
Setelah siang hari Isyah pulang Sekolah dengan hanya berjalan kaki saja, sebab orangtuanya tidak mampu membelikan sepeda motor untuknya.
Saat ia tengah asik berjalan ia menggantikan langkahnya saat mobil mewah berhenti di depannya.
"Hay, cepat masuk!"teriak Aril dan Isyah langsung masuk kedalam dan duduk di samping Aril.
"Pak, saya bisa pulang sendiri."ucap Isyah dengan sangat lembut sontak saja membuat Aril langsung menatap wajahnya.
"Pak! Saya masih mudah bahkan umur saya baru dua puluh lima tahun,"jelas Aril sambil melajukan mobilnya.
"Maaf, lalu saya haru panggil apa?"tanya Isyah dengan sangat bingung sebab ia melihat wajah Aril sudah terlihat tua.
"Panggil saja Abang."jawab Aril.
"Baik, Bang."
"Katakan dimana rumahmu, dan aku akan menunggu mu untuk menemui papa nanti."ucap Aril sambil fokus mengemudikan mobilnya.
Isyah menjelaskan dimana rumahnya setelah mereka sampai Aril membulatkan matanya sebab ia melihat rumah sederhana milik Isyah.
Ternyata dia hanya anak sederhana, aku kira dia anak orang kaya sebab dia terlihat sangat bersih, batin Aril.
"Cepat, berpamitan dengan ayahmu lalu kita segera pergi sebelum hari semakin malam."ucap Aril dengan sangat dingin.
Isyah hanya tersenyum dan ia bergegas pergi masuk kedalam.
"Assalamualaikum."ucap Isyah yang baru saja memasuki rumah dan ia langsung di sambut oleh Kakaknya.
"Wa'alaikumsalam, udah pulang lama kali sih."ucap Fia dengan sangat antusias.
"Bapak, mana?"tanya Isyah pada Kakaknya tersebut.
"Jemput si Nyia."jawab Fia sambil mengintip di jendela rumah dan ia langsung terkejut.
"Sa, itu siapa?"tanya Fia sambil menghampiri Isyah yang sedang berganti baju.
"Oh, gini ceritanya ..." Isyah menceritakan kejadian tadi kepada Kakaknya dan Fia langsung tersenyum bahagia.
"Kayaknya kamu mau di jodohkan sama anaknya deh,"tabak Fia sambil memegang dagu panjangnya.
Isyah tidak menjawab ucapannya Kakaknya sebab ia tidak mau terlalu banyak berharap selama ini, ia selalu saja di hina karena kulitnya yang sedikit gelap sehingga ia tidak mau dekat-dekat dengan laki-laki manapun.
Isyah adalah anak kedua dari Bapak Salam yang hanya keluar sederhana dan ia memiliki tiga orang putri, dua putrinya memiliki kulit putih sedangkan Isyah hanya seorang diri memiliki kulit gelap.
Setelah selesai berganti baju Akhirnya Bapak Isyah pulang bersama dengan Adiknya Nyia yang masih duduk di bangku SMP.
"Assalamualaikum."ucap Pak Salam dan Niya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, "jawab Fia dan Isyah bersamaan.
"Eh, anak gadis Bapak mau pergi kemana kok sudah rapi seperti ini?"tanya Pak Salam yang melihat anak gadisnya sudah rapi dan wangi.
Isyah menceritakan kejadian tadi kepada Bapaknya sehingga Pak Salam tersenyum bahagia.
"Ya, sudah pergi saja nanti Bapak kasih tahu sama ibumu kalau dia sudah pulang nyuci baju."jelas Pak Salam.
__ADS_1
"Isa pergi dulu, Pak. "Isyah mencium tangan Bapaknya lalu ia langsung bergegas pergi menuju luar.
Isyah langsung masuk kedalam mobil Aril dan ia duduk di samping Aril.
"Sudah?"tanya Aril dengan sangat dingin.
"Sudah, Bang."jawab Isyah pelan.
Aril langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya setelah lima belas menit kemudian akhirnya mereka sampai, di rumah mewah milik Keluarga Atmajaya yang berada di Kota A.
Aril berjalan menuju rumahnya dan di ikuti oleh Isyah dari belakang, sesampainya didalam Aril dan Isyah duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Papa dan Kakaknya.
Pak Ben datang bersama dengan Amit mereka duduk di sofa berhadapan dengan Isyah dan Aril.
Isyah langsung menyalami tangan Pak Ben dengan sangat lembut.
Wanita ini sangat cantik, akan tetapi kulitnya yang gelap membuatku tidak mau menerima perjodohan ini, batin Amit.
