
Saat pulang Sekolah Isyah berjalan menuju luar gerbang sebab supir sudah menjemput dirinya, dan ia berjalan masuk kedalam mobil lalu ia duduk sambil terus memikirkan tentang Fia yang dituduhkan menjadi pelakor, perebut laki orang. "Aku akan bertanya langsung pada orangtuanya, apa iya kak Fia merebut suaminya maminya Jihan. Sebab aku tidak yakin karena kak Fia hanya mencintai mantan pacarnya, si Sandi itu."gumam Isyah dalam hatinya.
Setelah sampai di rumah Isyah langsung turun dari mobil dan ia masuk kedalam, saat ia akan masuk kedalam kamarnya Aril menghalangi jalannya dan menarik tangan Isyah menuju balkon. "Lapas!"
Aril melepaskan tangan Isyah saat di balkon lalu Aril menatap wajah Isyah yang sangat manis dan putih berseri-seri. "Sa, Abang kangen kamu. Sebentar saja kita bersama dan saling bercerita."ucap Aril dengan sangat tidak ada sara malu sedikitpun bicara seperti itu kepada isteri kakaknya.
Plak!
Isyah menampar keras pipi Aril sebab ia sudah tidak tahan akan sikap Aril kepadanya."Jangan kira Isa mau berpelukan seperti seorang ja*ang, memang dulu Isa suka sama, Abang akan tetapi itu dulu ... Dulu!"teriak Isyah sambil bergegas pergi dari balkon dan ia masuk kedalam kamarnya lalu ia mengunci pintu kamarnya, ia langsung membanting dirinya di tempat tidurnya dan ia mulai menangis sebab ia sangat hancur melihat Aril bersikap seperti tadi padanya.
"Dulu, bang, dulu ... Kemana aja Abang dulu saat Isa mau menikah dengan Abang dan Abang lebih memilih Erla yang jauh lebih putih dari Isa."Ucap Isyah dalam hatinya.
*
*
Aril memang sengaja untuk pulang ke rumah sebab ia ingin bertemu dengan Isyah selagi Amit masih di kantor, dan ia tidak berhasil untuk itu lalu ia kembali ke Kantor menggunakan mobilnya, setelah ia sampai ia langsung masuk kedalam dan ia masuk kedalam ruangannya. "Aku yakin sekali jika mereka belum malam pertama, sebab Isa masih terlihat gadis. Sepertinya aku harus memberikan sedikit bumbu pada Amit agar mereka bertengkar,"ucap Aril yang mulai menyusun rencananya agar Amit dan Isyah bertengkar hebat dan berpisah.
*
*
Fia sedang mendesain gaun untuk hari resepsi Isyah dan ini adalah kejutan untuk Isyah dan Amit, sebab ia tidak memiliki apa-apa untuk memberikan hadiah pernikahan Isyah dan yang ia miliki hanyalah tokoh baju berisinya saja.
__ADS_1
"Adik, Kakak, sayang kalian semuanya baju ini akan sangat indah saat dirimu yang mengenakannya."ucap Fia sambil menatap kagum pada gaun rancangannya.
*Tok.
Tok*.
"Masuk!"
Cklek.
"Ada tamu, Mbak yang mau bertemu dia ingin menanamkan saham untuk tokoh baju kita ini."ucap Kiyan. "Suruh dia masuk."jawab Fia yang menatap kearah Kiyan dan Kiyan bergegas pergi menuju laki-laki yang ingin menemui Fia.
"Tuan, anda di perbolehkan masuk."ucap Kiyan dan laki-laki tersebut tersenyum dan bergegas masuk kedalam ruangan Fia, ia duduk di hadapan Fia sontak membuat Fia terkejut. "Kamu."ucap Fia sambil menatap kearah Gilang.
"Terimakasih, senang bisa bekerjasama dengan anda."ucap Fia sambil berjabatan tangan dengan Gilang, lalu Gilang mulai pergi dari tokoh baju milik Fia dan ia tersenyum licik.
