
Amit dan Isyah saling menatap satu sama lainnya dalam waktu yang cukup lama, setelah mereka sadar Amit cepat-cepat bangun dan merapikan penampilannya.
"Maaf."ucap Amit yang berlalu pergi setelah kepergian Amit.
Isyah berjalan menuju pintu kamar dan ia langsung menutup lalu ia membuka hijabnya, ia duduk di sofa sambil mengingat-ingat kembali kejadian tadi.
"Kayaknya bang Amit dengar ucapan ku, apa dia akan merahasiakan hal itu kepada papa dan apa tanggapan dia tentang aku, pasti dia gak mau nikah sama aku dan aku juga gak sudi. Aku sempat berfikir kejadian tadi itu ada hubungannya sama bang Amit dia itu kayak mafia, penjahat berdarah dingin."ucap Isyah dengan sangat merinding memikirkan tentang seorang mafia.
...
Pagi hari tiba seperti hari biasanya Amit berlari pagi di sekitar kompleks perumahan, sambil ia memantau keadaan tentang Gilang mafia yang menjadi musuhnya selama ini.
Gilang tinggal tak jauh dari rumah Amit berada jadi, Amit berlari pagi sambil mengintai rumah Gilang.
Amit melihat kesunyian di rumah Gilang hingga ia pura-pura berhenti sejenak.
Kayaknya dia udah dapet kabar anak buahnya mati, di tangan ku ini, dia mencoba menghancurkan semua rencana yang sudah aku susun susah paya ... Aku tidak akan membiarkan dia terus-menerus merusak kehidupan Mafia hitam, batin Amit.
Amit bermusuhan semenjak perusahaan Papanya di usik oleh Gilang yang ingin menguasai, perusahaan yang susah payah di bangun oleh Pak Ben sejak lama dan Gilang ingin mengambil alih begitu saja.
Amit tak tinggal diam ia langsung membalas apapun yang di lakukan oleh Gilang kepadanya, bahkan Gilang nekat mau mencelakai Papanya waktu itu Gilang menabrak Pak Ben dan ada Isyah yang membantunya.
Gilang sedang duduk di bangku kekuasaannya dan ia mendapat kabar dari anak buahnya, kalau Amit mengintai dirinya di luar perlahan ia mengintip sedikit lewat jendela.
"Kurang ajar, dia sudah melenyapkan satu anak buahku dan ini dia mau apa dia mengintai rumahku. Kau lihat saja nanti aku akan mengusik kehidupan mu dan aku memiliki segala macam cara!"Gilang mengepalkan kedua tangannya lalu ia menatap tajam kearah Amit.
Amit merasa kalau rumah Gilang tidak ada orang sehingga ia berlari menuju rumahnya, yang berada tidak jauh dari rumah Gilang berada.
Setelah sampai di rumah Amit ia melihat Fia yang sedang menyapu halaman lalu ia mendekati Fia.
"Hay, "sapa Amit dan Fia langsung menoleh.
"Iya,"jawab Fia.
Ini Abang nya Aril yang di jodohkan dengan Isa, batin Fia.
"Boleh kenalan?"tanya Amit sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Maaf, saya masih banyak pekerjaan..."ucap Fia yang berlalu pergi dan Amit hanya bisa bernafas panjang.
"Huuuh, benar-benar sulit aku rasa dia tidak enak pada Isa, eh. Semalam aku mendengar kalau Isa sudah tidak lagi dan aku akan menanyakan hal itu pada Isa sendiri kalau aku bertanya kepada Aril mana mungkin dia mau ngaku, "ucap Amit yang berlalu pergi menuju rumahnya.
Setelah ia memasuki rumah ia menghampiri dapur sebab ia mencium aroma masakan yang lezat, ia mengira Bibi yang memasaknya akan tetapi ia melihat Isyah sedang memasak.
Isyah melihat kehadiran Amit namun, ia masa bodoh dan tak mau peduli ia melanjutkan masakannya dengan sangat lihay.
Aku jadi takut padanya, kadang-kadang dia seperti psikopat terkadang juga dia seperti mafia terkadang juga dia seperti anak manja dan yang ter asli dia adalah kutub Utara, batin Isyah sambil melirik kearah Amit.
