
Malam hari tiba Amit sedang duduk sambil menatap kearah jendela kamarnya yang terlihat hujan deras, ia sangat mencintai mantan pacarnya yang sudah beberapa tahun lalu meninggal dunia.
Ya, memang mereka tidak berpacaran akan tetapi Amit menganggap bahwa mereka berpacaran sebab Amit sangat mencintainya.
"Aku rindu kamu, sayang. Andai kamu masih ada disini mungkin kalung ini sudah aku pasangkan di leher mu ..."ucap Amit lirih ia meneteskan air matanya sambil memegang kalung emas berbalut berlian berwarna merah muda.
Flashback on.
Amit adalah remaja yang sangat taman di kampusnya ia menjadi pangeran di kampusnya, akan tetapi tidak ada wanita yang bisa membuka hatinya sehingga suatu hari ia bertemu dengan seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu berhijab dan sangat pandai dalam ajaran Islam, Amit sangat menyukai wanita tersebut sehingga suatu hari ia melamar wanita tersebut.
"Difa, aku ingin kamu menjadi Makmun ku ..."ucap Amit sambil memberikan buang mawar kepada Difa.
Difa melihat di sekelilingnya tidak ada orang sama sekali barulah ia bernafas lega.
"Amit, bukannya aku gak mau nerima cinta kamu tapi. Aku belum siap dan aku juga tidak akan lama di dunia ini,"jelas Difa membuat Amit terkejut akan ucapannya.
"Ma-maksudnya, kamu bicara apa?"ucap Amit terbata-bata sebab cintanya di tolak dan ia mendengar ucapan Difa, seperti memberikan isyarat kepadanya.
"Amit, hidup seseorang kita gak bakal tahu. Bisa jadi beberapa menit kemudian kita sudah pulang ke sisi Allah, jadi. Kita tidak boleh merencanakan sesuatu yang di luar dugaan kita ... Kalau kita berjodoh maka kita akan bertemu di lain waktu ataupun di lain dunia ..."ucap Difa membuat Amit merasa sangat gelisah.
"Difa, aku udah cinta sama kamu selama beberapa tahun ini dan aku juga sudah menganggap kita sebagai pacar."ucap Amit sambil menatap wajah Difa dengan sangat dalam.
"Amit, bukankah aku tidak mau untuk berpacaran,"sambung Difa yang berlalu pergi.
Amit mengejar Difa sampai di jalan raya dan Difa hendak menyebrang jalan akan tetapi ada sebuah, mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak Difa.
Bruk!
"Difa!"teriak Amit yang melihat Difa sudah bersimbah darah dan tubuh Difa hancur berkeping-keping.
Dengan tubuh bergetar hebat Amit mencoba untuk menghampiri jasad Difa yang sudah tidak bersatu lagi.
"Di- Difa ... Aku mohon jangan pernah bicara seperti itu lagi dan jagan tinggalkan aku!"teriak Amit sambil menatap tubuh Difa yang sudah berserakan.
Flashback off.
Amit menangis tersedu-sedu sambil memegang kalung yang ia beli untuk calon istrinya.
"Difa, aku benar-benar rindu kamu. Apa kamu tahu cinta ini tidak ada yang bisa merebutnya selain kamu ... Andai saja kamu tidak bicara seperti itu pada saat itu mungkin kita sudah bahagia sekarang ... "ucap Amit dalam isak tangisnya.
__ADS_1
Isyah menguping ucapan Amit dari pintu kamar Amit sontak saja membuat ia sangat terkejut.
Ternyata bang Amit bisa menangis tersedu-sedu, aku kira dia mafia penjahat berdarah dingin. Sebenarnya apa yang terjadi pada kekasihnya dan mengapa mereka berpisah, ini semua membuat aku penasaran dan kenapa bang Amit tidak bersuara keras agar aku bisa mendengarnya bicara, batin Isyah.
Isyah tidak mendengar apa-apa lagi sehingga ia mencoba untuk menempelkan kupingnya dengan sangat dalam, pada saat itu juga Amit membuka pintu kamarnya sehingga Isyah terjatuh di lantai dengan sangat kuat.
