
Amit baru saja pulang dan ia masuk kedalam kamar ia melihat Isyah sedang menangis, dan ia langsung cepat-cepat menghampiri Isyah sebab ia amat cemas akan Isyah. "Sa, ada apa?"tanya Amit dan Isyah refleks memeluk Amit dan ia menangis tersedu-sedu didalam pelukan Amit. "Wi, Hiks, hiks. Wiwit sudah tidak ada lagi ... "Isyah menangis tersedu-sedu sambil menatap wajah Amit, lalu Amit memeluk Isyah dan mengelus-elus punggung Isyah dengan sangat lembut.
"Sa, kita harus ikhlas. Semua yang ada di dunia ini hanya milik, Allah dan akan kembali ke pangkuannya."ucap Amit dengan sangat lembut lalu Isyah melepaskan pelukannya. "Ini pesan dari, Wiwit."Isyah memberikan buku dari Wiwit kepada Amit lalu Amit langsung membacanya, ia sangat terkejut dan tidak percaya akan apa yang ada didalam buku tersebut.
"Kalian kembar, mana mungkin dan kalian sama sekali tidak memiliki kemiripan sedikitpun."ucap Amit sambil mengingat-ingat kembali wajah Wiwit.
"Sepertinya, kita harus tanyakan ini pada, bapak."ucap Isyah yang mulai menghapus air matanya. "Benar, kita harus tahu semuanya dari, bapak."sahut Amit dan mereka berdua langsung bersiap-siap untuk menemui Pak Salam.
*
*
Amit dan Isyah sudah sampai di rumah Pak Salam dan mereka masuk kedalam dan duduk di sofa, mereka menunggu kedatangan Pak Salam dari Swalayan sebab Pak Salam belum pulang yang ada di rumah hanyalah Fia dan Nyia saja. "Kak, apa ada masalah?"tanya Nyia sambil menatap wajah Isyah yang terlihat sangat sedih.
"Tidak ada, hanya saja ada sesuatu yang sangat penting yang mau kami bicarakan dengan, bapak."jawab Isyah dan yang di tunggu-tunggu pulang juga. "Assalamualaikum, eh. Ada kalian toh."ucap Pak Salam yang masuk kedalam dan semuanya langsung mencium tangan Pak Salam. "Wa'alaikumsalam."jawab semuanya dengan serempak lalu Pak Salam duduk bersama dengan Bu Jima.
"Apa ada masalah?"tanya Pak Salam sambil melirik kearah anak-anaknya. "Sebenarnya ..."
Isyah menceritakan semuanya sontak saja membuat Nyia dan Fia terkejut sebab mereka tidak mengetahui apa-apa, sedangkan Bu Jima langsung menangis tersedu-sedu didalam pelukan Fia. "Semuanya, memang benar, sebab kalian tahu kalau Bapak ini tidak memiliki apa-apa. Dan saat kamu sakit Bapak tidak memiliki apa-apa, lalu Bapak meminta bantuan kepada orang tua Wiwit dan saudara kembar mu memberikan satu ginjalnya untuk mu. Semuanya bukanlah keringanan Bapak akan tetapi keadaan yang memaksa Bapak untuk menjual Wiwit kepada orang kaya itu untuk menjadi anak mereka,"ungkap Pak Salam membuat semua orang yang ada disana terkejut bukan main.
"Saat dia meninggal, apa Bapak tahu?"tanya Isyah sambil terisak-isak. "Tahu, sebab Bapak yang menguburkan dia."ucap Pak Salam sambil terisak-isak mengingat kembali saat dirinya ada di acara pemakaman Wiwit.
Isyah tak kuasa menahan tangisnya dan ia langsung berlari menuju rumah Pak Ben dan di ikuti oleh Amit, setelah sampai didalam kamar Isyah langsung menidurkan tubuhnya sebab ia merasa sangat sedih dan pusing karena terlalu lama menangis.
