Cinta Tulus Isyah

Cinta Tulus Isyah
#CTI Part 4


__ADS_3

Saat di perjalanan Isyah merasa sangat lapar sehingga ia hanya diam saja sedangkan Amit dapat, mendengar jelas suara perut Isyah sehingga ia mengehentikan langkahnya di depan cafe.


"Bang, kok berhenti?"tanya Isyah sambil turun dari motor Amit.


"Banyak bicara dan bertanya kau ini, ikut saja."ucap Amit dengan sangat dingin masuk kedalam Dandi ikuti oleh Isyah.


Meraka duduk di bangku VIP yang di pesan oleh Amit dan Amit juga memesan beberapa makanan.


Sebenarnya Bang Amit ini baik tapi, dia dingin kayak kutub Utara. Batin Isyah.


Isyah melihat orang di sekelilingnya yang menatap tajam kearahnya ia berfikir mungkin sebab, ia masih menggunakan seragam Sekolah berwarna abu-abu dan ia juga berjalan dengan laki-laki dewasa yang berusia 26 tahu.


Setelah makanan sampai mereka berdua langsung memakan makanan masing-masing sampai habis, setelah itu Amit langsung mengajak Isyah pulang padahal Isyah masih sangat kenyang.


Dasar kutub Utara, tidak mempunyai hati baru juga selesai makan udah di ajak pigi aja. Batin Isyah.


Setelah mereka sampai di rumah, Pak Ben menyambut hangat Isyah.


"Isyah, kamu ganti baju saja di kamar kamu ya."ucap Pak Ben yang tengah duduk sambil memeriksa berkas-berkas penting.


"Baik, Pa."ucap Isyah.


"Eh, tunggu. Kau tahu dimana kamar mu berada?"tanya Amit dengan sangat ketus dan Isyah langsung menatap kearah Amit.


"Tidak tahu, Bang."ucap Isyah dengan sangat malu-malu sontak saja Amit mengusap kasar wajahnya.


"Aku akan mengantarmu, "ucap Amit yang berjalan menuju atas sebab kamar ketiga dirumahnya ada di atas yang bersebelahan dengan kamar Aril.


Ini yang aku mau, aku mau Amit dekat dengan Isyah sayangnya kamar kosong di sebelah Amit rusak. Kalau tidak aku pastikan meraka akan semakin dekat, batin Pak Ben.


Setelah sampai di dalam kamar Amit langsung bergegas pergi sebab ia masih banyak pekerjaan di Kantor, sedangkan Aril sudah kembali ke Kantor sehabis mengantarkan Papanya pulang tadi.


Isyah mandi dan melaksanakan Sholat Dzuhur di kamarnya setelah selesai ia tertidur pulas, dengan masih mengenakan Mukenah dan masih berada di atas Sajadah Sholat miliknya.


Setelah Sore hari Aril pulang ke rumahnya ia berniat akan manfaatkan kesempatan untuk mempermainkan Isyah.


Aku akan mempermainkan dia saja sebagai pemuas nafsuku, aku akan manfaatkan kepolosannya, batin Aril.


Aril masuk kedalam rumah lalu ia langsung membuka pintu kamar Isyah dengan perlahan, dan ia melihat Isyah sedang Sholat Ashar didalam kamar.


Ternyata dia muslim sekali, tidak apa-apa aku hanya ingin bermain-main dengan anak yang masih polos hanya itu saja. Aku tidak akan mengambil keperawanan miliknya aku juga tidak sejahat itu, batin Aril.


Aril masuk kedalam dan ia mengunci pintu kamar Isyah lalu ia duduk di atas kasur milik Isyah, setelah Isyah selesai Sholat ia langsung menghampiri Aril.


"Ini kamar Isa, Bang, dan kenapa mengunci pintu kamarnya?"tanya Isyah yang berdiri didepannya Aril.

__ADS_1


Aril tersenyum lalu ia menarik tangan Isyah sehingga Isyah terjatuh di atas tubuhnya.


Aril langsung melahap bibir ranum milik Isyah dengan sangat lembut membuat Isyah merasakan sesuatu, yang belum pernah ia sarankan sebelumnya Aril merasa kalau Isyah belum pernah melakukannya.


