
Amit melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai di rumah sakit, ia sangat khawatir akan keadaan Isyah yang sedang demam tinggi.
"Sabar ya, Sa. Abang akan cepat bawa kamu ke rumah sakit."ucap Amit sambil melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Setelah sampai di rumah sakit, Amit menggendong tubuh Isyah masuk ke UGD.
"Dok, tolong adik saya ..."ucap Amit dengan sangat panik.
"Baik, tunggu sebentar, Pak. Kami akan memeriksa adik Bapak."ucap Dokter Iyan.
Dokter Iyan langsung memeriksa Isyah lalu ia menyiapkan obat untuk Isyah, ia memakai infus pada Isyah lalu ia memindahkan Isyah ke ruang rawat VIP.
Amit sangat cemas akan keadaan Isyah yang tak kunjung sadar sehingga ia menelfon Pak Ben.
๐ฑPapa.
"Papa, Isa demam. Pa ..."ucap Amit dengan sangat panik.
"Amit, kalau demam ya, di obati dong,"ucap Ben dengan sangat santai.
"Udah, Pa. Sekarang kami ada di rumah sakit dan Isa belum sadarkan diri."ucap Amit sambil menatap wajah Isyah.
"Apa! Bagaimana ini Amit, Papa tidak bisa pulang sebab besok ada pertemuan penting?"ucap Pak Ben yang cemas akan keadaan anaknya.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Amit bisa menjaga Isa disini .."ucap Amit yang memutuskan sambungan teleponnya.
Bagaimana papa ini, dia mengadopsi anak ini malah aku yang menjaganya seharusnya dia menjadi anakku saja bukan adikku, batin Amit.
Tak berselang lama akhirnya Isyah membuka matanya ia melihat sekelilingnya dan ia juga melihat Amit.
"Bang, ini dimana?"ucap Isyah dengan sangat lemas sontak Amit langsung menatap Isyah.
"Kamu, udah sadar ... Kita ada di rumah sakit,"jelas Amit.
Isyah terdiam ia menatap langit-langit kamar rumah sakit lalu ia melihat infus yang terpasang di tangannya, lalu ia meraba kepalanya dan ia dapat meraba rambutnya yang tidak menggunakan hijab.
"Bang, dimana hijab Isa?"ucap Isyah yang mulai panik, sontak saja membuat Amit membulatkan matanya.
Oh, tidak, aku lupa memakaikan hijab bagaimana ini. Batin Amit.
"Mana Abang ingat, kalau sudah keadaan darurat seperti tadi. Seharusnya kamu itu bersyukur Abang bawa kamu ke rumah sakit."ucap Amit dengan sangat ketus.
Benar-benar batu, gara-gara dia aku memperlihatkan aurat ku pada banyaknya orang, batin Isyah.
"Kalau begitu ambil hijab Isa, Bang. Ayolah ..."pinta Isyah pada Amit.
__ADS_1
"Aku akan menyuruh Sen saja."ucap Amit dengan sangat dingin.
Amit mengirimkan pesan kepada Sen agar mengantarkan hijab Isyah ke rumah sakit.
๐Sen.
(Antara hijab Isyah di rumah sakit, kau suruh bibi untuk mengambil hijab Isyah yang mana saja di kamar, secepatnya kau antar ke mari.)
Sen membaca pesan dari Amit dan ia langsung mengerjakan tugasnya dengan cepat, sebab ia sangat takut kalau Amit sudah marah kepadanya dan ia tidak akan mengulanginya.
Amit menatap wajah Isyah.
Kenapa tadi aku sangat cemas akan keadaannya, Amit kau tidak boleh memperdulikannya ini hanya karena amanah dari papa, oke. Batin Amit.
Isyah sangat kesal kepada Amit sehingga ia membuang pandangannya.
Bagaimana ini, aku sampai harus tidak memakai hijab sepertinya ini hanya karena bang Amit panik, sebal sekali aku padanya. Batin Isyah.
Tak berselang lama akhirnya Sen sampai di rumah sakit dan kini ia berada di depan pintu kamar inap Isyah, ia tak berani masuk lalu ia hanya mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut agar Amit keluar.
Tok, tok.
"Ini saya, Pak."ucap Sen.
