
Pada pagi hari ini Isyah sudah lebih sehat dan segar ia duduk di teras rumah sambil menghirup udara segar, lalu Amit datang menghampirinya dan duduk di sampingnya dan menatap wajahnya.
"Kamu sudah sehat, dan nanti malam kita akan pergi ke pesta pernikahan anak temannya rekan bisnisnya papa ..."ucap Amit dengan sangat dingin sedingin salju.
Kulkas dua pintu ini mulai lagi dinginnya, dasar kutub Utara menyebalkan hariku saja. Batin Isyah.
"Hey, kalau Bang bicara itu di jawab bukannya di cuekin!"teriak Amit membuat Isyah terkejut.
"Iya, Kutub Utara." Isyah langsung menutup mulutnya sebab ia sudah keceplosan.
"Kutub Utara?"ucap Amit dengan sangat aneh.
Syukurlah, dia tidak mengerti apa yang aku ucapkan tadi. Batin Isyah.
"Lupakan saja, bukankah Abang mau pergi ke Kantor?"ucap Isyah yang sengaja untuk mengalikan pembicaraan.
"Iya, kamu baik-baik ya. Jangan lupa untuk istirahat sebab nanti malam kita akan pergi ..."ucap Amit dengan sangat lembut membuat Isyah membuka mulutnya lebar-lebar.
Baik sekali dia dan sangat perhatian, dasar bunglon kadang baik dan terkadang dingin sedingin salju, batin Isyah.
Amit tersenyum manis kepada Isyah.
Kalau dia sakit bagaimana dengan aku, kalau kesana sendiri sudah pasti aku akan di tertawakan olehnya, batin Amit.
"Bang pergi dulu, ya."ucap Amit yang bergegas pergi ke Kantor menggunakan motor sport miliknya.
Isyah menatap kepergian Amit lalu ia masuk kedalam ia merasa sangat bosa sebab ia sudah dua hari, berada di rumah saja kemarin ia tak begitu bosan sebab ada Fia akan tetapi hari ini ia sendiri di rumah.
Isyah masuk kedalam kamarnya lalu ia melepaskan hijabnya dan ia akan menidurkan tubuhnya di kasur, lalu ia menghidupkan televisi dan ia menonton film percintaan di TV langganannya.
"Benar-benar, cinta mereka sangat besar padahal mereka menikah karena di jodohkan saja ... Abang kamu benar-benar membuatku meleleh, "ucap Isyah yang tersenyum manis kepada televisinya dan ia juga menggigit remote sebab ia merasa sangat bahagia.
Pintu kamar Isyah di buka membuat Aku terkejut dan langsung merapikan penampilannya, tak lupa ia cepat-cepat mengambil hijab bergo nya yang ia letakkan di sampingnya.
"Ibu ... " Isyah melepaskan hijabnya kembali lalu ia tidur sambil menonton film kesukaannya.
"Nonton apa sih, Bu. Pindah Drakor aja ..."Isyah lagi-lagi bernafas panjang sebab ia sangat kesal akan kebenaran Erla di sisinya.
__ADS_1
"Bisakah kamu diam, Ibu lebih suka film Indonesia sebab sangat seru dan romantis."ucap Isyah dengan sangat malas bahkan ia tidak melihat wajah Erla.
"Kata Aril Ibu sakit, makanya aku kesini lagian aku juga libur hari ini karena guru ada rapat. Setelah bang Amit pulang baru aku pulang tapi, gak kerumah melainkan ke rumah kakek Salam ..."ucap Erla dengan sangat bahagia sedangkan Isyah hanya diam saja.
Andai saja aku dan bang Aril bisa bersama seperti dia dan Erla, sebab aku juga sudah mulai menyukainya kenapa laki-laki yang aku suka selalu ada pada Erla, kenapa. Batin Isyah.
"Bu, tahu tidak kalau Aril itu cerita dia itu suka sama cewek putih walaupun cewek itu jelek dia tetap suka. Makanya aku pede kan ibu tahu kalau aku ini jelek,"ungkap Erla dengan sangat antusias sedangkan Isyah hanya diam dan menganggukkan kepalanya saja.
