
Fia sangat kesal akan Nyia yang mau saja di bohongi oleh Aril tentang kalung tersebut dan Fia meminta, Nyia untuk melepaskan kalung tersebut akan tetapi Nyia tidak mau sebab kalung tersebut sangat cantik di matanya.
"Kamu, kenapa mau saja di bohongi sama buaya darat kayak dia. Bukankah kita sama-sama tahu kalau dia itu brengsek?"ucap Fia sambil menepuk pundak Nyia dengan perlahan. "Biarkan saja, yang terpenting aku tidak di permainkan dengannya."jawab Nyia membuat Fia semakin kesal.
"Terserah padamu, dan hal ini akan Kakak beritahu Isa."ucap Fia yang bergegas pergi masuk kedalam kamar mandi. "Kak, jangan!"teriak Nyia sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. "Kakak tidak peduli!"teriak Fia dari dalam kamar mandi.
Nyia duduk di bibir ranjang sambil memikirkan bagaimana caranya agar kalungnya tidak di ambil. "Sepertinya, aku harus menyembunyikan kalung ini saat kak Isa tahu. Sayang sekali jika kalung ini di ambil bukankah bang Aril bilang jika dia menganggap ku sebagai Adiknya."ucap Nyia sambil tersenyum sebab ia sudah ada cara agar Fia tidak lagi marah padanya.
Fia sangat kesal pada Nyia sehingga ia hanya duduk saja di toilet. "Sadar pembohong, A, jelas-jelas Aril, dan mana Ada Anyi. Jelas-jelas namanya Nyia."ucap Fia dengan sangat kesal akan sikap Nyia padanya.
Keesokan harinya ...
Pada pagi ini Fia sengaja duduk di depan rumah sebab ia tengah menunggu Aril, tak berselang lama akhirnya Aril keluar dari rumah dan Fia cepat-cepat menghampiri Aril. "Bang, Aril!"teriak Fia dan Aril langsung menoleh. "Ada apa?"jawab Aril sambil menatap wajah Fia.
"Apa maksudmu, memberikan kalung inisial A?"tanya Fia sontak membuat Aril terkejut dan ia langsung terdiam. "Bagaimana ini, apa alasanku padanya. Tidak aku berkata jujur padanya kalau aku menyukai Nyia."ucap Aril dalam hatinya.
"Katakan!"bentak Fia membuat Aril refleks berkata apa yang ada didalam pikirannya tadi. "Aku menyukainya."Aril langsung menutup mulutnya menggunakan tangannya, dan Fia langsung menggelengkan kepalanya. lalu Aril menarik tangan Fia masuk kedalam mobilnya.
"Lepaskan."ucap Fia dengan sangat kesal. "Aku tadi salah bicara."jelas Aril akan tetapi Fia tidak percaya begitu saja padanya. "Abang tahu, jika aku dan Nyia itu seperti mertua Abang. Sebab kami ini adalah Tantenya, Erla."ucap Fia membuat Aril terdiam sebab ucapan Fia ada benarnya juga. "Abang, seharusnya tidak seperti ini sebab. Abang bisa merusak persaudaraan kami dengan, Erla."tambah Fia dan ia langsung keluar dari mobil Aril dan bergegas pergi menuju rumahnya.
Aril hanya menatap kepergian Fia sambil terus-menerus memikirkan ucapannya Fia barusan.
"Abang tahu, jika aku dan Nyia itu seperti mertua Abang. Sebab kami ini adalah Tantenya, Erla."
"Masa bodoh, sebaiknya aku lupakan saja ucapannya, Fia tadi."ucap Aril sambil mengemudikan mobilnya menuju Kantor.
__ADS_1
Satu bulan kemudian ...
Hari ini Isyah berada di rumah sebab ia sudah libur sehabis ujian semester pertama pada Seminggu yang lalu, kini ia sedang membuatkan sarapan untuk Amit sebab hari ini Amit libur karena hari ini hari Sabtu.
