Cinta Tulus Isyah

Cinta Tulus Isyah
#CTI Part 37


__ADS_3

Isyah mengikuti langkah Amit dari belakang dengan sangat cepat, sebab Amit berjalan dengan sangat cepat membuat Isyah terpeleset dan jatuh di lantai.


"Aaahhhkkk!"teriak Isyah membuat Amit terkejut dan langsung menoleh.


"Kamu ini, kenapa jalan tidak menggunakan mata!"bentak Amit.


"Dimana-mana orang jalan pakai kaki, Bang, bukan pakai mata."ucap Isyah sambil bangun dan merapikan penampilannya.


"Selalu saja menjawab!"bentak Amit yang berlalu pergi meninggalkan Isyah.


"Dasar, kutub Utara menyebalkan. Dia tidak menolongku dan malah meninggalkan aku disini, "ucap Isyah sambil berjalan menuju parkiran.


Ia menunggu Amit di depan parkiran tak berselang lama akhirnya Amit datang, dengan buru-buru Isyah berlari menghampiri mobil Amit dan ia langsung masuk kedalam.


Kutub Utara ini, dia benar-benar sangat dingin bahkan dia tidak melihatku yang ngos-ngosan akibat berlari tadi. Batin Isyah.


Amit melajukan mobilnya menuju tokoh buah sebab ia ingin membeli buah, untuk Papanya setelah sampai ia langsung bergegas turun sedangkan Isyah hanya diam saja didalam mobil.


"Saya mau buah apel saja, dan jeruk."ucap Amit kepada pemilik toko buah.


"Baik, saya ambilkan pesanan Tuan dulu ..."ucap Pemilik toko buah.


Amit melirik kearah mobil ia melihat Isyah yang melihat dirinya dari kaca mobil.


Anak itu membuat aku naik darah saja, aku benar-benar tidak menyukainya entahlah aku juga tidak tahu kenapa. Asal aku berada didekatnya aku selalu kesal saja. Batin Amit.


"Ini, Pak. Buahnya."ucap Pemilik toko buah yang memberikan pesanan Amit.


"Terimakasih, Pak."ucap Amit yang mengambil pesanannya dan membayarnya.


Amit berjalan menuju mobilnya lalu ia masuk kedalam dan duduk di bangkunya, ia tidak melirik kearah Isyah sebab ia tidak ingin melihat wajah Isyah.


Kutub Utara ini, aku sumpain dia bucin sama orang yang di bencinya. Amiin, batin Isyah.


Amit melajukan mobilnya menuju Restoran favoritnya setelah sampai ia langsung memarkirkan mobilnya, di parkiran Restoran lalu ia turun dari mobil sedangkan Isyah hanya menunggu saja.


Amit berjalan masuk saat ia hendak memesan matanya melirik kearah wanita dan pria, terlihat mereka sangat mesra dan Amit tersenyum melihat mereka lalu ia memotret pria dan wanita tersebut.


Gilang-Gilang, kau itu sudah gila. Bukankah itu wanita yang menjadi anaknya kenapa mereka sangat mesra, semoga foto yang aku ambil ini bisa menjadi bahan satu saat nanti, batin Amit.


"Mas, mau pesan apa?"tanya Pelayan Restoran tersebut.


"Hah, iya Mbak. Saya mau pesan makan favorit saya tiga di bungkus saja sama minum favorit saya juga,"ujar Amit.

__ADS_1


"Baik, tunggu sebentar ya, Pak."ucap Pelayan Restoran tersebut yang berlalu pergi.


Amit melirik kearah Gilang terlihat Gilang memeluk wanita yang baru Amit ketahui kalau itu anaknya Gilang, terlihat Gilang mencium bibir anaknya tersebut dan Amit tidak menyia-nyiakan kesempatan ia langsung merekamnya.


Bodoh sekali bajingan itu, dia benar-benar memalukan. Batin Amit.


Setelah mereka pergi Amit langsung menyimpan ponselnya lalu Pelayan datang memberikan pesanannya, ia langsung membayar dan segera pergi dari Restoran ia berjalan menuju mobilnya dan ia segera masuk kedalam.


