
Beruntung sekali nasib anak ku, laki-laki kaya ini mengangkatnya menjadi anak. Batin Pak Salam.
"Kalau begitu apa saja, tugas saya disini, Pak?"tanya Pak Salam dengan sangat lembut.
"Bapak, dan keluarga Bapak hanya membantu membersihkan rumah yang kalian tempati sebab semua sua ada tugas masing-masing. Dan suatu lagi di sebrang jalan ada Swalayan dan kalian akan mengelolanya, saya akan memberikan modal awal saja."jelas Pak Ben dan Pak Salam tersenyum bahagia.
"Terimakasih banyak, Pak. Atas segala kebaikan Pak Ben kepada keluarga saya ..."ucap Pak Salam sambil meneteskan air matanya.
"Sama-sama, besok kita akan membersihkan tempat Swalayan itu dan anak-anak kita saja yang membantu kita bukankah besok hari Sabtu?"
"Benar, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."ucap Pak Salam dengan sangat gembira.
Pak Salam berlarian menuju rumahnya setelah sampai ia langsung membuka istrinya dan juga anaknya.
"Mak, besok kita akan membersihkan Swalayan yang ada di sebrang jalan dan untuk kita."ucap Pak Salam dengan sangat antusias membuat Fia bahagia.
"Yang, benar. Pak?"tanya Bu Jima dengan sangat tidak percaya.
"Benar, untuk apa Bapak bohong."ucap Pak Salam dengan sangat lembut.
"Ye, kita jadi orang kaya Pak, Mak."ucap Fia dengan sangat gembira.
...
Saat jam makan siang di pergunakan oleh Amit untuk menjemput Isyah di sekolah, setelah ia sampai ternyata Isyah sudah menunggunya.
Amit menghentikan motornya agak jauh dari Isyah dan ia memanggil Isyah sebab ia tidak ingin, anak remaja itu menghina dirinya dan juga Isyah dengan sangat keterlaluan.
Bang Amit itu, bukannya kesini mala aku di suruh kesan. Batin Isyah.
Isyah berjalan menuju tempat Amit dengan sangat perlahan sebab ia merasa sangat lapar, sehingga ia tidak sanggup berjalan jauh setelah sampai ia langsung di sambut oleh Omelan Amit.
"Kamu itu siput apa manusia, jalan dekat aja lama banget!"bentak Amit sontak membuat Isyah langsung menangis.
"Hiks, hiks. Isa lapar Bang makanya jalan lambat, hiks ..."ucap Isyah dalam tangisnya.
"Aduh, cepat-cepat naik entar di kira oleh aku mau nyulik anak bauk kencur lagi."ucap Amit dengan sangat panik.
Isyah naik ke atas motor Amit dengan perlahan dan Amit langsung mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.
Kasihan juga dia aku bentak selalu nangis, sebaiknya aku bawa dia aja makan siang lagian aku juga belum makan, batin Amit.
Amit menghentikan motornya di Restoran favoritnya, ia turun dan Isyah hanya diam saja.
"Ya Allah, ikut makan apa kamu mau disini aja?"ucap Amit sambil bernafas panjang.
"Iya, ikut Bang. Jangan marah-marah lagi."ucap Isyah pelan.
Amit tidak menjawab ucapan Isyah dan ia masuk sambil menarik tangan Isyah masuk kedalam, mereka duduk di bangku VIP sebab Amit tidak biasa makan di lihat banyak orang.
__ADS_1
Amit melihat Isyah akan bertanya dan ia langsung berbicara.
"Jangan banyak bicara, simpan saja ucapan mu itu."ucap Amit dengan sangat dingin dan ketus.
Dasar kutub Utara, kulkas dua pintu, aku akan mau bilang aku mau pipis gimana ni kalau aku pipis disini, bisa-bisanya si Kutub Utara ini memakan aku. Aku tulis aja deh di kertas. Batin Isyah.
Isyah membuka tasnya dan ia mengambil kertas dan buku lalu ia mulai menulis.
Apa lagi anak ini, membuat aku pusing saja. Batin Amit.
Isyah memberikan kertas yang ia tulis tadi kepada Amit dan langsung di baca oleh Amit.