"Dimana bibi sehingga kau yang memasak?"tanya Amit dengan sangat dingin.
Tu kan, benar dia berubah seperti semula menjadi kutub Utara, batin Isyah.
"Iya, ini semua aku yang memintanya, sebab aku merasa sangat bosan kalau terus-terusan di dalam kamar. Mungkin aku akan betah didalam kamar kalau sudah memiliki suami,"ucap Isyah dengan sangat polos membuat Amit terdiam.
Mesum juga anak ini, berarti benar adanya dan aku tidak mau menikahi bekas adikku yang sudah buka segel duluan, batin Amit yang berlalu pergi.
"Aneh sekali, dia bertanya dan malah pergi bahkan aku belum sempat mengucapkan terimakasih atas tadi malam."ucap Isyah yang fokus pada masakannya.
Setelah sampai ia langsung masuk dan ia melihat Fia yang sedang memasak, ia langsung menghampiri Kakaknya tersebut.
"Kemana aja sih, semuanya semalam aku cari-cari kok gak ada bahkan Erla juga gak ada."ucap Isyah dengan sangat kesal.
Fia tersenyum dan menghampiri Adiknya.
"Sabar, jangan marah dulu. Semalam kami membersikan Swalayan yang di sebrang jalan dan hari ini adalah perdana kami buka ..."jelas Fia dan Isyah langsung tersenyum manis dan bahagia.
"Wah, ternyata kita bakalan jadi orang kaya ..."ucap Isyah yang memeluk Fia sambil melompat-lompat.
"Udah, capek. sebaiknya kamu mandi habis itu kita buka deh Swalayan sama-sama soalnya bapak udah disana,"ungkap Fia sambil berjalan menuju kamarnya.
"Iya, iya. "ucap Isyah yang berlalu pergi meninggalkan rumah Bapaknya.
Ia berjalan perlahan menuju rumah Pak Ben saat ia di depan pintu matanya melihat ke seberang jalan, ia melihat Aril bersama dengan Erla sedang bercerita bersama terlihat mereka sangat dekat.
Sakit sekali hati ini, aku tahu selama ini kalau ada laki-laki yang mendekati aku pasti dia yang merebutnya, bagaimana ini kalau sampai bang Aril sama Erla bagaimana nasib ku ini, batin Isyah.
__ADS_1
Isyah masuk kedalam dengan perasaan yang campur aduk ia berlari menuju kamarnya namun, saat di tengah jalan ia bertabrakan dengan Amit dan mereka sama-sama terjatuh di lantai.
Bruk!
"Aaahhhkkk!"teriak Isyah.
Amit menatap tajam kearah Isyah dengan tatapan seorang mafianya.
Oh, tidak, bukankah itu tatapan seorang mafia atau psikopat. Batin Isyah.
"Ma-maaf, Bang ..."ucap Isyah terbata-bata sambil bangun dan ia membantu Amit bangun.
"Pakai tuh mata."ucap Amit dengan sangat ketus.
"Gimana mau jalan benar, aku tadi habis lihat bang Aril sama Erla bagaimana cobak nasib aku kalau mereka bersama ..."ucap Isyah yang menangis tersedu-sedu sambil berlari.
Amit hanya menatap kepergian Isyah.
Kayaknya mereka benar-benar sudah melakukan itu, dan aku tidak mau ikut campur urusan mereka biar mereka yang menyelesaikan masalah mereka. Aku juga tidak mau kalau menikahi gadis seperti Isa, batin Amit.
Isyah membanting tubuhnya di kasur lalu ia mengirimkan pesan kepada Fia.
💌
(Kalau masih ada Erla sama Aril disana aku gak mau kesana, sakit sekali hati ini rasanya apa Kak Fia gak kasih tau sama Erla tentang aku sama Bang Aril,)
Isyah mengisi nasibnya yang sudah tidak virgin lagi setahunya dan kenyataanya dia masih virgin, hanya saja ia sudah berciuman dengan Aril sebanyak dua kali dan itu tidak membuatnya kehilangan keperawanannya.
Namun, ia masih polos sehingga ia mengira ia sudah tidak virgin lagi akibat berciuman dengan Aril.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘
__ADS_1