
Isyah menyadari dirinya tidak menggunakan hijab sehingga ia langsung melepaskan pelukannya, lalu ia mengambil hijab yang berada di meja lalu ia segera menggunakannya.
"Aku, sudah melihatnya tadi. Lalu untuk apa kau mengenakannya lagi?"tanya Amit yang menatap Isyah menggunakan jilbab.
"Bang, itu aurat wanita. Isa tadi gak tahu kalau Abang masuk jadi belum pakai hijab,"jelas Isyah sambil duduk kembali di tempat tidur.
"Ya udah, Abang kembali kedalam kamar ya?"ucap Amit yang bangkit namun tangannya di tarik oleh Isyah.
"Bang, jangan pergi disini aja ya, apa aku ikut Abang aja. Aku takut, Bang ..."ucap Isyah dengan sangat lirih membuat Amit tak tega.
"Sebaiknya kamu pulang saja kerumah pak Salam, bukankah disana ada saudara wanita mu?"usul Amit sebab ia tidak mau berduaan dengan Isyah dalam satu kamar.
"Ya ampun, apa Abang gak liat di luar hujan deras dan ada petir juga. Kalau aku kenapa-kenapa Abang mau tanggung jawab?"ucap Isyah sambil menatap wajah Amit.
Bagaimana ini, tidak mungkin juga aku tinggalkan dirinya sendiri. Mana semua pembantu pulang kerumah masing-masing lagi, batin Amit.
"Baiklah, Abang tidur di sofa aja dan kamu tetap disini."ucap Amit yang bergegas pergi menuju sofa.
"Baik, Abang ..."ucap Isyah dengan sangat lega Amit mau menemaninya sebab ia merasa sangat ketakutan.
Amit menidurkan tubuhnya di sofa lalu ia menutup matanya dengan perlahan lalu ia merasakan, ada selimut yang menutupi seluruh tubuhnya lalu ia membuka matanya.
"Isa,"
"Iya, pasti Abang merasa dingin bukan?"ucap Isyah sambil menyelimuti seluruh tubuh Amit menggunakan selimutnya.
"Iya-iya, cepat kamu tidur."ucap Amit dengan sangat dingin sedingin cuaca malam ini.
Isyah kembali ke tempat tidurnya lalu ia mulai tidur ia merasa sangat sakit di bagian perutnya, perlahan ia bangun dan melihat Amit tertidur pulas ia tidak bisa menahan sakit di bagian perutnya.
"Sakit sekali, bagaimana ini aku ke dapur tapi. Takut mana masih hujan lagi."ucap Isyah sambil menahan rasa sakit di bagian perutnya.
Isyah berjalan menghampiri Amit lalu ia menghampiri Amit dan membangunkan Amit, dengan cara menggoyangkan tubuh Amit dengan perlahan.
"Bang, bangun temani Isa yuk ke dapur."ucap Isyah sambil menggoyangkan tubuh Amit.
Amit bangun dan dia duduk lalu ia menatap wajah Isyah dengan sangat kesal.
"Ada apa lagi?"ucap Amit dengan sangat ketus.
"Perut Isa sakit, Bang. temani ambil air hangat ya?"pinta Isyah dan Amit menghembuskan nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Baiklah, ayo."Amit bangun dan ia mulai berjalan sambil membawa ponselnya yang menerangi jalan.
Isyah mengikuti langkah Amit dari belakang sambil memegang perutnya sebab terasa sangat nyeri.
Setelah sampai di dapur Isyah langsung membuat air hangat setelah selesai ia langsung bergegas menghampiri Amit.
"Ayo, Bang."ucap Isyah yang menghampiri Amit di meja makan lalu Amit mengikuti langkah Isyah.
Setelah sampai di dalam kamar Amit meletakan kembali ponselnya di meja agar kamar Isyah terang, setelah itu ia kembali tidur dengan sangat nyenyak sedangkan Isyah tidak bisa tidur.
"Udah minum air hangat, perut ini masi sakit aja mana hujan deras lagi mau beli obat juga gak bisa,"ucap Isyah sambil menatap langit-langit kamarnya.
