
Amit mencari ponselnya sebab ia akan ada meeting penting siang ini bersama klien pentingnya, ia mencari-cari di setiap sudut ruangan dan ia melihat rok panjang berwarna abu-abu.
Ia langsung bangun dan menatap Isyah yang ada dihadapannya, lalu Isyah memberikan ponsel milik Amit yang tertinggal di kamarnya semalam.
"Kau mengambil ponselku ini?"tanya Amit sambil mengambil ponselnya dari tangan Isyah.
"Enak saja, semalam Abang meninggalkan ponsel ini di meja kamar Isa."jawab Isyah dengan sangat tegas dan berlalu pergi.
Amit menatap kepergian Isyah lalu ia baru ingat kalau semalam, ia memang meninggalkan ponselnya di kamar Isyah.
Aku lupa, semalam memang aku meninggalkan ponselku di kamar Isyah. Batin Amit.
Amit bergegas pergi menuju meja makan setelah sempai ia langsung duduk dan memakan sarapannya.
"Den, ini ada undangan untuk tuan Ben. Semalam ada yang mengantarkan dan Den sudah tidur."ucap Bu Meniah sambil memberikan undangan pernikahan.
"Iya, Bi ..."ucap Amit yang mengambil undangan tersebut dan ia segera membacanya.
Oh tidak, ini anaknya rekan bisnis papa dan papa tidak ada disini sudah pasti aku yang akan menghadirinya. Mana ini wanita yang di jodohkan padaku beberapa tahun lalu dan malu sekali aku kalau tidak membawa pasangan, batin Amit.
"Bang, Isa kerumah bapak dulu ya,"ucap Isyah yang bergegas pergi dari ruangan makan sedangkan Amit menatap kepergian Isyah.
Aku memiliki ide, aku akan membawa Isa saja sebab dia memang benar-benar calon istriku dan aku akan membuatnya seperti seorang ratu. Aku akan memikirkan cara agar kulit gelapnya terlihat putih, batin Amit.
Amit bergegas menyiapkan sarapannya setelah selesai ia langsung bergegas pergi dari meja makan, ia menunggu Isyah di atas motor miliknya tak berselang lama akhirnya Isyah menghampirinya.
"Lama nunggu ya, Bang?"tanya Isah dan Amit hanya tersenyum.
Kutub Utara ini tersenyum, sepertinya aku harus merubah namanya menjadi bunglon yang suka berubah-ubah. Batin Isyah.
"Cepat naik, kita bisa terlambat."ucap Amit dengan sangat lembut membuat Isyah langsung naik.
Setelah sampai di Sekolah Isyah langsung turun dan bergegas masuk kedalam kelasnya, sedangkan Amit bergegas pergi menuju Kantor sebab ia akan ada meeting penting siang ini.
Setelah Amit sampai di Kantor ia langsung memeriksa beberapa berkas penting lalu ia menerima telfon.
📱
"Iya, Mita ada apa?"ucap Amit dengan sangat dingin.
"Saya hanya ingin mengingatkan Bapak, kalau siang ini kita ada meeting penting jam satu siang, Pak."ucap Mita.
"Baik-baik."ucap Amit yang memutuskan sambungan teleponnya.
"Jam satu siang, apa Isyah sudah pulang ya."ucap Amit ia langsung mengirimkan pesan kepada Isyah.
💌
(Setelah kamu pulang, datanglah ke cafe yang saya kirim lokasinya. )
__ADS_1
Setelah jam setengah satu siang Amit langsung bergegas pergi menuju cafe dimana ia akan meeting.
Setelah sampai ia langsung masuk kedalam terlihat sudah ramai rekan bisnisnya menunggunya.
"Maaf, saya terlambat."ucap Amit yang baru saja mendudukkan bokongnya di bangku.
"Tidak, Pak Amit santai saja. Kita makan saja terlebih dahulu baru kita lanjutkan meeting kita."ucap Pak Arya.
"Baik, Pak."ucap Amit sambil tersenyum manis.
"Saya terlambat, maaf ..."
