
Setelah Amit sampai di rumah Gilang ia langsung bergegas masuk akan tetapi sebelum, ia masuk kedalam rumah Gilang ia sudah di halangi oleh beberapa anak buahnya Gilang.
"Jangan halangi jalan ku!"teriak Amit membuat anak buahnya Gilang langsung menyerangnya.
Amit membalas setiap pukulan dan serangan dari anak buah Gilang sehingga ia dapat mengalahkan mereka semua.
Amit berjalan masuk kedalam rumah Gilang lalu ia berlari untuk mencari keberadaan Isyah.
"Brengsek! Keluar kau, aku tahu kau yang membawa Isa!"teriak Amit membuat Gilang tersenyum.
Ternyata Amit sudah tidak mencintai Difa lagi, aku benar-benar sangat tidak biasa menerimanya sebab kematian akan di balas oleh kematian. Batin Gilang.
Gilang menatap wajah Isyah yang masih pingsang akibat bius yang ia berikan tadi, semakin lama ia memandang wajah Isyah semakin ia melihat Difa ada di diri Isyah.
"Kenapa anak ini wajahnya mirip, Difa. "ucap Gilang yang mulai mendekati Isyah ia hendak mengelus pipi Isyah, akan tetapi Amit berhasil mendongkrak pintu kamar dan ia juga berhasil menendang Gilang dari belakang.
"Aaahhhkkk!"pekik Gilang yang terjatuh di lantai.
Amit menatap kearah Isyah yang sudah di ikat oleh Gilang membuat Amit sangat marah.
"Kau, berani-beraninya melukai Isa seperti ini!"teriak Amit sambil menghampiri Gilang dan ia hendak memukul wajah Gilang, akan tetapi Gilang berhasil memukul wajahnya terlebih dahulu.
Amit mengelap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah dan ia menghampiri Gilang, ia menghajar Gilang tidak ada ampunnya membuat Gilang terluka parah.
"Kau, beraninya kau melukai aku ...Kita lihat saja aku akan membalas setiap perbuatan mu, nyawa di balas nyawa! "teriak Gilang sambil memegang dadanya.
Amit tidak memperdulikan ucapan Gilang ia melepas tali yang mengikat tubuh Isyah lalu ia menggendong Isyah, sampai keluar ia memasukkan Isyah kedalam mobil dan ia mulai melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Setelah sampai ia menggendong Isyah masuk kedalam dan ia langsung membawa Isyah masuk kedalam kamar Isyah, ia meletakkan tubuh Isyah dengan perlahan lalu ia menyelimuti tubuh Isyah menggunakan selimut tebal.
"Aku akan melindunginya, aku tidak akan membiarkan hal yang buruk terjadi pada Isa, sebab dia tidak salah apapun bahkan aku juga tidak bersalah hanya saja. Psikopat itu ingin melenyapkan aku dan keluargaku bahkan apa saja akan dia lakukan."ucap Amit yang bergegas pergi dari kamar Isyah.
...
Pagi hari tiba pada hari Sabtu ini Amit bersantai di rumah sambil meminum segelas teh hangat, ia membaca majalah sebab hari ini hujan membuatnya tidak bisa berolahraga di halaman rumahnya.
"Aku akan membuat rencana yang bagus untuk Gilang."ucap Amit sambil memegang ponselnya.
__ADS_1
πKen.
(Pastikan bahwa rencana B kita akan lancar, jangan lupa untuk selalu waspada akan Gilang jangan sampai dia mengetahui rencana kita ini.)
Amit tersenyum melihat isi pesan yang ia tuliskan lalu ia mengirimkan kepada Ken.
..
Isyah bangun lalu ia melihat sekelilingnya dan ia bernafas lega sebab ia berada didalam kamarnya, ia mengingat kalau semalam ia di bius oleh laki-laki yang memakai topeng lalu ia tidak ingat apa-apa lagi.
"Syukurlah, aku sudah ada didalam kamar."