"Fia, aku akan mendapatkan mu walaupun aku yakin sekali jika Amit akan menghalangi jalan kita untuk bersama."batin Gilang.
Sore hari tiba ...
Pada sore ini Isyah merasa sedikit pusing dan ia tidak keluar kamar untuk menyambut kedatangan Amit, saat Amit sudah pulang ia merasa heran sebab tidak seperti biasanya Isyah tidak menyambut kedatangannya. "Kemana dia?"pikir Amit.
Amit langsung bergegas masuk kedalam kamar Isyah dan ia melihat jika Isyah tengah tertidur di tempat tidur, perlahan Amit mendekati Isyah dan mencium kening Isyah. "Maaf, Bang. Isa sakit kepala jadinya gak bisa menyambut Abang pulang."ucap Isyah yang mulai bangun dan mencium tangan Amit, lalu ia mulai membuka sepatu Amit dan kaus kaki Amit.
__ADS_1
"Sa, jika pusing jangan lakukan ini, Abang bisa sendiri kok."ucap Amit dan Isyah tersenyum lalu ia kembali menidurkan tubuhnya. "Tidak apa, uuummm. Abang mandi aja sekarang Isa siapkan makanan Abang."ucap Isyah yang hendak bangun akan tetapi Amit langsung mencegahnya. "Jangan, biar Abang ambil aja nanti. Kamu tidur aja dan Setelah itu kita akan ke rumah sakit."ucap Amit yang bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Isyah seakan terbang ke langit sebab perhatian Amit dan sikap hangat Amit membuat Isyah, ingin berlama-lama sakit sebab ia ingin selalu di perhatikan oleh Amit seperti tadi.
"Abang, sekarang dia sudah tidak menjadi kutub Utara lagi dan sekarang dia adalah penghangat ku ... "gumam Isyah dalam hatinya.
Setelah Amit siap mandi ia langsung bergegas menghampiri Isyah dan ia mengambilkan bergo Isyah, lalu ia membantu Isyah memakainya dan Isyah hendak bangun dan berjalan akan tetapi Amit menghentikannya. "Abang, gendong kamu aja takutnya kamu tambah pusing."ucap Amit yang mulai menggendong tubuh Isyah dan Isyah hanya diam dan menikmati momen ini.
Saat mereka sudah di ruang tamu Pak Ben langsung menghampiri mereka sebab ia sangat cemas akan keadaan menantunya. "Ada apa?"tanya Pak Ben sambil menatap wajah pucat Isyah. "Isa sakit, Pa. Amit mau bawa Isa ke rumah sakit."ucap Amit yang mulai berjalan sebab ia takut Isyah kenapa-kenapa.
Amit berjalan menuju mobil Papanya dan ia langsung memasukan tubuh Isyah kedalam dan ia langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah Sakit. "Sabar, ya. Sa."ucap Amit yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit Amit langsung membawa Isyah menuju UGD, dan para perawat langsung mengurus Isyah dan Isyah di pindahkan ke ruang inap.
Dokter Iyan memeriksa keadaan Isyah dan kini mereka tinggal menunggu saja hasil dari pemeriksaan kesehatan Isyah. "Sa, apa masih pusing?"tanya Amit dan Isyah hanya bisa diam saja sebab kepalanya sangat pusing luar biasa entah mengapa ia juga tidak tahu.
"Permisi ... "Dokter Iyan masuk kedalam ruangan Isyah dan ia langsung memeriksa ulang kondisi Isyah. "Dok, Isa sakit apa?"tanya Amit yang merasa sangat cemas akan keadaan Isyah. "Sepertinya gejala asam lambung, dan sudah sangat parah gejala ini dan itu sebabnya Isa pusing dan terkadang mual. Akan tetapi kita tunggu saja hasil tesnya keluar besok pagi, tapi. Seperti apa yang saya ucapkan tidak akan pernah salah."ucap Dokter Iyan dan Amit langsung menatap kearah Isyah.
.
.
Bersambung.
__ADS_1