Cinta Tulus Isyah

Cinta Tulus Isyah
#CTI Part 30


__ADS_3

Pada malam ini Isyah sudah bersiap-siap untuk berangkat ke pernikahan rekan bisnis Papanya, ia mengenakan kebaya modern berwarna merah muda yang di belikan oleh Amit semalam. Ia juga mengenakan sepatu kaca berwarna putih setelah ia selesai ia terlihat sangat cantik dan manis.


Amit sudah rapi mengenakan batik yang senada dengan kebayang Isyah akan tetapi ia sudah sangat lama menunggu Isyah.


Kemana si bau kencur itu, lama sekali dia bahkan sudah hampir saja jam aku menunggunya, batin Amit.


Amit melirik jam tangannya lalu ia melirik Isyah yang baru saja sampai sontak membuatnya terdiam.


Isyah cantik sekali malam ini, ah. Mikir apa aku ini dia harus cantik sebab aku akan malu membawanya kalau dia terlihat jelek, batin Amit.


"Ayo, kita pergi. Bang ..."ucap Isyah yang berjalan mendahului Amit.


Setelah Amit keluar ia menyuruh Isyah untuk mengunci pintu rumah sebab semua pembantu pulang, ke rumah mereka masing-masing yang di sediakan di samping dan belakang rumah Pak Ben.


Setelah mereka menaiki mobil mulailah Amit melajukan mobilnya dengan perlahan lalu ia menatap wajah Isyah.


"Tadi udah kamu kunci pintunya?"tanya Amit membuat Isyah mengingat-ingat kembali tadi dan ia lupa sudah mengunci pintu atau belum.


"Bang, mendingan kita balik aja soalnya aku lupa."ucap Isyah dengan sangat cemas sebab ia membayangkan kalau ada pencuri masuk kedalam rumah Pak Ben.


Amit bernafas panjang lalu ia memutar balikkan mobilnya menuju rumahnya setelah sampai Isyah langsung turun, Isyah langsung mencoba untuk membuka pintu rumah dan ternyata sudah ia kunci barulah ia bernafas lega.


Setelah itu ia langsung kembali masuk kedalam mobil dan Amit mulai melajukan mobilnya menuju gedung pernikahan.


Setelah mereka sampai Amit turun dan ia membukakan pintu untuk Isyah setelah Isyah keluar, ia menggandeng tangan Isyah masuk kedalam tak lupa ia tersenyum manis.


Kutub Utara, kalau kamu tersenyum kamu itu manis sekali seperti gula ... Batin Isyah.


Amit masuk kedalam dan ia menghampiri rekan bisnisnya bersama dengan Isyah dan ia masih, menggandeng tangan Isyah ia tidak melepaskan pegangan tangannya.


"Selamat untuk anak Bapak, saya ucapkan sekali lagi selamat ..."ucap Amit yang berjabat tangan dengan rekan bisnisnya.


"Terimakasih, Amit. Ini siapa?"tanya rekan bisnisnya sambil melirik kearah Isyah.


"Perkenalkan ini Isyah, dia calon istri saya,"ungkap Amit dengan senyuman manisnya.


"Wah, selamat kamu juga akan segera menikah,"ucap rekan bisnisnya sambil tertawa-tawa.


"Terimakasih banyak, Pak. Kalau begitu saya akan pergi untuk menemui anak Bapak untuk mengucapkan selamat."ucap Amit yang bergegas pergi bersama dengan Isyah.

__ADS_1


Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh dia, tidak seperti biasanya dia mengakui aku sebagai calon istrinya. Batin Isyah.


Setelah mereka sampai di pelaminan Isyah menyalami mempelai wanita sedangkan Amit, berjabat tangan dengan mempelai pria lalu mereka saling menatap satu sama lainnya.


"Siapa wanita ini, Mit?"tanya mempelai wanita.


"Calon istri saya, perkenalkan dia Isyah."ucap Amit dan Isyah tersenyum manis kepada mempelai wanita.


"Oh, selamat ya, semoga kalian cepat nyusul."ucap mempelai wanita.


"Aamiin."jawab Isyah dan Amit secara bersamaan lalu mereka saling menatap satu sama lainnya.


