
"Tidak mungkin, bukankah pak Ben hanya memiliki dua putra saja?"ucap Pak Saja dengan sangat penasaran.
"Benar, itu."tambah Pak Abas.
Haduh, benar-benar membuatku sial hari ini bersama dengannya, batin Amit.
"Saya mohon semuanya tenang, saya akan menjelaskan siapa dia sebenarnya. Dia anak angkatnya papa saya dan berarti dia adik saya bukan?"jelas Amit membuat rekan bisnisnya tersenyum.
"Oh, seperti itu saya kira dia pacar Pak Amit."ucap Pak Abas sambil melirik kearah Isyah.
Isyah yang menyadari kalau Pak Abas meliriknya ia langsung membuang pandangannya.
15 menit kemudian.
Setelah selesai meeting Amit menghampiri Isyah yang duduk di bangku kekuasaannya.
"Kau mau pulang atau masih mau disini, aku akan memesankan Taksi untukmu,"jelas Amit dengan sangat dingin dan cuek.
Isyah berjalan mendekati Amit.
"Disini saja Bang, takut kalau pulang naik Taksi sebab Isa ... "terputus Amit menutup mulut Isyah menggunakan tangannya lalu ia dan Isyah saling menatap satu sama lainnya.
"Jagan banyak bicara, kau katakan saja kalau kau masih ingin disini. Jangan banyak sekali bicara aku tidak menyukainya,"ucap Amit dengan sangat ketus dan ia menatap tajam kearah Isyah.
Ya Allah, lindungilah hamba dari psikopat ini. Batin Isyah.
Amit melepaskan tangannya lalu ia langsung mengerjakan tugasnya sebagai seorang Asisten, sedangkan Isyah duduk di sofa lalu ia menidurkan tubuhnya dan ia langsung terlelap.
Lihat saja nanti, aku akan membalas mu hari ini aku benar-benar sial akibat ulahnya. Batin Amit.
...
Fia menjemput Nyia menggunakan motor matic milik Bapaknya saat ia memasuki rumah Pak Ben, ia melihat Aril yang terus-menerus menatap wajahnya dengan sangat genit.
Jijik aku melihat laki-laki mesum seperti itu, batin Fia.
Aril yang terus-menerus menatap wajah Fia di kejutkan oleh kedatangan Papanya.
"Sudah cari, dimana keberadaan anak gadisku!"teriak Pak Ben membuat Aril terkejut dan melompat.
"Papa! Mengejutkan aku saja."ucap Aril dengan sangat kesal.
"Telepon Amit, aku takut dia lupa menjemput Isyah."ucap Pak Ben dengan sangat cemas memikirkan tentang Isyah, yang tak kunjung pulang sudah siang seperti ini.
"Iya."
Aril langsung menelepon Amit tapi tak kunjung di angkat.
"Pa, emangnya kalau Isyah itu pulangnya jam berapa sih?"tanya Aril sambil terus-menerus menelfon Amit.
"Biasanya jam dua, kalau sekarang dia cepat pulangnya sebab dia habis ujian jadi tidak ada pelajaran lagi,"jelas Pak Ben.
"Benar, ini sudah jam dua sing. Sebaiknya aku kembali ke Kantor ya, Pa. Kasihan Amit sendirian dan aku nanti menanyakan dimana Isyah."ucap Aril yang bergegas masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Pak Ben merasa sangat cemas akan keadaan Isyah sehingga ia memutuskan untuk tidur, sebab kalau ia terus-menerus memikirkan tentang Isyah ia kan jatuh sakit.
Fia membersihkan tempat tidurnya bersama dengan Nyia adik bungsunya, mereka bekerja sama dengan sangat baik dan sesekali mereka tertawa bersama.
Fia terdiam mengingat Adiknya Isyah yang dua hari belum ia temui.
"Rindu Isyah ya, nanti malam kita temui dia,"ucap Fia kepada adik bungsunya.
"Iya, aku juga rindu sama si beti itu,"sambung Nyia dengan tawanya.
...
Aril sudah sampai di Kantor akan tetapi ia lupa untuk menghampiri Amit sehingga ia langsung masuk kedalam ruangannya, ia mulai mengerjakan pekerjaannya dengan sangat serius sampai sore hari.