"Ya ampun, Isa. Kalau keadaan darurat kayak gitu tu ngomong."ucap Amit dengan sangat ampun.
"Tadi Abang yang bilang jangan ngomong apapun."ucap Isyah lirih.
"Ya sudah, pergi ke toilet."ucap Amit dengan sangat lemas.
"Kalau Isa tau mana mungkin Isa bilang sama Abang, sebab Isa gak tau makanya Isa bilang sama Abang."ucap Isyah dengan sangat lembut membuat Amit menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
Amit tidak mengatakan apapun ia mulai berjalan dan Isyah mengikuti langkah dari belakang, sehingga sampai di toilet wanita Amit hanya menunggu di depan saja sebab ia tidak ingin terjadi sesuatu.
"Mas, ngapain disini? Mau ngintip cewek ya?"ucap Ibu-ibu yang hendak masuk kedalam.
"Eh, tunggu Bu, saya nemenin adik saya didalam tunggu sebentar lagi dia keluar."ucap Amit dengan sangat panik.
Ibu-ibu tersebut memiliki Amit menggunakan tas merek masing-masing.
"Ampun ... Bu, ini salah paman saya gak berniat ngintip!"teriak Amit dengan sangat kuat.
Bungk!
Bangk!
Bungk!
"Rasakan ini, dasar mesum!"
Isyah keluar dan ia berteriak-teriak melihat Amit di pukuli sekelompok Ibu-ibu.
"Aaahhhkkk, stop!"tarik Isyah yang membantu Amit keluar dari amukan Ibu-ibu.
"Dek, dia ini laki-laki mesum yang mau ngintip."ucap Ibu-ibu tersebut.
"Sa, jelaskan kepada mereka semua aku ini Abang kamu!"teriak Amit.
"Maaf, Ibu-ibu dia ini Abang saya tadi dia nemenin saya ..."ucap Isyah pelan sontak saja membuat Ibu-ibu tersebut berlalu pergi.
"Maaf ..."ucap Isyah pelan sambil menatap kearah Amit.
__ADS_1
Amit tidak mengatakan apapun ia memasang wajah jutek dan ia langsung bergegas pergi menuju mejanya.
Amit duduk dan langsung memakan makanannya dengan sangat lembut, Isyah memakan makanannya sambil melirik kearah Amit.
Nama dan orangnya sama, Amit-amit, batin Isyah.
Saat di tengah makan Amit menerima pesanan kalau ada rekan bisnisnya datang, dan menunggunya ia langsung meminum minumannya dan ia menarik tangan Isyah.
"Bang, pelan-pelan sakit tau tangan Isa!"teriak Isyah sambil mengikuti langkah Amit yang sangat cepat.
Amit langsung naik ke atas motor dan di ikuti oleh Isyah.
"Bang, ada apa kok buru-buru ini bukan jalan pulang?"ucap Isyah sambil memeluk Amit sebab Amit sangat laju membawa Motornya.
"Jangan banyak bicara, kamu mau ikut apa aku turunkan disini?"ucap Amit dengan sangat ketus.
"Iya-iya, aku ikut ..."ucap Isyah dengan sangat pasrah.
Daripada aku hilang, bagus aku ikut aja sama Kutub Utara ini. Batin Isyah.
Setelah sampai Amit langsung bergegas masuk kedalam sambil menarik tangan Isyah.
Setelah ia masuk kedalam ruangannya para rekan bisnisnya sangat terkejut ia bersama dengan seorang gadis SMA.
"Pak Amit, suka yang masih cibi-cibi."ucap Rekan bisnisnya yang mulai tertawa-tawa.
Sontak saja membuat dirinya sangat malu dan ia langsung masuk kedalam dan ia melepaskan tangannya.
Isyah hanya diam saja dan ia juga ikut masuk dan duduk di bangku kerja Amit.
Dasar pria kutub Utara gila, dia kita aku boneka apa, main tarik-menarik tangan aku. Batin Isyah.
"Maaf, Pak dia Adik saya,"ungkap Amit.
Sontak saja membuat semuanya tidak percaya sebab yang mereka ketahui Pak Ben tidak memiliki anak perempuan.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
Salam manis untuk kalian semua.😘
__ADS_1