"Aaahhhkkk!"pekik Isyah.
Sial, bocah bau kencur ini mendengar ucapan ku tadi, batin Amit.
Amit membantu Isyah bangun lalu ia menatap wajah Isyah.
Kalau tadi Bang Amit nangis seharusnya matanya merah dong, tapi. Sekarang kok biasa saja ya. Batin Isyah.
"Kau tidak apa-apa?"tanya Amit dengan sangat lembut.
Tuh, kan, dia baik banget sekarang dan aku semakin takut padanya apa dia akan melukai ku dan membunuhku dengan sangat kejam, batin Isyah.
Amit menatap kesal kepada Isyah pasalnya ucapannya tidak di jawab sama sekali oleh Isyah.
Anak ini benar-benar membuatku kesal, kalau bukan karena Difa sudah aku habiskan anak ini. Batin Amit.
Dasar kutub Utara, tapi. Aku masih penasaran akan apa yang aku dengar tadi, aku mendengar ucapan bang Amit kalau dia merindukan Difa. Batin Isyah.
Isyah berjalan menuju ruang makan dan ia langsung duduk di bangkunya lalu ia menatap wajah Amit, setelah itu ia juga menatap wajah Aril yang berhadapan dengannya.
Aku akan bicara kepada Aril nantinya, kasihan juga Isyah kalau Aril tidak bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Batin Amit.
"Sa, malam ini Papa akan keluar Kota bersama dengan Aril kamu dan Bang Amit dirumah saja ya."ucap Pak Ben yang sudah menyelesaikan makanya.
"Baik, Pa. Sampai kapan Papa disana?"tanya Isyah sambil meminum segelas susu hangat.
"Tidak lama, hanya satu Minggu saja."jelas Pak Ben.
"Kenapa, Papa tidak membawa ku ikut juga?"tanya Amit dengan sangat aneh pasalnya ia tidak di bawa pergi oleh Papanya, tidak seperti biasanya ia selalu pergi bersama Papanya bukan Aril.
"Tidak, apa-apa hanya saja kalau kamu ikut lalu siapa yang mengurus perusahaan?"Amit terdiam ia memikirkan ada baiknya juga di tetap tinggal.
Haduh, benar-benar membuatku semakin sebal aku harus menjaganya selama satu Minggu. Papa yang mengadopsi anak ini dan mala aku yang menjaganya, batin Amit.
Setelah semuanya selesai makan Pak Ben bersiap-siap untuk berangkat keluar Kota dan Amit, Isyah, mengantarkan Pak Ben sampai di depan rumah.
__ADS_1
Pak Ben memeluk Isyah dengan sangat lembut sambil mengelus kepala Isyah, lalu ia juga memeluk Amit sebab sebelumnya mereka tidak pernah berpisah.
"Mit, jaga adik mu baik-baik ya,"pesan Pak Ben sambil masuk kedalam mobil.
"Siap, Pa."jawab Amit.
Isyah melambaikan tangannya kearah mobil Pak Ben yang sudah pergi, setelah kepergian Pak Ben mereka berdua masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
Lagi-lagi hujan turun membuat Isyah ketakutan sebab ada petir yang menyambar, ia menutup wajahnya menggunakan selimut tebal.
Ya Allah, lindungilah Isa. Batin Isyah.
Tiba-tiba listrik rumah Pak Ben mati membuat Isyah berteriak histeris.
"Aaahhhkkk! "
Teriak Isyah sampai terdengar jelas oleh Amit membuat Amit panik dan langsung menghampiri Isyah, ia membawa ponselnya dan menghidupkan senter ponselnya lalu ia membuka pintu kamar Isyah lalu ia mencari keberadaan Isyah.
"Sa, Abang disini."ucap Amit yang membuka selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Isyah.
Isyah langsung memeluk Amit dengan sangat erat sebab ia sangat takut pada petir.
"Bang, Isa takut ..."ucap Isyah sambil mengais didalam pelukan Amit.
Amit mengelus rambut Isyah dengan perlahan agar Isyah biasa lebih tenang.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘
__ADS_1