Tak berselang lama ponsel Amit mati sebab habis baterai sontak saja membuat Isyah menjerit keras.
"Aaahhhkkk !" teriak Isyah membuat Amit terkejut dan terjauh di lantai.
"Ya ampun, Isa! Ada apa lagi!"bentak Amit dan ia langsung bangun lalu ia mencoba untuk menghampiri Isyah, dengan cara meraba-raba jalan sambil terus berjalan.
"Bang, tolong gelap!"teriak Isyah membuat Amit kesal.
"Berhentilah, cepat nyalakan ponselmu,"ucap Amit yang berhasil menghampiri Isyah dan ia memegang tangan Isyah.
"Lupa dimana ponsel Isa, Bang."ucap Isyah sontak saja membuat Amit semakin kesalnya bukan main.
"Kita tidur aja, Bang."jawab Isyah membuat Amit menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
"Cepat, jangan berisik lagi."ucap Amit yang menidurkan tubuhnya di samping tubuh Isyah.
Mereka tidur dengan sangat nyenyak, Isyah merasa tidak takut seba Amit ada di sampingnya ia memegang tangan Amit dak tidak melepaskannya.
Pak Ben tertawa-tawa sebab rencananya berjalan dengan sangat lancar.
"Bagus, Sen. Kau menjalankan tugas-tugas mu dengan sangat baik, pastikan lampu menyala setelah pagi hari,"ucap Pak Ben melalui video call dengan Sen satpam dirumahnya.
"Siap, Pak. Saya akan menjalankan semua apa yang Bapak tugaskan."ucap Sen sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu saya tutup dulu ya,"ucap Pak Ben yang memutuskan sambungan teleponnya.
"Papa mau kamu cepat menikah, sebab Papa tidak mau melihatmu seperti seorang mafia hanya karena seorang wanita. Papa tahu kamu sangat mencintainya tapi, dia sudah meninggal ... "ucap Pak Ben sambil menatap foto Amit di ponselnya.
Pak Ben teringat masa-masa dimana Amit masih remaja.
__ADS_1
Amit remaja yang sangat ceria baik hati dan suka membantu orang banyak, namun. Sikap itu hancur dan musnah saat pujaan hatinya meninggal mulai dari itu Amit menjadi seperti seorang mafia di mata Pak Ben.
Pak Ben tidak mengetahui kalau anaknya benar-benar seorang mafia penjahat berdarah dingin, sebab Amit sangat pandai merahasiakan identitas dari sang Papa.
...
Setelah pagi hari Amit terbangun ia membuka matanya dan ia sangat terkejut melihat dirinya, memegang tangan Isyah dan ia langsung melepaskannya lalu ia menatap wajah Isyah.
Aku lupa kalau semalam aku memang tidur disini, sebab lampu rumah ini mati, eh, mati. Lalu ini apa. Batin Amit sambil menatap kearah lampu yang menyala terang.
"Sa, bangun!"teriak Amit sontak membuat Isyah terbangun.
"Ada apa, Bang."ucap Isyah serak khas orang baru bangun tidur.
"Abang tanya, apa semalam memang mati lampu bukan?"tanya Amit dengan sangat bingung.
"Eh, kayaknya gitu tapi, ini lampunya hidup, Bang."ucap Isyah yang melihat lampu kamarnya menyala terang.
Tidak mungkin kami berhalusinasi, aku merasa ada seseorang yang merencanakan semua ini dan bodoh sekali aku. Bisa-bisanya aku tidak menyadarinya, batin Amit.
Amit tidak mengatakan apapun ia bangun dan bergegas pergi dari kamar Isyah menuju kamarnya.
Isyah menatap kepergian Amit.
Sebal, dia kira ini semua adalah rencana ku. Dasar kutub Utara dan kulkas dua pintu, batin Isyah.
Isyah bergegas pergi menuju kamar mandi ia langsung mandi setelah selesai mandi ia langsung bergegas, memakai seragam Sekolah berwarna abu-abu sebab hari ini ia akan ada upacara bendera.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.😘