Semua serba ada baju cantik, bedak mahal semuanya mahal."ucap Fia sambil menatap keseluruhan kamar Isyah.


"Bukankah, rumah baru bapak juga cantik?"tanya Isyah.


"Iya, tapi. Kami belum bisa beli-beli barang yang mahal-mahal."jawab Fia sambil menidurkan tubuhnya di kasur milik Isyah.


"Kak, aku mau cerita tentang bang Aril."ucap Isyah dengan sangat pelan.


"Cerita aja."jawab Fia dengan sangat pelan.


"Aku sama bang Aril udah, (sensor) jadi kayak mana cobakan,"ungkap Isyah.


"Kau bodoh kali, ngapain juga mau di ajak (sensor) sama dia sih. "ucap Fia sambil menatap wajah Isyah yang terlihat sangat sedih.


"Aku akan minta, bang Aril nikahin aku siapa cobak yang mau nikah sama aku?"ucap Isyah dengan sangat sedih, Fia langsung menoyor kepala Isyah.


"Is, bodoh kali anak ini, bukan berarti udah gak ..."terputus sebab Adzan Magrib berkumandang.


"Sholat dulu, nanti kita sambung lagi ya,"ucap Isyah sambil bergegas pergi mengambil Wudhu.

__ADS_1


"Aku pulang, aku lagi palang merah,"ucap Fia yang bergegas pergi dari kamar Isyah saat Fia keluar kamar, ia berpapasan dengan Aril.


Fia menghentikan langkahnya dan ia menatap wajah Aril dengan sangat tidak suka.


Aku benar-benar sangat membencinya, dia sudah membuat Isyah merasa dirinya sudah tidak perawan lagi padahal kan belum terjadi apapun. Aku sangat jijik melihat wajahnya dia membuat adik polos ku merasakan yang seharusnya belum ia rasakan, batin Fia.


"Kamu Kakaknya Isya, ya?"tanya Aril dengan sangat lembut dan Fia langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Aril.


Sombong sekali dia, aku akan membuatnya menyesal sudah menolak pesanan ku ini, batin Aril.


...


Amit belajar Sholat dari video yang ia tonton dan kita ia tengah melaksanakan Sholat Magrib, ia melakukannya dengan bersungguh-sungguh sebab ia merasa sangat malu pada Isyah.


Di umur yang sudah hampir menginjak kepala tiga ia belum pandai Sholat membuatnya insecure, pada Isyah adik angkatnya dan ia sangat bersungguh-sungguh akan berjalan di jalan Allah.


Setelah selesai Sholat Amit berdoa untuk dirinya dan juga almarhumah Mamanya yang sudah pergi sejak ia kecil.


"Ya Allah, ampunilah segala dosa hamba dan mama hamba. Tempatkan dia di sisi mu yang paling indah, Aamiin."


Setelah selesai berdoa Amit berganti baju ia mengenakan celana pendek dan kaus polos berwarna hitam.


"Sial, banget hari ini aku. Ini semua adalah salah sih hitam itu,"ucap Amit dengan sangat kesal ia mengingat-ingat kejadian tadi siang.


"Siapa lagi, jangan sampai di hitam itu,"ucap Amit yang berjalan menuju pintu kamarnya dan ia langsung membukanya.


"Bang, "ucap Isyah.


Amit langsung membuka mulutnya lebar-lebar lalu ia mengusap kasar wajahnya.


"Kau, tidak menyusahkan hariku sedikit saja apa tidak bisa?"tanya Amit dengan sangat ketus membuat hati Isyah sakit.


"Maaf, papa memanggil Abang untuk makan malam ..."ucap Isyah dengan nada bergetar dan ia meneteskan air matanya lalu ia berlari menuju kamarnya.


Kau menangis lagi, benar-benar membuatku muak. Batin Amit.


Isyah berlari masuk kedalam kamarnya dan ia langsung masuk membanting kasar tubuhnya di kasur miliknya.


Emang dia kira aku mau gitu masuk kedalam hidupnya, aku malah tidak ingin bermimpi tentang ini, batin Isyah.


Isyah menangis didalam bantal dengan sangat sedih entah mengapa kata-kata Amit tadi, membuat hatinya terluka cukup parah membuatnya tidak bisa menahannya.


...

__ADS_1


Amit merasa sangat heran tidak melihat keberadaan Isyah namun, ia masa bodoh sebab tidak ada kebenaran Isyah membuatnya sangat bahagia.


"Pa, aku makan duluan ya, sebab masih banyak tugas sebab besok libur."ucap Amit yang mulai memakan makanannya.


"Iya, ayo kita akan mungkin adik mu akan menyusul kita."ucap Pak Ben yang mulai memakan makanannya.


Aril hanya diam saja dan ia langsung memakan makanannya.


Aku rasa Amit memarahinya, sehingga dia tidak kembali ke meja makan dan papa benar-benar keterlaluan menjodohkan mereka yang sama sekali tidak mencintai, batin Aril.


"Besok, kamu antar jemput Isyah."ucap Pak Ben yang menyudahi makannya.


"Siap, Pa."jawab Amit.


Lagi-lagi Amit semua Amit, aku tidak ada apa-apa bahkan jabatan aku di bawahnya Amit. Amit lagi, batin Aril.


Setelah mereka selesai makan Isyah tak kunjung datang sehingga Amit berfikir akan mengantarkan makanan untuk Isyah, sebab ia merasa sangat bersalah akan sikap kasarnya tadi kepada Isyah.


Setelah selesai ia langsung bergegas pergi menuju kamar Isyah setelah sampai ia langsung masuk, ia melihat Isyah tertidur pulas di ranjang dengan bantal yang basah.


Amit meletakan makanan yang ia bawa tadi di meja lalu ia langsung bergegas pergi. Sesampainya ia di luar ia menghentikan langkahnya.


Aku benar-benar sudah keterlaluan, dia saja sampai menangis tersedu-sedu seperti itu, ah. Masa bodoh aku tidak usah memikirkan tentang dia, batin Amit.


Amit berlalu pergi menuju kamarnya sesampainya ia dikamar ia langsung mengerjakan pekerjaan.


Amit menyusun rencana untuk mengerjai Isyah besok pagi-pagi sekali, ia menyusunnya dengan sangat rapi.


"Besok,"ucap Amit yang tersenyum penuh kemenangan.


.


.


.


Bersambung.


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua.😘


__ADS_2