Amit bergegas pergi menuju ke luar sesampainya di luar ia tidak mengatakan apapun, ia langsung mengambil hijab Isyah yang berada di tas kecil yang di bawa oleh Sen masuk kedalam.
Amit masuk kedalam dan ia memberikan tas yang berisi hijab Isyah, dan Isyah langsung membukanya.
Isyah mengambil hijab bergo miliknya yang biasa ia gunakan setelah itu ia menidurkan tubuhnya lagi, ia tidak mengatakan apapun kepada Amit sebab ia masih sangat kesal kepada Amit.
Bukannya bilang terimakasih, mengucapkan sepatah katapun tidak dasar bau kencur, batin Amit.
...
Pak Salam merasa sangat gelisah ia memikirkan tentang anaknya yang berada di rumah Pak, sehingga ia menghampiri rumah Pak Ben dan bertanya dimana Isyah kepada Sen
"Dimana Isyah?"tanya Pak Salam sambil melihat kearah rumah Pak Ben.
"Lo, jadi Bapak tidak tahu kalau Non Isa, masuk rumah sakit?"jawab Sen sambil menatap wajah Pak Salam yang begitu cemas.
"Saya tidak tahu, kenapa dia masuk rumah sakit, dan apa rumah sakitnya?"tanya Pak Salam dengan sangat cemas dan panik.
"Demam, Pak. Rumah sakit (sensor ) itu ..."jelas Sen.
"Terimakasih, "Pak Salam menepuk pundak Sen lalu ia bergegas pergi menuju rumah sakit, sebab ia sangat khawatir akan keadaan Isyah.
__ADS_1
Ya Allah, sembukan anak hamba semoga dia baik-baik saja. Aamiin ... Batin Pak Salam.
Pak Salam menaiki angkot agar segera sampai di rumah sakit dimana Isyah di rawat, setelah beberapa menit kemudian akhirnya ia sampai di rumah sakit yang merawat Isyah.
Pak Salam berjalan dengan sangat cepat agar ia segera sampai di ruang rawat inap Isyah, setelah sampai ia tidak langsung masuk melainkan ia mengintip sedikit.
Terlihat Amit sedang menyuapi Isyah makan dan juga memberikan obat untuk Isyah sontak membuat Pak Salam bahagia.
Bahagia sekali aku melihat mereka mulai dekat, pasti pak Ben sangat senang kalau aku memberitahunya. Batin Pak Salam.
Pak Salam membuat video Amit yang menyuapi Isyah makanan dan juga obat, lalu ia langsung mengirimkan video tersebut kepada Pak Ben.
Sebaiknya aku pulang saja, bukankah keadaan anakku baik-baik saja dan aku juga tidak ingin menggangu mereka didalam. Mungkin dengan cara seperti ini mereka akan semakin dekat lagi, batin Pak Salam.
Pak Salam bergegas pergi dari rumah sakit.
Isyah merasa sangat mengantuk setelah meminum obat yang di berikan oleh Amit tadi ia pun tertidur pulas.
Amit menatap wajah Isyah yang sedang tertidur pulas.
Melihat wajahnya membuat aku teringat akan wajah Difa yang selalu memakai hijab sepertinya, melihat wajahnya membuat aku menghilangkan rasa rinduku pada Difa yang sudah lama sekali pergi dariku ... Batin Amit.
Amit meneteskan air matanya dengan sangat cepat ia langsung menghapus air matanya sebab, ia tidak ingin ada siapapun melihat seorang mafia menangis hanya karena ia merindukan seseorang.
Amit menidurkan tubuhnya di atas sofa lalu ia mulai tertidur pulas dan ia bermimpi bertemu Difa.
"Difa sayang, kamu ada disini?"ucap Amit yang sangat bahagia melihat Difa di hadapannya.
"Amit, lupakan aku ... Ada wanita yang akan menggantikan posisi aku di hatimu itu, dia wanita yang baru memasuki kehidupan mu, wanita itu juga mirip dengan ku dan dia juga memakai hijab,"ucap Difa yang bergegas pergi.
"Difa, tunggu! aku tidak mau mencintai wanita lain selain diri mu!"teriak Amit sambil mengejar Difa.
.
.
.
Bersambung.
Hay teman-teman, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya.
Like, Vote, Favorit, komen.
Author sangat berterimakasih atas dukungan dari kalian semua.
__ADS_1
Salam manis untuk kalian semua.๐