"Sa, sebaiknya kita berobat saja. Abang takut kamu sakit lagi."ucap Amit dengan sangat lembut sambil mengelus-elus rambut Isyah. "Tidak, Isa baik-baik saja. Besok juga sudah baik."jawab Isyah dengan sangat lembut dan Amit mulai memijat kepala Isyah.
__ADS_1
*
*
Aril baru saja pulang dari Kantor dan ia masuk kedalam rumah lalu ia duduk di sofa ruang tamu. "Andai saja istri ku, seperti Isa lelah seperti ini akan di sambut dengan hangat. Ini boro-boro di sambut di di telfon saja tidak pernah, mungkin Nyia seperti Isa, ah. Aku ini mikir apa sih."ucap Aril didalam hatinya.
Aril membuka ponselnya lalu ia melihat sosial media milik Nyia terlihat foto-foto Nyia sangat imut, ia juga menyimpan foto-foto Nyia di ponselnya yang ia ambil tadi dari medsos Nyia.
"Bang."panggil Erla dan Aril hanya diam saja sambil memandangi wajah Nyia dari ponselnya, perlahan Erla duduk di samping Aril lalu ia menepuk pundak Aril dengan perlahan. "Iya, Nyia."ucap Aril membuat Erla membulatkan matanya sebab suaminya sudah salah sebut nama."Nyia?"
Aril langsung menyimpan ponselnya lalu ia tersenyum kepada Erla dan ia langsung memeluk Erla. "Sayang, tadi aku lihat di butik ada diskon besok pergi saja kesana dan aku sudah kirimkan uang ke rekening mu."ucap Aril sambil melepaskan pelukannya dan Erla langsung tersenyum. "Terimakasih, sayang. Kalau begitu aku siapkan makanan dulu."ucap Erla yang bergegas pergi menuju dapur dan Aril bernafas lega.
"Mata duitan, baguslah dia tidak mencurigai ku karena aku sudah menyukai ibunya."batin Aril.
*
*
*📥
"Ini aku, Aril. Besok temui aku di Kantor karena aku ada sesuatu untuk mu, jangan sampai tidak tangan sebab aku akan nekat menghampiri mu di Sekolah*."
"Cik, apa maksudnya dia meminta aku menemuinya? Sebaiknya aku datang saja sebab aku juga penasaran bukankah dia kakakku juga?"ucap Nyia yang mulai membalas pesan dari Aril.
*📥
__ADS_1
"Baik, aku akan datang setelah pulang Sekolah*."
Aril sangat bahagia mendapatkan balasan pesan dari Nyia dan ia bersorak-sorak girang didalam hatinya, ia langsung cepat-cepat tidur sebab ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nyia besok sore.
*
*
Pak Ben duduk di sofa kamarnya dan ia berfikir jika dirinya butuh pendamping hidup juga, sebab Anak-anaknya sudah memiliki pasangan sedangkan dirinya. "Aku sebaiknya mencari calon istri saja. Dan besok aku akan membicarakan semuanya pada Amit dan juga Aril."ucap Pak Ben sambil menatap wajah calon isterinya dari ponselnya.
Pak Ben sudah menduda sejak ibu dari anak-anaknya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
*
*
Pak Salam masih menangis bersama dengan Bu Jima sebab mereka sangat sedih, saat Isyah sudah mengetahui semuanya tentang masa lalunya. "Pak, sudahlah. Biarkan anak kita tenang disana dan kita doakan saja dia dari sini."ucap Bu Jima sambil mengelus-elus punggung Pak Salam. "Mak, semuanya adalah salah, Bapak jika saja Bapak bisa memberikan kehidupan yang layak. Tidak mungkin anak kita seperti itu."jawab Pak Salam yang terus-menerus menangis.
Sebab ia sangat sedih karena anaknya manjadi seperti ini dan ia juga merasa sangat terpukul, sebab bukan karena kehilangan satu ginjal saja Wiwit meninggal akan tetapi karena. penyakit bawaan dari bayi juga membuatnya tidak bisa bertahan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.