Cinta Tulus Isyah

Cinta Tulus Isyah
#CTI Part 5


__ADS_3

"Ada didalam, dia sedang tidur, Bang."jawab Fia dengan sangat lembut membuat Amit tersenyum.


"Boleh aku masuk?"tanya Amit sambil menatap wajah Fia.


"Boleh, masuk saja dia ada didalam kamar. Aku mau keluar sebentar ada keperluan."ucap Fia yang berlalu pergi.


Amit berjalan masuk kedalam dan ia masuk kedalam kamar Fia, ia melihat Isyah tidur dengan sangat nyenyak membuat kesal. Sebab ia samapi menuduh orang karena cemas memikirkan tentang Isyah. Sedangkan yang di khawatirkan mala tidur dengan nyenyak.


Dia benar-benar membuatku semakin kesal, aku akan mengerjainya aku akan membuatnya menangis tersedu-sedu, batin Amit.


Amit menggendong tubuh Isyah lalu ia berjalan keluar menuju rumahnya, sesampainya ia dirumahnya ia langsung berjalan menuju kamarnya, sebab ia akan mengerjai Isyah membuat mereka seolah-olah sudah tidur bersama.


Sesampainya Amit didalam kamarnya ia meletakan tubuh Isyah dengan perlahan di tempat tidurnya, lalu ia sengaja tidak mengenakan baju hanya saja ia mengenakan celana pendek.


Lalu ia tidur di samping Isyah sebab ia juga sangat mengantuk.


Isyah perlahan membuka matanya ia melihat sekelilingnya, ia merasa sangat aneh akan tetapi ia tetap berfikir positif.


Sepertinya ini kamarnya, ya Allah, ini kamarnya bang Amit. Batin Isyah.


Isyah melirik kearah samping benar saja ada Amit di sampingnya, dan Amit tidak mengenakan baju lalu Isyah meraba kepalanya.


"A-aku tidak pakai hijab, a-apa kami sudah melakukannya,"ucap Isyah terbata-bata sambil menutup mulutnya menggunakan tangannya.


Isyah membuka selimut lalu ia melihat Amit hanya mengenakan celana pendek saja, ia langsung menangis tersedu-sedu perlahan ia bangun lalu ia berlari menuju kamarnya.


Setelah ia sampai di dalam kamarnya ia menjatuhkan dirinya, ia menangis tersedu-sedu didalam pelukan bantal gulingnya.


"Ya Allah, ampunilah hamba ... Apa kami sudah melakukannya dan aku benar-benar tidak mengingat apapun tadi ..."ucap Isyah dalam tangisnya.


Amit tersenyum dan tertawa puas saat Isyah sudah pergi dari kamarnya.


"Biarkan saja dia seperti itu, sebab aku sangat kesal padanya karena dia membuatku sangat khawatir akan keadaannya tapi. Mala dia tidur dengan nyenyak di rumah ayahnya."ucap Amit dengan sangat bahagia lalu ia mulai tertidur sebab ia merasa sangat mengantuk.


Isyah merasa sangat sedih akan tetapi ia juga tidak biasa berbuat apa-apa saat ini yang ia bisa hanya menangis.


"Apa yang harus aku lakukan, aku akan meminta bang Amit bertanggung jawab. Atau aku harus merahasiakan semua ini dari semua orang, sebab aku merasa sangat takut."ucap Isyah yang menghapus air matanya.


Isyah merasa ingin buang air kecil sehingga ia turun dan berjalan menuju kamar mandi, sesampainya ia di kamar mandi ia membuka ****** ******** dan ia sangat terkejut melihat ia masih memakai pembalut yang masih banyak darah yang keluar.

__ADS_1


Eh, kalau aku masih haid apa bang Amit biasa melakukannya tadi, apa semuanya ulahnya saja sebab dia ingin membuatku taku. Ah, bodohnya aku bisa-bisanya aku di bodohin sama bang Amit, dasar kutub Utara menyebalkan, batin Isyah.


Isyah bernafas lega sebab tidak terjadi apa-apa pada dirinya dan juga Amit, setelah ia selesai membuang air kecil ia langsung kembali ke kamarnya.


..


Nyia sedang menjaga kasir lalu ia melihat Ken sedang membeli sesuatu di Swalayan, ia masa bodoh dan tidak peduli ia kembali menghitung belanjaan orang-orang.