Ya Allah, hamba tadi hanya berkata bohong semoga Allah tidak mengabulkan dia hamba yang tadi, batin Amit.


Ya Allah, jangan sampai hamba berjodoh dengan kutub Utara ini jangan sampai. Batin Isyah.


"Wah, kalian kompak sekali mungkin kalian benar-benar berjodoh."ucap mempelai wanita.


"Iya, "jawab Isyah dan Amit secara bersamaan lagi.


"Sudah-sudah, sebaik kita bersiap-siap untuk pelemparan bunga."ucap mempelai pria.


Amit dan Isyah bergegas pergi menuju bawah pelaminan sebab mereka akan mengikuti penangkapan bunga.


Semua tamu undangan sudah bersiap-siap untuk melakukan penangkapan bunga pengantin, Amit dan Isyah berada di tengah-tengah kerumunan orang disana.


"Baiklah, kita akan mulai pelemparan bunga kita hitung mundur, satu, dua, tiga!"ucap MC dan kedua mempelai melemparkan bunga mereka.


Semua orang melompat dan Isyahlah yang mendapatkan bunga tersebut bersama dengan Amit, Isyah menatap wajah Amit lalu ia melompat sebab ia bahagia biasa mendapatkan bunga tersebut.


"Hey, kita dapat, Bang."ucap Isyah dengan sangat gembira dan Amit pura-pura bahagia dengan cara tersenyum dengan semua orang.


Amit menarik Isyah sontak membuat Isyah langsung diam dan mengikuti langkah Amit, sesampainya mereka di luar Amit melepaskan tangannya.


"Untuk apa kamu menangkap bunga itu, Abang ikut tadi hanya pura-pura saja bukan sungguhan."ucap Amit sambil mengusap kasar wajahnya.


"Emangnya kenapa kalau kita ambil bunga ini,"ucap Isyah yang tersenyum melihat bunga pengantin ada di tangannya.


"Gini, kalau masih bocil sok dewasa. Kamu tahu kalau ada laki-laki dan perempuan menangkap bunga ini secara bersamaan maka mereka akan jodoh,"ungkap Amit membuat Isyah menjatuhkan bunga yang ia pegang.

__ADS_1


Semoga saja semua itu hanyalah mitos belakang saja, aku tidak mau menikahi kutub Utara seperti ini kalau aku menikahinya aku pasti akan masuk angin setiap hari. Sebab dia sangat dingin dan sejuk tidak ada kehangatan apapun darinya, batin Isyah.


Amit meninggalkan Isyah masuk kedalam gedung pernikahan lagi sebab ia ada yang tertinggal, sedangkan Isyah ia mengambil bunga yang ia jatuhkan tadi dan membawanya masuk kedalam mobil.


Sayang kalau di buang, pasti bunga ini mahal sebab aku yakin sekali mana mungkin orang kaya beli yang murah-murah. Batin Isyah.


Isyah melihat ada sosok laki-laki bertopeng menghampirinya dan ia langsung pingsan dan tidak sadarkan diri.


...


Amit masuk kedalam gedung ia mencari-cari musuhnya ya itu Gilang, sebab ia ada yang ingin di sampaikan setelah puas mencari dan ia tidak menemukan kebenaran Gilang akhirnya ia pergi menuju mobilnya.


Biarkan saja bukankah aku masih bisa menemuinya lain waktu, batin Amit.


Amit masuk kedalam dan ia membulatkan matanya sebab ia tidak melihat keberadaan Isyah, ia keluar dan berjalan sambil mencari keberadaan Isyah.


"Isah!"teriak Amit akan tetapi tidak ada yang menjawab sehingga ia mengingat ucapan Gilang beberapa hari lalu.


"Sial, ini semua pasti ulah Gilang!"teriak Amit.


Amit bergegas masuk kedalam mobilnya sebab ia akan menghampiri Gilang di kediaman Gilang, yang tak jauh jaraknya dari rumah Amit.


Selama si perjalanan Amit terus-menerus memikirkan tentang Isyah ia sangat khawatir pada Isyah, ia takut Gilang akan mencelakai Isyah dan itu cukup membuatnya merasa sangat bersalah.


.


.


.


Bersambung.


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.


Salam manis untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2