Ada apa dengan Bu Isyah, aku yakin dia pasti udah suka sama Bang Aril sebab bang Aril juga pernah bercerita. Kalau mereka pernah berciuman sebanyak dua kali dan itu cukup membuat aku terkejut. Batin Erla.
...
Amit menghentikan motornya tepat di depan Kantornya dan ia masuk kedalam betapa terkejutnya ia, saat masuk kedalam ruangannya dan sudah ada Gilang disana.
"Untuk apa kau datang?"tanya Amit dengan sangat ketus.
"Tidak ada, hanya saja kau sudah bermain-main dengan anakku. Aku akan pastikan kau akan menerima balasannya,"ucap Gilang yang di susul gelak tawanya yang begitu mengerikan.
"Sebenarnya selama ini apa masalah mu padaku, katakan? Aku merasa aku tidak memiliki salah dan semua ini adalah salah mu. Kau yang memulainya, "ungkap Amit dengan sangat ketus membuat Gilang tertawa-tawa.
"Kau! Penyebab kematian Difa!"teriak Gilang sontak membuat Amit terdiam dan mengingat kejadian beberapa tahun lalu, saat ia pertama kali bertemu dengan Gilang.
Di tempat kejadian kecelakaan Difa sudah di penuhi oleh polisi dan jasad Difa yang berserakan, sudah masuk kedalam kantung jenazah dan Amit masih ada di tempat kejadian sambil mengisi Difa.
"Kau membunuh adikku!"teriak Gilang membuat Amit terkejut dan ia bangun lalu ia berhadapan dengan Gilang.
"Kau Kakaknya Difa?"tanya Amit dengan sangat lembut.
Gilang menarik kerah baju Amit lalu ia menyeret Amit ke taman dan Gilang melemparkan tubuh Amir, sehingga Amit terjatuh di tahan dan bagian kakinya terluka dan berdarah.
"Aku tidak membunuhnya, dia kecelakaan bahkan aku tidak menyangkan ini semua terjadi pada Difa, sebab aku mencintainya!"teriak Amit sambil mengisi Difa.
"Kau lihat saja, aku akan menghancurkan mu seperti Difa hancur di lintas mobil besar!"teriak Gilang yang berlalu pergi.
Amit sangat terpukul akan apa yang baru saja terjadi padanya sehingga ia tidak memikirkan tentang Gilang.
Flashback off.
__ADS_1
Amit tersadar saat Gilang menepuk pundaknya dengan perlahan lalu Gilang bergegas pergi.
Aku benar-benar tidak tahu kalau hari itu akan terjadi, kalau aku tahu pasti aku akan melindunginya bahkan aku akan menukarkan posisi mu dan aku. Batin Amit.
..
Fia menjaga Swalayan sebab Nyia sedang Sekolah bahkan Bapaknya juga sedang pergi, kau tidak mau ia harus menjaga Swalayan saat ia tengah menghitung belanjaan peran.
Matanya melihat Gilang ada di Swalayan Bapaknya.
Itu benar-benar laki-laki yang semalam Gilang Tara, laki-laki dewasa seperti seorang CEO dia. Batin Fia.
Gilang tidak melihat keberadaan Fia ia ke Swalayan tersebut untuk mencari tahu siapa yang, mengelola Swalayan lama tersebut ia mengambil air dingin dan langsung membawanya menuju kasir.
Saat ia hendak membayar ia langsung tersenyum manis melihat Fia yang ada di kasir tersebut.
Ini jodoh namanya, aku dengannya tidak sengaja bertemu ini kesempatan bagus dan tidak akan aku sia-siakan. Batin Gilang.
"Boleh saya tahu, kamu tinggal dimana?"tanya Gilang sambil memberikan air dingin yang ia ambil tadi.
"Di sebrang jalan."jawab Fia sambil memberikan air dingin yang sudah ia hitung barusan.
Sebrang jalan, bukankah itu rumah Amit bahkan disana juga ada lima rumah pembantu mereka apa Fia. Benar ini kan Swalayan milik Amit pastinya Fia bekerja dengannya, batin Gilang.
"Bisa cepat tidak, sebah yang lain pada ngantri ..."ucap Fia dengan sangat lembut membuat Gilang langsung membayar dan bergegas pergi.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
__ADS_1
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.