Setelah selesai ia langsung berjalan menuju kamarnya untuk memanggil Amit, ia masuk kedalam kamar dan ia menghampiri Amit yang berada di atas tempat tidur. "Bang."panggil Isyah dan Amit langsung bangun dan duduk di samping Isyah. "Bersiaplah, sebab kita akan pergi Berlibur."ucap Amit sontak membuat Isyah terkejut, pasalnya Amit mengajaknya berlibur tiba-tiba tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu.
"Kenapa hanya diam saja?"ucap Amit dan Isyah langsung tersenyum, sebab dirinya sangat bahagia di ajak pergi sebab dirinya sangat mencintai Amit, dari beberapa bulan yang lalu. "Baik, akan tetapi kita sarapan dulu."ucap Isyah dan Amit tersenyum lalu ia menarik tangan Isyah dan mencium kening Isyah.
"Ah, manisnya. Bang sudah berbuah apa dia sudah mencintai ku?"pikir Isyah dalam hatinya.
*
*
Aril dan Nyia semakin dekat beberapa bulan terakhir ini sebab Aril sudah mempengaruhi Nyia, mereka kerap kali menghabiskan waktu bersama saat akhir pekan dengan berjalan-jalan di tempat wisata. Tanpa ada yang tahu mereka berdua pergi sebab Aril selalu memberikan Erla uang untuk berbelanja.
"Aku akan membuat dia mencintaiku, sebab aku tidak akan melepaskan dia lagi sudah cukup aku tidak bisa mendapatkan hati kakaknya, dan aku harus mendapatkan hati adiknya karena aku akan mengatur semuanya."ucap Aril sambil tersenyum simpul.
Nyia hari ini pulang cepat dan kini ia sudah pulang ia berjalan menuju mobil Aril sebab mereka sudah membuat janji, ia langsung masuk kedalam mobil Aril lalu ia duduk dan tersenyum manis kepada Aril. "Sudah lama, menunggu?"tanya Nyia dan Aril menggelengkan kepalanya. "Tidak, sayang."jawab Aril sambil mengelus-elus kepala Nyia yang masi menggunakan hijab.
"Bang, benarkah jika Abang hanya menganggap Nyia sebagai Adiknya, Abang saja?"tanya Nyia dan Aril tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Mana mungkin, Abang berbohong."jawab Aril dan Nyia tersenyum sebab keraguannya sudah hilang, sebab Fia sering kali menasehatinya agar menjauhi Aril.
"Dia itu Bajingan, mana ada bajingan mengaku, sebaiknya kamu jauhi dia saja karena dia akan menjadi petaka untuk kita, mana ada adik dan kakak selalu bersama-sama tanpa membawa istrinya."
__ADS_1
*
*
Kini Amit dan Isyah sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Villa mereka yang ada di Kota J, kini mereka tengah berpamitan dengan Pak Ben karena mereka akan berbulan madu.
"Kalian hati-hati, apa kalian akan berbulan madu?"tanya Pak Ben yang menatap kearah anak-anaknya.
"Tidak,"
"Iya."
Semua orang menatap kearahnya Amit sebab Amit menjawab iya sedangkan Isyah menjawab tidak. "Sebaiknya kita pergi saja."ucap Amit yang mendorong kopernya. "Kami pergi dulu, Pa. Assalamualaikum."ucap Amit yang berjalan mendahului Isyah.
"Pa, kami pergi. Erla pergi dulu."ucap Isyah yang mengelus-elus perut Erla yang sudah mulai besar. "Iya, hati-hati."jawab Erla dengan sangat cuek. "Assalamualaikum."ucap Isyah.
"Wa'alaikumsalam."jawab Pak Ben dan Isyah langsung bergegas pergi menuju mobil Amit yang sudah terparkir di depan pintu.
Setelah mereka masuk mobil Amit mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sebab perjalanan mereka tidak jauh, hanya butuh waktu tiga jam saja tidak lebih selama di perjalanan mereka berdua sama-sama diam dalam pikiran masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.