
Setelah Aril dan Pak Ben menempuh perjalanan selama beberapa jam akhirnya mereka sampai, di rumah Aril merasa sangat heran akan sikap Papanya yang langsung turun dan bergegas masuk.
Ada apa sebenarnya, aku benar-benar sangat aneh melihat sikap Papa yang seperti ini. Batin Aril.
Pak Ben masuk kedalam dan ia langsung berjalan menuju kamar Isyah sebab ia sangat tidak, sabar lagi untuk menemui Isyah dan menanyakan langsung kabar yang ia dengar tadi.
Pak Ben langsung mengetuk-ngetuk pintu kamar Isyah.
Tok, tok.
"Sa, ini Papa buka pintunya."ucap Pak Ben dengan sangat lembut.
Isyah sedang tertidur lalu ia mulai memakai jilbab yang ada di meja kecil lalu ia berjalan menuju pintu, perlahan ia membuka pintu kamarnya lalu ia melihat senyum yang mengembang di wajah Pak Ben.
"Sa, Papa rindu sekali ..."ucap Pak Ben sambil memeluk Isyah sedangkan Isyah menangis tersedu-sedu didalam pelukan Papa angkatnya.
"Pa ... Hiks, hiks, hiks, "Isyah tidak bisa berkata-kata lagi ia hanya bisa menangis tersedu-sedu.
Pak Ben melepaskan pelukannya lalu ia menatap wajah Isyah dan juga menghapus air mata Isyah.
"Percayalah semuanya akan baik-baik saja, kita akan bicara didepan."ucap Pak Ben sambil memegang tangan Isyah.
Syukurlah Papa bisa membantu aku, aku jadi lega kalau begitu untung saja Papa cepat pulang, batin Isyah.
Pak Ben berjalan menuju ruang tamu sambil menggandeng tangan Isyah dengan sangat lembut, setelah sampai di ruang tamu Pak Ben memerintahkan kepada Bi Maniah untuk memanggil Amit.
Isyah duduk bersebelahan dengan Pak Ben tak berselang lama akhirnya Amit datang, Amit duduk di samping Isyah dengan sangat jutek.
"Katakan, Pa."ucap Amit dengan sangat dingin sedingin salju.
Kutub Utara ini, dia benar-benar sangat dingin. Batin Isyah.
"Kamu harus segera menikahi Isyah,"ucap Pak Ben sontak membuat Isyah dan Amit membulatkan mata mereka lebar-lebar.
"Pa."panggil Isyah dengan sangat lembut.
"Sa, biarkan Amit bertanggung jawab atas apa yang di perbuat olehnya."ucap Pak Ben dengan sangat lembut sambil menatap wajah Isyah.
"Itu benar, kalau Amit sudah melakukannya tapi. Amit sama sekali tidak pernah melakukannya."ucap Amit sambil menatap tajam kearah Isyah.
"Pa, apa yang di ucapkan oleh Bang Amit itu benar adanya. Kami tidak melakukan apa-apa,"ungkap Isyah membuat Pak Ben lemas.
"Papa ingin segera memiliki cucu, Mit."ucap Pak Ben yang terjatuh pingsan membuat Amit dan Isyah panik.
__ADS_1
"Papa!"teriak Isyah.
"Bangun, Pa ..."ucap Amit yang menggoyangkan tubuh Papanya namun, Pak Ben tak kunjung sadar Amit menggendong tubuh Pak Ben menuju Kamar Pak Ben.
Sesampainya di kamar Pak Ben, Amit meletakan tubuh Pak Ben dengan perlahan dan Isyah duduk si samping Pak Ben.
"Pa, bangun ... Hiks, hiks, hiks,"Isyah menangis di samping tubuh Pak Ben sambil memegang tangan Pak Ben.
"Sa, jangan menangis kita doakan saja semoga Papa cepat sadar."ucap Amit yang duduk di samping Isyah, lalu ia mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Pak Ben.
Tak berselang lama Pak Ben langsung sadar.
"Papa, jangan seperti itu lagi. Isa sangat khawatir ..."ucap Isyah sambil menangis.