Setelah selesai semua pekerjaannya ia langsung bergegas pulang menuju rumah, ia sama sekali tidak ingat tentang pacar kecilnya ya itu Isyah.
..
Amit membangunkan Isyah dengan cara menjatuhkan tubuh Isyah ke lantai dengan sangat kuat.
Bruk!
"Aahhkk!" pekik Isyah yang mengelus bokongnya yang terasa sangat sakit.
"Cepat, aku tunggu di luar."ucap Amit dengan sangat cuek dan dingin.
Dasar gila, kutub Utara. Dia kira aku boneka tidak sakit kalau jatuh begini. Batin Isyah.
Isyah berjalan perlahan menuju luar saat ia di luar ia sudah tidak melihat Amit lagi.
"Kemana dia, mana disini udah sepi lagi ... Hiks, hiks, hiks, "Isyah menangis tersedu-sedu dan ia mendengar suara Motor melaju kearahnya.
"Bang Amit!"teriak Isyah dengan sangat girang dan ia langsung menghampiri Amit yang berhenti dihadapannya.
"Mala diam lagi cepat naik!"
Isyah langsung naik dan ia menghapus air matanya.
"Abang tadi kemana si?"tanya Isyah dan Amit tidak menjawabnya.
Amit mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai di rumah.
..
Setelah sampai di rumah Aril masuk kedalam dan ia melihat Papanya yang gelisah mondar-mandir.
"Ada apa sih, Pa. Kok mondar-mandir kayak setrikaan aja."ucap Aril dengan sangat santai sambil duduk di sofa.
Pak Ben langsung menghampiri Aril.
"Dimana anak gadisku?"tanya Pak Ben sontak saja membuat Aril baru teringat akan Isyah.
"Ya ampun, lupa ..."ucap Aril dengan sangat panik sebab ia takut kalau Papanya akan marah kepadanya.
__ADS_1
"Aril ..."Pak Ben mulai menatap tajam kearahnya.
"Assalamualaikum, Papa. "ucap Isyah sambil mencium tangan Pak Ben.
"Wa'alaikumsalam, Nak, kamu dari mana saja Papa cemas."ucap Pak Ben yang memeluk Isyah.
"Dia ikut Amit, ke Kantor sebab tadi Amit buru-buru gak sempet ngantar dia pulang,"ucap Amit yang baru masuk kedalam dan ia langsung bergegas pergi menuju kamarnya.
"Yasudah, yang terpenting anak Papa ini baik-baik saja, cepat ganti baju sana."ucap Pak Ben dan Isyah langsung bergegas pergi menuju kamarnya dan diikuti oleh Aril.
Isyah menghentikan langkahnya saat melihat Aril hendak masuk kedalam kamarnya bersama dengannya.
"Ada apa?"ucap Aril yang melihat Isyah menghentikan langkah.
"Untuk apa Bang Aril masuk?"ucap Isyah dengan sangat bingung.
"Nanti aku akan jelaskan, Tapi. Kita masuk dulu,"ucap Aril yang masuk kedalam kamar Isyah.
Isyah mengikuti langkah Aril saat ia masuk Arip langsung mengunci pintu kamarnya dan ia merasa aneh.
"Kenapa di kunci, Bang?"tanya Isyah yang mulai cemas.
"Sini, sini."Arip menarik tangan Isyah duduk di ranjang Isyah.
Aril langsung melahap bibir ranum milik Isyah dengan sangat lembut dan Isyah hanya diam saja, ini kedua kalinya mereka melakukan hal itu bersama dan kali ini Isyah tidak memberontak.
Aril menyudahinya dan ia mulai mencium wajah Isyah lalu ia membuka hijab Isyah, ia sangat terpana akan kecantikan Isyah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Kamu, manis, cantik."ucap Aril.
Isyah kembali memakai jilbabnya lalu ia bangun dan membuka pintu kamarnya.
"Sebaiknya, Abang keluar dan jangan pernah lakukan itu lagi."ucap Isyah dengan sangat tegas.
Aril berjalan mendekati Isyah dan ia membisikan sesuatu di telinga Isyah.
"Kalau enak, besok kita lakukan lagi bila perlu malam ini kita bisa melakukannya dengan sangat puas."bisik Aril di telinga Isyah.
"Pergi!"teriak Isyah.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.😘