Cinta Tulus Isyah

Cinta Tulus Isyah
#CTI Part 26


__ADS_3

Setelah Wiwit dan Amit sampai mereka langsung masuk kedalam dan Amit mengantarkan Wiwit, menuju kamar Isyah saat didepan pintu kamar Isyah dan Amit menghentikan langkahnya.


Sebaiknya aku tidak usah masuk, sebab aku tidak ingin menggangu mereka apa lagi Isa pasti dia akan marah, saat aku masuk dan dia tidak menggunakan hijab. Batin Amit.


"Wit, kamu masuk saja Abang mau masuk kedalam kamar Abang dulu,"dusta Amit padahal ia ingin memastikan bahwa Isyah sudah makan siang atau belum.


"Iya, Bang. Terimakasih ..."ucap Wiwit yang melihat kepergian Amit.


Wiwit mengetuk-ngetuk pintu kamar Isyah tak berselang lama pintu kamar Isyah terbuka dan ternyata Fia yang membukanya.


"Wiwit, masuk sini."ucap Fia sambil menarik tangan Wiwit masuk kedalam.


"Makasih ya, Fia."ucap Wiwit sambil tersenyum manis.


Setelah mereka masuk terlihat Isyah sedang tertidur pulas sebab Isyah habis meminum obatnya, dan mereka mulai bercerita bersama sebab mereka seumuran Wiwit dan Fia dulu satu kelas akan tetapi. Wiwit sering kali tinggal kelas dan akhirnya ia sekelas dengan Isyah.


...


Amit mencari keberadaan Bibi lalu ia menemukan Bibi di dapur sedang mencuci piring, ia langsung menghampirinya dan ia berdiri tepat di belakang Bibi.


"Bi, apa Isyah sudah makan dan minum obat?"tanya Amit dan Bibi langsung menoleh.


"Sudah, Den. Dan dia juga lagi tidur didalam bersama dengan Fia ..."ucap Bibi sambil mengerjakan tugas kembali.


Sebaiknya aku kembali ke Kantor saja, dan aku akan mengirimkan pesan kepada Isyah kalau aku tadi pulang. Batin Amit.


💌 Isyah.


(Sa, tadi Abang pulang dan Abang lihat kamu baik-baik saja. Jadi, Abang kembali ke Kantor lagi.)


Amit bergegas pergi dari rumahnya menuju Kantor dengan menaiki motor sport miliknya, selama di perjalanan ia terus-menerus memikirkan tentang keadaan Isyah.


Kenapa aku sangat cemas akan keadaan Isyah, mungkin karena aku mendapatkan amanah dari Papa mana besok aku harus menghadiri pernikahan. Anak rekan bisnis Papa kalau Isyah sudah sembuh akau akan mengajaknya, sebaiknya aku mampir dulu ke butik membeli gaun untuk Isyah. Batin Amit.


Amit melajukan motornya menuju Butik langganan keluarganya setelah sampai ia langsung masuk, ia menghampiri pemilik butik tersebut lalu mereka mencari gaun untuk Isyah.


"Ini sangat cantik, apa lagi dia berhijab bukan?"ucap Pemilik butik sambil mengambil kebaya modern dan berhijab.


Amit melihat-lihat kebaya tersebut lalu ia membayangkan Isyah memakainya.


Cantik, sebaiknya aku ambil ini saja dan aku juga akan membelikannya sepatu kaca. Batin Amit.


"Baiklah, saya mau yang ini dan saya juga mau pasangan baju ini dan sepatu kaca."ucap Amit sambil memegang kebaya yang akan ia beli tadi berwarna merah muda.


"Baiklah, berapa nomor sepatunya, Pak?"tanya pemilik Butik sontak saja membuat Amit membulatkan matanya, sebab ia tidak tahu ukuran kaki Isyah.


Mampus ini namanya, aku bahkan tidak tahu semana panjangnya kaki Isyah bagaimana ini, batin Amit.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Bu, akan tetapi ukuran badannya setandar."jelas Amit.


"Baiklah, saya tahu ukurannya,"ucap pemilik Butik tersebut.


Setelah selesai berbelanja Amit bergegas pergi dari Butik tersebut sebab ia sudah terlambat.


...


Isyah terbangun saat mendengar suara Fia dan Wiwit bercanda tawa, ia seakan tak percaya adanya Wiwit didalam kamarnya.


Wiwit datang sama siapa ya, kok dia bisa sampai di sini. Aku tanyakan kepada dia saja, batin Isyah.


Isyah bangun dan duduk, lalu ia menatap wajah Wiwit dan Fia.