"Bang, kok lama banget?"ucap Isyah sambil menatap wajah Amit sontak membuat Amit menghela nafas panjang.


"Bisakah kamu tidak bertanya!"bentak Amit membuat Isyah terdiam dan langsung membuang pandangannya.


Kutub Utara, dia benar-benar sangat galak aku hanya tanya saja dan dia malah memarahiku ... Dasar kulkas dua pintu menyebalkan, batin Isyah.


Amit melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi agar ia segera sampai, sebab ia sangat menghawatirkan keadaan Papanya yang hanya seorang diri di rumah sakit.


Setelah sampai Amit langsung memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, setelah selesai ia membawa barang yang ia beli tadi keluar. Isyah keluar dan ia berjalan melewati Amit dan langkahnya terhenti saat Amit memanggilnya.


"Eh, mau kemana kamu?" Isyah langsung menoleh lalu ia menghampiri Amit.


"Tentu saja mau masuk kedalam, bukankah papa masih ada di rumah sakit ini?"ucap Isyah dengan sangat heran.


"Iya, aku tahu, cepat bawa semua ini."ucap Amit sambil memberikan belanjaannya tadi.


Amit hanya tersenyum lalu ia berjalan dengan cepat menuju ruangan Papanya sedangkan Isyah, ia berjalan dengan perlahan sebab ia merasa kesulitan untuk membawa barang-barang belanjaan Amit tadi.


"Kutub Utara, tidak memiliki hati nurani sedikitpun."ucap Isyah sambil berjalan setelah ia sampai ia langsung masuk kedalam.


"Assalamualaikum."ucap Isyah sambil meletakan belanjaan di meja.


"Wa'alaikumsalam."jawab Pak Ben bersamaan dengan Amit.


"Papa, makan dulu. Setelah itu Papa harus minum obat yang di belikan oleh Dokter,"ujar Isyah.


"Iya, Nak."jawab Pak dengan sangat lemas.


"Pa, dimana obatnya kenapa tidak ada?ucap Amit yang melirik ke seluruh ruangan dan ia tidak melihat adanya obat.


Mampus ini namanya, masa aku tidak sakit harus meminum obat. Batin Pak Ben.


"Iya, Bang sebaiknya minta saja pada Dokter tadi."usul Isyah.


"Benar, tunggu disini Abang mau minta obat untuk Papa dulu."ucap Amit yang akan pergi.

__ADS_1


"Tidak usah, mungkin nanti akan ada perawat yang akan mengantarkan obat kesini."cegah Pak Ben.


Jangan Amit, ayolah jangan. Batin Pak Ben.


"Tidak, Pa. Bagaimana Papa mau sembuh kalau tidak minum obat,"ujar Amit.


"Benar, apa yang di katakan oleh Bang Amit. Pa."tambah Isyah.


Kenapa kompaknya di saat seperti ini mereka, bagaimana ini. Batin Pak Ben.


Amit tidak menghiraukan ucapan Papanya lagi ia langsung saja pergi sedangkan Isyah, ia membuka kotak makanan lalu ia mulai menyuapi Pak Ben.


"Papa, makan yang banyak ya. Biar cepat sembuh, mungkin karena Papa terlalu capek makanya Papa sakit."ucap Isyah sambil menyuapi makanan pada Pak Ben.


"Terimakasih, sayang ..."ucap Pak Ben dengan sangat lembut.


..


Amit berjalan menuju ruangan Dokter Iyan setelah sampai ia langsung bergegas masuk kedalam.


"Permisi, Dok."ucap Amit sambil membuka pintu ruangan Dokter Iyan.


"Masuk,"jawab Dokter Iyan.


Amit duduk di depan Dokter Iyan.


"Dok, apa hasil pemeriksaan papa saya sudah keluar?"tanya Amit sambil menatap wajah Dokter Iyan.


"Sudah, dan saya akan sampaikan. Sebenarnya kami juga belum mengetahui apa penyakit pak Ben yang langkah ini, dan penyakit ini entah bisa di sembuhkan atau tidak. Saya sarankan supa Pak Amit membuat pak Ben bahagia di sisa hidupnya,"ungkap Dokter Iyan membuat Amit terdiam.


.


.


.


Bersambung.


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2