
Isyah memesan makanan yang Terfavorit di Restoran tersebut lalu ia juga memesan dia jus jeruk, setelah memesan makanan mereka hanya diam saja dalam pikiran masing-masing.
Mahal sekali makanan disini, hanya seperti itu saja sampai berjuta-juta. Batin Isyah.
"Hey, kenapa kau melihatku seperti itu?"ucap Amit yang melihat Isyah menatapnya terus-menerus.
"Ha, aku?"tanya Isyah dengan sangat gugup, sambil celingak-celinguk.
"Ya ampun, jelas kaulah masa papa."ucap Amit sambil mengusap kasar wajahnya.
Dasar kutub Utara, taunya marah terus-menerus. Dia seperti bunglon kadang baik dan langsung berubah menjadi ketus seperti kulkas dua pintu. Batin Isyah.
Setelah sampai pesanan mereka langsung memakan makanannya masing-masing, setelah selesai makan Amit langsung membawa Isyah pulang sebab ia ada urusan sedikit maslahah pekerjaan.
Amit melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai di rumah, Isyah merasa sangat takut ia terus memeluk Amit sebab ia takut terjatuh.
Setelah sampai di rumah mereka langsung masuk kedalam kamar mereka masing-masing, Amit langsung membuka laptopnya dan ia langsung memeriksa berkas-berkas penting.
Kenapa aku merasa sangat bersalah kepadanya, hatiku ini batu tapi. Kenapa sekarang seperti air mencair ... Batin Amit.
...
Isyah melepaskan hijabnya lalu ia menidurkan tubuhnya di atas kasur miliknya sambil menutup kedua matanya, ia tertidur pulas dan ia masih bisa mendengar ada langka kaki yang menghampirinya namun, matanya seakan tidak mau terbuka.
Langkah kaki itu berhenti tepat di hadapannya dan ia langsung membuka matanya dengan sangat cepat.
"Bang, balik badan!"teriak Isyah yang melihat Amit didepan matanya dengan sangat cepat Amit berbalik badan, akan tetapi ia sudah melihat Isyah tidak menggunakan hijab untuk pertama kalinya.
Dia cantik kalau tidak memakai hijab, batin Amit.
Setelah Isyah selesai memakai jilbab ia duduk di bibir ranjang sambil menatap kesal karena Amit, sebab sudah mengganggu tidur siangnya.
"Katakan?"ucap Isyah dengan sangat ketus untuk yang pertama kalinya.
"Tadi ayahmu menghampiri kami, dia mengatakan kalau anak gadisnya sudah berbuah tidak mau menemui dia lagi,"ungkap Amit membuat Isyah membulatkan matanya.
"Lupa, Bang, temenin ya."pinta Isyah dengan sangat lembut dan manis.
Kalau aku sendiri kesana pastinya Erla sama bang Aril mesra-mesraan, aku juga bisa kali sama om Kutub Utara ini. Batin Isyah.
"Baiklah, ayo."ucap Amit yang bergegas pergi dan Isyah mengikuti langkah Amit dari belakang.
Setelah selesai di luar Amit hendak menaiki motornya namun, Isyah menahannya ia meminta agar Amit dan dirinya berjalan kaki saja. Sebab jarak rumah Pak Ben dan Swalayan tidak jauh hanya bersebrangan saja.
__ADS_1
Ketika mereka hendak menyebrang jalan Isyah menggandeng tangan Amit sontak membuat Amit terdiam.
Sebenarnya ini kali pertama buatku, di pegang tangan ku seperti ini oleh wanita. Batin Amit.
Perlahan mereka mulai menyebrangi jalan setelah sampai Isyah melihat sudah mulai ramai pengunjung, ia langsung masuk kedalam dan meninggalkan Amit di luar.
Isyah melihat orang berbelanja lalu ia menghampiri Bapaknya yang berada di kasir.
"Assalamualaikum, "
"Wa'alaikumsalam ... Kemana aja anak Bapak ini."ucap Pak Salam yang tersenyum manis kepada anaknya.
"Tadi, Isa keluar sama bang Amit. Pak."jelas Isyah sambil tersenyum malu-malu.