Ken sengaja untuk membeli keperluan anak-anak Mafia hitam di Swalayan milik Pak Salam, sebab Amit yang memintanya agar mereka juga bisa membantu Pak Salam dengan berbelanja di Swalayan Pak Salam.


Setelah lama Ken berbelanja akhirnya ia sudah selesai ia mendorong keranjang belanjaannya, menuju kasir setelah sampai ia menatap wajah Nyia yang sedang menghitung belanjaannya.


"Manis, terseyumlah jangan seperti itu kau kelihatan lebih jelek."ucap Ken sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Nyia.


"Jangan banyak bicara, Om."ucap Nyia sambil memasukkan belanjaan Ken kedalam kantung plastik.


"Om, saya masih mudah umur saya masih 23 tahun."ucap Ken sambil membayar semua belanjaannya.


"Terimakasih sudah berbelanja disini, silakan pergi sebab antrian yang akan membayar sudah banyak, Om."ucap Nyia dengan sangat imut di mata Ken.


"Baiklah, sampai juga lagi ..."Ken melambaikan tangannya kepada Nyia saat ia berjalan menuju luar.


...


Fia berjalan menuju apotik sebab ia ingin membeli obat pusing dan ia hanya berjalan kaki saja, ia berjalan melewati rumah Gilang dan ia tidak tahu kalau rumah itu adalah rumah Gilang.


Fia berhenti di depan rumah Gilang sebab ia merasa sangat pusing sehingga ia duduk di pinggir jalan, Fia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing dan anak buah Gilang yang berjaga di depan gerbang menghampiri Fia.


"Neng, apa ada masalah?"tanya anak buah Gilang dan Fia langsung menoleh saat ia melihat anak buah Gilang, matanya seperti berkunang-kunang.


"Saya ..."Fia terjatuh pingsang di lantai sontak membuat anak buah Gilang terkejut.


"Neng, bangun, Neng!"teriak anak bua Gilang.


Gilang masih tertidur di tempat tidurnya lalu ia mendengar suara teriakan anak buahnya, membuat ia sangat penasaran ia bangun dan memakai sandalnya.


"Ada apa itu, kenapa Jery berteriak-teriak."ucap Gilang sambil berjalan menuju luar dan ia berjalan sampai di depan gerbang.


"Ada apa, Jer?"tanya Gilang di depan gerbang ia tidak melihat wanita yang pingsan di depan Jery.

__ADS_1


"Tadi ada wanita yang duduk di sini, saya hampiri dan tiba-tiba dia pingsan Bos,"ungkap Jery dengan sangat panik.


Gilang langsung berjalan mendekati Jery lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar melihat Fia adalah wanita yang pingsan, Gilang langsung menggendong tubuh Fia masuk kedalam dan di ikuti oleh Jery.


"Jer, telfon Dokter Iyan!"teriak Gilang yang sedang berjalan menuju kamar tamu dan Jery langsung menjalankan tugasnya.


Gilang meletakan tubuh Fia dengan perlahan di tempat tidur lalu ia menyelimuti Fia dengan selimut tebal.


"Fia, ada apa sebenarnya ini."ucap Gilang dengan sangat lembut.


Jery menelfon Dokter Iyan dan Dokter Iyan langsung bergegas pergi menuju rumah Gilang.


Jihan melihat Jery sangat panik membuatnya penasaran dengan perlahan ia mendekati Jery.


"Ada apa, Om?"tanya Jihan dengan sangat lembut.


"Ada wanita pingsang tadi, dan dia ada didalam kamar tamu sepertinya Bos kenal dengan wanita itu. Sebab Bos sangat khawatir akan keadaannya,"ungkap Jery.


Siapa wanita itu, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut papi dariku tidak akan. Papi hanyalah milikku seorang bahkan kami tadi habis melakukan bercocok tanam lagi bersama dan kali ini benar-benar kami dengan sadar melakukannya, batin Jihan.


"Dimana waktu itu?"tanya Jihan.


"Di kamar tamu."jawab Jery yang berlalu pergi.


Jihan berjalan sambil memegang kepalanya yang masih basah akibat ia keramas tadi, sesampainya ia di kamar tamu. Ia melihat Gilang sangat cemas akan wanita yang pingsang tersebut.


.


.


.


Bersambung.


Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.


Like, Vote, Favorit, komen.


Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua.


__ADS_2