Sebab Isyah hanya diam saja saat Aril melahap bibirnya dan Isyah sama sekali tidak membalasnya.


Isyah tersadar dan langsung bangun sambil mengelap sudut bibirnya yang terasa basar.


"Manis sekali, ini kali pertama untuk mu bukan?"tanya Aril sambil mengelap bibirnya yang basa.


"Iya, dan kau sudah merenggutnya!"


Isyah meneteskan air matanya lalu Aril langsung memeluknya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk melecehkan mu tapi, aku mencintaimu dan aku ingin kita berpacaran."ucap Aril sambil mengelus punggung Isyah.


"Hah?"


"Iya, bukankah kau dan Amit tidak berpacaran maka kita yang akan pacaran tanpa sepengetahuan papa."jelas Aril membuat Isyah terdiam.


"Tidak, aku tidak mau."tolak Isyah dengan sangat tegas.


"Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau siap."ucap Aril sambil mengedipkan sebelah matanya.


Isyah menjatuhkan tubuhnya di kasur sambil mengisi ciuman pertamanya sudah di merenggut oleh, Abang angkatnya dan kini ia sudah tidak bisa memberi ciuman pertamanya untuk suaminya nantinya.


....


Aril masuk kedalam kamarnya lalu ia langsung mandi sambil bernyanyi sebab ia merasakan, ciuman pertama dari Isyah.


"Aku jadi penasaran, aku ingin lagi dan lagi bibir ranum itu,"ucap Aril sambil mengelus bibirnya.


Setelah sampai ia a langsung keluar alangkah terkejutnya ia melihat Amit ada di atas kasurnya.


"Ada apa?"tanya Aril dengan sangat takut akan tatapan mata dari Amit.


"Kau, jangan merusak masa depan anak orang. "ucap Amit dengan sangat tegas.


"Tidak, aku hanya mencium dia saja tidak lebih."ucap Aril dengan sangat gugup sebab Kakaknya tersebut sangat tahu akan sikapnya.


"Ingat, dia adikmu jadi jangan perlakukan dia seperti seorang ******!" ucap Amit yang berlalu pergi menginginkan Aril.


"Huuu, dia selalu tahu apa yang aku lakukan seperti seorang peramal saja,"ucap Aril yang menatap kepergian Amit.


Amit berdiri didepan pintu kamar Isyah dan ia mengetuk-ngetuk pintu kamar Isyah tak berselang lama akhirnya pintu di buka, Amit langsung masuk kedalam dan duduk di sofa sambil menatap kearah Isyah yang terlihat sedih.

__ADS_1


"Jika Aril melakukan hal seperti itu lagi, katakan saja padaku dan aku tidak ingin dia melecehkan mu."ucap Amit dengan sangat cepat.


Membuat Isyah terkejut.


Bagaimana dia tahu, padahal pintu terkunci apa dia seorang indigo dia bisa melihat apa saja bahkan kalau aku sedang mandi, batin Isyah.


"Kau mendengar ku?"ucap Amit yang melihat Isyah melamun.


"Ha, iya aku mendengar Bang Amit bicara."ucap Isyah dengan sangat gugup.


"Bagus, aku pergi dulu dan jangan lupa setiap malam kunci kamar mu aku takut Aril masuk di saat malam hari."pesan Amit yang berlalu pergi.


"Dia seperti anak indigo, dia bisa melihat apa saja."ucap Isyah yang menutup pintu kamarnya dan ia juga menguncinya.


Fia menelepon Isyah melalui video call.


📱Kak Fia.


"Hay adik, apa kabar?"tanya Fia dari telfon.


"Baik, baru aja kita bisa tadi siang lo, masa udah tanya kabar."ucap Isyah sambil tersenyum.


"Bu, enak disana?"tanya Erla yang berada disana Erla memang selalu bermain ke rumah Pak Salam sebab Pak Salam adalah Kakeknya.


"Enak, kalian kapan-kapan kemari ya?"ucap Isyah.


"Besok kami juga udah pindah kali ..."ucap Mereka bersamaan.


"Udah dulu ya, aku mau mandi ni."ucap Isyah yang memutuskan sambungan teleponnya sebab ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok. Tok. Tok.


.


.


.


Bersambung.


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like , Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua, salam manis untuk kalian semua.😘

__ADS_1


__ADS_2