Amit langsung membulatkan matanya saat mendengar suara yang sangat familiar, ia langsung membalikkan badannya betapa terkejutnya ia melihat Gilang.
"Mau apa kau disini?"tanya Amit.
"Hey, aku disini untuk meeting bukankah aku adalah anak dari Pak Arya Buana."ucap Gilang sambil mencium tangan Pak Arya.
Tidak mungkin, aku tidak pernah tahu kalau Gilang adalah Kakaknya Difa selama ini bahkan aku juga tidak tahu, kalau pak Arya memiliki anak laki-laki. Batin Amit.
"Kau, tidak menyukainya?"tanya Gilang sambil menatap sinis pada Amit.
"Kalian sudah saling kenal?"tanya Pak Arya sambil menatap wajah Gilang dan wajah Amit.
"Dulu, dan sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu."ucap Amit dengan sangat cuek.
Amit dan Gilang sama-sama menatap tajam.
Aku akan menghancurkan kehidupannya, bagaimanapun caranya. Batin Gilang.
...
Isyah pulang cepat hari ini sebab gurunya ada rapat dan ia menunggu Amit di depan kelasnya, lalu ia membuka ponselnya agar ia bisa menelfon Amit akan tetapi ia melihat pesan masuk dari Amit.
💌 Kutub Utara.
(Setelah kamu pulang, datanglah ke cafe yang saya kirim lokasinya. )
"Yang benar saja, sebaiknya aku kesana atau aku pulang sendiri saja ya?"ucap Isyah yang menimbang-nimbang lagi keputusannya.
Ia teringat akan ucapan Papa angkatnya kalau Amit harus menjaganya dengan baik, ia berfikir akan menghampiri Amit saja agar Amit dapat menjaga amanah.
Isyah menaiki ojek agar ia bisa segera sampai di Cafe yang di pinta oleh Amit setelah sampai, ia langsung masuk kedalam dan ia mencari-cari kebenaran Amit.
Isyah melihat Amit di bangku VIP bersama beberapa orang disana dan ia langsung menghampirinya.
"Bang,"ucap Isyah.
Sontak saja membuat Amit tersedak-sedak.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk."
Isyah dengan sangat cepat memberikan segelas air putih kepada Amit.
"Pak, siapa wanita itu?"ucap Pak Arya yang menunjuk kearah Isyah.
"Dia calon istri saya,"ungkap Amit.
Sontak saja membuat Gilang terdiam.
Tidak mungkin dia akan menikahi wanita hitam seperti ini, batin Gilang.
"Duduk, disini kita makan siang bersama-sama."ucap Pak Arya.
Isyah tersenyum dan ia langsung duduk di bangku yang bersebelahan dengan Amit.
"Bang, tadi Isa lihat pesan Abang makannya Isa datang."ucap Isyah dengan sangat lembut dan senyuman manisnya.
"Calon istri Bapak, masih SMA?"tanya Pak Arya sambil menatap Isyah yang masih menggunakan seragam putih abu-abu.
"Iya, Pak."ucap Amit pelan sebab ia merasa sangat malu bukan karena kutil Isyah hitam akan tetapi, umur Isyah yang masih sangat mudah dan masih bau kencur.
"Sukanya sama sugar beby."ucap Gilang dengan sengaja untuk membuat Amit malu.
Sepertinya gadis ini bisa membantu rencana ku, aku akan melukai gadis ini dan apakah Amit akan memperdulikan gadis ini sebab dia cinta mati pada Difa, batin Gilang.
Gilang terus-menerus menatap wajah Isyah membuat Amit sangat takut akan tatapan Gilang pada Isyah.
Sepertinya dia memiliki rencana, aku tidak akan membiarkan semua rencananya berhasil apa lagi ini tentang Isa. Aku tidak bisa tinggal diam aku akan segera mencari tahu, batin Amit.
Isyah merasa kalau Amit dan Gilang terus-menerus menatap dirinya.
Sebenarnya ada apa sih, apa aku terlalu hitam padahal tidak terlalu hitam kok hanya saja kulitku seperti sawo matang. Batin Isyah.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘
__ADS_1