"Pa, aku tidak mau di jodohkan dengan dia."bisik Amit di telinga Pak Ben.
"Jalani dulu saja ya?"pinta Pak Ben pada putra tertuanya.
" Baiklah."ucap Amit pasrah.
"Aril kamu sudah tahu dimana Isyah tinggal?"tanya Pak Ben sambil menatap kearah Isyah.
"Sudah, dia hanya anak dari orang yang sederhana saja, Pa."ucap Aril dengan sangat dingin dan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Benar, Pak. saya hanya anak dari seorang nelayan, Pak."ucap Isyah dengan sangat malu-malu.
Sontak saja membuat Isyah sangat terkejut.
"Tapi, Pak."ucap Isyah pelan.
"Kita jalani saja dulu, tidak usah terburu-buru,"tambah Amit dan Isyah hanya bisa tersenyum.
"Kalian mengobrol saja dulu, saya mau masuk kedalam ya."ucap Pak Ben yang berlalu pergi.
Isyah dan Amit sama-sama hanya diam saja sehingga Amit yang memulai untuk bicara.
"Ikut aku, kita bicara di taman saja."ucap Amit yang berlalu pergi dan di ikuti oleh Isyah dari belakang.
Sesampainya mereka di taman mereka duduk saling berhadapan.
"Sa, aku minta agar kita pura-pura saja mau menjalani hubungan kita tapi, pada dasarnya kita tidak memiliki hubungan apapun, kau mengerti?"jelas Amit.
"Baik, Pak."ucap Isyah pelan.
"Bagus. Simpan nomor ponsel ku."ucap Amit yang memberikan ponselnya kepada Isyah.
Isyah memberikan nomor ponselnya setelah selesai ia langsung mengembalikan ponsel Amit.
"Berapa umurmu, dan kelas berapa kau?"tanya Amit dengan sangat dingin sedingin kulkas.
"Umur saya 16 tahun, dan saya kelas dua SMA,"jawab Isyah dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Ya ampun, papa benar-benar keterlaluan bisa-bisanya aku di jodohkan sama anak bauk kencur seperti ini,"ucap Amit yang mengusap kasar wajahnya.
Isyah hanya diam saja saat mendengar ucapan Amit.
Setelah mereka mengobrol mereka masuk kedalam rumah dan makan malam bersama setelah itu, Amit akan mengantarkan Isyah pulang dengan motor sport miliknya.
Selama di perjalanan mereka hanya diam saja tidak ada yang bersua sedikitpun.
Tidak aku sangka, akan jadi seperti ini. Batin Isyah.
Setelah sampai di rumah Isyah dan Amit langsung bergegas pergi tanpa mengatakan apapun.
"Dasar, adik sama abang sama-sama tidak memiliki sopan."ucap Isyah yang masuk kedalam.
Setelah ia masuk ia langsung bergegas pergi menuju kamarnya yang bergabung dengan dua saudaranya, saat ia masuk kedalam ia melihat keponakannya ada di tempat tidurnya.
"Bu, Isa ... Baru pulang ya?"ucap Erla yang tersenyum manis kepada Isyah.
Isyah langsung menidurkan tubuhnya di atas kasur miliknya bersama dengan Erla.
"Udah, La. Jangan di tanya lagi pasti dia habis di tambak,"ucap Nyia yang menutupi dadanya.
"Sa, ceritakan semuanya penasaran ini."ucap Fia Kakak Isyah.
"Tolong, aku mau tidur sebaiknya kalian juga tidur."ucap Isyah dengan sangat kesal sambil melepaskan hijabnya.
"Alah, Bu, bu, kapan-kapan kenali ya sama kami,"goda Erla yang tertawa-tawa bersama dengan Nyia dan Fia.
Ya Allah, kenapa mereka semua membuat aku pusing sih, batin Isyah.
....
Amit melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai di rumahnya, setelah sampai ia masuk dan melihat Papanya ada di sofa sedang menunggunya.
Amit langsung menghampiri Papanya dan duduk si samping Papanya.
"Papa, akan mengangkat Isyah sebagai anak kalau kamu juga tidak bisa menjamin dia akan jadi menantu disini, "jelas Pak Ben dengan sangat tegas.
"Semua ada di tangan Papa, silahkan saja dia tinggal disini dan Papa menyekolahkannya Amit sama sekali tidak keberatan, yang terpenting Papa tanggung jawab atas semua keperluan Isyah selama disini. Jaga anak gadis orang itu berat, Pa."ucap Amit dengan sangat santai.
Pak Ben terdiam dan memikirkan bagaimana cara agar ia bisa mengangkat Isyah menjadi anaknya.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.😘