"Mit, sepertinya Papa tidak tahan. Cepat bawa Papa ke rumah sakit ..."ucap Pak Ben dengan sangat lemas.
"Baik, Pa. Sa cepat kemasi barang-barang, kita akan membawa Papa ke rumah sakit."ucap Amit sambil mengambil kursi roda di samping lemari pakaian Pak Ben.
"Baik, Bang."Isyah langsung mengambil baju-baju Pak Ben dan ia memasukkan kedalam tas, lalu ia juga membawa beberapa bantal setelah itu ia langsung membawanya menuju mobil.
Amit mendorong kursi roda Pak Ben dengan perlahan sampai di depan rumah ia langsung memasukan, Pak Ben kedalam mobilnya lalu ia juga masuk dan didalam sudah ada Isyah.
"Bang, cepat kasihan Papa ..."ucap Isyah sambil sambil memegang tangan Pak Ben.
Syukurlah, mereka percaya bahwa aku sakit. Aku akan meminta mereka untuk segera menikah sebab aku ingin sekali memiliki cucu. Batin Pak Ben.
Isyah sangat khawatir akan keadaan Papa angkatnya ia terus memegang tangan Pak Ben, akan tetapi ia merasa tangan Pak Ben baik-baik saja dan ia tetap berfikir positif akan keadaan Pak Ben.
Tangan papa tidak dingin, sepertinya suhunya normal. Ah, aku ini mikir apa jelas-jelas papa kesakitan dan pingsan mana mungkin papa baik-baik saja. Batin Isyah.
Amit melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan hati-hati sebab ia sangat menghawatirkan keadaan Papanya.
Ya Allah, sembukan Papa aku akan melakukan apapun agar Papa sembuh. Batin Amit.
Setelah sampai di rumah sakit Amit langsung membawa tubuh Pak Ben masuk kedalam UGD, sedangkan Isyah membawa barang-barang yang ia siapkan tadi dari rumah.
"Dok, bawa Papa saya masuk kedalam kamar VIP sebab kami tidak mau menunggu lama."ucap Amit dengan sangat angkuh.
"Baik, Pak. saya akan menyiapkan kamarnya dulu."ucap Dokter Iyan dengan sangat lembut.
Amit membawa Papanya menghubungkan kursi roda menuju kamar yang di tunjukkan oleh Dokter Iyan, dan Isyah mengikuti Amit dari belakang sambil membawa barang-barang yang ia bawa dari rumah tadi.
Dokter Iyan sesekali menoleh kearah Isyah ia tersenyum melihat wajah Isyah yang sangat imut di matanya.
__ADS_1
Imut sekali dia, aku lucu melihatnya bukankah dia pasien ku yang beberapa hari lalu, batin Iyan.
Setelah sampai di kamar VIP Dokter Iyan langsung bergegas membantu Pak Ben naik ke atas tempat tidur, lalu ia hendak memasang infus akan tetapi tangannya di tahan oleh Pak Ben.
"Amit, pergi belikan Papa buah dan juga makanan sebab Papa lapar. Bawa Isa juga,"pinta Pak Ben.
Ada apa ini sebenarnya, batin Iyan.
"Tapi, Papa disini dengan siapa?"ucap Isyah yang meletakan barang-barang di sofa.
"Iya, Pa, biar Amit sendiri saja."ucap Amit.
"Tolong."ucap Pak Ben dengan sangat lemas.
"Baiklah, ayo."ucap Amit yang bergegas pergi lalu Isyah langsung mengikuti langkah Amit.
Setelah kepergian mereka Pak Ben bangun lalu ia duduk.
"Dok, saya mohon sebenarnya saya hanya sakit pura-pura saja,"ungkap Pak Ben membuat Iyan menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa seperti itu?"tanya Dokter Iyan dengan sangat aneh.
"Saya ingin mereka menikah, sebab itu saya pura-pura sakit. Saya mohon Dok."ucap Pak Ben sambil menatap wajah Dokter Iyan.
"Baiklah, saya akan memenuhi keinginan, Bapak."jawab Dokter Iyan.
"Terimakasih, Dok."ucap Pak Ben dengan sangat gembira
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.
__ADS_1