Isyah bangun dan ia merapikan tempat tidurnya lalu ia bergegas pergi menuju kamar mandi.
Setelah ia mandi ia mengenakan handuk kimono setelah itu ia bergegas pergi menuju lemari pakaian, akan tetapi ia melihat dirinya terlebih dahulu di cermin ia melihat kalau wajahnya sudah mulai putih bahkan kulit tubuhnya sudah mulai putih.
"Ternyata aku bisa putih juga, semoga semuanya tidak sia-sia perawatan sampai ratusan juta masa tidak putih,"ujar Isyah.
..
Fia sedang membersihkan rumah setelah selesai ia bergegas masuk kedalam kamarnya, ia melihat Nyia yang sedang bermain ponsel lalu ia langsung menghampiri Nyia.
"Ada rapat guru, jadi kami libur deh sampai hari Senin kedepan."jawab Nyia sambil bermain ponselnya.
"Oh, kalau begitu hari ini kamu aja yang bantuin bapak sama emak jaga Swalayan. Soalnya Kakak lagi pusing ini mau istirahat,"ujar Fia.
"Iya, masih hujan setelah hujan berhenti aku langsung ke sana ..."ucap Nyia sambil tersenyum melihat ponselnya.
...
Amit berjalan menuju kamarnya sebab ia ingin memeriksa berkas-berkas penting untuk lusa, ia tidak sengaja melihat berkas yang terlihat mencurigakan lalu ia melihatnya benar saja.
Ternyata berkas tersebut berisikan pengeluaran Aril yang memakai uang Kantor, untuk kepentingan pribadi bahkan uang yang di ambilnya mencapai satu milyar.
"Ini tidak beres, apa yang di lakukan anak itu ini bisa membuat perusahaan bangkrut kalau tidak di tindak lanjut kan. Aku benar-benar tidak percaya Aril akan melakukan hal seperti ini dia seperti sedang menusuk papa dari belakang."ucap Amit sambil menyalin laporan keuangan milik Perusahaan bahkan ia juga menyalin laporan keuangan Aril.
..
__ADS_1
Aril bersama dengan Pak Ben sedang meeting bersama rekan bisnisnya mereka, setelah selesai meraka kembali ke hotel sebab malam ini mereka akan segera pulang.
Pak Ben sangat menghawatirkan keadaan Isyah yang beberapa hari lalu demam sampai masuk rumah sakit.
"Kenapa semalam perasaanku tidak enak, akan keadaan Isyah bahkan aku juga mimpi buruk sampai aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku akan segera pulang untuk menjaga Isyah dari orang jahat yang akan melukai keluarga kami."ucap Pan Ben sambil membereskan barang-barangnya kedalam koper miliknya.
Aril merasa sangat gelisah sebab ia lupa mengheningkan barang bukti kalau ia memakai uang perusahaan, dengan jumlah yang agak banyak untuk keperluan pribadinya.
"Sial, kalu sampai Amit tahu aku memakai uang itu untuk aku dan wanita-wanita malam pasti aku akan habis, lalu bagaimana aku membereskan barang bukti kalau aku saja berada disini habislah aku ..."ucap Aril sambil meratapi keteledorannya tidak menghapus barang bukti miliknya.
..
Isyah berjalan menuju meja makan ia sarapan sendiri sebab, Amit tidak ada. Setelah selesai makan ia membereskan meja makan setelah itu ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk Amit.
Entah mengapa ia ingin membuatkan kopi untuk Amit, setelah selesai ia langsung membawakan kopi untuk Amit, ia tidak mengetuk-ngetuk pintu kamar Amit dan ia langsung masuk kedalam.
Ceklek!
"Bang, ini kopi untuk Abang."ucap Isyah yang masuk kedalam dan meletakan kopi di meja kecil kamarnya Amit.
"Terimakasih. Kau bisa pergi."ucap Amit dengan sangat dingin sedingin salju.
Kutub Utara ini benar-benar membuatku pusing, aku tidak tahu dia benar-benar kutub Utara atau sungai sih, batin Isyah.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.π