"Yang benar, kamu tadi di antara sama bang Amit?"ucap Fia yang sangat terkejut saat Wiwit menceritakan kejadian tadi.


"Benar, untuk apa aku bohong, Fia ..."ucap Wiwit dengan sangat lembut.


Tidak mungkin, aku yakin kalau bang Amit mengantarkan Wiwit, batin Isyah sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


"Kamu tahu, Fia. Aku benar-benar menyukainya dan aku berharap kami bisa lebih dekat lagi ... "ucap Wiwit dengan sangat antusias.


"Wit ..."ucap Isyah dengan sangat lembut membuat mereka langsung menoleh dan menghampirinya.


"Kamu udah sadar, Sa."ucap Wiwit sambil tersenyum manis.


"Aku baik-baik kok, ini udah sehat lagi mungkin besok udah bisa masuk Sekolah lagi,"ucap Isyah dengan sangat lembut.


"Kayaknya hari udah semakin sore, aku pulang ya, soalnya takut ayah sama bunda nyariin ... "ucap Wiwit yang bergegas pergi meninggalkan kamar Isyah.


Setelah Wiwit pergi dari kamar Isyah barulah Isyah menarik tangan Fia mereka bertatapan.


"Ada apa, Sa?"ucap Fia dengan sangat bingung sebab tangannya tiba-tiba di tarik oleh Adiknya.


"Kak, apa benar kalau bang Amit nganterin Wiwit kesini tadi?"tanya Isyah sambil menatap kearah pintu kamarnya.


"Iya, ada apa. Jangan bilang kamu suka sama dia?"ucap Fia dengan tidak percaya.


"Bu-kan seperti itu, maksudnya aku hanya tanya saja kok, "ucap Isyah terbata-bata sebab ia sangat gugup.


"Hele ... Ngaku aja deh, sama Kakak jangan di sembunyikan seperti itu."ucap Fia yang sengaja menggoda adiknya tersebut.


"Tidak, "ucap Isyah sambil membuang pandangannya kearah jendela kamarnya.


"Sa, kayaknya Kakak harus pulang deh, kamu disini sendiri gak papa. Soalnya kan bang Amit sebentar lagi pulang ..."ucap Fia yang beranjak bangun.


"Iya, sana pergi ..."ucap Isyah dengan sangat lembut dan Fia langsung bergegas pergi dari kamar Isyah.

__ADS_1


Aku gak suka kok sama bang Amit, kutub Utara itu mana mungkin aku menyukainya, tidak-tidak. Batin Isyah.


....


Nyia sudah selesai membantu tugas dari Bapaknya kini ia akan pulang namun, ia menghentikan langkahnya saat melihat mantan pacarnya datang lagi.


Mampus, kali ini aku pasti ketahuan ini bagaimana ini ah, aku masuk kedalam kedalam mobil itu, batin Nyia yang masuk kedalam mobil.


Mobil itu entah siapa yang punya, Nyia masuk sambil melihat Zain yang masuk kedalam Swalayan.


Nyia bernafas lega lalu ia duduk dengan sangat santai sampai pemilik mobil tersebut masuk dalam.


"Aaahhhkkk!"teriak Nyia dan pemilik mobil itu secara bersamaan.


"Kamu mau maling, ya?"ucap Ken dengan sangat ketus.


"Aduh, eh Om, jangan sembarang ya lihat tu Swalayan milik bapak saya mana mungkin saya mau nyuri. Jagan ngada-ngada deh,"ucap Nyia sambil menunjuk-nunjuk kearah Swalayan.


"Wah, songong ni anak bauk kencur, saya masih muda jangan panggil saya Om!"bentak Ken membuat Nyia membulatkan matanya.


Ya Allah, lindungilah hamba dari penjahat berdarah dingin ini, batin Nyia.


"Mala bengong lagi, cepat keluar apa saya teriak maling?"ucap Ken sambil menatap wajah Nyia.


Sedangkan Nyia tidak peduli akan ucapan Ken, ia melihat Zain sudah pergi barulah ia bernafas lega.


"Huuh, akhirnya dia udah pergi ..."ucap Nyia sambil tersenyum menatap kepergian Zain.


"Heh, kamu itu tuli apa pekak!"bentak Ken sontak membuat Nyia kaget.


"Om, ingat umur, jangan suka marah-marah. Lebih baik antarkan saya ke sebrang jalan saja tu,"tunjuk Nyia kearah rumah Amit.


Untuk apa bocah ini ke rumah bos Amit, sebaiknya aku antarkan saja bocah ini setelah itu aku akan mencari tahu semuanya, batin Ken.


.


.


.


Bersambung.


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua.😘


__ADS_2