"Wa, banyak sekali kemajuan dari kalian ya, Bapak berdoa semoga kalian berjodoh seperti Aril dan Erla."ucap Pak Salam membuat Isyah langsung berubah perasaan.
Berjodoh, apa itu maksudnya mereka akan menikah. Lalu bagaimana dengan nasibku ini. Batin Isyah.
"Nak, "panggil Pak Salam yang melihat anaknya tiba-tiba melamun.
"Ha, Isa pulang dulu. Pak, soalnya banyak kerjaan Sekolah."ucap Isyah yang mencium tangan Pak Salam lalu ia pergi.
Amit yang baru masuk kedalam langsung keluar lagi mengejar Isyah yang berlari ke taman, Amit melihat Isyah duduk di bangku taman sambil menangis tersedu-sedu.
Amit menghampiri Isyah dan ia duduk di samping Isyah.
"Sa, katakan ada apa?"ucap Amit dengan sangat lembut.
Isyah menatap wajah Amit lalu ia menghapus air matanya.
"Bang Amit, bang Aril mau menikah dengan Erla dan bagaimana dengan nasibku ..."ucap Isyah dalam tangisnya.
"Maksudnya?"tanya Amit yang tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Isyah.
"Aku yakin selama Abang jelas mendengar ucapan ku, dan bagaimana tidak ada laki-laki yang mau menikahi wanita seperti aku ini,"ucap Isyah dalam isak tangisnya.
"Em, Sa ..."Amit menepuk pundaknya ia mengisyaratkan agar Isyah bersandar di pundaknya.
Isyah langsung bersandar di pundak Amit sambil mengais tersedu-sedu.
Bagaimana ini, aku akan meminta Aril untuk bertanggung jawab atas semua perbuatannya, bisa-bisanya dia mau menikahi anak bau kencur seperti Erla itu, tidak habis pikir aku. Batin Amit.
"Ayo, kita pulang hari sepertinya akan hujan."ucap Amit yang menatap langit sudah mulai gelap.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan nasibku ..."ucap Isyah sambil menatap wajah Amit dengan tatapan imutnya.
"Abang akan bicarakan ini kepada Aril."ucap Amit dengan sangat lembut membuat Isyah tersenyum.
Isyah memeluk Amit lalu ia melepaskan pelukannya.
"Terimakasih, Bang ..."ucap Isyah mereka mulai berjalan.
Saat di tengah perjalanan dan hujan turun membuat Amit panik,"Hujan, ayo kita kesana."
Amit membawa Isyah menuju pos ronda dan mereka duduk di sana sambil menunggu hujan reda.
"Sampai kapan kita disini, Bang?"tanya Isyah yang mulai merasa sangat sejuk.
Amit melepaskan jaketnya lalu ia memakaikan jaketnya pada Isyah.
"Kalau kita pulang, kamu bisa sakit biar saja ini hanya sebentar saja kok."ucap Amit yang mencoba untuk menghangatkan tubuh Isyah, dengan cara memeluk Isyah.
Coba saja aku masih virgin, mungkin aku lebih memilih untuk bersama dengan bang Amit seperti apa yang sudah di atur oleh papa. Batin Isyah.
Setelah mereka menunggu satu jam lamanya akhirnya hujan berhenti dan mereka langsung bergegas pulang, sebab mereka takut hujan akan turun lagi dan membuat mereka tidak bisa pulang.
Isyah masuk kedalam kamarnya dan ia masih memakai jaket milik Amit dan ia langsung masuk saja, ia membuka jaket lalu ia membawa jaket itu ke ruang cuci baju.
Dengan perlahan ia mencuci jaket milik Amit sebab ia takut Amit marah padanya kalau dia tidak mencuci jaket Amit.
Setelah selesai mencuci ia langsung kembali kedalam kamarnya dan ia merasa sakit sekali di bagain perutnya, ia duduk di bibir ranjang sambil menahan sakit yang luar biasa sampai ia meneteskan air matanya.
"Ya Allah, sakit sekali biasanya tidak sesakit ini."ucap Isyah dalam tangisnya.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘
__ADS_1